ASEAN Travel: Pe-Er Besar Buat Indonesia

Welcome to your dream destination: There are some things in life that can only exist in dreams, or so we think. For how many times have we had visions of paradise…  gone to faraway places in search of it… only to realize than even before we begin to take it all in, we’ve lost it.

ASEAN: Asia’s Perfect 10 Paradise

Dunia pariwisata sepertinya masih menjadi primadona ekonomi bagi negara-negara anggota ASEAN. Jika kita amati, sepuluh negara anggota ASEAN (Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, Singapura, Filipina, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, Thailand) jelas memiliki tujuan pariwisata yang menarik, indah, unik, dan amat mencerminkan ragam budaya Asia Tenggara. Ada yang unggul dalam hal sumber daya alam dan budaya, ada pula yang unggul dalam hal pengelolaan SDM seperti Singapura.

 

Yang pasti, ASEAN sudah lama sadar bahwa sektor primadona ini akan makin cemerlang jika terus dikembangkan melalui jalinan kerjasama.  ASEAN Tourism Forum (ATF) sudah digagas sejak tahun 1981 di Malaysia yang dimatangkan pada forum di tahun-tahun berikutnya.

 

ATF pada dasarnya memiliki empat tujuan: ASEAN menjadi ‘single destination’ bagi para turis, meningkatkan kesadaran bahwa ASEAN merupakan tujuan turis yang sangat kompetitif di kawasan Asia Pasifik, meningkatkan minat para turis untuk berkunjung ke masing-masing negara ASEAN, mempromosikan intra-ASEAN Travel, dan meningkatkan kerjasama antar berbagai sektor dalam industry turisme ASEAN.

 

Tak hanya sekedar forum ‘talk shop’, komitmen ini direalisasikan secara tertulis dalam ASEAN Tourism Agreement pada tanggal 4 November 2002 di Phnom Penh, Kamboja. Lewat perjanjian ini, ASEAN mengakui pentingnya industry turisme bagi keberlanjutan pertumbuhan sosial-ekonomi negara-negara ASEAN. Keberagaman budaya, ekonomi, dan sebagainya sangat positif dalam meningkatkan kualitas hidup, perdamaian, dan kemakmuran seara regional.

 

Yang dibahas dalam dokuman ini antara lain adalah fasilitas intra-ASEAN dan travel internasional (masalah visa, dsb), fasilitas pelayanan transportasi, akses pasar, kualitas turisme, keamanan, kerjasama pemasaran dan promosi, dan pengembangan sumber daya manusia. Perjanjian ini juga turut ditandatangani presiden Indonesia kala itu, Megawati Soekarnoputri.

 

Bekerjasama dengan perusahaan travel, Indonesia sudah pernah mengimplementasikan ‘Travel Youth Programme’ di Taman Nasional Gunung Halimun, dan Sungai Citarik dan Ujung Genteng, dan Baduy masing-masing selama selama tiga hari. Ironisnya, penduduk Baduy sempat melakukan aksi mogok karena merasa kelastarian wilayahnya tak diperhatikan pemerintah.

 

Menariknya, ATF juga  selalu mengangkat isu baru dalam hubungan internasional.

 

ATF 2010 di Brunei, misalnya, mengangkat tema “ASEAN, the Heart of Green: 10 destinations, One Conservation Vision.” Dengan tema ini, ASEAN menekankan komitmennya terkait visi pembangunan lingkungan yang bersahabat dan berkelanjutan dalam industry turisme. Selain terkait dengan perlindungan lingkungan hidup, konsep ‘green tourism’ yang sudah menjadi budaya global ini juga berlaku di sektor budaya dan sosial: industri pariwisata juga harus memperhatikan masyarakat lokal.

 

Nah, tantangan bagi ASEAN dalam mewujudkan mimpi ini juga tak sedikit. Tantangan yang paling sering muncul adalah besarnya kesenjangan GDP (gross domestic product), fasilitas, kebijakan, dan kapasitas SDM antar negara ASEAN. Isu lainnya yang masih mengkhawatirkan adalah munculnya penyakit menular seperti flu babi, Avian Influenza (AI). Terakhir yaitu ketidakstabilan ekonomi pasca krisis perumahan AS, protes dunia terhadap ASEAN yang tak tegas bersikap dalam kasus Aung San Su Kyii, hingga kerusuhan berdarah yang menghebohkan di negara Pagoda.

 

Kerjasama turisme ASEAN ini juga sudah sejalan dengan Rencana Strategis Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia (dapat dibaca di http://www.budpar.go.id/filedata/439_1036-RENSTRABUDPAR20052009.pdf).

