Feeding Frenzy dan Dinamika Kehidupan

Seekor ikan kecil berwarna ungu bergerak-gerak lincah di laut dalam. Siripnya sesekali diliukkan untuk menghindar ikan yang ukuran tubuhnya lebih besar. Saat mendapati ikan yang lebih kecil dari ukuran tubuhnya, maka… hup! Si ikan dimakan dengan lahap dengan bunyi ‘kriukkk…’ seperti orang sedang menggigit kerupuk. Tak lama, growth atau pertumbuhannya meningkat.

 

Makin besar tingkat pertumbuhannya, peluang si ikan bertambah besar pun makin meningkat. Walhasil si ikan bisa memakan lebih banyak lagi ikan-ikan jenis lainnya yang ukuran tubuhnya lebih kecil hingga mencapai hasil ‘perfect’ atau sempurna.

 

Bagi yang bingung membacanya, saya sedang tidak membahas jalannya pertandingan adu ikan. Yang sedang saya bahas dalah sebuah permainan di layar komputer bertajuk ‘Feeding Frenzy’. Dalam permainan produksi GameHouse ini, kita mengarahkan ikan milik kita agar bisa tumbuh semakin besar hingga perfect.

 

Usai mencapai level ‘perfect’, kita akan dibawa pada perjalanan selanjutnya dengan tantangan yang tentu menjadi lebih rumit, sulit, dan banyak variasinya. Tantangannya antara lain adalah jelly fish yang akan membuat ikan kita berkunang-kunang karena ‘nyetrum’, bom yang siap meledak, dan ikan racun yang jika termakan akan mengakibatkan disorientasi selama beberapa detik. Juga ada ikan durian yang sangat sulit dimakan karena duri-durinya sering mengembang.

 

Nah, kalau dalam permainan ‘Who Wants to Be a Millionaire’ ada tiga pilihan bantuan yakni phone a friend, ask the audience, dan menyisakan dua jawaban yang benar, Feeding Frenzy menyediakan bantuan berupa gelembung bintang yang membuat seluruh penghuni laut membeku beberapa saat. Akibatnya, kita jadi lebih mudah memakan ikan.

 

Ada juga gelembung ‘ikan menyeringai’ yang membuat kita mampu memakan ikan-ikan yang berukuran lebih kecil, dua kali lipat lebih cepat. Pun ada gelembung-gelembung lain yang membuat kita memiliki ‘tambahan kehidupan’. Jika berhasil memakan mutiara dalam kerang, kita juga akan mendapat tambahan poin. Hanya harus hati-hati. Jika waktunya tak tepat, si kerang justru akan ‘mencaplok’ kita.

 

Permainan ini sekilas betul-betul sangat sederhana. Tugas kita hanya makan, makan, dan makan ikan-ikan yang lebih kecil dan menghindari ikan yang lebih besar agar kita tak dimakan. Tapi di balik kesederhanaan ini, saya baru sadar bahwa permainan ini memberitahukan kita dinamika dalam kehidupan manusia dengan segala sisi positif dan negatifnya.

 

Permainan ini terbagi dalam beberapa titik level yang ditandai dengan jejak-jejak perjalanan di sebuah selat atau samudera. Semakin tinggi levelnya, makin banyak tantangan yang harus dihadapi. Dalam hidup manusia, kita pasti harus menghadapi aneka level yang makin sulit, namun membuat kita makin berkembang. Kehidupan pribadi, hubungan dengan teman, rekan pekerjaan, karier, keuangan, dan masih banyak lagi. Mau tak mau, kita kudu menghadapi segala sesuatu yang terjadi di depan mata.

 

Kalau kita melihat kehidupan manusia dewasa ini, upaya makan dan dimakan sepertinya makin santer bergaung. Yang kuat menekan yang lebih lemah. Yang kecil harus waspada menghindari yang besar, namun tetap harus mengejar yang lebih kecil supaya bisa terus bertumbuh. Ini sisi yang menyedihkan. Padahal, jika si besar dan si kecil saling menolong, itulah hakikat dari pertumbuhan.

