Masih Ada Sejuta Harapan

 

All travel has its advantages. If the passenger visits better countries, he may learn to improve his own. And if fortune carries him to worse, he may learn to enjoy it

Samuel Johnson

 

 

Dahsyatnya letusan Gunung Merapi bukan hanya menghebohkan rakyat dan petinggi tanah air. The Economist menganugerahi Merapi dengan julukan Indonesia’s Pompeii yang mengacu pada letusan mematikan Gunung Vesuvius ribuan tahun silam di Roma. The New York Times membuat judul lebih menggelitik: Ash in the Air, Confusion on the Ground (7 November 2010).

 

Dalam jangka panjang, bekas abu vulkanik membawa kesuburan. Tapi itu masih memakan waktu relatif panjang sebelum hasilnya terasa. Alih-alih memikirkan kesuburan di masa datang, warga lebih memilih bersih-bersih sampai sisa abu di pekarangan dan dalam rumah terhapus.

 

Jangka pendek, nuansa mayoritas yang kita saksikan adalah kepiluan. Pilu bukan saja karena korban jiwa atau logistik tapi juga hilangnya matapencaharian penopang hidup, terutama di bidang pertanian dan perkebunan. Hampir seluruh media di Indonesia memajang foto sawah terlapis “salju Merapi” ataupun sapi gosong di halaman utama.

 

Bidang lain yang tak dapat dipungkiri terpukul telak adalah sektor pariwisata. Wilayah paling tenar di Yogyakarta, Malioboro, turut terkena imbas. Jumlah pengunjung yang menurun drastis membuat para pelaku industri pariwisata bernapas satu-satu. Simak saja wawancara wartawan Kompas.com dengan seorang pedagang pakaian di Malioboro, Agus Taman:

 

Agus Tamar (46) adalah salah seorang pedagang pakaian di emperan Malioboro. Laki-laki yang telah 18 tahun berjualan di Malioboro itu mengaku, selama seminggu terakhir, omzetnya melorot hingga 70 persen. ”Kalau biasanya bisa dapat Rp 500.000 per hari, sekarang cuma Rp 150.000-Rp 200.000,” ujarnya saat ditemui pada hari Rabu (3/11/2010).

 

Sewaktu saya dan teman-teman relawan bertandang sebelum erupsi Merapi kedua pada 4 November terjadi, kondisi Malioboro sudah relatif sepi. Demikian pula dengan Candi Borobudur di Magelang.

 

Ketika kami berkunjung pada tanggal 3 November 2010, permukaan candi sudah terlihat kusam dan tak terlalu ramai pengunjung meski masih ada segelintir wisman. Dua hari kemudian, lantai tiga hingga lantai sepuluh candi ini ditutup sementara karena ketebalan debu yang menempel di permukaan candi sudah mencapai dua sentimeter!

 

Kamis (4 November 2010) pagi atau sesaat sebelum letusan kedua terjadi, kami sudah sulit membeli oleh-oleh di kota Muntilan yang langsung lumpuh tertutup debu vulkanik parah. Tak ada satupun toko oleh-oleh yang bersedia ambil resiko.

 

Apapun yang terjadi, bencana alam berada di luar kuasa manusia. Saya menyebutnya sebagai faktor ‘yang tak dapat dihindari’ atau variabel dependen. Yang masih dapat kita lakukan adalah mempertahankan daya pikat pariwisata. Dalam hal ini, media sesungguhnya berperan vital. Sayang, beberapa di antara mereka justru cenderung me”lebay”kan suasana dan membuat kepanikan tak perlu bagi warga setempat maupun para pemirsa di seluruh tanah air.

 

JIka kita lihat sisi positfnya, bencana Merapi dapat menjadi titik balik bagi seluruh pelaku industri pariwisata Jawa Tengah dan Yogyakarta untuk menarik napas sejenak sambil mempersiapkan strategi berikutnya. Pemerintah melalui perbaikan kebijakan, promosi, dan infrastruktur; swasta melalui promosi dan sarana; serta dukungan aktif masyarakat.

 

Pemulihan dunia pariwisata Jawa Tengah dan Yogyakarta jelas membutuhkan waktu. Selama ini mungkin Yogyakarta sudah terlalu terlena dengan grafik kunjungan turis yang selalu meningkat. Merapi menjadi ‘lecutan’, bukan ‘lecutan’ untuk menghancurkan atau menjatuhkan tapi ‘lecutan’ yang membuat Yogyakarta semakin melesat di kemudian hari.

