Ketika ‘Jagoan Dunia’ Harus Berperilaku Baik

Sepertinya tak ada seorangpun menampik bahwa China punya keunggulan soft power skala dunia di bidang olahraga. Pencapaian China di ajang Olimpiade setidaknya sudah menjadi bukti sahih bagaimana negara naga ini benar-benar sukses menggembleng para atletnya.

Nama-nama besar seperti Yao Ming (pebasket NBA), Din Junhui (atlet biliar profesional), dan Li Na (petenis profesional) sudah begitu mendunia. Li Na, misalnya, sukses menjadi petenis Asia pertama yang memenangkan Grand Slam Prancis Terbuka pada 4 Juni 2011.

Raihan ini menjadi bukti keseriusan China menggarap sudut olahraga, bidang mahapenting penentu kesehatan yang mencerminkan kesehatan seluruh rakyatnya. 29 September 2008 atau usai gebyar Olimpiade Beijing 2008, presiden RRC Hu Jintao menyatakan negaranya akan berkembang menjadi negara kuat olahraga, yang kemudian nyata realisasinya.

Semangat Olimpiade Beijing pun merasuk. Sukses Olimpiade Beijing ditambah majunya perekonomian, menambah antusiasme China mengembangkan sisi soft power lain yang dapat meningkatkan citra negara yakni olahraga. Mulai tahun 2009, tanggal 8 Agustus ditetapkan pemerintah China sebagai “Hari Kebugaran Jasmani Seluruh Masyarakat”.

China pun membangun infrastruktur dan pusat pelatihan modern dengan dana tak tanggung-tanggung. Usaha olahraga berkembang pesat. Jalan raya dibuat makin nyaman bagi pejalan kaki dan pengendara sepeda. Atlet pun mendapat fasilitas sebagaimana mestinya, lengkap dengan jaminan hari tua.

Di luar program dan infrastruktur mendukung yang menghasilkan banyak emas, tahukah Anda bahwa China pun sangat memperhatikan perilaku positif para atletnya?

Jam-jam latihan dan pola makan sangat teratur. Kedisiplinan, manajemen yang baik, dan kerjasama yang kompak antara atlet-pelatih-pengurus menjadi kunci utama. Meski beberapa media mengritik sistem latihan atlet yang tak manusiawi, nyatanya China terbuka dengan reformasi olahraga terutama sesudah kemenangan Li Na di ajang Grand Slam.

Li Na adalah seorang petenis China yang meniti kariernya dari jalur perorangan, bukan lagi terkonsentrasi di gudang-gudang pelatihan khusus. Media-media China pun menyebut keberhasilan Li Na sebagai penanda dimulainya era baru dalam olahraga professional. Ini sekaligus memberi indikasi bahwa China siap membuka diri terhadap pengaruh masyarakat luar yang berpengalaman. Tak kaku namun tetap menghasilkan prestasi.

Kedisiplinan berlatih dan keterbukaan terhadap pengembangan prestasi ini diikuti oleh tempaan mental dan perilaku yang positif.

5 Agustus 2011, China berani mendepak atlet seluncur es peraih empat medali emas olimpiade musim dingin, Wang Meng. Sebulan sebelumnya, atlet berprestasi berusia 26 tahun ini memukul manajer timnya, Wang Chunlu, saat dimarahi karena terlambat pulang ke tempat pelatihan pada malam hari karena minum-minum dengan lima rekannya.

Wang Meng dan rekannya, Liu Xianwei, mengejar dan menyerang manajer tim dan asisten pelatih serta orang-orang yang mencoba melerai. Mereka merusak fasilitas penginapan dan melukai diri sendiri. Saat pulang ke tempat latihan dari rumah sakit pada dini hari, mereka membuat keributan dan mengganggu anggota tim lain yang sedang istirahat.

Hasilnya, Wang Meng didepak dari tim nasional. Liu Xianwei juga ikut diusir karena memicu perdebatan antara Wang Meng dan manajernya. Keempat anggota tim lainnya, Liu Qiuhong, Han Jialiang, Liang Wenhao, dan juara olimpiade nomor 1.500 meter, Zhou Yang, diminta menulis surat penyesalan diri.

Pejabat Olahraga Seluncur Es China pun menyebut insiden ini sebagai sebuah hal yang memalukan yang sangat merusak citra juara olimpiade, citra atlet seluncur es, dan citra atlet China secara keseluruhan, sebuah pernyataan yang sangat tegas.

