Indonesia (Selalu) Berprestasi!

Winners compare their achievements with their goals,

while losers compare their achievements with those of other people

Nido Qubein


Debu aspal segera berembus kencang dari keempat penjuru ban mobil berwarna merah putih sesaat sebelum melesat memasuki garis finish. Posisinya hanya berbeda beberapa sentimeter dari Esteban Gutierrez dari tim ART Grand Prix. Tak goyah dengan perbedaan posisi yang sangat mepet, Rio tak mengendurkan pijakan gasnya. Matanya sudah melihat bendera finish. Selangkah lagi.

 

Pembalap asal Solo kelahiran 22 Januari 1993 ini pun berhasil mengibarkan bendera putih di Istanbul dengan selisih 2,2 detik dari Gutierrez.

 

Kibaran merah putih di ajang GP3 Turki dengan catatan waktu waktu tercepat 27 menit 08,058 detik ini diraih dengan perjuangan. Dua hari sebelum menjadi jawara di Istanbul, Rio membuat gebrakan dengan menjadi yang tercepat dalam sesi latihan dengan catatan waktu 1 menit 48,022 detik. Sehari setelahnya (race 1), Rio yang start pada posisi 16, berhasil finish di urutan kedelapan.

 

Ditarik lagi ke belakang, pada Agustus 2009 Rio berhasil memenangkan merebut semua pole position dan menjuarai semua empat seri balap Formula BMW Pacific di Sirkuit Sentul. “Saya senang menjadi pimpinan klasemen, tetapi jalan yang saya hadapi masih panjang dan saya tidak mau berpikir untuk membicarakan gelar juara dulu karena apa saja bisa terjadi,” ujar Rio pada wartawan kala itu.

 

Kerja keras Rio yang dibarengi dengan kerendahan hati ini pun berbuah manis. “Alhamdulillah, saya menang. Ini berkat doa dari seluruh rakyat Indonesia. Terus terang, ketika lagu Indonesia Raya berkumandang perasaan saya tak terlukiskan,” ungkap Rio setelah merebut podium pertama.

 

Prestasi Rio tidak diraih dengan instan. Ia meniti karier sebagai pembalap sejak usia enam tahun. Sejumlah gelar juara di tingkat lokal dan nasional berhasil diraih. Di usia delapan tahun, Rio sudah sejajar dengan pembalap-pembalap yang usianya lebih tua. Ia mampu menjadi juara gokart tingkat ASEAN dalam ASEAN Kart Festival. Berturut-turut sejak 2005-2007, Rio merajai Junior Asian Karting Championship sebelum naik kelas ke ajang Formula. Kini Rio tinggal selangkah lagi menuju F1.

 

Torehan prestasi Rio membawa angin segar bagi tanah air yang tengah diliputi awan mendung akibat konflik berkepanjangan kasus korupsi dan ricuh soal Dana Aspirasi DPR (DAD) yang tak kunjung usai. Belum lagi soal pendidikan Indonesia yang masih carut-marut dilihat dari sudut hasil Ujian Akhir Nasional. Namun buktinya putra-putri Indonesia terus menunjukkan prestasinya di kancah dunia.

 

Masih dari negara Attaturk, dua siswa SMAN 5 Kota Madiun yaitu Nina Milasari (17 tahun) dan Christina Kartika Bintang Dewi (15 tahun) berhasil mengharumkan Indonesia di ajang International Environmental Project Olympiad (Inepo) 2010 di Kota Istanbul, Turki, 19-22 Mei 2010.

 

Inepo 2010 ini diikuti 106 finalis dari 45 negara dan kedua siswi dari SMAN 5 Kota Madiun ini berhasil meraih emas untuk ketegori Fisika. Dalam olimpiade tersebut, keduanya menguji hasil karya yang diberi judul The Use of Sugar Factory Dust in Making Seismic Resistant Bricks atau kegunaan limbah abu (dust) asap pabrik gula dalam pembuatan batu bata yang tahan getaran atau gempa.

