Tut… tut… tut…, Siapa Hendak Turut?

Parijs van Java

Naik kereta api tut-tut-tut…. Tapi tidak naik dengan percuma, tentu.

Harga tiket KA Lodaya Bandung-Solo Balapan yang melewati Yogyakarta adalah Rp 100.000 untuk kelas bisnis, naik dari Rp 90.000. Kenaikan ini entah karena faktor Imlek atau hanya sekedar ‘iseng-iseng’ saja.

Jam masih menunjukkan pukul 07.00 pagi..

Tapi cuaca mendung masih saja menggantung di langit-langit kota Bandung.

Kereta api Lodaya yang akan berangkat ke arah Solo-Balapan pada pk 08.00 terlihat masih dimandikan oleh para petugas ketika aku melangkahkan kaki memasuki gerbong Bisnis 2. Alih-alih melangkah dengan nyaman ke gerbong, aku harus naik dari ketinggian setengah meter, nyaris terjengkang. Tidak ada tangga mini yang menghubungkan gerbong dengan permukaan aspal di bawahnya. Kalau bingung, bayangkan saja rasanya melangkah ke dalam busway tapi dari tepi jalan, bukan dari halte busway…

Terlepas dari kelemahan ini, aku kagum dengan PT KA. Saat kulangkahkan kaki di lorong gerbong, kudapati jok kulit kursi kereta sudah berubah warna dari hijau tua yang sangat lusuh menjadi abu-abu. Jauh lebih rapi. Segera setelah menaikkan barang-barang, kuselonjorkan kaki, kuambil koran sambil menunggu aba-aba petugas dan sahutan lengkingan panjang dari kereta yang sesaat lagi akan bergerak.

Lorong Gemuruh

Buat Anda yang benci rokok, bersabar-sabarlah duduk di kereta bisnis.

Ya, asap yang mengepul-ngepul di sepanjang gerbong sudah menjadi pemandangan biasa. Kurasa, pemilihan kata bisnis dan non-bisnis tidak identik dengan AC dan non-AC tetapi smoking area dan non-smoking area.

Kulirik siapa si pelaku penyebar asap beracun itu. Seorang bapak-bapak yang duduk dua baris di depanku, rupanya. Kulayangkan pandangan ke seluruh penghuni gerbong. Tampaknya hanya aku yang terganggu dengan bau asap itu sambil dalam hati bertanya-tanya soal efektivitas Perda larangan merokok di tempat umum.

Pikiranku langsung terngiang soal kereta tercepat di China yang harus tertunda gara-gara sebatang rokok. Si pelaku meninggalkan rokok dalam keadaan menyala di gerbong kereta sehingga memicu bunyi alarm. Ada  pula gerbong kereta cadangan eksekutif yang terbakar di Stasiun Surabaya yang diduga terjadi gara-gara puntung rokok yang dibuang oleh penumpang gelap. Uh, sungguh berbahaya.

Seorang bapak berkemeja merah dan ber-ves hitam di depanku juga tak terganggu. Ia nampak santai mendengar lagu-lagu dari MP3 di telinganya. Demikian juga dengan ibu hamil dan suaminya yang duduk di samping kananku. Mereka asyik bercengkerama di tengah tumpukan karung goni putih di bawah kaki mereka. Sama sekali tak tampak terganggu dengan kepulan asap di sekitarnya . Wah….

Si bule yang duduk di belakangku masih lebih beradab. Pria jangkung berparas mirip wartawan Australia dalam film Balibo ini melangkah ke celah gerbong untuk merokok. Aku cukup bingung menentukan apakah pria keriting berkaus hitam bercelana pendek ini seorang backpaker. Habis ia tidak membawa tas ransel tetapi koper berukjuran sedang. Menurutku, bule ini lebih mirip peneliti yang suka masuk ke hutan-hutan di Sumatera…

Kembali ke topik.

Sambil meluruskan badan dan membenahi letak bantal yang kusewa seharga Rp 3.000, aku meneruskan bacaanku di kompas soal nuklir Iran. Iran menanrang AS dengan mengeluarkan pernyataan bahwa upaya pengayaan uranium akan terus digalakkan demi kesejahteraan rakyat Iran. Tepat ketika kubaca topik soal tumpukan salju tebal di Eropa yang kini menjadi arena seluncuran anak-anak AS, seorang kondektor bertopi menepuk punggungku.

“Karcisnya, dik…”

Menatap sekilas padaku, dengan gesit ia memandangi kesahihan data pada karcis yang kemudian ia lubangi. Ia pun mengangguk. Langkah kakinya yang tegap berlanjut pada baris selanjutnya.

“Karcisnya, pak, bu…”

* *

“Nasi goreng, nasi rames,. mie, kopi, teh!”

“Nasi goreng, nasi rames,. mie, kopi, teh! … nasi gorengnya, bu?”

Seorang petugas restoran KA berkemeja biru muda dibalut ves hijau tua dan celana bahan hitam (paduan warna ini sama sekali tidak matching), berjalan santai di sepanjang gerbong. Tangannya memegang sebuah baki berisi dua piring nasi goreng dan segelas kopi. Matanya meliuk-liuk mencari ‘mangsa’. Aku memesan nasi goreng untuk pk 11.00. “Oke, “ jawabnya singkat.

