Sang Superhero Negeri Panda

10 Oktober 2011. Inilah tanggal yang membuat dunia heboh dengan sebuah kejadian di China. Pada tanggal ini, seorang bocah China berusia dua tahun ditabrak lari dan dibiarkan sekarat oleh 18 pelintas di pasar yang sibuk di kota Foshan, Propinsi Guandong!

Kejadian ini secara jelas direkam oleh kamera pemantau yang kemudian diposting di YouTube serta situs sejenis di China, Youku. Video jelas memperlihatkan bagaimana seorang pengemudi van menabrak bocah yang belakangan diketahui bernama Yue Yue. Van hanya berhenti sejenak dan kemudian melaju begitu saja.

Adegan selanjutnya sulit dipercaya. Selama tujuh menit, 18 orang melintas dan melihat Yue Yue terkapar sekarat dalam kubangan darah tetapi tak seorang pun berhenti untuk menolongnya. Yang menyedihkan, dalam selang waktu tersebut, Yue Yue justru dilindas lagi oleh sebuah truk.

Seorang perempuan pemulung, Chen Xianmei (58 tahun) adalah orang ke 19 yang melintas. Perempuan usia lanjut tersebut yang justru tergerak hatinya. Chen memindahkan bocah itu sebelum ibunya sendiri datang dan menggendongnya. Beberapa hari kemudian, Yue Yue meninggal dunia.

Belum genap sebulan, kasus serupa lainnya terjadi di negara ini – juga sama-sama memicu kehebohan dunia. Di Chengdu, seorang pengemudi truk menabrak bocah lima tahun bernama Maoke Xiong dengan truknya.

Bukan berhenti, supir truk yang belakangan diketahui bernama Ao Yong itu malah memundurkan truk dan menggilas sang bocah, memastikan ia benar-benar tewas. Aksi keji ini dilakukan guna menghindari biaya rumah sakit yang akan lebih mahal dibanding kompensasi kematian.

Kisah tragis ini bak gayung bersambut, segera heboh di dunia maya maupun media internasional. Media-media barat terutama Amerika Serikat segera membuat semacam retorika. Ada apa dengan masyarakat China? Benarkah mereka telah jadi apatis dan tak peduli dengan sesamanya yang sedang celaka. Kalau benar, mengapa?

Dua kejadian dalam waktu berdekatan ini segera memberi kesan masyarakat China sangat cuek dan hanya mengejar materi, senada dengan pesatnya pertumbuhan ekonomi negara tersebut dan hasil survei dari beberapa penelitian yang menyebut bahwa masyarakatnya mulai berorientasi materi.

Kasus ini pun menjadi pencitraan besar-besaran di dunia mengenai betapa jahatnya masyarakat China meski kejadian sesungguhnya terjadi di dua kota saja. Kejadian di dua kota dianggap sudah cukup mencerminkan betapa tengiknya masyarakat China dalam menolong sesamanya, setidaknya begitulah penilaian kebanyakan media.

Generalisasi masalah ini seolah memicu generalisasi lain: bahwa tidak ada masyarakat negara lain yang setengik China, bahwa angka kriminalitas di China tinggi, bahwa pertumbuhan ekonomi China yang pesat membuat masyarakatnya hanya berorientasi materi, bahwa hukum di China tak jelas, bahwa China layak dicerca dan dipertanyakan belas kasihnya dan sebagainya.

Membaca dua kejadian tersebut pun membuat kita panas. Melihat tulisan media yang menulis: “Ada apa dengan masyarakat China?” pun membuat otak kita langsung mempertanyakan masyarakat China secara keseluruhan. Kita lupa bahwa sebagai individu, kita pun seringkali tak berbelas kasihan pada orang lain, meski tak sampai menghilangkan nyawa orang.