 

Visi Depbudpar adalah “terwujudnya jatidiri bangsa, persatuan dan kesatuan bangsa dalam kerangka multikultural, kesejahteraan rakyat dan persahabatan antar bangsa”. Misi Depbudpar poin kedua adalah mendukung pengembangan destinasi dan pemasaran pariwisata yang berdaya saing global. Dalam dokumen yang sama, Depbudpar juga menilai kerjasama dengan ASEAN semakin memberikan manfaat bagi upaya-upaya pemasaran pariwisata.

 

Rencana strategis ini sepintas terlihat sangat baik. Tapi tak demikian dengan pelaksanaannya. Jelas bahwa tantangan utama yang sesungguhnya berasal dari dalam negeri.

 

Tantangan ini paling nyata nampak dari hasil laporan World Economic Forum 2009 dalam Travel & Tourism Competitiveness Index atau Indeks Daya Saing Travel dan Turisme yang dapat  Anda akses di alamat http://www.weforum.org/en/initiatives/gcp/TravelandTourismReport/index.htm. Laporan ini menggunakan 10 faktor kunci untuk menilai daya saing travel dan turisme negara di seluruh dunia.

Sepuluh faktor tersebut yaitu kebijakan dan peraturan, lingkungan berkelanjutan, keamanan, kebersihan, prioritas travel dan turisme, infrastruktur transportasi udara, infrastruktur transportasi darat, infrastruktut turisme, infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi, kompetisi harga dalam industri pariwisata, Sumber Daya Mansuia, eratnya kerjasama dengan pelaku dunia pariwisata, Sumber Daya Manusia, dan Sumber Daya Budaya.

 

Di tahun 2008, laporan WEF menyebut bahwa Indonesia hanya bagus dari sisi niatan untuk menjadikan turisme sebagai kebijakan prioritas, tetapi lemah dalam implementasi kebijakan. Belum lagi soal lemahnya kondisi kesehatan dan kebersihan, lingkungan dan keamanan.

 

‘Prestasi’ serupa masih bertahan di tahun 2009. Dari 133 negara yang disurvei, Indonesia menempati urutan ke-81. Jawara sepuluh besarnya adalah Swiss, Austria, Jerman, Prancis, Kanada, Spanyol, Swedia, AS, Australia dan Singapura. Dalam konteks ASEAN, urutannya adalah Singapura (ranking 30), Malaysia (32), Thailand (39). Brunei Darussalam (69), Indonesia (81), Filipina (86), Vietnam (89), Kamboja (108). Tidak ada data soal Laos dan Myanmar.

 

Mari kita amati indeks daya saing pariwisata Indonesia sesuai laporan WEF 2009 ini.

 

Indeks daya saing travel dan turisme terdiri dari berbagai faktor yang dihitung dengan skala 1-7. Untuk Indonesia, nilai terbesar adalah kompetisi harga dalam industri travel dan turisme (nilai skala: 5,9), prioritas travel dan turisme (5,7), ketersediaan tenaga kerja berkualitas (5,6), dan SDM (5,3). Nilai terburuk berada pada infrastruktur turisme (2,1), infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi (2,1), kebersihan (2,6), sumber daya budaya (3,1), dan kebijakan dan regulasi (3,3).

 

Penilaian dalam hal infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi WEF ini, sangat bertolak belakang dengan pengkuan Depbudpar dalam rencana strategisnya (lihal halaman 31 poin 27) yang dengan percaya diri mengatakan bahwa jaringan internet dan intranet yang dimiliki Depbudpar mampu diakses secara cepat dari seluruh daerah dan berbagai penjuru dunia.

 

Nyatanya, kecepatan akses situs Indonesia terhitung ‘lelet’ dibanding dengan situs Depbudpar negara ASEAN lainnya. Desain dan pemilihan jenis hurufnya juga masih kalah menarik, belum lagi informasi yang ditampilkan masih sangat minim. Di situs resmi Depbudpar, kalender agenda-nya bahkan tercantum ala kadarnya dan tidak ada link dengan web Pemda. Pada situs resmi ASEAN Travel, profil Indonesia malah tidak dapat di-klik. Sayang sekali.

 

Promosi agenda pariwisata yang kurang bergaung seolah menjadi pembenaran bahwa dari sisi niatan untuk menjadikan turisme sebagai kebijakan prioritas, Indonesia memang cukup jago. Tetapi giliran implementasinya, ya begitulah. Dari tiga stakeholders industri pariwisata: pemerintah, masyarakat, swasta (perusahaan travel, maskapai swasta, dll), yang terdengar paling aktif mempromosikan wisata Indonesia di tingkat akar rumput justru berasal dari dua kelompok terakhir.

