Pendekatan Pragmatis ala Hu Jintao-Obama

 

Sumber Foto: Doug Mills, The New York Times

Kunjungan presiden RRC, Hu Jintao ke AS pada tanggal 18 hingga 21 Januari 2011, serta merta mendapat sorotan dunia. Sejak Obama terpilih menjadi presiden AS,hubungan kedua negara adidaya ini tetap bereskalasi dalam segala aspek. Kunjungan ‘ramah-tamah’ Hu Jintao ke AS pun dicibir tak lebih dari sekedar formalitas, strategi pendekatan yang pragmatis.

Eskalasi kedua negara ini menunjukkan intensitas yang dinamis. Dalam aspek ekonomi, kedua negara antara lain terbentur masalah nilai Yuan yang dianggap terlalu rendah, maraknya pembajakan software dan hak kekayaan intelektual, serta investasi energi jor-joran RRC di Asia Tengah yang membuat pemerintah, akademisi, dan para pelaku ekonomi AS ketar-ketir.

Bidang militer tak kalah menarik. Anggaran militer RRC yang tinggi seperti biasa memicu komentar AS. Perilaku RRC yang cukup agresif di kawasan Laut Cina Selatan dan dugaan penempatan pasukan di Korea Utara pun mengundang tanya besar Paman Sam. Sebaliknya, RRC berulang kali protes soal penjualan senjata AS ke Taiwan dan teknologi kapal anti misil.

Isu Hak Asasi Manusia jelas menjadi isu klasik hubungan RRC-AS sejak era Nixon hingga Obama. RRC mempertanyakan gelagat AS yang asyik mengobok-obok kawasan Asia Pasifik melalui isu HAM Korea Utara. RRC juga geram dengan AS yang melindungi Dalai Lama dan Liu Xiaobo yang belum lama ini dianugerahi Nobel Perdamaian. Google pun terancam terdepak tak tunduk pada aturan sensor RRC, khususnya input soal HAM.

Di tengah gejolak ini, kunjungan Hu Jintao yang disambut ramah Obama akhirnya dinilai sebagai sebuah pendekatan pragmatis dari kedua belah pihak. Baik RRC maupun AS mencoba ‘berkompromi’ dengan aneka isu yang selama ini mengganjal, terlebih daya tawar keduanya dapat dikatakan sejajar.

RRC bukan lagi menjadi subordinat AS. RRC kini memiliki cadangan devisa terbesar di dunia dan banyak membeli surat-surat berharga asal AS. RRC juga makin mengukuhkan perannya sebagai pemimpin kawasan Asia Pasifik (bahkan dunia) melalui tingkat pertumbuhan ekonominya yang sangat tinggi yaitu 10,3% untuk tahun 2010.

Di pihak lain, AS masih menjadi negara superpower dunia. Meski sempat tersandung krisis, Paman Sam perlahan mulai bangkit. Perlahan tapi pasti, daya beli mulai pulih dan roda pertumbuhan ekonomi masyarakat mulai berputar aktif .

Itu sebabnya kedua negara ini lebih memilih menyesuaikan dirinya masing-masing daripada menggaungkan konfrontasi yang berpotensi menggoyahkan stabilitas. Pendekatan pragmatis ini terbukti ketika dalam kunjungannya ke AS, Hu Jintao mengeluarkan berbagai pernyataan menarik.

Dalam pernyataan bersama pada hari Rabu, 19 Januari 2011, untuk kali pertama Hu Jintao mengungkapkan keprihatinannya soal rencana pengayaan uranium Korea Utara. Pernyataan ini sederhana namun menunjukkan keberhasilan AS ‘membujuk’ RRC menekan Kin Jong Ill.

Yang mengejutkan adalah pernyataan retoris Hu bahwa RRC “mengakui dan menghargai nilai-nilai HAM yang universal” (NYT, 19 Januari 2011). Pernyataan ini seolah menunjukkan perubahan sikap RRC yang selama ini anti berbicara soal nilai-nilai HAM maupun demokrasi dan ngotot menjadikan Lu Xiaobo sebagai “musuh negara”.

