Makanan-makanan “Terbang”

Mens sana in corpore sano. Seringkali kita dengar pepatah agung mahakarya seorang pujangga Romawi, Decimus Iunius Iuvenalis yang satu ini. “Dalam tubuh yang kuat terdapat jiwa yang sehat”, begitulah kira-kira artinya dalam bahasa Indonesia.

Pepatah ini ada benarnya. Punya visi setinggi langitpun jelas tak mudah Anda gapai jika tubuh sakit-sakitan. Hidup atau mati memang kehendak Tuhan, tapi tentunya kita punya tanggung jawab untuk menjaga tubuh tetap kuat. Nggak mungkin kita asyik makan junk food lalu dengan santainya berkata, “ah, gue sehat-sehat aja tuh so far. Yang penting kan menikmati hidup.”

Mungkin kita punya seribu satu jawaban jika ditanya bagaimana sih cara membuat tubuh tetap kuat. Pada kesempatan ini, saya akan bahas satu akar masalah yang sering ditenggarai membawa pengaruh positif maupun negatif bagi kekuatan tubuh: makanan.

Jangan pernah bosan membahas isu yang satu ini. Bagaimanapun, pangan adalah salah satu dari tiga kebutuhan pokok manusia. Tanpa makanan, Anda dijamin tewas. Kalau Anda rajin memperhatikan isu dunia, Anda akan menemukan bahwa para politikus sekalipun sangat kelimpungan soal makanan, termasuk Ibu Negara AS, Michelle Obama.

Loh, apa hubungan makanan dengan Michelle Obama?

Sebelum sampai pada topik ini, saya akan segarkan pengetahuan Anda soal pangan dunia. Secara umum (generalisasi), negara-negara miskin dan berkembang masih banyak berkutat soal kelaparan. Indonesia termasuk di dalamnya. Simak saja berita-berita di media massa.

Dalam beberapa bakti sosial dan pendampingan gizi bersama sebuah LSM bernama doctorSHARE atau Yayasan Dokter Peduli, potret-potret kelaparan di pelosok Indonesia makin terlihat jelas. Jangankan pelosok, ibukota sekalipun menyimpan gudang-gudang penderita busung lapar yang superakut.

Di sebuah wilayah di sudut Indonesia Timur, teman-teman doctorSHARE mendapati banyak penderita gizi kurang dan gizi buruk yang mengenaskan. Bersyukurlah Anda yang punya bayi dengan bobot 3 kilogram saat lahir. Teman-teman doctorSHARE bahkan mendapati bobot yang sama untuk seorang anak tampan generasi penerus Indonesia berusia 3,5 tahun!

Kulitnya hampir menyatu dengan bentuk tulang yang membentuk tubuh anak-anak ini. Jumlah rusuknya bahkan bisa dihitung kasatmata. Bapak-ibunya tidak bisa berbuat apa-apa. Upah si Bapak dari hasil berkebun bukan dalam bentuk uang melainkan jagung atau sagu. Akibat ulah Orba, mereka jual jagung-jagung ini agar dapat membeli nasi sebagai “makanan pokok”.

Penekanan saya bukanlah apa penyebab kelaparan. Tentu banyak sekali, tergantung sudut pandang Anda. Ada yang menyebut kemiskinan. Aktivis HAM menyebutnya ketidakadilan struktural. Aktivis lingkungan hidup menganalisa perubahan iklim sebagai biang keladi. Ahli gizi menuding ketidakpahaman warga soal gizi sebagai pemicu. Buanyakkkk sekali.

Saya hanya akan bahas fakta-faktanya saja agar kita semua dapat belajar soal makanan.

Selain negara-negara miskin dan berkembang, negara-negara mapan macam Amerika Serikat juga punya masalah dengan makanan. Bedanya, masalah yang mereka perangi adalah masalah kegemukan alias obesitas. Fakta menunjukkan bahwa anak-anak negara Paman Sam ini harus berjuang melawan kegemukan yang terutama terjadi akibat pola makan yang salah.

Masalah ini sudah sedemikian mengemuka. Oprah Winfrey Show dan dr. Oz Show sudah berkali-kali menyajikan isu ini. Belum lagi menjamurnya acara-acara “masak sehat” yang menyedot rating tinggi.

Untuk melengkapi kesadaran masyarakat soal obesitas, United States Department of Agriculture (USDA) dan Michelle Obama pun harus turun tangan. Mereka bahu-membahu membuat ikon diet bertajuk “MyPlate”. MyPlate memperlihatkan warga AS bagaimana mengatur porsi buah, sayur, lemak, dan protein dalam kadar sesuai setiap harinya.

Artikel The Economist bertajuk Food Fights (16 Juni 2011) yang juga saya jadikan judul bebas dalam tulisan kali ini, menyebut bahwa sudah bukan hal asing kalau banyak orang Amerika makan “sampah” alias junk food. Maklum saja, gaya hidup serba cepat dan instan tak lagi membuat mereka (termasuk kita) sempat menikmati masakan rumahan.