 

Itu sebabnya, pemerintah harus segera berbenah jika tak mau dicap omdo alias ‘omong doang’. Selama ini, pemerintah-lah yang paling keras berteriak dan melemparkan wacana Visit Indonesia Year dan aneka wacana lain termasuk menargetkan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) tahun 2010 sebesar 7 juta, tahun 2011 sebesar 7,7 juta, tahun 2012 sebanyak 8,5 juta, tahun 2013 sebesar 9,3 juta, dan tahun 2014 sebesar 10,3 juta.

 

Kembali ke diagram, sungguh heran melihat sumber daya budaya RI hanya mencapai skala 3,1. Bagaimana mungkin terjadi? Dalam situs resmi Indonesia, Indonesia disebut memiliki 17.504 pulau dan 200 kelompok etnis yang kaya dengan aneka ragam candi, musik, gaya hidup bisa kalah dalam sumber daya budaya? Terlebih tag-line pariwisata Indonesia adalah ‘Ultimate in Diversity’. Ada dua kemungkinan. WEF tidak teliti atau memang budaya Indonesia tidak terkelola dengan baik atau mungkin Indonesia sekilas nampak beragam tapi seragam karena menjamurnya budaya pop.

 

Karena bukan seorang sosiolog atau budayawan, saya tak bisa berdebat. Tapi ada kecenderungan budaya pop sudah merambah ke pelosok daerah. Gedung serba guna atau gedung olahraga beralih fungsi menjadi pusat perbelanjaan. Hutan dan danau yang asri berubah menjadi wilayah pemukiman elit, kondominium, pusat perbelanjaan, atau restoran yang jauh dari nuansa budaya lokal. Mungkin hal-hal semacam ini yang didapati tim suvei World Economic Forum di Indonesia.

 

Menjawab hal ini, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata (Menbudpar) Ir.Jero Wacik, SE mengatakan bahwa pengembangan bidang kebudayaan tetap menjadi prioritas dalam program kerja Depbudpar lima tahun ke depan (2010-2014), di samping bidang pariwisata yang diharapkan akan menghasilkan devisa yang terus meningkat. Kita tentu berharap pidato ini tak kembali menjadi wacana sehingga baik bidaya maupun pariwisata dapat berjalan sinergis dan saling menguntungkan.

 

Jangan sampai target ini tak dapat diimplementasikan karena pemerintah terlalu sibuk berwacana.

 

Di tingkat implementasi, Depbudpar telah menyeleksi 200 desa di seluruh Indonesia untuk dibangun menjadi desa wisata pada 2010. Program Desa Wisata dinilai efektif meningkatkan kesejahteraan masyarakat dengan mengembangkan karakter wisata desa yang bersangkutan. Desa wisata juga sangat potensial berkembang karena tahun-tahun terakhir agrotourism dan ekowisata sangat diminati wisatawan

 

Soal fasilitas, Menbudpar Jero Wacik mengatakan, pemerintah akan menambah konter kedatangan wisatawan mancanegara di Bandara Soekarno Hatta Jakarta dan  Ngurah Rai, Denpasar – Bali agar pelayanan saat kendatangan menjadi lancar dan nyaman. Di Bandara Soekarno Hatta, dari 6 konter pelayanan wisman, dalam waktu dekat akan ditingkatkan menjadi  12 konter. Di Bandara Ngurah Rai dari 10 konter ditambah menjadi 26 konter.

 

Kebijakan ini harus diapresiasi karena bagaimanapun, sulit bagi Depbudpar untuk menangani seluruh Indonesia yang sangat luas. Tapi penting untuk menjadi catatan pemerintah bahwa program-program semacam ini terjamin keberlanjutannya, bukan sekedar demi memenuhi tuntutan agenda. Desa pariwisata harus dipelihara kelestariannya. Bandara yang merupakan gerbang selamat datang bagi turis asing harus selalu dipelihara kebersihan, keamanan, dan kenyamanannya.

 

Implementasi hal-hal sederhana seperti inilah yang akan menentukkan kualitas pariwisata Indonesia di mata ASEAN dan dunia. Tujuan ASEAN Travel mirip dengan konsep ASEAN Free Trade Agreement yakni terciptanya ‘one single destination’. Selain kerjasama, Indonesia pun harus bersaing dengan sembilan negara ASEAN lainnya dalam menarik minat wisatawan mancanegara.

 

Ini bisa jadi peluang sekaligus ancaman. Peluang jika Indonesia mampu membenahi kelemahan-kelemahannya. Ancaman jika pemerintah masih terus rajin berwacana dengan tindakan nyata yang sangat minim. Jika ini yang terjadi, untuk menarik minat wisatawan domestik saja dipastikan akan sangat sulit. Anak-anak bangsa ini lebih memilih berlibur ke luar negeri.

 

Inilah Pe-Er besar Indonesia yang sudah menanti di depan mata. Now is the time to act!

Advertisements

2 thoughts on “ASEAN Travel: Pe-Er Besar Buat Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s