 

Kedua siswa ini memanfaatkan abu asap dari proses pembakaran bahan baku gula yang banyak terdapat di pabrik-pabrik gula yang mengandung silikat yang tinggi. Silikat atau silikon dioksida (SiO2) memiliki daya rekat yang tinggi dan biasa digunakan sebagai bahan baku pembuatan semen atau konstruksi lainnya. Bahan silikat menjadikan batu-bata lebih ringan sehingga tahan gempa.

 

Prestasi ini juga diraih melalui kerja keras.

“Sebelum berangkat ke Turki, beberapa kali Nina dan Christina berlatih mengerjakan soal dan membahas kembali penemuan yang sudah diciptakan,” ujar guru pembina ekstrakurikuler Karya Ilmiah Remaja (KIR) SMAN 5 Kota Madiun, Suharlinah. Sebelum berhasil menciptakan inovasi teknologi konstruksi batu bata tahan gempa ini, eksperimen memakan waktu sekitar satu tahun.

 

Tak jauh sebelum kabar kemenangan Rio, Nina, dan Christina bergaung, putra bangsa lainnya berhasil mengharumkan nama Indonesia setelah berhasil meraih medali emas dalam ajang Robogames 2010 di Amerika Serikat. Mereka adalah Tim Universitas Komputer Bandung yang diwakili oleh Yusrila Y Kerlooza sebagai pembimbing dan Rodi Hartono sebagai peserta.

 

Robot pemadam kebakaran yang dinamai Roboc DU 114 ini berhasil meraih emas untuk kategori open fire fighting autonomous robot usai mengalahkan 14 peserta dari seluruh dunia. Kategori open fire fighting robot contest merupakan salah satu kategori tersulit lantaran robot harus bergerak dan mengambil keputusan sendiri tanpa intervensi manusia

 

Untuk kategori itu, robot harus mampu mencari dan memadamkan api (yang disimulasikan oleh api lilin di dalam sebuah rumah). Rumah itu terdiri dari empat ruang. Yaitu, lorong, pintu, anak tangga, perabotan rumah tangga. Penilaian ditentukan oleh kecepatan robot dalam mencari dan memadamkan api tanpa menyentuh dinding dan tanpa dikendalikan manusia.

 

Sama seperti Rio, Nina, dan Christina, prestasi mereka pun tidak instan. Pengerjaan piranti lunak robot ini membutuhkan trial and error selama setahun. Rentang waktu yang tidak bisa dibilang cepat dan bukannya tidak mungkin sangat menjemukan. “Saat mengikuti kontes internasional, kami tidak lagi membawa nama Unikom, tapi nama bangsa,” ujar Rektor Unikom, Eddy S. Soegoto.

 

Tak heran jika dalam setiap aksinya, Robot DU 114 selalu menuai pujian. Robot ini berhasil melewati rintangan dan mencari sumber api yang ditempatkan secara acak serta memadamkannya dengan semprotan air otomatis. DU 114 menjadi robot tercepat yang berhasil memadamkan api. Dalam ajang yang sama setahun silam, Unikom juga berhasil meraih juara 1 dan menggondol medali emas dengan angka sempurna dan menjadi satu-satunya negara yang mampu mengambil semua bonus.

 

Kemenangan-kemenangan ini tidak hanya membuktikan generasi muda Indonesia sesungguhnya menyimpan potensi besar berprestasi di kancah dunia. Kemengan ini menjadi bukti bahwa kerja keras dan perjuangan pantang menyerah adalah kunci  yang tidak dapat diabaikan.

 

Berapa banyak waktu luang yang dikorbankan Rio untuk berlatih mengemudi di sirkuit yang itu-itu saja? Berapa banyak waktu bermain yang dikorbankan Nina dan Christina demi meneliti sebongkah batu-bata? Berapa banyak waktu hang out bareng teman yang harus dikesampingkan Rodi agar robot ciptaannya bisa terus sempurna? Sangat menjemukan. Namun mereka tak pernah menyerah.