Negeri Panda ini juga tak segan berdiskusi dengan Menhan AS, Robert Gates dan membawa ‘tim ekonomi’nya, terutama para pebisnis yang tentu saja bertujuan membuka peluang investasi. RRC juga terus mendapat pujian media AS soal pengembangan sumber energinya yang makin ramah lingkungan.

RRC secara jelas menyatakan terus memegang prinsip-prinsip dalam Konsensus Beijing dengan pendekatan konstruktif sebagai salah satu kunci pentingnya.

Tapi rivalitas yang tetap terjadi membuat AS menilai RRC tengah mengembangkan strategi baru. New York Times menyebutnya sebagai strategi konsesi sementara The Economist menilai sikap RRC ini berbahaya dan tak produktif. Jauh-jauh hari sebelum Hu Jintao menginjakkan kaki di Gedung Putih, kongres AS sudah mewanti-wanti Obama mengenai isu HAM RRC.

Namun seperti halnya Hu, Obama paham pentingnya pendekatan pragmatis. Dalam pertemuannya dengan Hu, Obama memang sempat menyinggung isu HAM. Obama menekankan pentingnya kebebasan mengemukakan pendapat, beragama, dan berpolitik. Meski demikian, Obama pun menegaskan prinsip non intervensi.

Obama dan isterinya, Michelle, menyambut kunjungan Hu dengan sangat ramah. Bak tamu agung, Hu Jintao diajak menikmati makan malam yang bernuansa penuh kehangatan. Petinggi Microsoft, Boeing, Goldman Sachs, JPMorgan Chase dan Walt Disney turut hadir.

Meski saling bersaing, kedua negara berupaya tidak menunjukkan rivalitasnya yang membuat dunia berpikir ke arah unipolaritas. Meski beberapa pengamat menilai RRC memandah rendah AS, secara resmi Beijing menyatakan bahwa negaranya masih terus berkembang dan selalu terbuka dengan aneka bentuk kerjasama yang saling menguntungkan.

RRC menolak ide terbentuknya G-2 (RRC-AS) yang hanya akan menunjukkan elitisme dua negara superpower. RRC bahkan tak mendukung ide G-8 yang selama ini dipandang terlalu eksklusif. Sebaliknya, RRC mendukung G-20 yang lebih merangkul kekuatan ekonomi negara-negara berkembang, menyiratkan dukungan RRC terhadap konfigurasi dunia yang multipolar.

Dunia sudah tahu bahwa perlahan tapi pasti, RRC mulai mengejar posisi AS sebagai negara adidaya. Namun RRC tak terjebak dengan rivalitas ala Barat-Soviet yang terbukti merugikan kedua belah pihak. Dengan cerdik Hu Jintao memainkan peran pragmatisnya yang selama ini terus dipertahankan RRC sejak hubungan RRC-AS terjalin untuk pertama kalinya.

Sama halnya seperti kunjungan Obama ke Beijing, kunjungan Hu Jintao ke Washington adalah buah dari strategi pendekatan konstruktif yang pragmatis. Kepentingan nasional adalah segalanya. Di masa mendatang, RRC-AS akan tetap menunjukkan kerjasama eratnya meski hubungan kedua negara penuh dengan gejolak-gejolak rivalitas yang tak mengejutkan.

Advertisements

7 thoughts on “Pendekatan Pragmatis ala Hu Jintao-Obama

  1. Kalau dua negara adidaya bertemu, yang terjadi adalah diplomasi basa-basi. Hu memuji kebebasan dalam demokrasi dan Obama menegaskan prinsip non intervensi. Padahal Cina menyukai demokrasi yang terbatas dan tersentral di pusat, dan berapa banyak negara yang telah di intervensi AS. Sunguh sebuah pertemuan yang sia-sia, karena isu-isu strategis internasional seperti krisis di semenanjung Korea tidak mendapat perhatian lebih. Cina tetap akan mendukung Korut dan AS tetap akan mendukung Korsel.

