Golden Circle Pulihnya Pariwisata Thailand Pasca Krisis 2010

Travel is more than the seeing of sights; it is a change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living

Miriam Beard


Tak ada yang meragukan Thailand sebagai negara seribu pagoda yang memesona.

 

Thailand adalah satu dari sedikit negara dengan eksotika terlengkap dalam industri pariwisatanya mulai dari wisata religi (kuil), sejarah (istana), belanja murah, pantai, hingga kuliner sedap. Jadilah industri pariwisata menjadi salah satu tumpuan ekonomi domestik Thailand di samping sektor pertanian dan perkebunan.

 

Menurut catatan sejarah, Kerajaan Thailand berdiri pada pertengahan abad ke-14 dengan nama ‘Siam’ hingga akhirnya menjadi Thailand pada tahun 1939. Struktur kental kerajaan berikut peninggalan fisiknya masih dapat Anda saksikan hingga detik ini. Bahkan bisa disebut Thailand adalah satu-satunya negara ASEAN yang masih dipimpin Raja yang berpengaruh.

 

Thailand juga menjadi satu-satunya negara anggota ASEAN yang tidak pernah dijajah oleh bangsa Eropa. Satu-satunya pemberontakan berdarah terjadi tahun 1939 yang mengubah struktur kerajaan absolut Thailand menjadi monarki konstitusional.

 

Adalah Thaksin Shinawatra, tokoh yang berhasil memecahkan ‘rekor’ pemberontakan berdarah menghebohkan pada tahun 1939 sekaligus menjegal performa pariwisata Thailand yang sudah mendunia. Kaum pedesaan yang terwakili oleh People’s Power Party (PPP) segera melancarkan protes saat Thaksin ‘dilengserkan’ dari posisinya karena korupsi.

 

Tak terima kemungkinan Thaksin kembali berkuasa, kelompok anti Thaksin yang tergabung dalam People’s Alliance for Democracy (PAD) yang mayoritas adalah kaum urban tak urung membalas. Kedua kelompok ini mulai bersitegang berhadap-hadapan sejak Mei 2008 dan memuncak pada awal 2010.

 

Aksi pelemparan molotov dan pembakaran terjadi di mana-mana, terutama wilayah kota. Ratusan orang cidera, puluhan korban berjatuhan. Keadaan negara berpenduduk lebih dari 60.000 jiwa ini menjadi runyam dan langsung menjadi headline media internasional.

 

Kantor perdana Menteri dan dua bandara internasional Thailand bahkan sempat disegel para pemrotes. Jutaan turis asing terperangkap. Pemerintah berupaya menenangkan turis. Beberapa negara mengeluarkan travel warning, termasuk Indonesia. Pemrotes akhirnya menghentikan aksi mereka setelah pemerintah tegas-tegas turun tangan.

 

Pasca peristiwa berdarah ini, kondisi ekonomi Thailand mengalami penurunan. Jangan tanya kondisi pariwisatanya. Sejumlah turis yang trauma ‘buru-buru’ angkat koper sementara turis lainnya mengurungkan niat demi keselamatan diri.

 

Tapi apa yang terjadi kemudian sungguh luar biasa. Daya bangkit (bounce back) industri pariwisata Thailand sungguh besar. Kebangkitan ini bukan hanya berlangsung perlahan namun pasti tapi cepat dan sangat pasti. Dalam waktu yang relatif singkat, dengan jaminan keamanan dari pemerintah Thailand, turis-turis berani berdatangan tanpa sedikitpun merasa khawatir. Mereka seolah sudah kangen kembali menikmati sajian eksotika Thailand.

 

Apa gerangan yang membuat pariwisata Thailand sedemikian cepat bangkit?

 

Yang terutama adalah jejak rekamnya. Sementara turis-turis yang datang ke Indonesia sering kecopetan, turis-turis yang datang ke Thailand merasa sangat nyaman. Travel and Tourism Competitiveness Index 2009 memberi Thailand peringkat 39 dari 133, terpaut sangat jauh dari Indonesia yang berperingkat 81. Di tingkat ASEAN, Thailand duduk nomor tiga setelah Singapura dan Malaysia. Artinya? Daya saing Thailand jauh lebih baik ketimbang Indonesia.

