BOOK REVIEW – Mereka Bilang Aku China

Judul                  :   Mereka Bilang Aku China – Jalan Mendaki Menjadi Bagian  Bangsa
Penulis               :   Dewi Anggraeni
Penerbit            :   Bentang
Cetakan             :   I, Oktober 2010
Tebal Buku       :   vii + 281 halaman
Harga                 :   Rp 47.000

 

Isu mengenai etnis Tionghoa di Indonesia sepertinya tak habis-habisnya dibahas dalam aneka sudut, terutama dari sudut faktual (contoh: Menguak Tragedi Mei), bersifat akademis-sejarah seperti yang terlihat dalam buku-buku Leo Suryadinata atau Benny G. Setiono, maupun biografi ‘tokoh-tokoh sepuh’ (contoh: Siauw Giok Tjan).

 

Buku yang ditulis oleh Dewi Anggraeni menawarkan konsep lain: mengajak pembaca memahami ragam etnis Tionghoa yang rata-rata masih berusia muda dalam sudut pandang para tokoh: Ester Indahyani Jusuf, Linda Christanty, Susi Susanti, Maria sundah, Hajah Sias Mawarni Saputra, Jane Luyke Oey, serta keluarga Yo: Milana dan Meylani.

 

Dengan kalimat-kalimat renyah dan tak berkesan menggurui, Dewi Anggraeni berhasil menggali para tokoh ini dalam berbagai aspek: bagaimana sikap terhadap latar belakang keetnis Tionghoaan mereka, apa yang mereka rasakan-pikirkan, dan apa respon mereka terhadap steoreotip sebagai Tionghoa Indonesia.

 

Bab 1 bertutur mengenai Ester Indahyani Jusuf, perempuan ‘perkasa’ dengan cita-cita luhur membangun bangsa dan mengangkat harkat kelompok-kelompok tertindas. Menarik melihat latar belakang Ester yang penuh pergumulan baik dalam kiprah maupun kehidupan pribadi. Penggagas Solidaritas Nusa Bangsa ini dinilai Dewi sebagai satu-satunya tokoh tanpa muatan etnisitas lain.

 

Bab 2 berkisah mengenai Linda Christanty (kini terkenal sebagai penulis). Linda besar dalam lingkungan keluarga Bangka-Melayu dengan Ayah berdarah Bugis-Banten dan Ibu berdarah Tionghoa., Ambiensi ini membuat Linda menolak keetnistionghoaannya. Linda menilai masih ada kantong di mana sentimen terhadap etnis Tionghoa masih kuat.

 

Susi Susanti memaparkan pergumulannya dalam bab 3 sebagai atlet yang bercucur keringat dan air mata dalam membela Indonesia di kancah olahraga namun tetap alami diskriminasi. Meski demikian, ia tak berpikir pindah warga negara. Pengalaman membuat Susi berupaya agar anaknya kelak punya kebebasan gerak mental yang lebih luwes.

 

Bab 4 melukiskan kehidupan Maria Sundah yang tumbuh dalam keluarga multietnis yang pembaurannya mulus, Tapi ambiansi politik menyebabkan dirinya merasa kurang nyaman sebagai etnis Tionghoa. Mengutip kalimat Dewi, Anda mendapat kesempatan melongok ke dalam sebuah mikroskosmis yang dihuni etnis Tionghoa golongan Indo dan kaum pribumi dengan membaca kisah hidup Maria Sundah.

 

Dalam bab 5, kisah hidup Hajah Sias Mawarni Saputra adalah sektor menarik dari seorang etnis Tionghoa yang giat dalam usaha kecil dan menengah. Dari kisah hidupnya, akan kita lihat apakah gambaran bahwa etnis Tionghoa yang memeluk agama Islam akan lebih cepat diterima dalam lingkungan mereka, “syarat” yang tak mudah dipenuhi.

 

Bab 6 menggambarkan bingkai kehidupan Jane Luyke, bagaimana ketabahannya dalam mendukung sang suami, Oey Hay Djoen, aktivitas yang seangkatan dengan Pramoedya Ananta Toer. Kembali mengutip Dewi, kisah keluarga ini sungguh mengharukan dengan keberanian, kesetiakawanan dan persahabatan yang tak mengenal idelologi atau agama.

 

Bab pamungkas adalah milik Meylani dan Milana yang merupakan campuran keturunan etnis Tionghoa dan Papua. Dengan ciri fisik yang tak terlalu ‘Tionghoa’, keduanya bebas bergaul tanpa prasangka social-politik. Dengan senang keduanya terbuka menunjukkan identitas Tionghoa mereka dan tak takut menggapai cita-cita setinggi langit.

 

Dengan gaya bahasa yang cukup populer namun tak keluar dari bingkai pesan yang ingin disampaikan, Dewi Anggraeni berhasil menyusun pilar-pilar bab demi bab ini menjadi sebuah susunan bangunan yang sangat menarik mengenai kehidupan, perasaan, dan pola pikir etnis Tionghoa Indonesia yang unik dan amat beragam.

 

Mereka Bilang Aku China sangat baik, terutama bagi Anda yang gemar menikmati kehidupan etnis Tionghoa Indonesia tanpa perlu mengerutkan kening melihat aneka istilah akademis. Buku ini juga sangat positif bagi Anda yang ingin sekedar membaca kisah hidup para tokoh yang luar biasa ini. Selamat membaca!

 

Sumber Gambar Susi Susanti –  http://kepakgaruda.wordpress.com/

Advertisements

3 thoughts on “BOOK REVIEW – Mereka Bilang Aku China

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s