World Cup 2010: Afrika Selatan di Wilayah Abu-abu

The enthusiasm, joy and excitement that has engulfed the entire nation in recent weeks has not been witnessed since President Mandela was released from prison

Presiden Afrika Selatan, Jacob Zuma

Mengenakan jas abu-abu dan dasi hitam bercorak, Zuma menyatakan Afrika Selatan lebih dari siap menyambut salah satu perhelatan terakbar dunia tahun 2010. Senyum tak pernah lepas dari wajahnya. “Negara ini benar-benar diberkati dengan menjadi tuan rumah peristiwa yang luar biasa bersejarah. Afsel tidak akan sama lagi,” ujarnya mantap. Presiden FIFA, Joseph S. Blatter menjawab, “membawa Piala Dunia ke Afsel berarti mempercayai Afsel, rakyat Afsel, dan benua Afrika.”

Zuma boleh percaya diri. Sejak Blatter mengumumkan Afsel sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010 pada tanggal 15 Mei 2004, pembenahan besar-besaran segera dilakukan.

Negara yang berhasil mengalahkan Mesir, Libia, Tunisia, dan Maroko dalam perjuangan menjadi tuan rumah ini segera membangun aneka infrastruktur termasuk membangun 5 stadion baru dan memperbaiki 5 stadion lainnya. Dana yang digelontorkan tak tanggung-tanggung: 33 miliar rand Afsel atau 3,9 miliar dollar AS!

Pembenahan stadion yang terletak di Johannesburg, Pretoria, Cape Town, Durban, dan Nelson Mandela Bay saja menghabiskan 1,3 miliar dollar AS atau Rp 11,8 triliun. Stadio “Soccer City” di Johannesburg, misalnya. Penampilan stadion ini amat megah, mirip dengan Stadion Allianz Arena di München. Stadion inilah yang akan digunakan sebagai tempat upacara pembukaan dan penutupan.

Urusan transportasi, jalan raya, dan listrik juga tak luput dari perhatian.

Untuk transportasi, pemerintah telah membangun jaringan transportasi bus rapid transport (BRT) guna menambah transportasi publik yang menghubungkan daerah-daerah padat di pusat kota. Jalan-jalan tol di Durban di sepanjang stadion pada malam hari ditutup untuk memperbaiki lubang-lubang jalan. Guna mencegah ancaman krisis listrik selama Piala Dunia, perusahaan penyedia listrik di Afsel, Eskom Holding Ltd, juga telah memperbaiki dua unit pembangkit tenaga nuklir Koeberg. Armada polisi juga ditambah. Aparat keamanan diberi pelatihan tambahan untuk membantu tamu.

Afsel bahkan meningkatkan persediaan kondom untuk menanggulangi meningkatnya permintaan tamu. Pasalnya, Afsel masih tercatat sebagai negara dengan kasus HIV terbanyak di dunia. Menurut lembaga AIDS PBB, Afsel memiliki 5,7 juta orang yang terjangkit HIV dan AIDS. Hasil pemeriksaan doping dapat langsung dlihat dalam waktu kurang dari 48 jam di labolatorium dan dan tempat tes doping di kota Bloemfontein. Tim Medis FIFA pun menyatakan puas dengan persiapan matang ini.

Matang dengan persiapan infrastruktur, Tim Nasional Afrika Selatan tak mau ketinggalan.

Mereka tentu tak mau menjadi penonton di negeri sendiri. Pelatih beken, Carlos Alberto Parreira yang pernah membawa Brazil meraih juara dunia tahun 1994 segera dikontrak. Afsel juga telah mengirim 29 pemain untuk mengikuti Training Camp di Brazil. Meski minim prestasi, Afsel tak menyerah. Sinar bintang semacam Samuel Eto’o (Pantai Gading) dan Didier Drogba (Kamerun) seolah menjadi pemacu bagi mereka untuk terus berjuang dan berlatih.

Di balik segala kemegahan persiapan Afrika Selatan, Afrika Selatan belum sesiap yang dibayangkan. Politik, ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, dan kesehatan Afsel masih butuh banyak perbaikan. Setelah mengalami apharteid sepanjang tahun 1948-1994, Afsel memang sudah mengalami banyak kemajuan. Tapi masih terlalu banyak aneka permasalahan yang perlu dituntaskan.

Pertanyaannya, dapatkah Afsel memanfaatkan Piala Dunia 2010 ini sebagai peluang? Atau justru menjadi penghamburan besar di tengah kemiskinan yang masih melanda sebagian besar warganya?

