Diplomasi Gaya Rambut

As part of our modes of appearance in the everyday world, the ways we shape and style hair may be seen as both individual expressions of the self and as embodiments of society’s norms, conventions and expectations

Kobena Mercer (Black Hair/Styles Politics – New Formations Number 3 Winter 1987)

Masih ingat gaya rambut Lady Gaga? Gaya rambut Gaga yang begitu fenomenal membuat nyaris seluruh media massa mengulasnya. Dalam suatu kesempatan, Gaga tampil berani dengan gaya rambut mengembang seperti payung. Dalam kesempatan lain, rambut Gaga tegak runcing-runcing agak melekuk, membuat siapapun terperangah sejenak sambil mengamati tiap ruas rambutnya yang memesona. Gaya rambut khas ini menjadi bagian tak terpisahkan dari penampilan cemerlangnya (selain suaranya, tentu) yang mengantarnya meraih sekian banyak nominasi Grammy Awards.

 

Ya, gaya rambut memang menjadi bagian tak terpisahkan dari pribadi seseorang. Gaya rambut tak lagi menjadi hak istimewa seorang public figure. Anda tentu tak berkunjung ke salon hanya untuk memangkas rambut yang sudah mulai panjang agar lebih rapi. Anda tentu menginginkan style tertentu agar pribadi Anda lebih “terlihat”.

 

Seiring dengan perkembangan jaman, Anda pun melakukan ‘sesuatu’ pada rambut Anda agar terlihat lebih gaya dan ekspresif. Kaum hawa memangkas rambutnya dengan aneka model terkini. Anda memotong dan mewarnai rambut sesuai tren terbaru yang tertera pada majalah ataupun mengikuti saran hairdresser. Para pria yang dulu cenderung konvensional kini mulai memotong rambutnya secara tak simetris sekaligus mewarnai rambutnya dengan double bahkan triple layer.

 

Tren mode rambut pun berkembang pesat dari tahun ke tahun. Gaya potongan rambut perempuan tahun lalu adalah pendek, kini layer bergelombang, dan seterusnya. Istilahnya makin beragam: textured, seductress, pixielated, wavelengths, dan masih banyak lagi. Demikian pula dengan tren warna rambut yang terus berubah: tahun ini cokelat kemerahan, tahun depan cokelat keemasan, dan seterusnya. Anda bahkan tak perlu repot-repot ke salon mengecat rambut atau creambath. Aneka produk pewarna dan perawatan rambut memungkinkan Anda melakukannya di rumah.

 

Mengapa Anda mau demikian repot mengurusi rambut? Jawaban klasiknya ada dua: ingin tampil lebih fresh dan rambut adalah mahkota yang dapat mencerminkan seluruh kepribadian.

 

Secara psikologis, gaya rambut Anda punya aneka makna yang dapat didiskusikan. Beberapa pakar misalnya, menilai rambut pendek berhubungan dengan kecerdasan dan sikap sederhana sementara rambut panjang mencerminkan kepribadian sensual dan penuh keyakinan.

 

Dermoline, produsen perawatan rambut dari Italia, menilai kaum hawa yang mengecat rambutnya dengan warna dasar merah memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi dan keinginan berselingkuh yang kuat sementara mereka yang mengecat rambutnya dengan warna blonde atau atau cokelat menunjukkan kesetiaan. Seksolog asal Italia, Willy Pasini, menilai warna merah berkaitan dengan gejolak hati yang panas sedangkan warna blonde dan cokelat lebih tenang dan elegan.

 

Tentu hasil penelitian ini tidak mutlak dan dapat didiskusikan. Tapi mayoritas sepakat bahwa mode rambut memang mencerminkan kepribadian seseorang. Mode rambut menjadi bagian penting dalam keseluruhan penampilan fisik dan psikologis Anda. Tapi berapa dari Anda yang tahu bahwa gaya rambut juga ternyata bermakna politis dan bahkan memuat kepentingan diplomasi?

 

Julius Cesar dari kekaisaran Romawi adalah kaisar yang sangat memerhatikan penampilan rambutnya. Tatanan rambut bermakna politis dalam kekaisaran Roma sejak era Charles the Bald hingga Frederick I Barbarossa. Kekaisaran China sama saja. Mereka begitu menghormati rambut yang hitam mengilat berapapun usianya (The Economist, Juni 2010). Gaya rambut ‘kuncir’ China jadoel yang sering kita saksikan dalam film-film silat pun menyiratkan makna politis yang dalam.

 

Era apharteid, gaya rambut penduduk kulit hitam yang cenderung gimbal dan kaku sering dipandang rendah daripada gaya rambut penduduk kulit berwarna yang lurus. Dalam tulisan berjudul Black Hair/Styles Politics (1987), Kobena Mercer mencontohkan fenomena Michael Jackson yang lebih memilih gaya curly-perm hair-style yang cenderung lurus. Saat itu, gaya rambut yang dipandang ideal adalah lurus. Definisi ‘cantik’ yang terpusat pada Eropa ini akhirnya memunculkan inferiority complex: semua berbondong meluruskan rambut agar tak dipandang lebih rendah atau tertinggal.

