Dilemma Sosialita Ruang Maya

Online social networks are changing the way people communicate,

work and play, and mostly for the better.

Martin Giles (The Economist, 28 Januari 2010)


Jessy tak menoleh sedikitpun saat ibunya memanggil-manggil. Matanya terlalu asyik beradu pandang dengan monitor di depannya. Jarinya mengetik-ngetikkan sesuatu di keyboard, terkadang sambil tertawa-tawa sendiri. Jessy sangat menikmati percakapan dengan Stela, teman sekolahnya. Setelah sang ibu memanggilnya dengan intonasi yang mulai meninggi, barulah Jessy beranjak bangun. Dengan enggan ia menyahuti ibunya, melepas seragam sekolahnya, dan kemudian makan siang.  Di tempat lain, Anne bergegas mengubah tampilan halaman komputernya dengan sebuah klik ketika sang bos berjalan melalui meja kerjanya. Ia baru saja selesai memelototi foto-foto serta menulis status terbaru pada facebook-nya.

Manusia adalah makhluk sosial. Ia tidak diciptakan untuk hidup sendiri. Sebuah penelitian dari Swedia mengungkap fakta bahwa tidak memiliki teman adalah penyebab serangan jantung nomor dua setelah rokok. Tak heran jika beragam komunitas pun bermunculan dengan jenis dan gaya baru. Dunia tanpa batas yang dimotori internet, turut berkontribusi pada perubahan pola komunitas. Melalui berbagai situs jejaring sosial, komunikasi antar individu mulai bergeser dari dunia nyata ke dunia maya. Emosi-emosi pun dapat tersalurkan tidak hanya dengan tulisan tapi juga melalui simbol-simbol emoticons seperti ini:  *_*

Pertumbuhan jejaring sosial di dunia maya nyatanya sangat pesat. Belum genap berusia enam tahun, Facebook kini menjadi situs terpopuler kedua di internet setelah Google. Ada 55 juta update terbaru setiap harinya dan 3,5 miliar setiap minggunya. Tidak hanya itu, jejaring sosial lain seperti MySpace yang berkonsentrasi pada musik dan hiburan, LinkedIn pada para pengejar karier professional, dan Twitter yang mengusung ‘pesan singkat 140 karakter’ (tweets) juga turut menikmati pesatnya pertumbuhan ini. Demikianpun dengan QQ di China, Skyrock di Prancis, VKontakte di Russia, Cyworld di Korea Selatan, ResearchGATE di kalangan peneliti, dan Muxlim yang populer di dunia muslim (Economist, 28 Januari 2010).

Dengan hanya mengetik status terbaru pada facebook atau twitter, seluruh penjuru dunia mengetahui aktiviras kita pada saat ini (real time). Jika pada era sebelumnya masyarakat memilih menggunakan nama samaran untuk membuat profil atau melakukan percakapan dengan orang  lain, kini lebih banyak yang merasa nyaman menggunakan identitas aslinya. Tapi kemajuan yang pesat dalam jejaring sosial ini tak begitu saja lepas dari perdebatan yang diwarnai oleh pro-kontra: apakah jejaring sosial di dunia maya lebih banyak memberi manfaat atau justru sebaliknya? Berbagai argumentasi pun dikemukakan.

Dalam skala kecil, yang optimis memandang bahwa jejaring sosial telah membantu mereka bertemu kembali dengan kawan-kawan lama yang sudah tak diketahui rimbanya, menambah teman, bahkan ada yang mendapat tawaran pekerjaan dari hasil ‘obrolan’. Dalam skala yang lebih luas, jejaring sosial bermanfaat bagi kalangan professional untuk berbagai kepentingan. Bagi media dan pemerintah, jejaring sosial sangat vital untuk mengetahui berita terkini. Media bahkan mengandalkan jejaring sosial untuk mengetahui perkembangan berita terakhir dalan kasus penyerangan teroris di Mumbai, kerusuhan di Iran dan China yang menutup akses terhadap wartawan serta memperoleh berita dari masyarakat melalui citizen journalism.