Sama saja. Poin utamanya adalah kemurahan hati yang meluntur. Tak ada lagi belas kasihan. Kesulitan hidup menjadi hal biasa apalagi bagi kita yang hidup di negara berkembang. Kita menjadi kebal terhadap penderitaan orang lain. Lupakan saja simpati dan empati.

Siapa bilang peristiwa cueknya masyarakat China tak dapat terjadi di negara maju?

Jika dengan mata kepala sendiri melihat Yue Yue terkapar, maukah kita menolong Yue Yue dan membawanya ke rumah sakit segera? Atau hanya mengerubunginya menjadi bahan tontonan seperti yang telah menjadi budaya kita? Maukah kita mengambil resiko tersebut?

Chen Xianmei adalah pahlawan meski akhirnya nyawa Yue Yue tak lagi dapat diselamatkan. Tentu tak muda bagi seorang yang sudah berusia 58 tahun untuk menarik tubuh bocah malang dengan berbagai resiko termasuk tuduhan telah menjadi penyebab tewasnya Yue Yue. Namun nuraninya lebih bekerja daripada pertimbangan untung-rugi bagi dirinya sendiri.

Tentu saja orang-orang macam Chen Xianmei terbilang langka. Orang yang bersedia mengorbankan dirinya demi kepentingan orang lain tak mudah kita temukan hari-hari ini.

Setahun kemudian di negara yang sama, muncul kejadian sebaliknya yang juga mendapat perhatian dunia. Uniknya, kasus yang satu ini tak mendapat ekspos besar-besaran dari media barat yang lebih asyik meliput kedatangan aktivis HAM tunanetra, Chen Guangcheng, ke New York.

Kasus tersebut adalah kasus yang menimpa seorang guru bernama Zhang Lili. Lili adalah seorang guru yang baru berusia 29 tahun. Sehari-harinya ia menjadi guru SMP di Jiamusi No. 19, Propinsi Heilongjiang, China. Insiden yang terjadi pada 13 Mei 2012 menorehkan catatan bersejarah bagi hidupnya dan juga bagi hidup murid-muridnya.

Beberapa murid berjalan keluar dari gerbang sekolah. Sebuah mobil van dua buah bus jemputan tengah menunggu mereka. Tiba-tiba, bus di posisi paling belakang meluncur kencang dan menabrak bus di depannya. Hantaman yang kencang membuat bus tersebut menabrak van dan sebuah mobil dari arah berlawanan padahal beberapa murid sedang menyeberangi jalan antara van dan bus.

Zhang Lili yang tengah melintasi jalan tersebut langsung sigap. Dengan cepat ia segera mendorong para siswa agar tidak tertabrak. Tindakan kepahlawanan ini memang berhasil menyelamatkan siswa dari hantaman bus, namun berakibat fatal bagi dirinya.

Bus menabrak Lili sekaligus menggilas kedua kakinya. Dalam hitungan detik, ia pingsan. Lili mengalami koma. Untuk menyelamatkan nyawanya, tim dokter dari Rumah Sakit Fakultas Kedokteran Harbin mengatakan mereka harus mengamputasi kedua kakinya.

Hingga saat ini, Lili sudah sadar dari pingsan namun kondisinya masih belum aman meski sudah relatif stabil. Selain kaki, dokter mengatakan bahwa Lili mengalami sejumlah cedera termasuk patah tulang panggul dan pinggul dan harus menunggu kondiisi stabil sebelum menjalani amputasi pada kedua kakinya.

Setelah kejadian ini, Zhang Lili mendapat julukan sebagai “the most beautiful teacher”. Simpati masyarakat mengalir. Hingga detik tulisan ini ditulis, sudah terkumpul dana lebih dari 2,75 juta yuan atau setara dengan 434.654 dollar AS. Para murid dan orang tua murid pun berbondong menyumbang darah.

Shanghai Daily menulis bahwa sebelumnya pun, Lili sudah pernah melakukan aksi heroik yang mampu melindungi para siswanya.