 

Perjuangan seperti inilah yang seharusnya menjadi perhatian pemerintah dan wakil rakyat. Ketimbang sibuk mengurus perbaikan gedung DPR, wacana naik gaji, dan terakhir wacana Dana Aspirasi DPR, lebih baik energi bangsa beralih untuk hal-hal yang bermanfaat dalam jangka panjang.

 

Rio masih beruntung karena memiliki orang tua yang cukup berada untuk membiayai prestasinya. Tapi keberangkatan siswa SMAN 5 Kota Madiun ke tempat olimpiade untuk membela nama bangsa harus terkendala karena tidak mendapat bantuan dana dari Pemerintah Kota Madiun. Pihak Komite Sekolah akhirnya menggalang dana dari berbagai pihak baik kelembagaan maupun perorangan termasuk perusahaan swasta. Menyedihkan.

 

Hal lain, pemerintah dan wakil rakyat yang terhormat seharusnya sadar bahwa prestasi Indonesia di kancah dunia tidak melulu di bidang akademis. Rio adalah seorang pembalap. Masih banyak atlet-atlet atau seniman-seniman muda Indonesia yang berprestasi. Untuk itu, tidak seharusnya urusan Ujian Akhir Nasional menjadi penghambat anak-anak ini berprestasi di bidang yang disukainya.

 

Sering terjadi pada saat anak-anak ini menang, pemerintah seolah ikut berperan dalam prosesnya. Padahal tidak sama sekali. Banyak sekali anak Indonesia yang punya potensi bisa berprestasi di tingkat dunia tapi tersandung soal dana, fasilitas, bahkan manuver-manuver politik di bidang seni dan olahraga. Giliran anak-anak ini menang, pemerintah-lah yang seolah ikut berperan.

 

Kritik ini saya ajukan bukan soal tidak cinta tanah air. Bukan pula karena saya tidak mengerti apa arti kalimat ‘jangan pikir apa yang sudah berikan negara kepadamu tapi pikir apa yang dapat kamu berikan pada negara’. Kritik ini semata-mata saya ajukan untuk menyadarkan pemerintah dan wakil rakyat bahwa mereka perlu memahami masalah ini. Tak bisa disalahkan jika kemudian (misalnya) putra-putri berprestasi ini kelak lebih memilih hengkang ke negara lain.

 

Pemerataan sarana pendidikan dan penemuan bibit-bibit berprestasi juga seharusnya dilakukan dari daerah ke pusat, bukan sebaliknya. Lihat saja. Rio berasal dari Solo. Christina dan Nina dari Madiun sementara Rodi dari Bandung. Bibit-bibit ini sangat variatif dari segi bidang maupun wilayah. Oleh karena itu, sudah seharusnya daerah dan pusat bersinergi dan berkoordinasi dengan baik. Pusat (baca: Jakarta) bukan sumber segala-galanya untuk mengharumkan nama bangsa.

 

Terakhir dan yang terpenting, anak-anak berprestasi ini perlu diapresiasi setinggi-tingginya dalam berbagai bentuk (materi maupun non materi) mulai dari Lancana Wirakarya dan aneka medali penghargaan fisik lainnya, insentif untuk melanjutkan pendidikan, pembangunan aneka sarana dan fasilitas penunjang, dan perhatian yang lebih termasuk perhatian dari teman-teman media.

 

Saya masih heran mengapa media dan masyarakat lebih cepat berespon turun ke jalan saat kepentingan Israel mulai ‘menyenggol’ Palestina dan negara lain ketimbang menyambut para pahlawan kita yang sudah bekerja keras mengibarkan merah putih. Demikian pun media. Liputan soal Mavi Marmara atau penundaan kedatangan Obama jauh lebih banyak daripada berita prestasi Rio, Christina, Nina, dan Rodi.

 

Andai saja perhatian yang sama besarnya bisa didapatkan teman-teman kita yang sudah mati-matian berjuang di luar sana demi memperdengarkan alunan ‘Indonesia Raya’…

 

Advertisements

One thought on “Indonesia (Selalu) Berprestasi!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s