Booming Penduduk Indonesia: BLaaarRR! Lalu?

Presiden RRC, Hu Jintao boleh berbangga. Meski masih bertengger di posisi puncak sebagai negara dengan jumlah penduduk terbesar (1,34 miliar jiwa), tingkat pertumbuhan penduduk China relatif rendah. CIA World Fact Book mencatat pertumbuhan China hanya sebesar 0,493% dari tahun 2009 ke 2010. Prosentase ini tak banyak berubah dari 2010 ke 2011.

Tiga dekade sudah kebijakan ‘satu anak’ diterapkan. Hasilnya, tingkat pertumbuhan penduduk menurun stabil. Kalau ditotal-total, tingkat pertumbuhan penduduk sejak 2001 hingga 2010 hanya 0,57%. Tentu jauh berbeda dengan tingkat pertumbuhan ekonominya juga stabil di atas lima persen. Human development index-nya tak mengecewakan: ranking 89 dari 169 negara.

China tak hanya jawara dalam hal pertumbuhan penduduk. Ia juga berhasil memuncaki tangga pertumbuhan ekonomi dunia. Meski di beberapa kawasan kesenjangannya masih tinggi, paling tidak pertumbuhan ekonomi China 2010 mencapai 10,3% dengan pendapatan per kapita sebesar 7.400 dollar AS (CIA World Fact Book).

Yang makin melegakan Hu Jintao adalah tingkat penganggurannya yang hanya 4,3% (CIA, 2010). Jumlah penduduk miskinnya pun tak besar yakni 2,8% (CIA, 2010). Di luar angka-angka ini, kita masih dapat melihat asrinya budaya dan keindahan alam China. Laju kendaraan terkendali dan baru-baru ini mendapat pujian karena berhasil menurunkan kadar polusi.

Masalah besar yang muncul terkait jumlah penduduk China hanya tiga (di luar masalah lingkungan): kesenjangan sosial, tingginya aborsi terhadap bayi perempuan sehingga jumlahnya menipis, dan terbaru adalah prosentase penduduk tua yang meningkat. China is still likely to be the first country to grow old before it gets rich (Economist, 29 April 2011).

Pemerintah China tak hanya mengumbar kata ‘stabilitas‘. Negara Panda ini benar-benar memiliki strategi kependudukan yang jelas, terukur, dan terarah yang selalu dinyatakan oleh Hu dalam rancangan lima tahun (five years plan) macam Repelita ala Soeharto yang kini punah.

Strategi kependudukan yang dibangun Hu dan kawan-kawan bukan hanya berfokus pada ‘bagaimana cara menekan laju pertumbuhan’ tapi juga ‘bagaimana cara meningkatkan kapasitas penduduk yang sudah ada’. Pembangunan fisik paralel dengan pembangunan mental. Hu serius mengaktifkan layanan masyarakat dan pensiun plus habis-habisan melawan korupsi dengan tetap menolak pencabutan hukuman mati terhadap koruptor.

Pertama, Hu terus menegakkan dan memperbaiki kebijakan keluarga berencana. Kedua, Hu memfokuskan diri pada peningkatan kualitas penduduk termasuk memberi perhatian terhadap bayi dan perkembangan anak usia dini, pendidikan karakter untuk memperkuat kesehatan remaja, mengembangkan SDM, dan mempromosikan pembangunan yang komprehensif.

Ketiga, Hu aktif mempromosikan kesetaraan gender dan “Caring for Girls”, menyosialisasikan perkawinan dan cara membesarkan anak yang sehat, melindungi hak dan kepentingan perempuan, melindungi anak di bawah umur, serta membangun iklim kondusif bagi pertumbuhan anak perempuan yang sehat melalui kebijakan ekonomi dan sosial.

Keempat, membimbing agar migrasi dapat berjalan lancar dan tertib. Pemerintah China secara aktif mempromosikan urbanisasi agar populasi dapat terdistribusi merata yang positif bagi pemerataan ekonomi, pengembangan lahan, dan sebagainya.

