Menakar Kata Sukses

1 September. Ketika sedang menulis ini, Jakarta sedang heboh-hebohnya mempersiapkan Pilkada Gubernur putaran kedua. Entah mengapa, Pilkada DKI 1 kali ini jauh lebih bergaung daripada sebelumnya bahkan dari kebanyakan Pilkada yang telah terjadi selama ini. Mungkin karena partisipan calon yang makin beragam, mungkin pula karena antusiasme warga makin besar.

Namun penekanan tulisan saya kali ini tidak berputar soal Pilkada DKI. Saya hanya akan menyentil kasus Pilkada DKI sebagai contoh kecil. Saya hanya akan menyampaikan sebuah pemikiran sederhana dari salah seorang rekan yang menjadi sumber inspirasi saya.

Siapa yang tidak tahu bahwa sukses bukan diukur dari banyaknya uang, hebatnya gelar atau tingginya jabatan. Britney Spears bahkan sejak lampau sudah menyampaikan pesan ini melalui lagunya yang berjudul “Lucky” mengenai kisah seorang selebriti yang terbilang sukses namun merasa hampa dalam dirinya.

Lalu sudah seberapa sering kita melihat banyak pejabat tinggi atau pengusaha besar yang terbilang “sukses” namun tidak dihormati masyarakatnya?

Dalam konteks isu internasional, apakah Anda melihat pertumbuhan pesat ekonomi China saat ini (meskipun kini mulai melambat) merupakan sebuah kesuksesan? Apakah Anda melihat naiknya pamor Asia di dunia sebagai sebuah kesuksesan? Bagaimana dengan Indonesia yang dalam krisis tiga tahun lalu tercatat sebagai satu dari hanya tiga negara di dunia yang ekonominya masih bertumbuh?

Lalu apa ukuran sukses tersebut?

Seorang teman menjawab bahwa ukuran sukses harus dilihat dari indikator-indikator. Misalnya, sebuah negara berkembang dikatakan berhasil mengurangi angka kemiskinannya jika rapot Gross Domestic Product, Millenium Development Goals, Human Index Development dan Koefisien Gini-nya baik atau paling tidak salah satunya baik. PBB bahkan sudah merumuskan indikatornya secara mendetail.

Namun beberapa ahli langsung protes. Pertama adalah penilaian indikator yang terlalu subjektif, kedua adalah yang menciptakan indikator pun subjektif dan ketiga, siapa yang berani menjamin bahwa skor indikator benar-benar hasil nyata di lapangan dan bukan sekedar statistik?

Selain itu, sukses hari ini belum tentu sukses di masa mendatang. Sepuluh tahun lalu, Amerika Serikat sukses menjadi nomor satu. Kini, banyak yang sepakat bahwa China sukses dan Amerika merosot. Dulu, investasi saham dalam bidang dotcom sangat sukses. Kini, investasi dalam bidang semacam ini tak lagi sesukses investasi hasil bumi.

Dengan demikian, ukuran kesuksesan menjadi sangat relatif. Paling banyak disebut, sukses adalah jika dapat menghasilkan banyak uang, kekuasaan dan ketenaran. Dalam bahasa yang lebih humanis terkenal dengan istilah “kesejahteraan”, “hegemoni” dan “ruang pengaruh”. Sama saja. Mereka yang belajar studi hubungan internasional bahkan belajar untuk menghitung skala pengaruh dalam grafik dan angka.

Oleh karena itu, banyak yang berpendapat bahwa indikator sukses tidak semudah itu dirumuskan dalam bentuk fisik. Indikator sukses seharusnya dimulai dari prinsip yang terwujud dalam aktivitas nyata dalam tingkat individu.

Winston Churchill menyebut sukses sebagai perjalanan dari satu kegagalan menuju kegagalan lain tanpa kehilangan antusiasme. Dalam buku yang sedang saya baca, The Difference Maker, bapak kepemimpinan John C. Maxwell menyinggung bahwa sukses adalah gabungan antara bakat dan aset-aset dalam diri seseorang termasuk di dalamnya adalah sikap diri yang positif.

Banyak sekali quotation definisi kata “sukses” entah dari pakar kepemimpinan, ahli agama, presiden, politikus, atlet dan masih banyak lagi. Namun saya hanya akan menyinggung beberapa pendapat menarik dari rekan yang saya sebut pada bagian awal.

Menurut saya, sejauh ini beliau mampu memberikan gambaran terjelas mengenai kata sukses. Setidaknya apa yang ia sampaikan menggoreskan kesan mendalam bagi saya pribadi.

Baginya, sukses adalah dua hal: mampu menjaga hubungan atau keintiman dengan Tuhan dan tetap bertahan pada prinsip mengutamakan kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan diri sendiri. Sukses bukan saat Anda mencapai puncak namun saat dalam posisi apapun Anda mampu menjadi diri Anda yang sesungguhnya dan selalu mendahulukan kepentingan orang lain.

Beliau berkata bahwa saat seseorang masih belum terekspos atau masih dalam posisi bawah, mudah sekali baginya untuk mendahulukan kepentingan orang lain. Namun mengapa saat seseorang sudah berada dalam posisi tinggi seperti pejabat tinggi, politikus terkenal, pengusaha kaya dan sebagainya maka rasa mendahulukan kepentingan umum tersebut memudar?