 

Sebuah busur atau ketapel ‘mundur’ beberapa sentimeter ke belakang sebelum akhirnya ia melesat jauh ke depan. Merapi memang sebuah bencana tapi ia juga sebuah berkah.

 

Pemerintah, swasta, masyarakat ‘dipaksa’ merenung dan memikirkan strategi. Pemerintah yang selama ini mungkin cuek, ‘dipaksa’ memberi perhatian lebih pada warga. Swasta yang selama ini sudah asyik menikmati keuntungan hasil usaha ‘dipaksa’ berempati sambil tetap bertahan menghadapi krisis. Masyarakat Jawa Tengah dan Jogja ‘dipaksa’ menabahkan diri sambil berupaya bangkit.

 

Yang tak kalah penting, seluruh rakyat Indonesia ‘dipaksa’ sabar dan mendukung saudara-saudara kita yang tertimpa musibah. Merapi membuat kita sama-sama tersadar bahwa masih banyak saudara-saudara kita nun jauh di sana yang membutuhkan dukungan kita.

 

Kata kuncinya adalah doa, ketabahan, solidaritas bersama, dan ujian daya juang menuju dunia pariwisata Jawa Tengah dan Jogja yang jauh lebih baik yang akhirnya akan mengantar Indonesia ke arah yang lebih baik. Bukan berarti saya mengecilkan arti derita mereka. Sama sekali bukan. Inilah momen kita merealisasikan pedoman yang sama-sama sudah kita hafal sejak bangku sekolah: “berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.”

 

Pasti datang masa=masa di mana dunia pariwisata Jawa Tengah dan Jogja kembali pulih, bahkan semakin benderang karena trademark Merapi yang sangat terkenal. Tak lagi muncul rasa takut, yang ada adalah rasa bangga karena Tuhan telah mengaruniai negeri ini dengan jutaan topografi yang membuat Indonesia begitu kaya dan berwarna.

 

Terakhir, kita sudah berulang kali tertimpa masalah mulai dari gempa Jogja dan Bantul, Bom Bali 1-2, Gempa Nias, Tsunami Aceh, hingga gempa Pangandaran yang seluruhnya pasti berdampak bagi kehidupan masyarakat dan dunia pariwisata Indonesia. Semua membawa cerita dengan suka-dukanya masing-masing.

 

Yang pasti, selalu ada jalan keluar dan sejuta harapan bagi setiap masalah. Bali akan tetap menjadi primadona wisatawan mancanegara terlebih Bali telah menargetkan kunjungan 100.000 wisatawan mancanegara tahun 2011 pada World Travel Market di Excel Center, London, Inggris yang berlangsung pada 8-11 November 2010.

 

Kabar baik lainnya adalah mulai pulihnya dunia pariwisata internasional setelah sempat merosot 4,2 persen akibat krisis perekonomian global. Kompas.com mencatat pada delapan bulan pertama tahun 2010, jumlah kunjungan wisata internasional melampaui rekor pada periode yang sama sebelum krisis tahun 2008. Berdasarkan tren yang terjadi saat ini, jumlah kunjungan wisatawan internasional tahun 2011 bahkan diperkirakan akan meningkat 6 persen hingga 7 persen, sebuah peluang besar bagi kita.

 

Tugas kita adalah sama-sama membangun variabel independen atau saya menyebutnya sebagai ‘faktor-faktor yang dapat kita tingkatkan’ untuk meningkatkan daya saing pariwisata Indonesia. Faktor-faktor tersebut antara lain adalah kesiapan infrastruktur, akomodasi, transportasi, promosi, hingga kebijakan yang memadai dan memikat investor.

 

Tugas kita sebagai masyarakat adalah mendukung dan berdoa bagi saudara-saudara kita yang tertimpa musibah sambil terus menghembuskan nafas optimis bagi eksistensi mereka.

 

Ada sebuah pernyataan menggugah dari seseorang bernama Carlo Goldoni yang mungkin akan mengena bagi Anda yang sedang berpikir seratus kali untuk berwisata di tanah air, terlebih pasca bencana: A wise traveler never despises his own country. Mengapa? Karena selalu ada berjuta harapan lain ketika satu harapan kita tiba-tiba lenyap.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s