 

Jejak rekam yang sangat positif saja tak cukup. Pemerintah Thailand sadar sepenuhnya bahwa industri pariwisata Thailand tak bisa dibiarkan koma begitu saja. Bagaimanapun, pariwisata adalah daya tarik utama Thailand, baik secara ekonomi maupun citra.

 

Berbagai langkah strategis guna memulihkan kondisi industri pariwisata Thailand pun dilancarkan pemerintah bersama-sama dengan swasta dan masyarakat. Pihak berwenang Thailand berupaya menego negara-negara untuk melepas status travel warning sembari aktif berpromosi dengan aneka cara, berupaya keras agar para pelaku sektor ini tak kolaps.

 

Infrastruktur yang kotor, rusak, atau hancur segera dibenahi. Kini, Anda tak akan menemukan sisa-sisa kerikil ataupun pentungan kayu yang menunjukkan sisa-sisa ‘peperangan’. Moda transportasi mendapat perhatian yang serius. Semua dikerjakan secara serius.

 

The Thailand Pacific Asia Travel Association (PATA) pun segera turun tangan. PATA mendorong para pelaku industri pariwisata Thailand untuk menerapkan strategi khusus seperti misalnya pengurangan harga untuk sementara waktu. Hotel Royal Orchid Holidays, sub-divisi dari THAI Airways International merespon dengan mengumumkan pemberian diskon sebesar 50%. Ini belum termasuk ‘iming-iming’ lain seperti makan malam cuma-cuma dan voucher.

 

Tak ketinggalan, masyarakat turut berpartisipasi aktif membangun pariwisata Thailand. Para pemandu wisata memberikan pelayanan terbaiknya. Para pedagang kaki lima penjaja aneka kuliner yang selama ini menjadi salah satu daya tarik Thailand, memberi senyum ramah dengan harga bersahabat, seolah peristiwa berdarah awal 2010 tak pernah terjadi.

 

Tempat-tempat pariwisata mulai dari kuil-kuil seperti Wat Phra Kaeo (Emerald Buddha), Wat Pho (The Reclining Buddha), Wat Arun (Temple of The Dawn); pantai seperti Pattaya, maupun perkotaan seperti Bangkok, kembali beraktivitas normal dan menyumbangkan pemasukkan terbesar bagi GDP Thailand.

 

Salah satu yang cukup menarik minat saya adalah kala peristiwa berdarah terjadi, tim pariwisata Thailand tetap bersemangat menampilkan tarian tradisional menyambut Tahun Baru Thailand, Tahun Baru Songkran di salah satu mall besar di Bandung, Jawa Barat (baca: Thailand dan Tahun Baru yang Dilemmatis). Situs pariwisatanya pun tetap upgrade. Patut diacungkan jempol. Inilah bukti keseriusan Thailand mempromosikan pariwisatanya.

 

Perlu Anda ingat bahwa sektor pariwisata Thailand pernah terpukul beberapa tahun sebelumnya akibat terjangan tsunami yang memporak-porandakan pantai Pattaya. Nyatanya, mereka pun mampu menunjukkan daya tahan dan upaya pemulihan yang luar biasa.

 

Hal-hal semacam ini yang seharusnya menjadi contoh positif bagi pemerintah-swasta-masyarakat Indonesia. Pemerintah-swasta-masyarakat harus maju beriringan dalam sebuah harmoni. Golden Circle yang tak berjalan harmonis tak akan membentuk sebuah kekuatan yang ‘pas’ untuk memulihkan kondisi pariwisata yang melemah atau nyaris tewas, seperti misalnya kondisi Bali pasca bom atau kondisi Jateng-Jogja pasca letusan Merapi.

 

Golden Circle harus selalu bahu-membahu dan masing-masing mengeluarkan potensi maksimalnya karena inilah kunci pemulihan pariwisata atau dalam jangka panjang kunci meningkatkan daya saing travel dan turisme nasional. Selamat belajar!

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s