Un-Touch Screen

“Ma…… bosen! Mau nonton tiviiii!”

“Hah?… Bentar sayang, mama lagi sibuk…”

“Mau nonton tivi….”

“Mau apa?”

“Nonton ma, nonton tiviiiii!”

“Ohhhh… yayaya, tapi jangan lama-lama ya. Biikk, tolong nyalain tivi buat adek!”

Ibu muda yang sempat terganggu konsentrasinya usai mendengar rengekan anaknya yang baru berusia 12 tahun ini segera melanjutkan tugas kantor melalui laptopnya. Sang baby sitter mahfum. Ia segera memencet tombol power dan memilih channel kesayangannya. Si anak manut saja berhubung jam malam bukanlah jam kartun. Maka sang anak dan baby sitter asik nonton sinetron bareng sementara sang ibu menyelesaikan pekerjaannya.

Adegan 1

“Hajar-hajar!” gumam sang bocah saat melihat seorang tokoh antagonis sedang tertangkap basah oleh tokoh protagonis dalam suatu adegan.

“Udah, pelintir aja tangannya, bawa ke polisi!” timpal sang baby sitter.

“Jangan, kalo dibawa ke polisi nggak rame…. Bunuh aja.”

Adegan 2

“Suittt suitttt….. cium-cium!” jerit sang bocah heboh

(sang baby sitter tidak bisa berkata-kata karena menangis sesengrukkan)

“Bikkk, ntar kalo ade udah gede juga mau romantis kaya gitu ahhhh…”

Adegan 3

“Bikkk, rumahnya gede banget ya… wow… ada kolam renangnya. Wow…”

“Iya dek. Udah diem. Nonton aja, jangan berisik.”

“Mamaaaa, adek juga pengen punya kolam renang gede di depan rumah kaya punya oom yang ada di tiviii…. Gede banget ma kolamnya, ntar adek kan bisa maen-maen aer…”

* *

“Serba salah juga. Pengen ngasih tontonan yang bermutu buat si kecil, tapi memang nggak ada tayangan yang bermutu.  Masak nontonnya kartun melulu? Mending pas jaman kita ada Maissy, Keluarga Cemara, Si Unyil… Sekarang? Boro-boro…..” keluh seorang ibu dua anak berusia masing-masing tujuh dan sepuluh tahun.

 

“Masalahnya sih gue juga kerja. Nyampe rumah juga malem. Mana ada waktu nemenin adek nonton tivi? Yang nemenin paling si bibik sama opa. Nah kalo si adek nggak dikasih nonton, terus ngapain? Kasian kan kalo dia bengong-bengong sendirian, mana tega gue biarin dia nggak ngapain-ngapain seharian di rumah?” seorang ibu muda lainnya balik bertanya.

 

Tek dung.

 

Televisi memang menjadi salah satu media yang paling dipilih orang tua sebagai sarana hiburan maupun edukasi bagi anak-anaknya. Praktis dan menarik. Ada gambar, ada suara, plus adegan-adegan yang menarik. Dampak negatif televisi yang sudah banyak digembar-gemborkan tak lagi menjadi momok menakutkan, sama seperti ketika anda mendengar berita tentang bahaya influenza atau cara-cara pencegahan demam berdarah. Terlalu klasik.

 

Saking klasiknya, tidak ada yang terlalu peduli ketika tayangan-tayangan televisi di Indonesia tidak lagi sehat bagi anak-anak. Kalaupun ketahuan bahwa si anak mengeluarkan perbendaharaan kata yang buruk dari televisi, umumnya reaksi orang tua adalah: iya tu si adek… hah, dasar, kepengaruh sama tivi. Titik. Tidak ada tindak lanjut kecuali beberapa orang tua yang masih ‘kolot’ berpegang teguh pada asas pemisahan jam nonton dan bukan.

 

Mendampingi anak nonton TV? Boro-boro. Dengan segudang kesibukan yang ada, bisa ketemu anak selama 1 jam saja sudah bersyukur. Sisanya adalah memberikan pengarahan pada si bibik yang tentu saja tak rela melepaskan kegandrungannya akan sinetron hanya demi nonton Naruto-Chan yang terbang-terbang nggak jelas di pepohonan. Nonton si Unyil pun terpaksa setelah seluruh tayangan infotainment sudah berganti dengan bola dan berita.

 

 

Un-touch Screen

 

Mungkin tidak ada yang dapat mengubah pola pikir orang tua yang terlalu membebaskan tontonan tivi pada anak-anak mereka. Tidak juga tulisan ini.

 

Tivi pada dasarnya adalah media yang bersifat un-touch screen. Layar tivi memang bisa kita sentuh secara fisik, tapi muatan yang kita tonton dalam sang layar tidak bisa kita kendalikan kecuali tiga cara:

  1. Matikan à si anak pasti merengek habis-habisan sampai air matanya kering
  2. Ganti channel à ini juga belum tentu channel lainnya bermutu
  3. Jika anda konglomerat, anda bisa membangun media bermutu à KALAU anda bisa

 

Pilihan yang sulit bukan? Kenyataannya berikut mungkin akan membuat anda para orang tua, bertambah sebal sekaligus waspada. Data “Kidia” menyebutkan pada tahun 2002, jumlah jam menonton TV anak-anak di Indonesia adalah sekitar 30-35 jam/minggu atau 1.560-1.820 jam/tahun. Angka ini jauh lebih besar dibanding jam belajar SD yang tidak sampai 1000 jam/tahun. Pada 2004, acara untuk anak yang aman hanya sekira 15% saja.