Tahun 2009, Lili menjemput beberapa murid setelah mengunjungi salah seorang rekannya yang sakit. Dalam perjalanan, tiba-tiba ia melihat seorang pengendara sepeda yang kehilangan kontrol dan hampir menabrak mereka. Dengan tangkas Lili menghadang untuk melindungi para muridnya. Ia terjatuh namun bertanya apakah mereka baik-baik saja. Ia bahkan lupa dengan cederanya sendiri.

Aksi kepahlawanan ini seolah menjadi oase yang sangat menyegarkan, membuktikan bahwa stigma China adalah negara yang masyarakatnya sama sekali tak peduli terbantahkan. Generalisasi semacam ini seringkali dipolitisasi demi mendukung sejumlah fakta bahwa masyarakat China tak punya belas kasihan.

Catatan HAM China memang buruk namun bukan berarti generalisi dibenarkan. Di belahan negara manapun di dunia ini, negara terjahat sekalipun, pasti masih ada sosok-sosok yang memiliki rasa belas kasihan.

Meski Indonesia adalah negara yang terkenal ramah dan suka bergotong royong, tak menjamin munculnya sosok pahlawan seperti Zhang Lili. Meski Jakarta terkenal “kejam”, bukan berarti sama sekali tidak ada orang yang tak mau menolong korban kecelakaan seperti yang dialami Yue Yue. Generalisasi apalagi politisasi sebaiknya dihindarkan jauh-jauh.

Tindakan menolong orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri lebih banyak dipengaruhi oleh nurani masing-masing individu, tidak terkait budaya apalagi catatan HAM negara. Yang sering terjadi justru negara tidak memberi contoh yang baik bagaimana seharusnya rakyat berbelas kasihan.

Tindakan sejumlah politikus yang memakan uang rakyat sesungguhnya tidak lebih ringan daripada tindakan 18 orang yang membiarkan Yue Yue sekarat atau tindakan Ao Yong yang sengaja menggilas Maoke Xiong. Intinya sama: tidak berbelas kasihan dan hanya mementingkan diri sendiri.

Tidak perlu sedramatis aksi heroik Lili untuk menyadarkan kita pentingnya tidak mementingkan diri sendiri. Jika sebuah negara sulit memulainya dari atas untuk memberi contoh (top down), mengapa kita tidak memulainya dari diri sendiri?

Setiap hal kecil yang kita lakukan untuk kepentingan orang banyak adalah sebuah aksi heroik, meski tanpa sorot lampu panggung dan tanda jasa. Tak perlu menunggu sampai melihat orang sekarat baru kemudian menyingsingkan lengan membantu orang lain. Mulailah saat ini juga karena tindakan individu yang berubah akan membuat negara berubah.

Lihat kebutuhan dan masalah sekitar dan cobalah untuk menyelesaikannya sesuai talenta masing-masing. Terkadang memang butuh pengorbanan yang tak sedikit. Dengarkan suara hati lebih dari hasrat untuk meraih keuntungan pribadi sebanyak-banyaknya. Saat melakukannya, kita adalah superhero.

Tak peduli apakah hanya menjadi supir bus, nenek tua atau guru yang biasanya terkenal sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa”. Anda dapat menjadi pahlawan. Tak ada kaitannya dengan apakah Indonesia adalah negara yang masih terpuruk atau China yang terlanjur dicap matrealistis. Semua berpulang pada nurani masing-masing dengan satu muara: power of love.

Kita tak dapat mencegah politisasi terjadi seperti halnya yang dapat kita lihat dalam kasus Yue Yue namun perjalanan waktu yang membuktikan bahwa seorang Zhang Lili dari negara yang sama pun mampu menunjukkan belas kasihan yang tak kalah mencengangkan dan menggetarkan hati.

Maukah Anda menjadi superhero-superhero berikutnya?

Advertisements

One thought on “Sang Superhero Negeri Panda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s