Indeks Pembangunan Manusia atau Human Development Index (HDI) menjadi salah satu determinan yang dapat kita lihat. HDI adalah pengukuran perbandingan dari harapan hidup, melek huruf, pendidikan dan standar hidup. Hasil pengukuran ini memperlihatkan apakah suatu negara dikategorikan sebagai Very High Human Development, High Human Development, Medium Human Development, atau Low Human Development.

 

HDI terbaru yang dikeluarkan pada tahun 2009 menunjukkan Afrika Selatan berada pada ranking 129 dari 182 negara yang diteliti. Dari skala 0 (terendah) sampai 1 (tertinggi), HDI Afrika adalah 0,683. Indonesia berada pada urutan 111 dengan nilai HDI 0,734. Artinya, indeks pembangunan manusia Indonesia masih lebih tinggi daripada Afrika Selatan. Hasil ini tentu menjadi tantangan agar Indonesia kelak dapat berpartisipasi dalam ajang Piala Dunia. Afsel bisa, mengapa kita tidak?

Liputan yang menarik soal tantangan yang harus dihadapai Afrika Selatan dapat Anda baca pada majalah The Economist edisi khusus (3 Juni 2010) yang membahas perkembangan Afrika Selatan beserta masalah-masalah yang menyertainya. Masalah tersebut antara lain adalah masalah kepemimpinan, kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan tenaga kerja. Aneka masalah inilah yang menyebabkan The Economist melabeli Afrika Selatan sebagai ‘not as rich as it looks’.

Di bidang kesehatan, setahun silam menteri kesehatan Afsel sendiri mengaku terkejut dengan sistem kesehatan di negaranya. Dana kesehatan yang digelontorkan tidak banyak tapi masih efektif, 3,7% dari GDP. Masalah terletak pada sumber daya manusia. Rumah sakit terlalu penuh dan kotor. Anda harus menunggu sangat lama sebelum dilayani. Rumah sakit juga kekurangan obat dan langka staf medis. Menkes Aaron Motsoaledi sampai mengatakan rumah sakit bisa menjadi jebakan kematian.

 

Masalah lain yang tergolong klasik adalah tingginya penyebaran HIV/AIDS di seluruh kalangan: kaya-miskin, muda-tua, pria-wanita. Di Afrika Selatan, penyakit ini menjangkiti 14% penduduk kulit hitam, 1,7% kulit warna, dan hanya 0,3% kulit Putih dan Indian. The Economist mencatat bahwa kemiskinan boleh jadi menjadi penyebab, tapi budaya juga ikut berperan. Penelitian menunjukkan penduduk kulit hitam di Afsel cenderung lebih banyak melakukan hubungan seks tak aman.

Bidang pendidikan tak jauh berbeda. Afsel menggelontorkan 6,1% GDP-nya untuk sektor pendidikan, termasuk besar dibanding negara lainnya. Tapi Afsel menjadi yang terburuk dari segi hasil. Dalam Indeks Daya Saing Global yang dirilis World Economic Forum, Afsel menempati urutan buncit dalam matematika dan ilmu pengetahuan alam. Bank Pembangunan Afsel menjuluki pendidikan dalam negerinya sebagai ‘bencana nasional’. Hanya 11% yang dapat mengeyam bangku kuliah.

Tak heran jika saat ini, 40% warga Afrika Selatan hidup dengan upah kurang dari dua dollar AS/hari.

Menteri Sekolah, Angie Motshekga, juga mengakui bahwa sekolah bagi anak-anak kulit hitam berada dalam krisis. Hanya kurang dari 10% sekolah yang memiliki perpustakaan dan labolatorium. Sedikit sekolah yang menawarkan aktivitas ekstra-kulikuler. Kebanyakan guru-guru tidak cukup berkualitas. Sekolah kulit hitam juga minim kepemimpinan dan kadang malah rawan obat terlarang, alkohol, dan kekerasan seksual (oleh guru maupun murid yang lebih senior).

Masalah kepemimpinan tak hanya menghantui guru-guru. Sang presiden, Jacob Zuma mengalami krisis serupa. Di masa awal kepemimpinannya, 77% rakyat mengatakan Zuma telah melakukan pekerjaan yang baik. Tapi April 2010, tingkat kepercayaan menurun drastis hingga 43% terutama setelah Zuma diduga terlibat korupsi dan berpoligami dengan begitu banyak wanita.