Dua hari sebelumnya yakni 3 Agustus 2011, wartawan dan penggemar di China baru saja menilai penyerang Real Madrid, Christiano Ronaldo, sebagai seorang yang arogan akibat sikapnya yang angkuh dalam jumpa pers jelang pertandingan melawan Guangzhou Evergrande pada laga persahabatan.

Meski menjadi pengagum prestasi seorang Christiano Ronaldo, para penggemar asal China ini tetap mengecamnya. Ronaldo menunjukkan perilaku tidak bersahabat dan ‘asal-asalan’ dalam menjawab pertanyaan media setempat. Ronaldo, misalnya, hanya mengucapkan “Perfecto” saat menjawab pertanyaan soal perkembangan cedera Ricardo Kaka.

Upaya wartawan China mengangkat mood Ronaldo pun gagal. Saat itu, wartawan melayangkan pertanyaan ringan, “apakah Anda mengganti popok anak?” “Tentu saja, sebagai seorang ayah, itu adalah normal untuk mengganti popok bayi,” tukas Ronaldo (Kompas.com, 4 Agustus 2011).

Ketika ditanya apakah akan kembali ke Manchester United atau Premier League, Ronaldo menjawab singkat, “Mungkin. Mengapa tidak? Anda tidak akan pernah tahu.” Ronaldo kemudian sempat ditanya tentang kesan-kesannya di Guangzhou dan tanpa tedeng aling, Ronaldo hanya menjawab singkat, “Guangzhou sangat panas.”

Sikap ‘ogah-ogahan’ Ronaldo ini segera menuai kritik keras dari pemerintah, penggemar, dan media China yang selama ini sangat memperhatikan perilaku seorang atlet, apalagi atlet ternama macam Christiano Ronaldo. Seorang pengamat China bahkan melontarkan pernyataan relatif keras, “lihat dirimu! C Ronaldo, pulang saja!”

Masyarakat China mungkin akan lebih menaruh respek yang besar jika Kaka yang angkat bicara. Selama ini, Kaka terkenal sebagai atlet yang santun berperilaku dalam kehidupan hariannya. Bagi China, seorang Ronaldo pun harus bersikap baik meski ia mendunia. Sikap ‘ogah-ogahan’ apalagi perkelahian dengan pengurus adalah kesalahan amat fatal.

Sikap pemerintah dan masyarakat China terhadap para atlet sesungguhnya menjadi cermin sikap tegas mereka terhadap para koruptor yang jelas-jelas menyalahi hukum. Pemerintah China tak peduli sedikitpun. Meski pelakunya adalah seorang walikota atau gubernur, hukumannya sama dengan yang lain: tiang gantungan atau ujung laras senapan.

China sadar betul bahwa perilaku adalah faktor penting yang menentukkan keberhasilan seseorang dalam jangka panjang. ‘Jagoan’ tanpa perilaku yang baik tidak ada artinya. Tak heran jika John & Doris Naisbitt lewat buku terkenalnya yang berjudul China’s Megatrends (2010) mengatakan bahwa rakyat China adalah rakyat yang visioner.

Akibatnya, China kini tak hanya melihat banjir prestasi para atletnya tapi juga mampu melihat regenerasi demi regenerasi yang berjalan mulus. Seiring waktu, prestasi olahraga China makin terasah dan menjadi kandidat utama pemenang Olimpiade berikutnya. Tak hanya olahraga, China bahkan menjadi calon negara kuat superpower menggantikan AS.

Hal-hal semacam ini seharusnya juga menjadi pembelajaran penting. Sekalipun kita adalah ‘jagoan dunia’ dalam berbagai bidang (politikus, olahraga, ilmuwan, seniman, musisi, penulis, pengusaha, akademisi, dan lain-lain), tanpa perilaku yang baik (right attitude), semua adalah sia-sia. Kita hanya bertahan sebentar lalu lenyap begitu saja.

Sebuah pepatah mengatakan, “talenta dan prestasi akan mendorong kita naik ke puncak tapi perilaku positif-lah yang akan membuat kita bertahan di puncak.” Maka jadilah jagoan-jagoan dunia yang hebat sekaligus memiliki sikap positif. Bagaimana dengan Anda?

Sumber foto Li Na:  chinadaily.com.cn

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.