Rupanya kompetisi pasar juga terjadi di dalam gerbong kereta. Makanan tidak hanya monopoli PT KA. Di stasiun Cipeundeuy, Jawa Barat, penduduk lokal yang terdiri dari anak-anak, ibu-ibu, laki-laki muda, antre menawarkan aneka jenis makanan di sepanjang gerbong dengan logat Sunda yang sangat kental.

Seorang laki-laki muda mendorong troli kecil berisi aneka kopi dan sirup bubuk, pop-mie dan sebuah termos: “Kopi, pop mie panas!”

“Jagung panas!”

“Mijon mijon! (Mizone, maksudnya), Aqua dingin!”

“Lontongnya, bu, tahu-tahu…”

“Nasi goreng, nasi ayam.”

”Comro, kentang goreng, pisang…pisang!”

”Sale, dodol, buah segar!”

”Oleh-oleh Garut!” (Hah? Memang sudah sampai Garut.? Kok sepertinya belum…)

Tapi pola jualan para penduduk lokal ini menurutku jadi mirip franchise: produk yang dijual sama semua di setiap stasiun! Kalau bapak kapitalisme, Adam Smith melihat semua ini, aku yakin dia sudah terbahak-bahak sambil berkata: “ahhhh! competitive advantage-nya tak ada sama sekali!”

Lihat saja apa yang dijual di stasiun-stasiun berikutnya.

Stasiun Tasikmalaya, Jawa Barat:

“Tahu Sumedang (lagi-lagi nggak nyambung dengan wilayah), pop mie, tahu!”

“Kopi, energen, bacang.”

“Mijon mijon, sprit, grinti (greentea), pokari, cola!”

“Nasi gorang, nasi ayam… Makan teh? Makan…”

“Tahu-tahu!”

Stasiun Banjar, Jawa Barat:

“Air, aqua, nasi bakwan, nasi ayam!”

“Bumbu lanting!”

“grinti, popmi, rokok!”

“Mijon mijon!”

Aku pikir produk makanan penduduk lokal di stasiun-stasiun di Jawa Tengah sudah berbeda dengan Jawa Barat. Rupanya sama saja…

Stasiun Kroya, Jawa Tengah

“Ayam goreng.”

“Bumbu lanting, bumbu lanting!”

“Sale pisang, gorengan.”

“Sprit. Mijhon, mijhon (dengan logat medhok khas Jawa).”

Stasiun Gombong, Jawa Tengah:

“Popmie, ABC!”

“Sale, gorengan, ayam, telor asin!”

“Bumbu lanting!”

“Aqua, mijhon, mijhonnnn!”

Stasiun Kutuarjo, Jawa Tengah:

“Tahu-tahu…….”

‘Tahta Rakyat’

Seorang ibu berkaus hijau donker terlihat sangat menikmati pijatan refeksi sambil berbincang dengan rekan di sampingnya. Sambil menunggu sang mesin selesai memijat, sang petugas berkemeja merah dengan jeans biru muda  memilih menonton video klip pada sebuah LCD di hadapannya.

Tepat setelah sang mesin menghentikan pijatannya, si ibu segera digantikan dengan bapak berjaket biru-hitam. Sang petugas pun segera membenahi mesin pijat, handuk, dan sarung batik yang melapisi permukaan mesin. Sang petugas menggapai remot di kolong kursi dan segera mengepaskan ketinggian mesin dengan keinginan si bapak. Mesin pun mulai memijat untuk melepaskan penat dan pegal.

Aktivitas ini bukan terjadi di sebuah salon kecantikan atau panti refeleksi. Tiga kursi pemijat milik ‘Refeksi Sehat’.ini tersedia di samping kanan jalur 1 hingga jalur 3. pelataran stasiun Tugu, salah satu stasiun terbesar dan tertua di Indonesia. Dengan hanya merogoh kocek Rp 5.000, kita dapat menikmati pijatan penghilang penat ini selama 15 menit. Lumayan.

Sampai saat ini, stasiun Tugu adalah stasiun kereta api favoritku.

Stasiun yang mulai melayani kebutuhan transportasi sejak 2 Mei 1887 ini, punya ciri khas yang unik. Ia tidak serba-komputer yang modern, tapi tidak lusuh.

Meski arsitektur bangunan stasiun kental dengan nuansa Eropa-Jawa, aura internasional justru tertangkap kuat dari budaya yang kental serta kebersihan dan kerapian tata ruang. Stasiun ini juga full-ubin, tak lagi berupa hamparan aspal.

Sebuah lukisan bertajuki ‘Tahta Rakyat’ menjadi penyambut stasiun ini. Dalam lukisan tergambar seorang pria memakai blangkon dengan tangan terbuka dengan warna dasar putih gading.. Si pria dalam lukisan ini langsung mengingatkanku pada Minke dalam Roman ‘Bumi Manusia’ milik Pramoedya Ananta Toer. Tepat di samping kiri ‘Tahta Rakyat’, ada lukisan yang menggambarkan puisi ‘Aku’. Menarik.