Di bidang ekonomi dan angkatan kerja, The Economist melontarkan judul menggelitik: ‘The economy is doing nicely—but at least one person in three is out of work’. Tahun lalu, pertumbuhan ekonomi Afsel sempat tergelincir di angka 1,8%, terendah selama 17 tahun terakhir. Secara resmi, tingkat pengangguran Afsel mencapai angka tertinggi dunia yaitu 25%. Pengangguran dari kalangan kulit hitam mencapai 30% sementara dari kalangankulit putih hanya mencapai 6%.

Akibat dari tingginya angka pengangguran ini, tingkat ketidakstabilan sosial dan kejahatan di Afsel sungguh menyeramkan.

The World Competitiveness Survey mencatat tingkat kriminalitas Afsel adalah yang terburuk di dunia dengan rincian 50 pembunuhan, 100 pemerkosaan, 550 kekerasan setiap harinya. Ini baru jumlah yang tercatat. Polling terakhir menyebut hampir dua pertiga warga Afsel merasa “tidak aman” ketika berjalan sendirian setelah hari gelap. Penelitian lain pada 2007 menemukan bahwa 22% warga Afsel mengalami pengalaman pribadi dengan kriminalitas.

Dengan seluruh kasus ini, saya setuju dengan The Economist yang menyimpulkan bahwa Afsel sangat tragis. Sejak berakhirnya era apartheid di tahun 1994, ketidakadilan bagi kulit hitam dan kulit putih justru makin subur.

Menjawab pertanyaan awal, momen Piala Dunia 2010 bisa jadi hanya berhenti pada pencitraan jika Afsel tidak melakukan pembenahan pada pilar politik, sosial, ekonomi, budaya, dan keamanannya. Namun momen bersejarah ini bisa menjadi kesempatan besar bagi Afsel untuk menarik investasi asing dan pariwisata sekaligus meningkatkan kinerja tim sepakbola Afsel.

Pembangunan stadion berskala internasional berharga mahal bisa kelak dapat dimanfaatkan oleh pemuda Afsel untuk berolahraga, menambah ekstrakulikuler yang minim, hingga meningkatkan prestasi timnas. Hal serupa dilakukan Beijing dengan stadion ‘sarang burung’-nya usai perhelatan Olimpiade 2008. Banyaknya tamu internasional yang datang juga membawa dunia lebih mengenal Afsel dan benua Afrika pada umumnya. Tak menutup kemungkinan muncul penjajakan investasi.

Tapi sekali lagi, semuanya hanya akan berjalan dengan baik jika pemerintah Afsel mampu mengatasi kesenjangan yang mencuat antara kulit hitam dan kulit putih yang selama ini menjadi sumber aneka masalah serta membenahi berbagai bidang kehidupan strategis terutama di bidang kesehatan, pendidikan, ekonomi, dan kepemimpinan. Ini penting mengingat Afrika Selatan sendiri menjadi anggota G20, kelompok ekonomi internasional yang kini lebih naik daun ketimbang G8.

Ketika menjejakkan kaki di Afrika Selatan hari ini, mungkin Anda tak akan pernah menyangka Afsel masih butuh pembenahan. Anda akan disambut di bandara internasional O.R. Tambo yang megah. Di jalan raya, Anda akan menemukan bus rapid transport yang lebih canggih daripada bus Transjakarta. Anda pun akan berjumpa dengan aneka hotel dan restoran kelas dunia.

Pendek kata, Anda tak akan berpapasan dengan penduduk kulit hitam berbalut tulang yang sering nongol di layar kaca saat bicara soal Afrika. Di balik kemegahan ini, Afrika Selatan masih terpuruk. Ia harus segera berbenah guna mewujudkan ’negara Pelangi’ impian Nelson Mandela.

Apalagi Indonesia.

Advertisements

One thought on “World Cup 2010: Afrika Selatan di Wilayah Abu-abu

  1. salam,
    saya mahasiswi hubungan internasional, hendak membuat proposal penelitian tentang Pengaruh Piala Dunia 2010 Terhadap Kestabilan PErekonomian Afrika Selatan.
    Saya ingin mengetahui, atau mohon informasi tentang sumber yang valid, tentang ekonomi Afrika Selatan saat Piala Dunia 2010, apakah stabil (tetap) atau mengalami kemajuan atau bahkan malah mengalami kerugian ?
    terimakasih atas informasinya.

    PS : bisa menghubungi saya di alamat email nourmala.sw@gmail.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s