Lapar? Tinggal seduh bubur, mie, kopi, cokelat, sereal, susu, dan masih banyak lagi. Tidak ada bahan seduhan? Tinggal lari atau menyruh orang ke kantin atau foodcourt terdekat. Cepat dan praktis, tentu tanpa kita tahu bahan-bahan yang mereka gunakan, kebersihan, dan seterusnya.

Khawatir dengan bahaya pangan serba instan ini, The Food and Drug Administration (FDA) AS pun sedang mempertimbangkan perlunya label pada kemasan makanan. Tak tanggung-tanggung, ada empat badan pemerintah yang ditunjuk memberi arahan bagaimana sebuah perusahaan dapat mempromosikan makanan pada anak-anak. Kini mereka aktif bergerak.

Indonesia hanya sekali-kali menginspeksi melalui sidak dari BPPOM atau sidak ala wartawan investigasi di televisi. Tindakan baru ada setelah Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia menggugat atau ada laporan menghebohkan dari ‘surat pembaca’ dan wartawan.

Yang lebih mengenaskan, sering kita temukan anak kos yang sakit typhus atau anak-anak golongan ekonomi bawah yang dibiarkan mengemil makanan tak bergizi macam “chiki” murahan yang sangat berbahaya bagi kesehatan karena penuh bahan pengawet dan pewarna kimia ketimbang membeli telur. Belum lagi Indonesia full dengan ragam pangan semacam ini.

Kurang pengetahuan mungkin bisa jadi sebab tapi rasanya tidak terlalu pas mengingat banjirnya informasi soal pola makan sehat. Masalahnya bukanlah sama sekali tidak boleh memakan junk food. Hidup di era iPad memang berbeda. Adakalanya kita terpaksa memakan makanan “terbang” saat terpepet waktu. Belum termasuk zat aditif macam vetsin dan gabus.

Masalahnya adalah apakah kita mau menyeimbangkannya dengan makanan yang lebih sehat? Maukah kita tidak menggunakan vetsin saat memasak? Maukah? Memang betul jika banyak yang berkata bahwa makanan sehat rasanya tak selezat junk food. Tapi Anda tentu tak lagi perlu dicekoki soal bahaya junk food, bukan?

Tapi ide labeling kemasan makanan ‘sehat’ merupakan sebuah ide bagus ketimbang ide labeling ‘makanan non haram’ yang sempat bergulir dan menjadi monopoli pihak tertentu.

Jika negara sebesar Amerika Serikat saja masih dibingungkan oleh label tipuan seperti logo “Smart Spot” milik PepsiCo (2004), dan “Sensible Solution” milik Kraft, apalagi produk makanan Indonesia yang sangat bejibun dengan promosi iklan tak terkontrol. Jangankan junk food, makanan berlabel ‘organik’ saja sering dimanipulasi demi memenuhi pundi-pundi.

Yang jelas, semua berpulang pada pilihan cerdas Anda, bagaimana Anda mampu menyeimbangkan asupan pangan yang berguna bagi tubuh sekaligus jiwa Anda. Ingatlah bahwa apa yang Anda makan akan menentukkan hidup Anda ke depan. You are what you eat.

Kalau masih ragu, ingat saja bahwa pola makan Anda akan menjadi contoh bagi anak-anak. Anak-anak akan dengan cepat meniru kebiasaan orang tuanya termasuk pola makan. Kalau Anda memberi mereka ‘teladan’ pola makan yang salah, akibatnya fatal bagi anak-anak bahkan generasi selanjutnya alias cucu-cicit Anda.

Tentu Anda tak ingin melihat keluarga mati muda karena makanan yang salah bukan?

Segala sesuatunya dimulai dari lingkungan keluarga. Kebiasaan makan dalam keluarga menjadi cermin kebiasaan makan di masyarakat, bahkan negara. Jepang adalah negara dengan rating penduduk berumur panjang. Rahasianya? Sejak usia TK, pemerintah Jepang sudah berinisiatif memberi mereka makan siang dengan menu yang sudah ditentukan sesuai takaran gizi.

Sekarang, ibu Michelle Obama mulai mengikuti jejak Jepang dengan menggalakkan makanan sehat dan pola makan sehat di kalangan anak sehingga AS tidak lagi dilanda obesitas yang berdampak sangat buruk bagi kesehatan negara secara keseluruhan.

Sekali lagi masalahnya bukanlah minimnya duit untuk membeli pangan karena sesungguhnya kita dapat meramu pangan yang sehat tanpa biaya tinggi. Masalahnya bukanlah “apakah kita mampu?” tapi “apakah kita mau?” Jadilah sosok yang cerdas dalam memilih makanan yang sehat bagi tubuh dan jiwa Anda dan keluarga.

Jauhkan makanan-makanan yang akan “terbang” ke tempat-tempat yang tidak Anda inginkan dan jangan lupa mengimbangi menu sehat dengan pola sehat, olahraga teratur, dan pikiran yang sehat pula. Mau tak mau harus kita akui bahwa salah satu faktor penting pembentuk masa depan bangsa memang terletak pada makanan. Mens sana in corpore sano!

Sumber foto:  Inggit Agustina

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s