Belajar dari Stoicism Jepang

 

Sumber foto: Associated Press

Lihat antrian warga pada foto di atas? Ini bukanlah antrian sembako atau Bantuan Langsung Tunai. Ini adalah antrian rapi warga Jepang yang sedang menanti kapal pengangkut di sebuah pelabuhan pasca terjadinya gempa dan tsunami. Di alamat lain, warga Jepang sabar mengantri di depan sebuah toko makanan yang sudah hancur separuhnya akibat tsunami.

Di beberapa lokasi tempat pemerintah menerjunkan bantuan logistik, tidak pernah terjadi baku hantam atau kekacauan. Semua sabar mengantri. Ketika pemadaman bergilir terjadi akibat minimnya supply listrik, makian warga tak terdengar. Dengan tenang warga mengikuti petunjuk pengelola gedung untuk men-charge telepon seluler di tempat yang telah disediakan.

Inilah profil Jepang, negara yang menuai decak kagum dunia akibat ketabahannya (stoic) menghadapi tiga bencana dahsyat sekaligus: gempa, tsunami, ancaman kebocoran radiasi nuklir. Citra Jepang sebagai bangsa maju yang beradab makin kuat.

Meski bencana telah mengakibatkan kehancuran infrastruktur yang parah dan jatuhnya puluhan ribu korban jiwa, Jepang tak lama-lama berlarut dalam duka. Mereka cepat bangkit dan tetap membuktikan diri sebagai negara yang paling siap menghadapi bencana.

Usai menenangkan warganya, PM Naoto Kan dan jajarannya bertindak cepat. Pemerintah Jepang bergegas menerjunkan pasukan bela diri (sejak perang dunia II, Jepang tidak memiliki tentara) untuk melakukan evakuasi dan penerjunan logistik. Jumlah tentara diterjunkan dua kali lipat dari 51.000 menjadi 100.000 personel.

Mereka tanggap memeriksa warga yang diduga terpapar radiasi akibat kebocoran nuklir di Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir Fukushima Daiichi. Sebanyak 145 dari 170 rumah sakit di seluruh daerah bencana beroperasi penuh. Ilmuwan Jepang segera melangsungkan evaluasi penyebab dan dampak kebocoran nuklir. Mereka bergegas bertindak guna meminimalisasi efek radiasi yang sangat berbahaya bagi kehidupan warga sekitar.

Media Jepang pun tak pernah mendramatisir keadaan meski mereka berhasil merekam detik demi detik kejadian dramatis datangnya ‘hantu’ tsunami yang meluluh lantakkan pesisir timur. Mereka berfokus sebagai wadah mediasi warga dan pemerintah, menyampaikan anjuran-anjuran pemerintah sekaligus menampung usulan kebutuhan warga setempat.

Jepang jelas bukan negara yang cengeng. Seringnya gempa berskala tinggi melanda negara matahari terbit ini mengajarkan warganya untuk selalu tabah tapi sekaligus berpikir kreatif.

Dalam gempa berskala 9 skala richter, hanya sedikit bangunan yang rusak. Warga pun tak panik. Alih-alih berhamburan ke luar gedung, mereka justru tetap berlindung di dalam gedung yang memang sudah didesain dengan konstruksi tahan gempa. Anak-anak Jepang sudah belajar langkah-langkah menghadapi gempa. Infrastruktur pengaman sudah tersedia lengkap.

Yang lebih mengesankan, pemerintah Jepang tak berniat menariknya komitmennya memberi bantuan keuangan pada Indonesia. Jepang hanya menarik kembali kapal penyelamat Japanese Defense Ship Ohsumi (JDS Ohsumi) yang tadinya akan berpartisipasi pada ASEAN Regional Forum-Disaster Relief Exercise di Manado, Sulawesi Utara, pada 13-20 Maret 2011.

Stoicism Jepang ini turut mendapat pengakuan dari Profesor Harvard University, Joseph Nye. Pada AFP, beliau menyatakan bahwa bencana telah melahirkan Jepang sebagai bangsa soft power. Bencana justru membuat Jepang tampil lebih menarik di mata bangsa lain. Pada gempa yang menimpa China dan Haiti tahun 2008 dan 2009 membuat citra kedua negara tersebut turun karena penanganan yang semrawut.