 

Lebih-lebih jika perangkat tivi di rumah Anda sudah canggih. Layar datar, speaker kombo yang nyaris jernih, warna seindah aslinya, dan seterusnya yang membuat seekor lalat pun terkecoh hingga menabrak layar tivi anda berhubung bunga yang ada dalam layar tivi anda dikira sungguhan. Pasti si anak beserta “dayang-dayangnya” akan makin betah nonton.

 

“Ah Indonesia… mending pake tivi kabel aja deh…,” balas Anda.

 

Eitsss, jangan salah. Neil Postman dalam bukunya “The Disappearance of Childhood” (Lenyapnya Masa Kanak-Kanak), menulis bahwa sejak tahun 1950, televisi di Amerika telah menyiarkan program-program yang seragam antara anak-anak dan dewasa sehingga anak-anak pun menjadi korban. Oke? AS sudah bermasalah dengan tivi sejak tahun 1950!

 

Studi terbaru yang dilakukan pada tahun 2009 seperti yang ditegaskan kembali oleh The Economist (edisi 29 April 2010) menyebutkan bahwa para pemuda Amerika berusia 8-18 tahun menghabiskan waktu sebanyak 10 jam 45 menit untuk mengonsumsi media dan media terpopuler adalah tivi. Lima tahun lalu, waktu yang dihabiskan adalah 7 jam 30 menit.

 

“Bagaimana dengan jumlah konsumsi tivi anak-anak di Arab?“ tantang Anda. Hampir sama. Dalam penelitian berjudul Children and Mass Media in the Arab World: A Second Level Analysis, Prof. Dr. Samy Tayie dari Cairo University melakukan analisis terhadap 1.800 anak di Arab berusia 9-15 tahun. Hasilnya, sebagian besar anak menonton antara pk 18.00-pk 21.00. Bedanya, anak-anak Arab lebih memilih menonton program anak yang memang digalakkan oleh pemerintah seperti kisah petualangan, agama, dan isu-isu sosial.

Salah satu hal yang juga tak lepas dari pengamatan saya dan mungkin sekarang sudah menjadi isu yang agak basi adalah fenomena munculnya program tivi ‘berbalut’ anak padahal nuansanya sangat bisnis. Contohnya adalah acara idol-idol anak yang menyanyikan lagu dewasa dan beberapa reality show yang kalau saya sebut di sini bisa kena tuntut. Sederhana, it’s only about duit. Program yang bisa menggarap anak demi menangguk dollar.

 

Then, nggak aneh kalo tabloid anak masa kini pun lebih banyak diisi dengan profil Edward Cullen, Kim Bum, Hannah Montana, High School Musical, Indonesian Idol, Fitri, Farel, dan sejenisnya. Saya sendiri sampai bingung tokoh siapa lagi dalam program anak di Indonesia yang bisa dijadikan panutan positif. Si Unyil? Seperti sudah hilang gregetnya.

 

Memang, ada beberapa jurus penangkal yang sudah disiapkan pemerintah Indonesia berupa peringatan-peringatan dari Komisi Penyiaran Indonesia jika isi tayangan dinilai tidak mendidik. Pemerintah juga sudah mengelompokkan tayangan tivi dalam 3 kategori: Aman, Hati-hati, dan Tidak Aman untuk anak. Tapi tak efektif. “Ah mana tanda peringatannya? Dipelototin sampe mata jereng ke ujung-ujung tivi juga nggak nemu,” tutur seorang ibu.

 

Langkah berikutnya adalah yang dilakukan masyarakat, mulai dari skala lokal seperti Gerakan Anti Televisi Buruk, Gerakan Anti Televisi, Gerakan Hari Tanpa TV, dan aneka gerakan lainnya hingga skala internasional semacam World Summit Media for Children and Youth yang terakhir akan diselenggarakan di Swedia pada 14-18 Juni 2010.

 

Tapi semua kembali pada pihak stasiun tivi, political will dari pemerintah, dan terutama adalah orang tua sebagai orang yang langsung berhubungan dengan si anak. Bagaimanapun juga, ortu harus berupaya keras mengatasi kecuekannya demi masa depan si anak. Anak-anak menyerap cepat dan menyimpan dalam-dalam apa yang pernah ia dengar dan lihat.

 

Ingat, ini baru satu media. Belum lagi Anda juga harus memikirkan soal pengaruh internet, PSP, BB, dan aneka gadget lainnya bagi perkembangan buah hati. “Untunggggg jaman eyang dulu belon ada yang begitu begitu……” tutur salah seorang opa sambil geleng-geleng.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s