 

Pada era selanjutnya, gaya rambut para penguasa mendapat sorotan yang lebih lebar dalam pemberitaan media massa. Tahun 1990an, gaya rambut Lady Diana begitu fenomenal dan menjadi panutan jutaan perempuan di dunia. Saking melegendanya rambut Lady Di, kini muncul selai berbahan dasar rambut milik mendiang Lady Di (Sydney Morning Herald, 5 Juli 2010). Sang pemilik, Sam Bompas, mengatakan bahwa rambut Lady Di tersebut ia peroleh melalui situs eBay dengan harga 10 dollar AS dari seorang pedagang yang hobi mengumpulkan rambut para selebritis dunia.

 

Fenomena ini terus berkembang hingga saat ini. Aneka gaya rambut politisi hingga calon presiden tak luput dari perbincangan publik. Gaya rambut Sarah Pallin, Hillary Clinton, hingga Michelle Obama dikupas tuntas sepaket dengan gaya fashion-nya.

 

Perubahan gaya dan warna rambut Perdana Menteri Ukraina, Yulia Tymoshenko, bahkan sempat menjadi perbincangan seru. Gaya rambut awal Yulia Tymoshenko adalah pilinan kuda yang melingkar rumit: membentuk semacam bando di atas rambutnya. Ketika Ukraina mengalami goncangan ekonomi, tatanan rambut Yulia berubah: pilinan rumit di atas kepalanya berganti menjadi sebuah konde sederhana dengan warna rambut blonde cokelat keemasan yang lebih ‘soft’.

 

Untuk kepentingan diplomasi, ada yang lebih heboh.

 

Baru-baru ini, pemerintah Iran menuntun gaya rambut penduduk pria-nya. Pemerintah melalui Departemen Kebudayaan melarang gaya rambut kuncir kuda, mullet dan spike tetapi gaya rambut quiff (ala Elvis Presley) diperbolehkan. Pemakaian gel rambut pun hanya diperbolehkan sedikit. “Gaya rambut yang disetujui ini terinspirasi dari orang Iran yang kompleks, dari budaya dan agama, serta hukum Islam,” ujar Jaleh Khodayar, penanggungjawab festival kesederhanaan dan cadar Iran (Telegraph, 5 Juni 2010). Tujuannya: Iran ingin menyingkirkan budaya “gaya mencukur barat”

 

Korea Utara melakukan hal serupa. “Lelaku harus menjaga rambut mereka tetap pendek, sementara perempuan diminta mengikat rambut panjang mereka. Menjaga rambut rapi dan sederhana adalah sangat penting untuk mengatur etos gaya hidup negara ini,” demikian dilansir suratkabar milik pemerintah berkuasa, Rodong Sinmun seperti dikutip AFP (20 November 2009).

 

Pemerintah Korea Utara menegaskan rambut pendek adalah gaya standar untuk pria. Potongan ini membuat kaum Adam terlihat elegan, rapi, ambisius, dan penuh gairah. Para pelajar perempuan diminta menjaga rambut mereka tetap pendek. Perempuan usia pertengahan diminta berambut panjang dan diikatn sedangkan perempuan tua diminta menyanggul rambut.

 

Penataan rambut yang lebih detail dan diplomasi ‘gaya rambut anti barat’ menunjukkan bahwa para politisi paham bahwa rambut mencerminkan identitas dan warna politik.  Seperti halnya para artis, sebagian besar politisi bahkan memiliki penata rambut pribadi. Mereka sadar bahwa tren rambut selalu berkembang seperti halnya tren fashion atau tren politik.

 

Gaya rambut sebagai sarana diplomasi pun terlihat dari penciptaan tren itu sendiri. “Kami sudah lama menciptakan tren berdasarkan kecenderungan isu yang sedang berkembang. Misalnya sedang ramai isu pemanasan global, kami ciptakan tren yang cenderung kembali ke alam seperti gaya rambut yang tidak disasak tinggi sehingga kalau kena angin masih bisa bergerak. Terkait isu persamaan gender, model rambut cewek jadi seperti cowok yaitu tajam-tajam rock and roll,” tutur Rudy Hadisuwarno dalam sebuah wawancara dengan saya (Agustus 2010).

 

Gaya rambut memang mencerminkan kepribadian seseorang, namun ia juga dapat menjadi sarana berdiplomasi bermuatan inner-beauty yang sarat nilai estetis. Gaya rambut seorang penguasa dapat menjadi ‘sedikit’ pijakan untuk membaca arah politiknya, seperti yang dikatakan Kobena Mercer 23 tahun silam: As such we require a historical perspective on how many different strands – economic, political, psychological – have been woven into the rich and complex texture of our nappy hair, such that issues of style are so highly charged as sensitive questions about our very ‘identity’.

 

Advertisements

2 thoughts on “Diplomasi Gaya Rambut

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s