 

Tapi kadang banyak di antara kita sudah lupa. Dengan mencaplok rekan-rekan kita yang lebih lemah, kita mengira bahwa kita menjadi semakin kuat. Saling mencaplok justru menjadikan pertumbuhan hidup kita mengalami stagnasi karena makna ‘pertumbuhan’ yang sesungguhnya adalah saling mendukung pertumbuhan rekan lainnya tanpa pandang bulu. Sinergi, merger, atau saling bahu-membahu-lah yang akan menjadikan pertumbuhan kita lebih kuat.

 

Kita tentu sudah sangat letih melihat berita di koran, televisi dan aneka media lain yang menggaungkan hal serupa. Si kecil ditekan si besar. Akibatnya si kecil protes dan kericuhan pun terjadi. Kalau sudah begini, boro-boro bangsa akan bertumbuh. Yang ada adalah kekacauan dan pertumbuhan pun terhenti, bahkan menurun drastis. Sudah seberapa sering kita mendengar negara yang lebih besar mencaplok atau menganeksasi negara yang lebih kecil. Yang muncul adalah kekacauan dan pertumpahan darah.

 

Positifnya, di balik segala masalah yang harus kita hadapi, ada berbagai bantuan dari Tuhan dan dari sesama yang membuat kita mampu bertahan. Saat bermain Feeding Frenzy, bantuan berupa gelembung bintang, gelembung ‘ikan menyeringai’, dan gelembung ‘tambahan kehidupan’ membuat saya mampu bertahan dari terjangan ikan yang lebih besar, jelly fish yang bikin nyetrum, bom, dan ikan racun yang membuat ikan saya disorientasi dan berkunang-kunang.

 

Ikan yang lebih besar, jelly fish yang bikin nyetrum, bom, dan ikan racun adalah cerminan tantangan eksternal yang harus kita hadapi dalam kehidupan. Tapi jangan pernah khawator. Bantuan dari Tuhan dan sesama tidak pernah datang terlambat jika kita terus bertahan dan percaya bahwa kita mampu mengatasi seluruh tantangan ini. Tanpa bantuan-bantuan ini, dijamin 100% saya tidak akan mampu bertahan. Selalu game over.

 

Setelah menjadi ikan yang tergolong besar, saya suka lupa bahwa di belakang saya masih ada ikan yang lebih besar. Seringkali saya dicaplok ikan besar pada saat ukuran tubuh ikan saya sebetulnya sudah sangat besar. Itulah yang terjadi dalam hidup saya dan mungkin Anda semua. Saat berada dalam posisi enak dan tinggi, kita menjadi sombong dan lupa bahwa di atas langit masih ada langit.

 

Demi mendapat sebutir mutiara (apalagi mutiara hitam yang poinnya lebih besar), ikan saya justru sering terjebak dalam caplokan si kerang yang sebenarnya mudah kita hindari karena posisinya diam. Seingkali kita begitu bernafsu memperoleh sesuatu, entah karier, uang dan sebagainya sampai lupa segalanya: lupa keluarga, lupa anak, lupa segalanya. Tanpa disadari kita terjebak pada hal-hal yang sebenarnya mudah saja kita hindari.

 

Anak-anak kita menjadi anak badung karena jarang kita perhatikan dengan alasan sibuk bekerja, sahabat-sahabat menjauh karena kita egois dan lebih memilih mengejar harta dan tahta daripada membina persahabatan yang tulus. Yang terparah, kita keluar dari kasih karunia Tuhan yang mengakibatkan kita terjebak pada masalah yang sama dan menjadi hopeless. Kita pun mudah lupa dengan indahnya samudera dari Tuhan karena terlalu fokus mencari sesuap nasi.

 

Hal menarik lain adalah tantangan internal dalam diri kita sesungguhnya jauh lebih besar daripada tantangan eksternal. Ikan yang lebih besar, jelly fish yang bikin nyetrum, bom, dan ikan racun. Semua tantangan eksternal ini bisa kita atasi selama kita niat dan rajin bermain sampai garis akhir. Saat kita menyerah dan menekan tombol ‘quit’, kemenangan tidak pernah kita peroleh.

 

Akhir kata, saya berharap kita semua (termasuk saya sendiri) semakin tertarik dan bersemangat mengarungi level demi level dalam kehidupan kita dan akhirnya menang di garis akhir. Dalam game, makin sulit levelnya, kita justru semakin asyik bermain karena tertantang untuk menyelesaikannya. Mengapa hal yang sama tidak kita praktikkan dalam hidup kita?

Kriuuuukkkkkk!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s