Macan Kertas Aturan Rokok, Sampai Kapan?

Laws alone can not secure freedom of expression; in order that every man present his views without penalty there must be spirit of tolerance in the entire population.

Albert Einstein (1879 – 1955)

Entah sudah berapa kali saya menulis soal rokok, bahaya rokok, dan lemahnya implementasi kebijakan anti rokok. Aktivis sudah jengah menyuarakan bahaya rokok bagi kesehatan yang berlalu tertelan angin. Persoalan klasik rokok tanah air pun makin parah saja. Rokok diklaim sebagai budaya keseharian masyarakat Indonesia yang tak perlu diperdebatkan bahkan perlu dipertahankan demi kemajuan ekonomi kerakyatan.

 

Ekonomi ‘kretek’, demikian saya menyebutnya.

 

Ekonomi kretek terkait bagaimana pengusaha rokok dan pemerintah bersikeras memandang industri rokok sebagai industri vital. Sudah jadi pengetahuan umum kalau cukong-cukong terkaya Indonesia di urutan tiga besar adalah para pengusaha rokok. Pasar rokok Indonesia memang begitu menggiurkan.

 

Dengan jumlah penduduk yang mencapai lebih dari 242 juta jiwa (perkiraan Juli 2010), 60% penduduk pria dewasa-nya dipastikan merokok. Iming-iming ini masih didukung ompongnya aturan pemerintah dan kebijakan investasi asing di bidang kepulan asap beracun ini. Rokok terus berproduksi meski aturan melarang. Begitu berpotensi, siapa investor yang tak tertarik?

 

Tak heran jika para investor rokok asing yang terhimpit oleh ketatnya aturan pembatasan rokok di negara asalnya, dengan semangat berlomba memasuki tanah air. Untuk menarik minat, perusahaan-perusahaan ini membuat program CSR dan menjadi sponsor aneka acara bertajuk sosial-budaya mulai dari pertunjukan musik, apresiasi publik, hingga beasiswa.

 

Hanya segelintir seniman dan budayawan yang dengan tegas menolak intervensi perusahaan rokok. Sebut saja Alicia Keys (2008) dan Kelly Clarkson (2010) yang terang-terangan menolak perusahaan rokok menjadi sponsor atas aksi panggung mereka di Indonesia.

 

Rokok tak ubahnya produk baju, tas, sepatu, ataupun sandal yang beroleh ijin promosi besar-besaran (tulisan ‘dilarang merokok’ adalah formalitas) demi meraup sebanyak mungkin pembeli. Fungsi negara sebagai pelindung rakyat menjadi tumpul.

 

Perilaku aneka oknum mulai dari aparat penegak hukum hingga si pembuat kebijakan menjadi cermin bahwa aturan anti rokok hanya sebuah formalitas demi memenuhi tuntutan aktivis, komisi perlindungan anak dan Framework Convention On Tobacco Control. Soal implementasi? Nanti dulu. Lupa bahwa kebijakan tanpa implementasi sama seperti tubuh tanpa roh dan jiwa.

 

Nada-nada pesimistis pun bertebaran di segala penjuru, seolah ‘Indonesia tanpa Rokok’ sama seperti ‘Dunia tanpa Penjahat’. Sebagai contoh, Peraturan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 88 tahun 2010 tentang Kawasan Dilarang Merokok, belum-belum sudah mendapat reaksi negatif dari pemilik dan pengelola gedung.

 

Sebagian besar percaya bahwa aturan ini tak akan efektif. Sebagian lainnya berpendapat bahwa merokok adalah hak asasi tanpa menyinggung bahwa tidak merokok (hak untuk hidup)-lah yang sebenarnya hak asasi. Juga ada kekhawatiran terselubung bahwa grafik kunjungan akan berkurang kalau pembatasan semacam ini diberlakukan.

 

Dengan pola pikir ini, tak heran jika hingga saat ini aturan rokok menjadi macan kertas tanpa ada yang berani menerapkan aturan ini: pemerintah tidak, swasta pesimis, masyarakat apa lagi. Di saat negara pengonsumsi rokok terbesar dunia seperti Cina dan AS berjuang hidup lebih sehat, Indonesia memanjakan diri dengan sikap pesimis, terlalu malas untuk bangkit.

 

Melihat orang tua merokok di depan anaknya menjadi hal wajar. Pun bukan hal aneh bila hidung kita ‘terpaksa’ mengisap asap rokok di pelataran bandara, stasiun, dan tempat-tempat yang jelas sudah terpampang stiker bergambar rokok dicoret dan berAC. Segelintir area yang masih cukup aman hanyalah gedung (sangat) eksklusif, rumah sakit dan toilet dalam pesawat.

 

Masyarakat kita memang sempat shock melihat adegan bocah berusia dua tahun asyik mengepulkan asap tanpa ditehur orang tuanya. Tapi shock terapi ini hanya berlangsung sesaat. Masih banyak bocah-bocah masa depan bangsa lainnya yang merokok tanpa terkespos media. Bahkan bocah-bocah menjadi target pasar para produsen rokok!

 

Belum lagi orang tua yang merokok persis di hadapan wajah anaknya. Orang tua dari kalangan bawah bahkan bela-belain membeli rokok ketengan (salah satu sistem ajaib negeri ini) ketimbang membeli telur atau buku-buku bermanfaat untuk anaknya. Dapat Anda bayangkan apa jadinya bangsa ini 20, 30, 40, 50 tahun kemudian.

 

“Haaahhhh, kalau nggak merokok mulutnya asem” (alasan salah seorang bapak)

“Yah, kalau nggak merokok ya nggak bisa mikir” (alasan salah seorang seniman)

“Merokok kan hak asasi” (alasan salah seorang perokok aktif)

“Yah sudahlah, mau bagaimana lagi… (jawab salah seorang perokok pasif, pasrah)

 

Pernah ada perbincangan nyata dengan salah seorang manajer pemasaran salah satu hotel paling ternama di Jakarta. Sang manajer berkata pada saya bahwa ada seorang warga Singapura yang mencak-mencak setelah diperintah mematikan rokoknya di dalam restoran hotel yang sangat prestisius dan berAC.

 

Singapura adalah salah satu negara yang tegas memberlakukan larangan merokok di tempat umum. Rupanya orang Singapura tersebut berpikir bahwa Indonesia adalah negara bebas rokok, di manapun itu. Ia berpikir bahwa merokok di dalam resto hotel berbintang di Indonesia adalah sebuah hak asasi. Maka terjadilah perdebatan aneh tersebut.

 

Ada banyak aneka alasan yang menjadi pembenaran seseorang untuk merokok. Rokok seolah menjadi tren gaya hidup anak muda Indonesia, bukan lagi sebuah kebiasaan buruk yang patut dihindari. Aturan adalah untuk dilanggar. Pihak-pihak berkepentingan sudah siap pasang badan menentang kalau benar aturan rokok diterapkan dengan tegas.

 

Indonesia pun menjadi surga para perokok dan produsen rokok dunia. Ini adalah masalah klasik yang akan terus bergaung. Baru-baru ini, media sebesar The New York Times bahkan memberi perhatian pada isu ini dengan judul menohok: Indonesia Resists the Anti-Smoking Tide Elsewhere (13 November 2010). Memalukan bukan?

Sumber gambar – http://ruangrokok.blogspot.com/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s