Ting Tong. Ting Tong.

“… enjoy your trip and thank you to trust PT Kereta Api Indonesia.”

“… kami ingatkan para pengantar untuk tidak masuk kereta karena waktu terbatas.”

Terjemahan yang dikumandangkan melalui speaker memang tak matching dengan versi bahasa indonesia-nya. Tapi tetap informatif dan membawa suasana internasional.

Stasiun Tugu juga jauh lebih humanis dan lebih rapi ketimbang stasiun-stasiun lainnya.

Memasuki peron, bapak-bapak berblangkon menawarkan celana batik, kacamata baca, kain batik, majalah, dan koran tanpa paksaan seperti yang dilakukan para pedagang di Stasiun Gambir, Jakarta.

Ruang tunggu yang berhadapan dengan tepi jalan di jantung kota Yogyakarta ini pun humanis dengan manusia yang tak kuat asap rokok sepertiku. Ruang tunggu ini dibagi menjadi dua bagian besar yakni smoking area dan non-smoking area. Walau tak dibatasi dengan sekat, para calon penumpang mematuhi aturan ini. Di kawasan bebas rokok, tempat sampah sudah tersedia di celah antar bangku.

Di sisi peron, terpampang LCD setiap 8-9 meter. LCD-LCD ini terawat dengan rapi. Aneka video klip dari barat dan Indonesia, iklan-iklan, info wisata, dan jadwal perjalanan kereta api menjadi suguhan utama. Seorang anak kecil bahkan larut dalam senandung Oh Baby yang dibawakan oleh Cinta Laura yang saat itu sedang mejeng dalam LCD: “baby baby my baby….”

Di sepanjang peron menuju jalur kereta, terdapat jajaran tanaman hidup di dalam pot dengan jarak setiap satu setengah meter. Juga sangat terawat. Pada malam hari, lampu-lampu yang berjajar setiap dua meter di langit-langit stasiun makin memperindah suasana stasiun. Jauh dari kesan kuno atau sayu. Di sudut ruang tunggu banyak penduduk lokal yang berjualan pernak-pernik tradisional di samping busana batik yang sudah membanjir.

Suasana yang sangat rapi dan tertata ini mungkin jadi cerminan dari predikat kota Yogyakarta sebagai kota terbersih (dari korupsi) di Indonesia selama beberapa tahun belakangan. Hasil ini diperoleh Transparency Internasional Indonesia setelah melakukan survei terhadap Indeks Persepsi Korupsi (IPK) terhadap 50 kota di Indonesia.

Dalam survei ini, Yogyakarta memperoleh skor 6,43, kemudian Palangkaraya (6,10), Banda Aceh (5,87), Jambi (5,57), serta Mataram (5,41), Surakarta (5,35), Tasikmalaya (5,12), Banjarmasin (5,11), Samarinda (5,03), serta Pangkal Pinang (5,03).

Kompas bahkan mencatat bahwa sub kawasan Stasiun Tugu yang berdekatan dengan kawasan Malioboro ini akan dikembangkan secara terpadu dengan pihak Pemprov DIY, Pemkot, dan Kraton Yogyakarta. Pengembangan tersebut antara lain meliputi pengembangan properti, pembangunan parkir kawasan inti Malioboro.

Dengan tekad yang dibarengi kerja karas seperti ini, sangat masuk akal jika pada suatu hari nanti stasiun Tugu akan dikenal sebagai alah satu stasiun terbaik di dunia.

Itu sebabnya aku tak ternah bosan menunggu di sini. Duduk di stasiun Tugu sama sensasinya seperti duduk di taman budaya atau duduk-duduk di sepanjang Malioboro. Stasiun-stasiun seperti inilah yang rasanya perlu dikembangkan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan program Visit Indonesia Year 2010.

“Kereta api Lodaya akan tiba dari Solo menuju Bandung. Berturut-turut adalah Bisnis 4, Bisnis 3, Bisnis 2, Bisnis 1, kereta makan, Eksekutif 1, Eksekutif 2, dan Eksekutif 3.” Menyahuti pengumuman tersebut, sebuah kereta datang dengan lengkingan sangat nyaring.

Sambil menenteng sebuah tas ransel, aku pun melangkah masuk ke dalam gerbong dengan nyaman, tanpa terjengkang karena ketinggian plafon yang sudah sesuai dengan ketinggian pintu masuk gerbong.

Prit-prit-pritt….. Tut tut tuttttttttttttttttt……

Advertisements

5 thoughts on “Tut… tut… tut…, Siapa Hendak Turut?

  1. jd pikir2x mau naik KA kelas bisniss nehh apalagi bw anak kecil hehe…Keliatan namanya sjyg kerenkelas bisniss tp kualitas msh pk fan sm free smoking 🙂 Tks utk sharenya

  2. Sama-sama… Hahaha… Betul.. Selain pakai fan dan free smoking kadang pedagang juga tak terkendali lalu lalang dan keamanan masih rawan ya… Tapi tidak apa-apa, seru sekali untuk menambah pengalaman apalagi kalau bersama anak… Terima kasih ya… =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s