Bagi pemerintah dan politisi, jejaring sosial bermanfaat sebagai sarana menggalang dukungan masa (terutama kaum muda) melalui kampanye virtual seperti yang dilakukan Obama ketika berjuang meraih kursi AS-1. Jejaring sosial juga banyak dimanfaatkan sebagai sarana diplomasi virtual yang dikenal dengan aktivitas “diplomasi tanpa diplomat” (diplomacy without diplomat). Jejaring sosial pun bermanfaat sebagai alat untuk melihat pemetaan pandangan masyarakat umum terhadap suatu isu. Selain mengefisienkan waktu dan biaya, diplomasi virtual melalui jejaring sosial ini adakalanya dapat mempengaruhi opini publik dan menjadi bahan pertimbangan dalam pengambilan keputusan pemerintah. Salah satu contoh adalah dukungan untuk Bibit-Samad di facebook yang meraih banyak perhatian.

Bagi kalangan bisnis, jejaring sosial merupakan inovasi baru dalam teknik pemasaran yang sangat berpotensi memperluas pangsa pasar dan memperbesar profit. Persoalan bisnis adalah persoalan membangun komunitas. Memasuki komunitas menjadi syarat pertama sebelum pebisnis mulai ‘berjualan’. Melalui komunitas, pebisnis membangun masyarakat yang memiliki ketertarikan yang sama terhadap suatu produk. Komunitas juga diperlukan pebisnis untuk ‘memelihara’ konsumennya. Jejaring sosial sudah membentuk komunitasnya sendiri. Ini amat memudahkan pebisnis melihat pangsa pasar tanpa perlu menyewa analis pasar. Pebisnis di bidang velg misalnya, cukup menaruh iklannya di halaman komunitas otomotif. Si pebisnis juga dapat mengetahui perkembangan jenis velg terkini yang tengah digandrungi.

Sebaliknya, kalangan yang skeptis melihat bahwa fenomena maraknya jejaring sosial justru akan melunturkan komunikasi di dunia nyata, lebih gandrung memelototi facebook pada layar komputer, telepon genggam atau blackberry daripada berinteraksi dengan orang-orang yang ada di sekitarnya (autisme sosial). Jejaring sosial juga tak menjamin keaslian identitas dan sering dimanfaatkan untuk hal-hal yang tak bertanggungjawab. Kasus yang menimpa Sylvia atau Abel, seorang gadis di bawah umur yang tertipu dengan teman facebook-nya dan sempat menghilang tiga hari dari rumahnya, menjadi bukti kerawanan jejaring sosial.

Beberapa orang tua, seperti orang tua Jessy, juga mengeluhkan anaknya lebih senang berkutat di jejaring sosial daripada mencari bahan di internet, belajar atau bercengkerama dengan adik-adiknya. Akibatnya nilai-nilai pelajaran di sekolah menurun. Para pimpinan perusahaan juga mengeluhkan kinerja anak buahnya yang lebih banyak membuka facebook daripada menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Mereka bahkan asyik chatting dengan teman-temannya yang berada pada ruangan yang sama. Keadaan ini akhirnya membuat sejumlah perusahaan mengambil keputusan untuk memblokade akses ke berbagai jejaring sosial. The Economist mencatat, para bos pun takut rahasia perusahaan akan terbongkar. Karyawan mungkin saja ‘keceplosan’ memberitahu rahasia perusahaan ketika asyik berjejaring sosial.

Lepas dari pro-kontra ini, sosialiata di ruang maya tetap bertumbuh dengan pesat. Munculnya suicide machine, situs yang dapat menghapus data di berbagai jejaring sosial bagi mereka yang putus asa beraktivitas di dunia maya, tak dapat membendung pesatnya pertumbuhan jejaring sosial. Data dari Nielsen mencatat pengguna facebook tahun 2009 di Indonesia meningkat hampir 700% sejak tahun 2008 sementara pengguna twitter naik hingga 3.700%.

Seperti pernyataan Martin Giles, jejaring sosial memang telah mengubah cara manusia berkomunikasi, bekerja, dan bermain. Namun apakah perubahan ini berjalan ke arah yang lebih baik atau sebaliknya, sangat bergantung pada masing-masing pribadi. Mereka yang sudah matang dalam memahami arti berinternet sehat, mempergunakan jejaring sosial untuk menghasilkan manfaat positif bagi diri dan lingkungannya. Hasil sebaliknya menimpa mereka yang berjejaring untuk hal negatif atau terlalu bersenang-senang hingga menimbulkan masalah baru: kegandrungan yang mengganggu pekerjaan harian. Bagaimana dengan anda?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s