Tabah bukan berarti pasrah dan putus asa. Ketabahan yang diperlihatkan bangsa Jepang adalah ketabahan yang tangguh, tetap optimis membangun masa depan dengan tindakan-tindakan preventif maupun pasca-bencana yang selalu berada dalam tombol hijau.

Ketabahan bangsa Jepang adalah ketabahan yang luar biasa. Mereka tetap bersabar mengantri meski tak tahu apakah persediaan logistik cukup atau tidak. Bangsa barat sekalipun belum tentu dapat mempraktikkan sikap tabah semacam ini. Mereka sadar bahwa tindakan grusa-grusu hanya akan merugikan semua pihak dan memperparah keadaan.

Indonesia seharusnya belajar dari stoicism Jepang. Tsunami Aceh, gempa Mentawai, dan letusan gunung Merapi memperlihatkan betapa pemerintah dan warga harus selalu sigap.

Berada di titik temu lempeng-lempeng dunia jelas membuat Indonesia menjadi salah satu negara yang paling rawan bencana.

Tapi tantangan ada untuk membuat kita lebih matang, lebih kreatif. Tantangan bukan untuk menjatuhkan atau menghancurkan. Melalui tantangan, Jepang terasah menjadi negara maju yang kuat. Dalam sejarahnya, China sukses menjadi negara maju berkat tantangan yang terus mendera. Tantangan serupa seharusnya membuat Indonesia semakin kuat.

Sikap tabah dan terus optimis menghadapi tantangan hanya akan terwujud jika masyarakat Indonesia memiliki adab dan mental positif. Adalah ironis jika untuk mendapat bantuan langsung tunai atau mengantri karcis di depan stadion bola saja harus terjadi baku hantam.

Mengutip Koentjaraningrat, mentalitas yang suka menerabas adalah mentalitas yang harus secepatnya dijauhi. Jika mengantri karcis pertunjukkan bola saja sudah kacau, apa jadinya dengan tantangan yang jauh lebih besar? Apa yang akan terjadi dalam skala negara? Bukan stoicism yang muncul tapi chaos. Yang lahir bukan kekaguman tapi keprihatinan mendalam.

Di luar adab dan mental, pemerintah Indonesia perlu membenahi manajemen bencana sebaik mungkin. Infrastruktur dan koordinasi antar lembaga harus diperbaiki agar tidak terjadi saling tuding. Sederhana saja, banyak sekali pantai yang tak memiliki peringatan anti tsunami atau petunjuk evakuasi jika terjadi tsunami. Pun tak semua gedung memiliki kontruksi tahan gempa.

Bencana datang tanpa diduga dan tak dapat dihindari. Jika tak sigap, korban dalam jumlah yang besar akan berjatuhan. Kecekatan pemerintah perlu diimbangi dengan kecekatan masyarakat, misalnya melalui pendidikan cara-cara menghadapi gempa-banjir-longsor-tsunami atau latihan evakuasi. Kepanikan terjadi karena ketidaksiapan dan ketidaktahuan.

Pemerintah dan masyarakat perlu bahu-membahu menghadapi aneka bencana yang datang silih berganti. Stoicism muncul karena warga Jepang mempercayai pemerintahnya. Akibatnya, pemerintah Jepang lebih tenang mengatur, membenahi, dan membangun kembali negaranya dari kehancuran. Evakuasi dan logistik pun tersalur cepat.

Sejauh mana masyarakat Indonesia mempercayai pemerintahnya? Sejauh mana masyarakat Indonesia memiliki mental yang tetap tangguh dan tenang? Pertanyaan ini dapat menjadi bahan renungan bersama sebelum bertolak menjadi negara pemilik stoicism dan soft power yang luar biasa seperti Jepang. Selamat berjuang!

Advertisements

One thought on “Belajar dari Stoicism Jepang

  1. Jepang memang manusia KW 1, kita harus belajar banyak pada jepang, agar kita sebagai manusia yang ditakdirkan menjadi ras manusia KW 10 di muka bumi ini menjadi ras KW yang lebih baik, maka kita puja dan puji bangsa jepang serta kita contoh suri tauladannya. JEPANG DUNIA MENGAGUMINYA – ADMIRING THE WORLD JAPAN.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s