Geliat Nokturno di Bumi Naga

“Fifty million Chinese children are now studying a classical instrument. In 20 years, I believe China will be one of the biggest countries in the world for music.”

Long Yu – Artistic director and chief conductor of China Philharmonic Orchestra

 

Keriangan Mozart segera menyeruak saat tangannya yang lincah memainkan nada-nada stakato Piano Sonata In C Minor, K.330, l.Allegro Moderato. Tubuhnya turut bergerak mengiringi nada tuts piano yang ditekannya. Mimik wajahnya yang baby-face berubah-ubah cepat. Mulutnya sesekali menganga lalu menutup dengan segera, meladeni Mozart yang mengajaknya main petak umpet sambil berlari-lari. Enam menit kemudian, Sonata In C Minor berakhir dengan gemuruh tepuk tangan. Lang-Lang, demikian nama pianis itu, tersenyum sambil menundukkan kepalanya dalam-dalam.

 

Lang-Lang bukanlah pianis klasik paruh baya yang monoton. Ia lahir pada tanggal 14 Juni 1982 di Liaoning, China dan kini menjadi warga negara Hong Kong. Meski baru berusia 28 tahun, Lang begitu melanglangbuana. Ia sudah tampil di hadapan Presiden China Hu Jin Tao, mantan Sekjen PBB Kofi Annan, Ratu Elizabeth II dan Pangeran Charles dari Inggris, Presiden Jerman Horst Köhler, Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin, Presiden Prancis Nicolas Sarkozy, hingga bermain dalam acara Penyerahan Hadiah Nobel Perdamaian kepada Barrack Obama di Oslo, Norwegia

 

Musisi bercitra global ini menjadi pianis China pertama yang berkolaborasi dengan grup orkestra dunia Berlin Philharmonic dan Vienna Philharmonic. Nama Lang juga tertulis pada sepatu keluaran Adidas. Tak mau ketinggalan, Sony menjadikan Lang sebagai duta mereka. Produsen piano Steinway pun meluncurkan lini produk seri Lang Lang. Pada usianya yang belum genap 30 tahun, Lang termasuk 1 dari 100 orang paling berpengaruh di dunia versi majalah Time. ‘Lang-Lang effects’ pun melanda China. Jutaan anak di China mengikuti les piano agar bisa seperti Lang-Lang.

 

Rupanya Lang tak sendiri.

 

Pianis klasik muda China lainnya seperti Yuja Wang dan Li Yundi bersinar bak meteor di kancah musik klasik dunia. Yuja Wang yang lahir di Beijing pada 10 Februari 1987, sudah melebarkan sayap hingga ke Eropa. Wanita yang telah menandatangani kontrak rekaman eksklusif dengan Deutsche Grammophon ini, telah tampil bersama Los Angeles Philharmonic, National Symphony Orchestra, Dallas Symphony Orchestra, dan Pittsburgh Symphony Orchestra. Adapun Li Yundi yang lahir di Chongqing pada 7 Oktober 1982, terkenal setelah menjadi pianis termuda yang memenangkan International Frederick Chopin Piano Competition.

Ledakan antusiasme China terhadap musik klasik ditunjukkan dengan meningkatnya pasar rekaman dan penampilan panggung. Bayangkan, dalam 25 tahun terakhir angka penjualan album klasik di Barat ‘hanya’ 1.000 sementara China mencapai sepuluh kali lipatnya. The New York Times (3 April 2007) mencatat bahwa hanya sedikit pemuda AS yang mendengarkan musik klasik berbanding China yang saat ini diperkirakan memiliki 30 juta pelajar piano dan 10 juta pelajar biola!

 

Asosiasi Musik China menyebut tes-tes yang diadakan konservatori musik menarik sekitar 200.000 pelajar dalam setahun. Produksi instrumen musik klasik pun meledak. Pada tahun 2003, ada 87 perusahaan pembuat instrumen musik klasik dengan rincian 370.000 piano, sejuta biola, dan enam juta gitar. Dengan angka ini, China mendominasi produksi instrumen musik klasik di dunia. “Musik sedang hot di China, mungkin tak sebaik Barat tapi talenta China tak terbatas,” tutur Chen Hung-Kuan, ketua departemen Piano pada Shanghai Conservatory (NYT, 3 April 2007).

 

Pertanyaan berikutnya adalah mengapa dan bagaimana musik klasik dapat menggeliat begitu dahsyat saat ini di China? Sepertinya banyak sekali faktor yang tak mudah terjawab.

 

Musik Barat pertama kali nongol di bumi Naga pada tahun 1601 ketika seorang misionaris Jesuit, Matteo Ricci, memperkenalkan sebuah alat bernama clavichord pada Wanli, kaisar terlama yang memimpin Dinasti Ming. Pada abad ke-19, musik Barat menyebar luas khususnya dalam dunia militer. Pada abad ini, Shanghai Conservatory lahir sebagai sekolah musik pertama ala Barat. Pada tahun 1949, Mao Zedong mendorong musik impor meski berada dalam kukungan ideologi yang ketat. Musik Barat berangsur melemah saat terjadi Revolusi Kebudayaan pada tahun 1966.

 

Revolusi Kebudayaan China menuntut penghapusan segala sesuatu berbau ‘barat’ dan ‘imperialis’. Peran konservatori musik pun surut dan kembali pada musik tradisional era kekaisaran lampau. Namun semua berbalik pasca kematian Mao dan suksesornya, Jiang Qing. Perlahan namun pasti, musik klasik menemukan momentum kebangkitannya. Saat konservatori kembali dibuka pada tahun 1978, 80.000 penduduk China berbondong-bondong melamar dari ratusan penjuru. Kebangkitan musik klasik pun berlangsung hingga era Lang-Lang, Yuja Wang, dan Li Yundi pada saat ini.

