Kala Musik ‘Lumerkan’ Militer

Music expresses that which cannot be said and on which it is impossible to be silent
Victor Hugo

Apa beda antara musik dan militer? Siapapun akan berkata bahwa keduanya berlainan, kalau bukan berlawanan. Musik mengekspresikan keindahan bunyi yang membuat manusia larut dalam suasana hati. Sebagai bahasa universal, musik menyatukan perbedaan. Militer menggambarkan kehidupan yang disiplin, kaku, dan keras. Ketimbang bahasa universal, militer lebih cenderung elit. Ia milik negara.

Keduanya seolah bertolak belakang.

Saya bawa dulu alam pikiran Anda pada kisah the Sound of Music yang fenomenal di dunia film maupun panggung Broadway. Ingatkah Anda akan sosok Kapten Georg Ritter Von Trapp ? Ya, di awal cerita, kapten yang satu ini begitu ‘militer’. Ia memperlakukan ketujuh anaknya seperti serdadu. Satu per satu anak disuruh berbaris bak tentara mulai dari urutan anak paling besar sampai paling kecil.

Seluruh kehidupan keluarga Von Trapp diatur dengan menggunakan peluit. Begitu peluit berbunyi, semua harus menghentikan aktivitas dan bergegas turun ke bawah mengikuti petunjuk sang ayah. Tak ada nyanyian hura-hura, tak ada lenggokan, tak ada tarian apalagi candaan.

Dalam situasi seperti inilah seorang calon biarawati bernama Maria yang amat gemar bernyanyi masuk dalam kehidupan keluarga Von Trapp. Karuan saja Maria kaget. Setelah melalui proses adaptasi yang amat panjang, anak-anak Von Trapp yang kaku akhirnya mulai belajar menyanyi. Lagu-lagu dengan aneka nuansa pun keluar dari bibir mereka. Imbasnya, kehidupan jadi lebih luwes.

Nah, tentu saja sang kapten geram. Ia tak terima Maria ‘memporak-porandakan’ kehidupan keluarganya yang serba disiplin dan teratur. Lepas dari cerita akhir yang menggambarkan bahwa Maria dan sang kapten rupanya saling jatuh hati, the Sound of Music secara gamblang sukses menggambarkan kekuatan cinta dalam musik yang berhasil melumerkan kekerasan hati seseorang.

Dalam kehidupan nyata, musik dan militer membuktikan diri mampu berpadu harmonis. Musik bahkan menjadi bagian dari militer. Semua terjadi karena pada dasarnya musik adalah bahasa universal yang berkomunikasi dengan hati manusia. Victor Hugo menyebut musik sebagai sarana untuk mengekspresikan kata-kata yang tak terucapkan.

Kekuatan musik sebagai ‘soft power’ di tengah hadirnya militer amat terasa. Saat AS dan Korea Utara sedang tegang-tegangnya, diplomasi musik dari New York Philharmonic Orchestra sukses berlangsung di Korea Utara. Di panggung Teater Agung Pyongyang yang megah, terlihat bendera AS dan Korut. Tidak sedikit dari mereka yang hadir mengakui dirinya baru pertama kali melihat bendera AS di Pyongyang.

Demikian pula dengan pertunjukkan musik yang dipertontonkan oleh anggota Kapal Perang (KRI) Dewa Ruci. Para penghuni kapal bersejarah produksi HC Stulcken Sohn di Hamburg, Jerman tahun 1953 ini rajin mempertunjukkan nyanyian dan tarian daerah ke berbagai penjuru dunia termasuk Asia dan Eropa.

Dengan keunikan ini, KRI Dewa Ruci pun menjadi favorit warga dunia. Kedatangannya selalu dinanti.

Sebagai catatan Anda, ABK KRI Dewa Ruci bukan seniman tapi anggota pasukan angkatan laut alias militer. Meski rajin tampil sebagai duta seni dan budaya, fungsi utama KRI tetaplah sarana keamanan. Para ABK yang jago menyanyi dan menari ini memperlengkapi diri dengan AK-47 di tangan dan sukses melewati perairan laut wilayah Somalia yang sangat terkenal sebagai sarang perompak berbahaya.

Briptu Norman. Nama yang satu ini juga sempat menarik perhatian publik. Militer yang satu ini begitu ngetop lewat aksi lipsync lagu India “Chaiyya-Chaiyya”. Meski menjadi bagian dari militer, Briptu Norman sangat menikmati hidupnya dengan selingan musik. Aksinya mengundang berbagai acara talkshow mewawancarainya, bahkan membuat perusahaan rekaman melirik.

