Tionghoa dan Gaung Indonesia Raya

Imlek merupakan salah satu pesta tradisi terbesar bagi warga Tionghoa. Setelah almarhum Gus Dur menetapkan Imlek sebagai libur nasional melalui Keputusan Menteri Agama RI Nomor 13 tahun 2001 sekaligus mencabut PP No 14 Tahun 1967 berisi larangan atau pembekuan kegiatan-kegiatan warga Tionghoa, perayaan Imlek dari tahun ke tahun berlangsung meriah.

Di balik gegap-gempita Imlek, ada beberapa hal menarik terkait etnis Tionghoa yang mungkin luput dari sorotan publik.

Pertama adalah perkembangan peran etnis Tionghoa yang sukses mengudarakan Indonesia Raya ke kancah dunia. Pendapat ini sama sekali tak bermaksud menonjolkan etnis Tionghoa lebih dari etnis lain karena tiap individu diciptakan unik. Pada dasarnya setiap etnis memiliki tantangan tersendiri di negeri ini.

Soe Hok Gie, Susy Susanti, Alan Budikusuma, John Lie, Agnes Monica, Lim Swie King, dan Yohanes Surya adalah nama-nama yang tak asing lagi di telinga. Namun saya tebak Anda masih cukup asing dengan Lidya Ivana Jaya, Levi Gunardi, Wiwin Salim, Lie Fi Kiat, Lie Dharmawan dan William Kwan.

Tak banyak kamera yang merekam prestasi membanggakan tokoh-tokoh tionghoa masa kini. Besar kemungkinan etnis lain mengalami hal serupa. Prestasi membanggakan mereka seolah tertelan maraknya isu korupsi dan aneka bentuk konspirasi lainnya. Sebagai contoh, prestasi besar Indonesia menjuarai Sea Games 2011 terkalahkan hebohnya kasus dugaan korupsi Wisma Atlet.

Lidya Ivana Jaya yang baru berusia 27 tahun dari ayah beretnis tionghoa sudah berkali-kali memenangkan turnamen golf pada Hongkong, Phillipine, India dan Thailand Ladies Open sekaligus menjadi perempuan Indonesia pertama yang menjadi pegolf profesional dunia pada 2008.

Prestasi bermain electone pada masa kecil Levi Gunardi (36 tahun), mengantarnya meraih beasiswa penuh di Manhattan School of Music. Selanjutnya, prestasi tak henti mengalir. Ia menjadi wakil satu-satunya Indonesia pada kompetisi internasional piano Franz Liszt ke-7 di Belanda, menerima penghargaan dari Bergen Philharmonic Concerto di AS dan sederet panjang prestasi lainnya.

Wiwin Salim yang berusia sama dengan Levi adalah pemuda Tionghoa yang berkali-kali menorehkan tinta emas bagi Indonesia sebagai seorang pemain ice skating. Walau sempat harus mengorbankan uang jajannya demi berlatih, Wiwin sukses meraih medali emas dalam aneka perlombaan tingkat internasional. Standar permainannya mendapat akreditasi dari Ice Skating Institute (AS).

Lie Fi Kiat adalah jenis langka seseorang yang tangguh mempertahankan passion-nya meski tak mendapat apresiasi sebagaimana mestinya dari negara yang dibelanya. Usianya 42 tahun saat memenangkan kejuaraan layang-layang internasional pertamanya di Jakarta pada 1997. Tahun-tahun berikutnya, Lie Fie Kiat langganan juara di Perancis hingga nyaris menguras isi tabungannya.

Lie Dharmawan dan William Kwan adalah sosok-sosok yang tak kalah dahsyat dalam membangun negeri ini ke arah yang lebih baik. Lie Dharmawan adalah dokter lulusan Jerman. Ia memilih kembali ke tanah air, mendirikan Yayasan Dokter Peduli dan berkarya bagi penderita gizi buruk dan aneka kegiatan sosial lainnya. William Kwan sukses mengembangkan sebuah desa di Lasem. Dari hampir seluruh penduduk yang menganggur, Desa Jeruk menjadi desa penghasil batik yang produktif.

Ini belum termasuk pahlawan-pahlawan lain yang berjasa menggaungkan Indonesia Raya tanpa kita ketahui. Ketika mendapat kesempatan mewawancarai sosok-sosok ini, saya menangkap pesan yang sangat jelas. Mereka menghidupi passion dengan ulet, disiplin dan kerja keras tanpa memikirkan apresiasi negara meski tergolong minoritas dalam hal etnis maupun pilihan bidang profesi.

Poin kedua adalah fakta bahwa etnis Tionghoa di Indonesia sama sekali tidak homogen bahkan tergolong sebagai jenis etnis dengan dinamika keragaman tertinggi dalam aneka hal: budaya, finansial dan sebagainya. Tionghoa Sumatera jelas berbeda dengan Tionghoa Jawa, Kalimantan dan Papua. Masing-masing memiliki karakteristik khas yang unik.

Sebagai contoh, Tionghoa Sumatera lebih menguasai bahasa Mandarin dan bahasa daerah lainnya (seperti Hokkian) daripada Tionghoa Jawa. Demikian pula kemampuan tingkat adaptasi dengan etnis non-Tionghoa. Meski sama-sama berbahasa mandarin, logat berbeda. Pecinan di satu kawasan berbeda dengan pecinan di kawasan lainnya. Perbedaan bahkan masuk ke ranah jenis makanan.

Keragaman dalam hal finansial pun kerap terjadi sehingga tak masuk akal jika menyamaratakan seluruh etnis Tionghoa sebagai kaum konglomerat kaya yang hanya memikirkan bisnis dan keuntungan dirinya sendiri. Prestasi-prestasi yang telah saya sebutkan jelas membantah semua pandangan keliru yang terkadang masih muncul hingga saat ini.

Akhirnya, Imlek bagi etnis Tionghoa adalah momentum silaturahmi antar keluarga sekaligus menikmati eskpresi berkarya dalam suasana plural sesuai cita-cita mulia almarhum Gus Dur. Penghargaan ini akan mendorong etnis Tionghoa berprestasi lebih baik lagi dari sebelumnya.

Bagi Indonesia secara keseluruhan, Imlek adalah momentum untuk menunjukan sikap saling menghargai. Tak hanya bertoleransi, Imlek juga dapat menjadi momentum untuk mengapresiasi etnis Tionghoa yang sukses menggaungkan Indonesia Raya di dalam maupun luar negeri.

Buah manis dari toleransi dan penghargaan ini akhirnya nyata kita rasakan. Percaya atau tidak, saya menemukan fakta bahwa jumlah dan kualitas prestasi yang dihasilkan etnis Tionghoa pada saat ini jauh lebih banyak dari prestasi era Susy Susanti dan kawan-kawan dengan cakupan bidang yang makin beragam. Sinergi yang sangat baik antara warga Tionghoa dan segenap warga Indonesia sangat mungkin menciptakan terobosan dahsyat bagi kemajuan tanah air tercinta di segala bidang. Selamat Tahun Baru Imlek 2563, maju terus Indonesia. Gong Xi Fa Chai!

*** Tulisan ini dimuat dalam Opini Harian Pikiran Rakyat – Rabu, 25 Januari 2012

Sumber foto:  holiday-wallpapers-hd.blogspot.com


Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s