Imlek: ‘Tribute to Gus Dur’

 

 

 

 

Seminggu menjelang perayaan Imlek atau xin nian, seluruh entitas masyarakat Indonesia ikut ‘heboh’ berbenah diri. Lampion-lampion merah digantung meriah di etalase pertokoan, apartemen, dan pusat-pusat perbelanjaan. Berjalan kaki menyusuri kawasan pecinan di Glodok, Jakarta, aneka pernik seperti lampion, mainan, amplop merah (hungbao), mainan petasan, dan bunga sakura plastik (mei hua), laris manis dibeli pengunjung. Begitu pula dengan baju-baju cheongsam dan aneka makanan seperti dodol, kue keranjang, dan buah-buahan. Lautan merah ini turut diramaikan tabuhan gong khas China dan alunan musik imlek yang diputar bersahut-sahutan di sepanjang jalan. Sungguh meriah.

 

Sebagai generasi muda Tionghoa, kemeriahan Imlek sungguh saya rasakan berbeda dibanding tujuh tahun silam. Saat-saat itu adalah saat-saat saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Kala itu, saya les mandarin di ‘tempat tersembunyi’ dan baru dapat merayakan imlek setelah pulang sekolah. Itu pun masih harus menunggu ayah pulang kerja. Jangankan menyambut imlek, membeli aksesoris dan makanan saja harus ke tempat khusus, kecuali buah-buahan yang dapat dibeli di supermarket. Juga tak pernah saya lihat aktivitas mempercantik gedung. Melihat satu lampion digantung saja sudah membuat saya takjub.

 

Ketika beranjak remaja, barulah saya mulai mengenal seorang tokoh bernama Abdurrahman Wahid atau Gus Dur. Mantan presiden Republik Indonesia ke-4 inilah yang menetapkan Imlek sebagai hari libur nasional melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 13 tahun 2001. Saya sangat gembira dengan keputusan ini. Saya dan keluarga dapat merayakan imlek tanpa perlu ‘diganggu’ rutinitas. Penetapan hari libur ini memberi kami kesempatan untuk menikmati kebersamaan dengan keluarga besar dan saling bercengkerama satu sama lain. Saya yakin seluruh etnis Tionghoa di Indonesia merasakan kegembiraan yang sama.

 

Gus Dur jugalah yang berjasa mencabut PP No 14 Tahun 1967 berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa. Dengan keputusan ini, saya dan adik-adik saya dapat belajar bahasa mandarin dengan sangat leluasa dengan pilihan buku-buku referensi yang juga lebih banyak. Adik-adik kecil saya pun kini dapat menikmati pelajaran mandarin di sekolah formalnya, pelajaran yang sangat diperlukan oleh bangsa kita pada saat ini dalam rangka memperkuat kompetensi diri menghadapi China-ASEAN Free Trade Area.

 

Dengan jasa-jasanya yang sangat besar ini, tak heran jika Gus Dur dinobatkan menjadi Bapak Tionghoa pada 10 Maret 2004 di Kelenteng Tay Kak Sie, Gang Lombok, kawasan pecinan Semarang. Pada saat penobatan tersebut, Gus Dur bahkan mengenakan cheongsam (busana khas China) sebagai suatu bentuk penghargaan terhadap budaya Tionghoa. Gus Dur pun memandang imlek sebagai salah satu perayaan budaya Tionghoa. Keputusan-keputusan Gus Dur yang sangat menghargai kekayaan budaya etnis Tionghoa ini pun menjadi gerbang pembuka keputusan-keputusan terkait etnis Tionghoa pada pemerintahan berikutnya.

 

Kalau saja imlek belum ditetapkan sebagai hari libur nasional, pasti persiapan imlek tidak akan berlangsung semeriah ini. Dalam perkembangannya imlek bahkan sudah menjadi perayaan bersama bagi seluruh entitas masyarakat Indonesia. Imlek bukan milik eksklusif komunitas Tionghoa. Teman-teman saya dari non-Tionghoa begitu menikmati kue keranjang yang melambangkan kerekatan hubungan dan aneka pernak-pernik imlek yang unik. Imlek juga mengukuhkan rasa solidaritas dan melahirkan aneka akulturasi budaya yang unik. Akulturasi makanan, musik, dan busana ini memperkaya khazanah budaya nusantara.

 

Tidak hanya soal hari libur, saya juga sadar bahwa Gus Dur memiliki cita-cita yang sangat luhur untuk mengangkat derajat etnis Tionghoa yang sebelumnya dicitrakan sebagai binatang ekonomi. Harapannya sangatlah besar. Beliau berharap generasi muda Tionghoa dapat bersama-sama berkarya untuk membangun masa depan negeri ini tanpa diskriminasi. Gus Dur berharap profesi apapun yang dimiliki oleh etnis Tionghoa: politisi, artis, musisi, jurnalis, desainer, ataupun atlet, dapat mengantar bangsa ini ke arah yang lebih baik.

 

Perayaan Imlek kali ini pun bertepatan dengan perayaan Valentine atau Hari Cinta Kasih. Bukan sebuah kebetulan. Ini menjadi sebuah bahan perenungan dan momen penting bagi seluruh etnis Tionghoa untuk membagikan cinta kasihnya secara nyata pada sesama yang membutuhkan. Imlek dan cinta kasih adalah dua mata uang yang tidak dapat dipisahkan. Tanpa cinta kasih, perayaan imlek hanya menjadi sebuah ritual tanpa makna, jauh dari apa yang Gus Dur cita-citakan.

 

Saya mengacungkan jempol pada teman-teman dari etnis Tionghoa yang saya lihat sering terjun langsung memberi pengobatan gratis di berbagai wilayah miskin di tanah air. Saya juga sering melihat aktivitas-aktivitas nyata dari generasi muda etnis Tionghoa yang menolong sesamanya tanpa memandang etnis dan agama. Dengan latar belakang profesi apapun, etnis Tionghoa terus mencoba untuk berkarya dengan misi membangun Indonesia yang lebih baik.

 

Wafatnya Gus Dur pada 30 Desember 2009 menyisakan duka mendalam bagi etnis Tionghoa. Imlek tahun ini adalah imlek pertama tanpa kehadiran sang Bapak Tionghoa. Namun jasa-jasa beliau tak akan lekang dimakan usia. Imlek tanpa Gus Dur justru menjadi momentum bagi seluruh bangsa Indonesia untuk mewujudkan harapan besar beliau: perdamaian kokoh dalam kebhinekaan demi menghadapi aneka tantangan bangsa yang sudah menghadang di depan mata. Gong xi fa cai wan shi ru i: sukses selalu bagi seluruh rakyat Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s