Kelima, meningkatkan keamanan sosial dan sistem layanan pensiun sebagai respon efektif terhadap penuaan populasi. Pemerintah juga mempromosikan penghomatan terhadap populasi berusia tua ini. Terakhir, China gencar mempromosikan keharmonisan dan kebahagiaan keluarga serta memperhatikan anak yatim, jompo, keluarga tua, penyandang cacat, kaum migran, dan keluarga korban (bencana, dan lain-lain) yang terbelit kesulitan.

Hu Jintao dan tim tak pernah main-main dengan ucapan resmi kenegaraannya. Pemerintah China memiliki grand strategy yang diterjemahkan dalam strategic plan yang jelas dan terukur. Itu sebabnya penduduk China banyak sekaligus berkualitas. Itu sebabnya penduduk China makin kaya namun tetap menghargai hukum, budaya, dan orang tua.

Mari kita tengok Indonesia.

Tulisan ini sama sekali tidak berpretensi negatif menjatuhkan pemerintah sendiri. Melalui tulisan ini, saya bermaksud menggelitik kita semua untuk setidaknya belajar dari China, belajar bagaimana mengendalikan ledakan penduduk yang paralel dengan kualitas, atau setidaknya menyadarkan terlebih dulu pentingnya strategi kependudukan.

Indonesia, sama halnya seperti China, masih setia bertengger sebagai negara dengan jumlah penduduk keempat terbanyak di dunia. Data Sensus Indonesia 2010 menunjuk jumlah 237.641.326 jiwa. Berbeda dengan Sang Naga, rasio penduduk muda dan tua kita masih seimbang, demikian pula dengan rasio perempuan dan laki-laki.

Sayangnya, jumlah penduduk yang besar ini tidak paralel dengan pembangunan ekonomi maupun kualitas SDM. Secara statistik, pertumbuhan ekonomi Indonesia memang lumayan yakni 6% (CIA, 2010). Namun tingkat pengangguran tergolong tinggi yakni 7,1%. Demikian pula dengan prosentase penduduk di bawah garis kemiskinan yang mencapai 13,33% (CIA, 2010).

Human Development Index Indonesia 2010 juga menurun satu tingkat dari tahun sebelumnya yakni ranking 108 dari 169 negara. Sebaliknya, pada 2010 China justru naik dua peringkat.

Pertumbuhan penduduk Indonesia 2010 ke 2011 mencapai 1,069% (CIA 2011, versi lain menyebut jauh di atas 1%), jauh di atas China. Tingkat pertumbuhan ini diikuti dengan masifnya tingkat pertumbuhan kendaraan, kebutuhan pangan, dan seterusnya yang tak tertangani dengan baik, seolah out of control. Dunia belum melihat upaya nyata Indonesia dalam mengembangkan fasilitas dan SDM yang merata.

Jika kita uraikan akar masalahnya, kata kuncinya adalah kelemahan strategi pemerintah Indonesia yang hanya berfokus pada pengendalian penduduk secara fisik, yakni program Keluarga Berencana. Program ini pun tak lagi berjalan semoncer era Orde Baru.

Saya melihat Indonesia belum memiliki grand strategy apalagi blue print strategi kependudukan yang jelas, yang bukan sekedar slogan politis pro-growth, pro-job, dan pro-poor. Kalaupun ada, belum ada upaya sosialisasi yang gamblang.

Sebagai bukti, saat saya mengetikkan kata ‘strategi kependudukan Indonesia’, sebuah tulisan jelas yang muncul di layar oom Google hanyalah sebuah artikel milik Opini Republika berjudul sama (April 2010) yang ditulis oleh Kepala Biro Humas dan Hukum BPS, Jousairi Hasbullah.

Meski judulnya adalah ‘strategi’, artikel ini tak satupun memuat apa saja strategi kependudukan yang telah dinyatakan pemerintah Indonesia. Artikel ini hanya memuat bagaimana sebuah sensus berlangsung sehingga seharusnya lebih tepat berjudul ‘Strategi Sensus Penduduk Indonesia’ daripada ‘Strategi Kependudukan Indonesia’.

