Komisi Eropa: Ujian “Om” Google Berikutnya

 

“Google remains completely committed to freedom of expression and to privacy, and we have a strong track record of protecting both.”

Todd Jackson – Product Manager for Gmail and Google Buzz (2010)

 

Media sepertinya tak pernah habis berita soal Google. Ia selalu dikupas dalam berbagai wujud dan sudut. Sejak sang bidan, Larry Page (president of products) dan Sergey Brin (president of technology) membantu lahirnya Google pada September 1998, konstelasi alam maya goncang. Google membuat gebrakan yang sekilas sederhana tapi ternyata amat vital: mesin pencari.

 

Dapatkah Anda bayangkan jika hari ini, detik ini, hidup tanpa “Om” Google?

 

Murid-murid dan mahasiswa akan kesulitan mencari bahan untuk sekolah dan kuliah. Guru dan dosen kebingungan memperbaharui bahan ajar. Peneliti geleng-geleng kepala karena tak berhasil melacak berita dengan cepat dan tepat. Masyarakat terpaksa harus membuka koleksi kartu nama mereka untuk mencari alamat dan nomor telepon.

Google memang telah menjadi salah satu gaya hidup masyarakat. Beberapa komunitas seperti mahasiswa dan peneliti bahkan amat bergantung padanya. Tiada hari tanpa mengKLIK Google. Kita bahkan sering mendengar dialog semacam ini:

“Waduh, nggak ketemu ya… Gimana ya cari tahu….”

“Gampang! Tanya aja “Om” Google. Gitu aja kok repot…”

 

Dengan gaya hidup ini, Google menjadi ‘agama’ baru bagi para pengguna internet, di samping Yahoo! dan Facebook. Ia dipuja sekaligus dikritik. Lepas dari semua itu, Google adalah jawara mesin pencari, mengalahkan ‘mesin-mesin’ sejenis lainnya. Tak heran jika dalam waktu singkat, Google berhasil meraup pendapatan lebih dari 22,6 miliar dollar per tahun.

 

Google pun bersaing ketat dengan para raksasa dunia maya lain seperti Microsoft dan Apple.

 

Tak puas dengan prestasinya, CEO Google – Eric Schmidt, terus berekspansi. November 2009, Google Chrome melesat ke urutan empat dengan angka 3,93 persen. Usai mengundurkan diri dari dewan direksi Apple pada 3 Agustus 2010, Schmidt makin getol mengembangkan Nexus One dan software Android-nya. Google pun sukses mempertajam aplikasi web khususnya seperti Gmail, Google Docs dan Google Calendar. (baca: Apple VS Google)

 

Tapi mesin pencari tetap menjadi ikon yang melekat pada “Om” Google. Kiprahnya mendunia dan tak urung membuat berbagai negara tak happy. China tak terima masyarakat dunia jadi lebih mudah mengakses info, terutama mengenai isu ‘sensitif’ seperti demokrasi, kebebasan berekspresi, demonstrasi, Dalai Lama, Tiananmen, dan sejenisnya.

 

Sebagai balasan, oknum asal China menyerang sistem Gmail. Google protes. Protes ditanggapi dingin. Google dipandang sebagai pahlawan setelah akhirnya menolak sistem pemblokiran situs-situs China dengan ancaman hengkang dari pasar China: sebuah keputusan berani mengingat para investor justru berlomba memasuki pasar China. (baca: Google VS China)

 

Tapi rupanya masalah selalu datang pada mereka yang sukses mendominasi pasar. Anda ingat tagline film The Social Network? Ya: You don’t get to 500 million friends without making a few enemies. Kata enemies juga bisa diganti dengan kata ‘tantangan’ atau ‘ujian’. Makin Anda di puncak, makin banyak tantangan yang harus dihadapi.

 

Hal yang sama berlaku pada Google.

 

Belum surut masalah dengan China dan rivalitas dengan Apple, Google harus menghadapi kasus baru. 30 November 2010, Komisi Eropa memulai penyelidikan resmi terhadap Google dengan tuduhan manipulasi mesin pencari dengan cara-cara tak semestinya.

 

Rupanya kiprah Google tak hanya disorot dan dikritik negara tapi juga para pelaku ekonomi. Sebelum Komisi Eropa memutuskan penyelidikan resmi, para pengacara asal Texas menuduh Google menyalahgunakan posisi dominan dalam mesin pencari.

 

Perusahaan travel online pun telah melobi pemerintah AS untuk memblokir Google yang baru-baru ini mengakuisisi software ITA senilai 700 juta dollar AS. Software ITA adalah software yang akan mempermudah Anda memperoleh informasi seputar penerbangan di dunia maya. Akuisisi ini akan mendorong makin banyak masyarakat memesan tiket sendiri secara online.

 

Investigasi Komisi Eropa pun berfokus mencari tahu apakah Google telah menyalahgunakan pengaruhnya sebagai ‘raja mesin pencari’ dengan memanipulasi hasil pencarian atas layanan yang ditawarkan perusahaan-perusahaan yang bersaing demi keuntungan pribadi.

 

Komisi Eropa juga akan menyelidiki apakah Google memang berupaya membatasi persaingan dengan mencegah pengiklan jenis tertentu menempatkan iklan pada situs-situs lain. Dugaan ini menjadi sorotan beberapa perusahaan online Eropa seperti Foundem (‘mesin pencari’ jasa dan perbandingan harga) dan Ciao (situs harga-perbandingan bagi pembeli Eropa milik Microsoft).

 

Google menolak tuduhan monopoli.

 

Google berkata bahwa pihaknya memang harus memberi keputusan terhadap hasil pencarian yang belum dibayar namun tidak pernah ‘pilih kasih’ dalam menyajikan layanan. Google menampik tuduhan manipulasi hasil pencarian iklan berbayar yang merugikan perusahaan-perusahaan pesaing dan tidak pernah memaksakan perjanjian eksklusif dengan para pengiklan.

 

“Om” Google pun berkata bahwa banyaknya masyarakat yang memanfaatkan mesin pencari lainnya untuk memperoleh informasi seperti misalnya situs jaringan sosial. Saat bersamaan, Google harus menghadapi penyelidikan serupa yang terpisah di Italia, Jerman dan Prancis.

 

Di sejumlah negara lain di Eropa, Google mendapat kritik terkait masalah perlindungan privasi dan hak cipta. Google adalah pemain utama pasar online Eropa. Sebuah perusahaan riset yang bermarkas di AS, ComScore, mencatat bahwa Google mengontrol lebih dari 80 persen pasar pencarian online! Di AS sendiri, Google ‘hanya’ menguasai 66 persen pasar pencarian online.

 

Sampai saat ini, penyelidikan Komisi Eropa masih terus dilakukan. Kita semua berharap Google dapat terus menjaga integritas dan netralitasnya sesuai dengan motto terkenalnya, Don’t Be Evil. Jika tidak, yang menanti berikutnya adalah denda besar dan nama baik yang tercoreng seperti yang pernah dialami Microsoft dengan monopoli sistem operasi Windows-nya.

 

Kita tunggu saja hasil penyelidikan Komisi Eropa. BINGO!

Sumber gambar – http://mouthygirl.com/2009/08/17/the-church-of-google/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s