  2. Itu betul mas.. Banyak pengamat dan media menilai hal serupa. Contohnya adalah The Economist (http://www.economist.com/node/18010385) yang menulis bahwa ‘America and China may both find it hard to live up to their latest promises to each other’. Itu sebabnya pertemuan Obama-Hu saya sebut pragmatis.

    The Economist menyebutnya ‘honeymoon’ ketiga setelah kunjungan Deng Xiaoping ke AS tahun 1979 dan kunjungan Jiang Zemin ke AS tahun 1997. Paling tidak pertemuan ini jadi ajang formalitas untuk saling menenangkan komunitas masyarakat kedua negara dan dunia meski semua orang tahu pertemuan ini hanya bentuk basa-basi.

    Paling tidak ada manfaat yang sedikit ‘nyangkut’ dari pertemuan ini: sektor bisnis. Sektor politik tidak usah ditanyakan.

    • Tapi Hubungan Internasional selalu soal politik, karena hal utama yang ditakutkan dalam hubungan internasional adalah The Tragedy of great power politics. Kalau ini dibiarkan, bukan tidak mungkin PD III akan menjadi bom waktu yg bs meledak kapan saja. Tapi kita semua berharap tentunya hal itu tidak akan terjadi, semoga semua negara-negara besar mau menahan diri dan mengedepankan soft power, semoga saja….

  3. Di mata saya, Perang Dunia III itu sudah terjadi dalam ranah ekonomi politik internasional… AS sudah ketar-ketir dengan Yuan dan aksi China memborong surat berharga AS. Imbasnya sampai pada dunia, bahkan Indonesia. Booming produk China dengan kecenderungan proteksionisme AS hanya salah satu contoh kecil.

    Saat ini negara-negara ‘tak sebodoh’ beberapa puluh tahun silam yang mengedepankan hard power sehingga hasilnya bukan win-win atau win-lost tapi lost-lost. Mereka tak mau jatuh ke lubang yang sama. Ditambah dengan pergeseran struktur power dari political power dan military power ke economic power, saya sangat percaya diri mengatakan bahwa hubungan internasional tak selalu bicara soal politik. Mungkin secara ilmu demikian adanya, tapi tak sesuai fakta sehingga ia harus lebih dapat menyesuaikan diri.

    Setelah era Revolusi Kebudayaan dan Tiananmen, saya melihat China sudah lebih mengedepankan soft power terutama sektor budaya, bahasa, dan ekonomi dibanding AS. Kemajuan militer China adalah imbas dari kemajuan ekonomi-nya.

    Meski basa-basi, pertemuan Obama-Hu kemarin adalah salah satu bentuk soft power. Saya yakin secara politik pertemuan ini basa-basi, tapi tidak secara bisnis. Di masa mendatang, bisnis (kepentingan ekonomi) ini memiliki arti yang besar bagi kedua negara dan dunia. Mereka sadar hard power tetap perlu, tapi hanya sebagai pendukung soft power, bukan sebagai senjata utama.

    Saya juga yakin soft power bukan berarti weak power. Faktanya, soft power bicara lebih banyak daripada hard power. ‘Soft power’ memiliki power yang lebih strong daripada hard power. Uang bicara lebih banyak daripada senjata. Senjata bisa karatan tapi uang tidak. Ini kecenderungan yang terjadi dalam pola HI saat ini.

    • Waduh panjang bener yah jawabnya, jadi bingung komen lagi, dah terjawab sih, kenapa ga bikin buku soal cina aja, kan ahlinya….

  4. Hahahaha… Maap kepanjangan… Untuk bikin buku saya masih harus banyak belajar sama ‘suhu’nya: mas Asrudin. =D Saya bukan ahli China… Saya cuma seneng ngikutin perkembangan isu seputar China aja… Hehehehe….

    • Ngga, saya serius lo, kan bu sylvie fokus sama kajian Cina, kalau mau aku mau undang untuk nulis buku soal Cina, kebetulan saya sama temen2 lagi proses pembuatan buku soal Cina, ada Broto Wardoyo dan Syamsul Hadi dari UI, ada Rizal Sukma dari CSIS, kalau mau saya akan email tor-nya. Tema bukunya Kebangkitan Cina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s