Sisanya, tak satupun muncul artikel resmi maupun tak resmi yang berisi kalimat-kalimat segamblang Hu Jintao. Yang muncul adalah opini-opini pakar, lembaga pengkaji masalah sosial, tulisan-tulisan akademis, hingga artikel analisis ringan seperti yang sedang saya lakukan.

Satu-satunya pernyataan resmi yang saya peroleh adalah pernyataan dari Gubernur Jabar, H Ahmad Heryawan (Desember 2010) yang akan melakukan optimalisasi penerapan strategi pengendalian laju pertumbuhan penduduk alami dan laju pertumbuhan migrasi. Strategi yang beliau ungkap adalah mengintensifkan gerakan KB dan tertib administrasi kependudukan.

Lagi-lagi strategi yang hanya terpusat pada pembangunan fisik, yang hanya menjadi salah satu poin penekanan strategi kependudukan milik Hu Jintao. Sisanya, gubernur tak menyebut strategi untuk mengendalikan laju pertumbuhan migrasi.

Berbanding terbalik dengan China yang menghormati orang tua, penyandang cacat, dan sejenisnya, pemerintah Indonesia menolak bertanggungjawab dengan pasal 34 UUD 1945 bahwa “fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.” Studi banding soal kemiskinan dan kependudukan ke luar negeri yang tak terlalu berdampak tetap berjalan.

Si miskin tua yang ketahuan nyolong ayam dan buah-buahan digebuki, ditangkap, dan dipenjara bertahun-tahun sementara koruptor dalam penjara yang hanya hitungan bulan bebas liburan ke Bali dan menikmati dinginnya AC dan empuknya sofa dalam sel. Sosialisasi KB pun tak berjalan sebagaimana mestinya terutama karena makin minimnya fasilitas Puskesmas.

Pada saat sekolah-sekolah di China mengalami peningkatan kualitas dan universitas-universitasnya kini sudah menjadi target calon mahasiswa internasional, pendidikan Indonesia masih tak terjangkau lapisan terbawah sekalipun pemerintah telah menyosialisasikan program Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah dasar gratis.

Ini hanyalah segelintir gambaran negatif yang membumi di media massa. Bukan tak mungkin China pun mengalami hal serupa. Bukan berarti pula sama sekali tidak ada elemen pemerintah ataupun komunitas yang perduli dengan urusan kependudukan dan kesejahteraan penduduk.

PNPM Mandiri, Kredit Usaha Rakyat (KUR), dan gas 3 kilogram adalah contoh positif niat baik pemerintah terlepas dari penilaian selanjutnya yang dipandang tak efektif ataupun banyak meledakkan rumah-rumah warga. Setidaknya, niat baik yang ditindaklanjuti adalah peluang yang perlu terus dikembangkan. Demikian juga dengan LSM dan individu yang berkontribusi positif mengendalikan laju pertumbuhan penduduk yang paralel dengan kualitas.

Yang saat ini perlu dibangun pemerintah adalah grand strategy yang diterjemehkan dalam wujud strategic plan, lengkap dengan target, pelaku, dan langkah yang terukur dan dapat dipertanggungjawabkan sehingga tidak terjadi ‘ganti pimpinan, ganti kebijakan’. Strategi besar ini sangat vital sebagai penuntun sehingga masyarakat tak hanya memiliki rujukan Millenium Development Goals 2015 yang terlalu global.

Indonesia memang tak serta-merta harus meniru strategi kependudukan Hu Jintao dan kawan-kawan karena saya percaya setiap negara mamiliki problem dan akar permasalahannya masing-masing yang tentu berbeda satu sama lain. Meski demikian, Indonesia perlu belajar bagaimana China sukses mengendalikan laju pertumbuhan penduduk yang paralel dengan kualitas dan kesejahteraan. Tidak ada kata terlambat untuk belajar.

Maju terus penduduk Indonesia: besar jumlahnya, besar pula potensi dan keberhasilannya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s