Fotografi adalah Kehidupan (Interview with Darwis Triadi Part 1)

Sumber foto:  http://www.strawberry-giggles.blogspot.com

Inteview Sylvie Tanaga with Darwis Triadi
2010

Nama Lengkap: Andreas Darwis Triadi
Tempat, tanggal lahir:
Solo – Jawa Tengah, 15 Oktober 1954,
Profesi:
Fotografer, pengelola studio Darwis Triadi Photography dan Darwis Triadi School of Photography.


Sejak usia berapa menyenangi fotografi?
Sejak usia 26 tahun.

Awalnya Anda adalah pilot, mengapa pindah ke fotografi?
Setelah lulus, sebenarnya saya bingung bidang yang mau dituju. Sekolah lagi tentu sudah terlalu tua. Sekolah 3 tahun lagi, usia saya sudah 29 tahun, nggak mungkin cari kerja karena saya menjadi sarjana pada umur 24 tahun. Kemudian saya punya naluri untuk menggeluti fotografi.

Orang tua setuju?
Orang tua saya tentara yang konservatif. Saat itu tukang foto nggak ada apa-apanya. Yang saya lakukan adalah menuangkan pemikiran atau imajinasi saya 20-30 tahun ke depan. Saya rasa saat ini bapak tahu walau beliau sudah di nirwana. Yang penting adalah keyakinan dan komitmen.

Anda mulai terjun ke dunia profesional fotografi tahun 1981. Tahun 1990, salah satu karya Anda sudah masuk majalah tahunan international, Hasselblad. Kisahnya?
Saya mulai fotografi tahun 1980. Lima tahun kemudian, saya mencoba eksis dengan terus berkarya. Tahun 1990, karya saya digunakan di Jerman. Foto saya mendapat award. Itu titik permulaan saya. Sejak itulah saya yakin bahwa fotografi menjadi bidang saya. Sebelumnya, keraguan selalu muncul.

Belajar otodidak?
Ya. Saya selalu ikut seminar dan workshop sejak tahun 1985 sampai 1990. Itu hanya referensi saja karena sepertinya banyak sekali hal yang tidak saya ketahui secara teknik. Setelah belajar, barulah saya tahu. Ini menjadi semacam pengukuhan terhadap keyakinan saya.

Apa yang Anda nikmati dari kegiatan fotografi?
Fotografi mengalir dalam kehidupan saya. Tiap hari saya bersinggungan dengan fotografi, sudah seperti nafas. Saat sakit, saya sembuh setelah motret. Bangun pagi flu, saat mengajar hilang flunya. Jangan menilai fotografi dengan materi. Duit memang diperlukan tapi berpikir tidak takut miskin dan nggak makan akan membantu kita berpikir jernih.

Mengapa lighting menjadi penekanan paling besar dalam karya Anda?
Fotografi adalah tentang cahaya. Setelah 30 tahun dalam dunia fotografi, saya sadar bahwa fotografi adalah cahaya. Belajar fotografi sebetulnya belajar kehidupan karena cahaya adalah kehidupan. Tanpa cahaya, tidak ada kehidupan. Oleh karena itu saya merasa mendapat berkah bisa masuk dunia fotografi. Saya menemukan kehidupan dalam fotografi.

Salah satu karya Anda pernah diprotes FPI… Apa yang sebetulnya terjadi?
Di Indonesia, kadang masalah pendidikan sangat tidak dihiraukan pemerintah. Bahkan para pemimpin tidak pernah sadar bahwa pendidikan penting untuk bangsa. Seseorang mengerti hitam-putih bukan saja karena melihat dengan mata tapi juga melihat dengan hati. Mata bukan hanya untuk melihat tapi juga merasakan.

Sebuah foto porno atau bukan sudah terlihat. Buku-buku kedokteran bukan porno. Majalah di lampu merah, jelas porno. Di sini, pengertian agama sebaiknya hasil dicermati secara baik. Kita harus mengenal Tuhan dulu baru beragama. Di seluruh dunia, orang bertengkar karena agama. Apakah Tuhan menghendakinya? Ini terjadi karena ketidakmengertian manusia tentang Tuhan.

Anda terkenal sebagai fotografer alam dan model. Mengapa dua bidang ini menjadi pilihan?
Saya memotret aneka hal tapi ada sesuatu yang tersembunyi dalam imajinasi saya yang selalu menggelitik. Pertama adalah alam, kedua adalah wanita. Dua hal ini Tuhan ciptakan luar biasa. Melihat alam, kita bisa tenang. Artinya ada interaksi batin yang luar biasa.

Wanita karena saya laki. Kalau di dunia ini tidak ada wanita, laki tidak tenang. Tanpa perempuan, tidak ada kelahiran dan kehidupan. Ibu saya juga perempuan. Tuhan menciptakan wanita untuk sebuah kehidupan karena fotografi adalah kehidupan. Saya harus betul-betul memelihara, melindungi, menghormati perempuan sama seperti menghormati alam.

Perbedaan memfoto alam dan orang?
Fotografi adalah universal. Objek apapun sama karena kita berkomunikasi dengan mata, rasa, dan batin. Apapun yang saya capture, hasilnya akan sama. Yang berbeda hanya objeknya saja. Kalaupun ada, perbedaannya tidak signifikan, hanya soal ego saja. Kalau motret orang, ada interaksi bolak-balik (two traffic). Kalau motret benda, one traffic, saya hanya berkomunikasi dengan batin.

BERSAMBUNG…

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s