Warna-Warni Sosialita Apartemen

Apartemen! Ya, di tengah sesaknya pemukiman, jenis tempat tinggal yang satu ini banyak jadi alternatif bagi para perantau yang tinggal di ibukota, termasuk saya. Tinggal di lantai 25 jelas tak pernah terbayang sebelumnya. Dua tahun sudah saya hidup di pencakar langit. Membuka jendela, tatapan bersirobok pada bangunan dan kendaraan yang terlihat sangat mini di bawah sana.

Sepertinya dengan tangan lepas saya mampu mengangkat mobil-mobil ‘mini’ yang terlihat seperti mainan ini, menghindarkan mereka dari kemacetan, dan berteriak kalau di sudut yang lain ada motor sedang ngebut. Pada pandangan sejajar, saya melihat bangunan di seberang yang penuh dengan jemuran (tapi tetap rapi).

Pendek kata, pandangan mata saya mendadak menjadi sangat luas. Saya bahkan dapat dengan jelas melihat semburat awan yang menggantung di langit. Arah perarakkan awan dengan mudah tertebak meski tentu saja tak mudah memprediksi cuaca. Tapi pada sore hari, awan berwarna kemerahan yang sangat indah adakalanya dapat saya saksikan dengan mata telanjang. Wow!

Nah, tinggal di apartemen ternyata bukan cuma soal fisik bangunan. Sempit sih memang, tapi untuk tinggal hanya berdua sudah lebih dari cukup. Salah satu keunggulan tinggal di apartemen berlantai tinggi adalah bebas nyamuk (nyamuk tentu enggan ‘bunuh diri’ terjun bebas dari lantai 25). Bebas melakukan apapun tentu saja kebebasan yang  bertanggungjawab lho.

Jika terlalu bebas, jadinya adalah beberapa peristiwa di bawah ini.

Pertama, soal rokok. Nah, jika Anda tinggal di apartemen, jangan sekali-kali merokok di balkon dan membuang puntung ke luar jendela. Anda tidak akan tahu apakah kamar di bawah Anda terganggu atau tidak. Suatu pagi saat menunggu tukang ojeg saya tiba untuk mengantar ke kantor, seorang nenek duduk di lobi sambil ‘mencak-mencak’.

Gilaaak ya kamar di atas saya! Masak ngrokok seenaknya sampai abunya jatuh ke jemuran saya. Sepatu suami dan baju jadi berlubang…” Dalam hati, saya juga ingin mengatakan hal serupa. Bukan soal berlubangnya baju tapi soal aroma tak sedap rokok yang berhembus masuk ke ruang tamu, sangat menyesakkan dada bagi kami yang tidak merokok.

Ibu ini masih terus mengomel sampai tukang ojeg saya mengetukkan kaca lobi, mengingatkan saya untuk segera berangkat. Terakhir saya lihat pak Satpam di lobi mencatat keluhan ibu ini sambil manggut-manggut. “Oke bu. Nanti akan kita tindak lanjuti…”

Beberapa hari kemudian, asap rokok pun masih tercium karena tentu tidak ada seorang petugas apartemenpun yang mampu memantau ribuan penghuninya kecuali ada laporan. Dan tidak semua penghuni, sayangnya, rajin melaporkan gangguan yang dialaminya. Saya adalah seorang di antaranya.

80% hidup di apartemen memang soal tenggang rasa. Meski hanya tinggal berdua atau kadang sendiri, manusia tetaplah makhluk sosial yang pasti bersinggungan dengan manusia lain.

Kali lain, saya kerap mendengar orang memaku-maku pada larut malam, menimbulkan distorsi pada otak yang sedang saya perintahkan untuk beristirahat setelah seharian penuh letih bekerja.

Malam lainnya, saya mendengar makian-makian di kamar tetangga sebelah yang terdengar cukup jelas. Juga pernah terdengar dua orang sedang bertengkar hebat sambil membanting-banting barang. Selidik demi selidik, yang beradu hantam berasal dari lantai 28 alias terdengar sampai tiga lantai! Wow!

Tapi setelah direnungkan, saya pun kerap mengganggu para tetangga terutama karena kencangnya menyetel musik. Pernah saya tak sadar sudah menyetel musik dengan sangat kencang sampai tengah malam, kadang sampai tak mendengar bunyi ketukan di pintu kecuali bunyi bel apartemen yang memang sangat kencang. Saat musik saya matikan, langsung terganti dengan suasana amat sunyi.

Soal tenggang rasa, pengelola apartemen sendiri pernah membuat panik para penghuninya. Pertama adalah soal lift yang terkadang macet. Kedua adalah bunyi pengumuman yang bergaung tak jelas. Pernah suatu hari pengelola mengumumkan akan berlangsungnya latihan evakuasi kebakaran. Pengumuman ini rupanya tak ditangkap jelas para penghuni.

Begitu bunyi sirine kebakaran berbunyi kencang sampai ke seluruh tower, lebih dari setengah penghuni apartemen panik, terutama yang tinggal di lantai atas. Setelah berhamburan keluar pintu untuk mengetahui apa yang terjadi, barulah pengumuman terdengar jelas.

“Pengumuman, telah terjadi kebakaran di tower C lantai 18. Seluruh penghuni diharap turun menuju tangga darurat dengab tertib.” Tanpa tahu bahwa ini hanya latihan evakuasi saja, hampir semua penghuni berebut pintu darurat.

Adik saya segera mengontak petugas di lobi lewat intercom.
“Pak, memangnya kebakarannya beneran?”
“Beneran kok…”

Selidik demi selidik, petugas keamanan lobi ini bohong. Kami kesal walau tidak ikut turun karena sebelumnya saya sempat mendengar sayup-sayup pengumuman yang lebih jelas karena kebetulan ada di kamar berjendela terbuka. Setelah tahu fakta sesungguhnya, seluruh ‘korban’ menggerutu.

“Gilaaakk! Isteri saya yang lagi hamil harus lari-larian turun berpuluh-puluh tangga!” teriak seorang bapak, emosi.

Nah, inilah sedikit gambaran soal sosialita apartemen yang rada unik. Saya belum membahas banyak hal lain seperti lamanya menunggu lift, ritual belanja bulanan, padatnya area parkir, air kolam renang yang gatal, ‘bule-bule’ India-Afrika, bunyi intercom yang mengagetkan, sampah, cewek-cewek seksi, seni dekorasi, resto, sulitnya sinyal, hingga bunyi ondel-ondel yang rada mengesalkan.

Butuh lebih banyak halaman untuk menuliskan semuanya. Sementara ini cukup sekian. Aroma daging dari kamar seberang membuat saya makin lapar saja. Saya mau makan es krim sambil melihat sunset dulu dari atas sini. Tidak kalah indah lho dari pemandangan sunset di pantai!

Kemayoran, Jakarta Pusat
9 Juni 2011

 

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s