Contoh terakhir yang lebih jelas lagi terlihat jelas dalam gelaran Festival Musik Tentara Dunia atau Festival Musik Militer Internasional “Spasskaya Tower”.

Irama mars adalah irama umum tentara yang punya ciri khas terukur ala Marching Band. Hebatnya, keteraturan irama ini mampu ditampilkan para tentara dengan gerakan-gerakan yang sangat luwes. Dari kejauhan, penampilan mereka tak ubahnya para pemain teater profesional, lengkap dengan pernak-pernik busana yang menarik tanpa meninggalkan seragam kemiliterannya.

Tak hanya mars, para tentara ini mahir membawakan lagu-lagu klasik dengan begitu megah dan eksotis. Mereka pun memperdengarkan lagu kebangsaan dan lagu khas negara masing-masing. Di bawah sorotan lampu dan siraman kembang api dengan latar belakang bangunan menyala di Lapangan Merah Rusia, penampilan para tentara ini menimbulkan greget yang sama dengan penampilan di Broadway.

Festival Musik Tentara Dunia 2011 berlangsung dari 31 Agustus hingga 4 September 2011 di Red Square, Moskow, Rusia. Acara menarik ini diikuti 1.500 tentara dari 14 negara, di antaranya tuan rumah Rusia, Inggris, Italia, Swiss, China, dan beberapa negara Eropa lainnya. Setiap harinya, acara ini dipenuhi lebih dari 7.000 penonton. Jumlah keseluruhan penonton televisi dan media bahkan mencapai 35.000 orang.

Mengapa saya sebut menarik? Karena sebelum gelaran ini dimulai, militer China dikecam Eropa dan Amerika Serikat karena tuduhan ekspansi yang terlalu jor-joran. Tapi kritik-kritik pedas ini seolah lenyap dan melebur begitu saja berganti kekaguman akan tarian dan alunan musik yang mereka pertontonkan. Tentara China dengan nuansa merahnya berhasil memikat penonton.

Keunikan lain, festival ini disambut hangat masyarakat Rusia yang mengaku bangga dengan perkembangan reposisi militer di Rusia dari yang sebelumnya dianggap tidak bersahabat dengan masyarakat. Militer Rusia terus berbenah sejak tumbangnya pemerintahan komunis. Mereka mampu mengambil hati masyarakat dalam menjaga stabilitas negara.

Dari semua kisah ini, saya berpandangan bahwa musik adalah bahasa kasih yang tidak bertentangan dengan jenis profesi manapun yang identik dengan ‘kekakuan’ seperti militer. Salah jika menyangka bahwa militer adalah kekerasan. Kekerasan adalah bentukan sistem negara. Dalam hal ini, militer adalah instrumen yang disalahgunakan. Di luar itu, musik dan militer adalah dua bidang yang saling melengkapi.

Bagaimanapun, anggota militer adalah sosok-sosok manusia yang punya hati nurani. Mereka bukanlah robot yang baru dapat bersenandung jika diperintah. Musik adalah bentuk harmoni yang dapat melumerkan segala bentuk kekakuan. Siapapun mengerti dengan bahasa musik yang langsung berkomunikasi dengan hati nurani kita. Musik dapat melumerkan ‘kekerasan’ hati seseorang. Ia dapat menjadi diplomat yang handal.

Sebagai penutup, saya paparkan sebuah kisah menarik dari Tiongkok kuno. Kisah ini saya kutip dari buku ‘Origins of Chinese Music’ yang diterbitkan Gramedia. Kisah nyata ini berlangsung pada masa akhir Dinasti Jin. Bangsa Hun tiba-tiba menyerang daratan utama China dan kota Jinyang. Sang jenderal yang bertugas menjaga kota, Liu Kun, lantas merasa khawatir.

Suatu malam, Liu Kun mendengar keluh kesah dari pasukan Hun yang memberinya sebuah ide. Ia menyuruh tentaranya memainkan jia (sejenis seruling buluh) yang sebagian besar bernada rindu rumah yang sedih. Jia ini dimainkan berhari-hari ke arah perkemahan musuh. Ketika pasukan Hun mendengar melodi ini, mereka mengusap air mata dengan mental yang terguncang hebat.

Sebanyak 50.000 pasukan pun ditarik mundur karena sebuah jia!

———————————————————————————————————————————

**Sumber foto artikel (Festival Musik Militer Dunia 2011):  AP Photo by Mikhail Metzel

Baca juga:
Indahnya Diplomasi Musik
Diplomasi Musik dalam Hubungan Internasional
A Little Story about the Music…



Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s