Fotografi adalah Kehidupan (Interview with Darwis Triadi Part 2)

Sumber foto:  http://www.zaghaa.blogspot.com

Interview Sylvie Tanaga with Darwis Triadi
2010

Bagaimana dengan fotografi komersial?
Seorang fotografi harus betul-betul mewakili fotonya secara utuh. Kalau bukan, dia hanya foto-foto. Fotografi komersial memang perlu tapi itu pekerjaan komersil. Walau demikian, seorang fotografer dapat mengeksplorasi banyak hal karena fotografi adalah lighting. Kalau tidak paham cahaya, dia bukan seorang fotografer.

Opini Anda terhadap kamera digital?
Kamera digital adalah fasilitas. Itu bagus. Dulu pakai film sekarang memori card. Yang tidak boleh dilakukan adalah memotret lalu diperbaiki photoshop. Seorang fotografer harus mengetahui lighting. Saat memotret, paling tidak secara basic atau raw material sudah bagus.

Anda sering bekata fotografi memerlukan momen yang memiliki roh atau jiwa. Maksudnya?
Kita tidak bisa lepas dari vibrasi perasaan. Untuk foto komersial, begitu tombol ditekan saya sudah tidak mau lihat karena itu foto pesanan. Foto seutuhnya harus kita jalankan sesuai batin. Kalau foto berasal dari batin, hasilnya pasti bagus.

Indonesia hanya sekedar menjadi konsumen yang tidak memberikan kontribusi bagi perkembangan fotografi dunia. Opini Anda?
Kurang tepat. Ini adalah pernyataan orang yang tidak mengerti fotografi secara benar. Masyarakat kita kadang minder sebelum bertanding. Menghargai orang tapi tidak menghargai diri sendiri. Ini adalah tindakan menyembunyikan ketidakyakinan kita.

Saya justru mau menunjukkan pada dunia bahwa ada sekolah fotografi non komersial yang non formal. Banyak murid dari Perancis dan Australia di sekolah saya ini. Ini satu bukti bahwa kita punya jati diri. Soekarno ke Amerika dan membuktikan pada Kennedy bahwa Indonesia sejajar. Bicara fotografi, saya pasti bicara mengenai kehidupan karena itulah esensinya. Fotografi sudah terbungkus jadi satu dalam kehidupan, bukan sekedar foto.

Mayoritas fotografer Indonesia sudah mencapai tahap kehidupan seperti yang Anda maksud?
Sulit karena kalau bicara saya disangka orang gila. Tapi saya tidak pernah bosan bicara. Saya selalu bicara pada teman-teman fotografer bahwa kaya adalah urusan Tuhan. Mungkin secara finansial banyak fotografer yang jauh lebih kaya dari saya.

Kalau mau kaya, saya sudah membangun institut. Rumah saya pun masih kontrak. Ada orang baik yang memberi kontrakan dengan harga murah. Ini peranan Tuhan. Ada yang membujuk saya mendirikan institute tapi ini hanya mengejar masalah materi saja. Dengan sekolah seperti ini saja saya dapat mencetak ribuan kader. Di sekolah, saya berikan pemahaman fotografi dalam kehidupan. Belajar fotografi berarti belajar berkehidupan, tidak sekedar tahu teknik atau hanya jadi tukang foto.

Banyak yang takut menjadi fotografer profesional karena masalah channel dan klien…
Itu keragu-raguan. Wajar saja. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang menginginkan karier yang bagus untuk menopang kehidupan. Yang penting  jangan sekali-sekali berprofesi hanya untuk uang. Orang datang ke saya cuma dua: gratis atau bayar. Lebih banyak yang gratis.

Kalau Tuhan memberi saya rejeki sehingga saya nggak perlu banting tulang di fotografi, saya lebih enjoy motret gratis karena komersial fotografi terlalu jahat. Mereka mendikte, mematok, dan menendang. Saya tidak mau terjerembab. Bagi saya dunia pendidikan adalah berkah. Saya tidak perlu bersaing dan dengan demikian lebih lega.

Kualitas sekolah fotografi di Indonesia pada umumnya?
Masih jelas mengarah pada materi. Masuk saja sudah mahal, dipersulit, bisa nggak lulus, penerapan pendidikan salah. Kalau gagal belajar, yang gagal sebetulnya gurunya. Gurunya yang harus introspeksi. Dosennya yang harus introspeksi. Tapi yang saya bicarakan khusus untuk fotografi.

Sarana fotografi di Indonesia?
Sudah sangat cukup. Di Eropa belum ada jenis alat tertentu, di Indonesia sudah ada, bukan halangan.

Apakah seorang fotografer perlu mempelajari fashion, styling, dan make up artist?
Jelas. Sebagai seorang fotografer, paling tidak kita harus tahu soal fashion, style, dan seterusnya. Seorang fashion fotografer yang tidak tahu jenis dasi kan repot. Pengetahuan penting.

Perbedaan apresiasi masyarakat terhadap fotografi dari dalam dan luar negeri?
Di Indonesia nggak ada gedung konservatorium. Vietnam dan Kamboja yang miskin saja punya. Artinya kita orang yang berbudaya tapi tidak mau memelihara kebudayaan.

Apresisasi masyarakat terhadap profesi fotografer saat ini?
30 tahun lalu, orang masih belum memandang profesi fotografer. Sekarang, fotografer adalah profesi terbanyak selain artis dan dokter. 30 tahun lalu, saya berpikir fotografer harus ditempatkan pada posisi bergengsi. Caranya, kita harus punya gengsi dan style. Kalau perilaku saya tidak punya style, susah. Saya terus lakukan selama 30 tahun. Sekarang generasi penerus tinggal menikmati.

Pesan bagi seluruh fotografer?
Jangan merasa bagus, top, dan seterusnya. Sampai sekarang, saya kadang masih terkaget-kaget kalau ada orang bilang foto saya bagus. Kita harus jalankan dengan spirit yang luar biasa. Jangan lihat fotografi sebagai materi saja.

Mimpi ke depan?
Suatu saat apa yang saya pikirkan dan tuangkan, bisa ada yang mengadopsi.

Nilai-nilai hidup?
Saya sangat menghargai apa yang telah diberikan leluhur terhadap saya walaupun bukan dalam bentuk materi. Inilah yang saya aplikasikan di kemudian hari. Contohnya adalah filosofi perkutut. Perkutut suka bersuara walau bulu tak terlalu bagus. Nilainya adalah jangan melihat manusia dari luar tapi dari apa yang ia bicarakan. Nilai-nilai ini dapat melebar dalam segala struktur kehidupan.

(FIN)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s