 

Orang tua berebut mendaftarkan anaknya ke konservatori. Alasannya bukan hanya demi mengikuti perkembangan seni dunia tapi juga agar bisa lari dari kemiskinan. Sekolah musik elit dipandang sebagai salah satu jalan keluar. Para guru mem-push murid mereka dengan teknik sulit yang dibarengi dengan aneka kompetisi berstandar internasional. Kebijakan satu anak pun jadi tersangka. “Alasan orang tua menyuruh anaknya belajar piano sederhana saja. Mereka ingin anak-anak diam di rumah dan tidak berkeliaran di jalan,” tutur Long Yu, kepala China Philharmonic Orchestra.

 

Banyak pula orang tua memandang musik klasik sebagai the highest art dalam pakem peradaban negara Barat. Dengan musik klasik, para orang tua berpikir negara China akan dianggap setara dengan negara Barat yang ‘beradab’ dan ‘mapan’. Dengan alasan-alasan inilah sebagian dari 30 juta pelajar piano klasik China berasal dari kalangan ‘menengah baru’.

 

Argumen lain mengatakan bahwa booming musik klasik didorong kuat pemerintah guna mendukung ‘soft power’ China yang tak hanya bergeral pada area ekonomi-politik namun juga seni. Dukungan ini terlihat dalam sistem pendidikan dan fasilitas musik. Dari 40 murid pada sebuah SD, 37 di antaranya belajar piano (The New Yorker, 7 Juli 2008). Fasilitas gedung pertunjukkan di China setara dengan standar dunia. Beijing Concert Hall, misalnya, memiliki 15 panel khusus yang tergantung di atas panggung. Panel-panel ini mengirim tiga jenis gelombang suara yang mengalir di setiap sudut gedung sehingga efek akustiknya sangat maksimal.

 

Tapi kritik pun bermunculan.

 

Beberapa menilai gaya permainan musik klasik China terlalu kaku seperti ‘kayu yang dibentuk dengan cutter’. Seharusnya, musik klasik dimainkan dengan kombinasi teknik, budaya, kreativitas yang memadai untuk menghasilkan nada yang spontan, sensitif, dan kaya emosi (NYT, 3 April 2007). Kritik lainnya terkait dengan tingginya angka pembajakan album klasik di China. Yang paling menggelitik adalah budaya penonton musik klasik China yang terlalu protokoler.

 

Kisah pianis AS, Murray Perahia seperti yang dituturkan pada TIME (6 November 2008) adalah salah satu contoh. Pada November 2008, Murray Perahia bermain komposisi klasik di Forbidden City Concert Hall. Dengan cepat ia berpindah dari Beethoven, Mozart, dan Bach. Selesai dengan Chopin, Perahia meninggalkan panggung. Penonton yang tak terbiasa dengan encore (permainan tambahan) meninggalkan aula. Saat Perahia kembali bermain, sisa penonton yang mengira pertunjukkan berakhir tak hanya bertepuk tangan namun juga berteriak kencang.

 

The New Yorker menilai sekolah musik atau konservatori di China dipandang lebih berfokus menciptakan bintang ‘imitator’. The Sichuan Conservatory, misalnya, menghasilkan penyanyi pop Li Yuchun yang pada 2005 menjadi kontestan ‘Super Girl’ (American Idol versi China) dan memenangkan kompetisi hip-hop.

 

Dengan aneka kelemahan ini, beberapa musisi China seperti Qi Yue dengan rendah hati menolak pernyataan bahwa China telah menjadi surga musik klasik. Meski demikian, Qi Yue memperkirakan China akan menjadi pasar utama musik klasik dalam kurun waktu 20-30 tahun. Sang konduktor, Long Yu, merasakan hal serupa. “Media mengatakan China adalah negara musik terbesar di dunia. Saya hanya melakukan yang terbaik untuk melayani mereka yang membutuhkan musik klasik. Saya tak bertugas membuat seluruh China menyukainya.”

 

Bagaimana dengan kondisi musik klasik di Indonesia?

 

Dengan berat hati fakta menunjukkan bahwa musik klasik di Indonesia cenderung tenggelam. Persepsi yang salah bahwa musik klasik hanya milik orang berada serta minimnya pendidikan musik dan fasilitas gedung pertunjukkan menjadi kendala ‘klasik’. Untuk gedung pertunjukkan bertaraf internaisonal yang memadai, Indonesia sepertimnya hanya memiliki Aula Simfoni Jakarta di Kemayoran. Itu pun bukan milik pemerintah.

 

Penghargaan terhadap musisi klasik Indonesia berprestasi internasional pun mengenaskan. Nama-nama musisi klasik muda seperti Addie MS, Trusutji Kamal, Ananda Sukarlan, Levi Gunardi, dan Stephen Kurniawan Tamadji seolah tertelan oleh hiruk pikuk band-band dan aneka musik minim kualitas yang lebih bersifat bubble gum: cepat naik, cepat pula turun. Pendidikan musik (jangankan klasik) pun terbengkalai. Alasan yang umum digunakan adalah musik di Indonesia masih menjadi urusan sekunder ketimbang perut.

 

Tapi masih banyak harapan. Musisi Indonesia memiliki talenta yang tak kalah tinggi dengan musisi negeri seberang. Dengan fasilitas yang minimpun, mereka mampu menjadi juara dalam aneka kompetisi internasional. Meski demikian, pemerintah harus jeli menangkap peluang ‘soft power’ ini. Musik klasik bersifat sui generis, sudah mengglobal. Jangan sampai bibit-bibit musisi pengharum bangsa tersia-sia karena tak mendapat tempat di negeri sendiri.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s