Mungkin Anda berpendapat bahwa dunia tidak sesederhana itu. Mungkin Anda berpendapat bahwa begitulah dunia: tarik-menarik kepentingan pribadi, kelompok dan umum. Bahkan studi hubungan internasional menyebut bahwa pengambilan kebijakan (decision making process) memang bertolak dari kepentingan nasional (national interest), bukan kepentingan dunia yang terlalu rancu dan luas.

Tunggu dulu.

Saya adalah sosok yang percaya bahwa segala sesuatu yang besar dimulai dari hal-hal kecil lebih dulu. Sukses seorang Usain Bolt atau Michael Phelps meraih medali emas Olimpiade dimulai dari hal-hal kecil seperti berlatih tepat waktu, makan yang bergizi dan teratur dan latihan berjam-jam yang mungkin tidak spektakuler, biasa saja dan malah membosankan.

Sejalan dengan logika tersebut, saya percaya bahwa sukses sebuah negara ditentukan oleh hal-hal positif sederhana yang dilakukan oleh warga negaranya sendiri. Kecil dan sederhana namun konsisten. Misalkan saja kita adalah pengusaha. Jika menjadi pengusaha yang peduli lingkungan, kita tidak akan mendorong politikus menelurkan kebijakan yang merusak lingkungan.

Isunya bukanlah kepentingan nasional atau kepentingan perusahaan tetapi bagaimana sikap kita masing-masing. Isunya adalah bagaimana sikap kita dalam merumuskan dan menciptakan kepentingan itu sendiri karena toh “kepentingan nasional” juga dibuat oleh manusia.

Dengan kata lain, sukses atau tidaknya sebuah negara ditentukan oleh nilai, karakter dan kegiatan nyata yang dilakukan warga negaranya sehari-hari dan jelas bukan dari bagaimana para politikus negara tersebut mampu mengeluarkan kebijakan yang hebat dan para diplomatnya mampu bersilat lidah dengan cekatan di meja perundingan internasional!

Dalam tingkat individu, kesuksesan ditentukan dari nilai dan karakter masing-masing orang dalam hal-hal yang ia lakukan sehari-hari, bukan dari bagaimana pandangan agama dan filsafatnya apalagi dari kekayaan materinya. Kekayaan materi hanya merupakan dampak dan bukan sebab. Nilai yang positif dalam diri seseorang yang akan menjadikannya kaya, fisik maupun mental.

Kesuksesan kota Jakarta tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan memilih pemimpin yang tepat dalam Pilkada tapi juga dari bagaimana warganya bersama-sama mendukung kerja pemerintah sesuai bidang keahlian masing-masing dengan prinsip mengutamakan kepentingan umum. Tanpa kerjasama dari seluruh warga, siapapun gubernur terpilih tidak mampu membuat Jakarta sukses.

Logika yang sangat sederhana namun seringkali kita lupakan karena terlalu terpikat oleh telunjuk yang hanya menunggu diacungkan. Mudah sekali untuk saling menyalahkan, mudah sekali untuk melempar tanggung jawab namun tidak mudah ketika Anda dihadapkan pada posisi sama persis.

Rekan saya berhasil menyederhanakan indikator sukses dalam bahasa yang sangat sederhana. Beliau menyebutnya sebagai “power and influence index” yaitu:
–  Berapa besar perubahan yang kita buat dalam kehidupan di sekitar?
–  Berapa luas wilayah yang dipengaruhi oleh kekuasaan dan pengaruh kita?
–  Seberapa lama kuasa dan dampak kita?

Pertanyaan ini dapat diterapkan dalam konteks manapun: individu, kelompok, negara hingga dunia. Jika dampak Anda besar namun dalam pengertian yang negatif serta tidak bertahan lama, takaran sukses harus dipikirkan ulang. Sukses namun tak membanggakan anak cucu. Tak ada nama harum yang dapat ditinggalkan padahal jauh lebih berharga daripada segudang harta.

Pertanyaan selanjutnya adalah lantas bagaimana Anda dapat mempertahankan pengaruh dan kekuasaan (baca: kesuksesan) selama hidup dan mewariskannya bagi anak cucu? Jawabannya kembali pada kalimat awal: pergunakan kekuasaan yang ada di tangan Anda saat ini dengan benar, jaga hubungan dengan Tuhan, jangan pikirkan kepentingan diri sendiri dan lakukan regenerasi.

Hanya dengan cara demikianlah sukses yang sesungguhnya dapat Anda raih dan pertahankan hingga akhir hayat, bahkan hingga generasi selanjutnya. Klise dan idealis? Pilihan ada di tangan Anda. Tak ada cara lain kecuali Anda hanya ingin kesuksesan artifisial yang sulit puaskan batin. Sekali Anda sukses mengerjakan hal-hal kecil yang sederhana, tak sulit untuk meraih sukses yang lebih besar.

Jika berhasil mendirikan fondasi ini, saat sudah menjadi CEO, politikus atau profesional sangat sukses tak akan sulit bagi Anda untuk tetap menjadi sosok yang rendah hati. Sikap Anda sebagai ayah yang mencintai anak-anaknya dan pemimpin yang mencintai semua karyawannya tidak akan pernah berubah. Jika sudah demikian, sukses negara sudah pasti di tangan.

Yang terpenting saat ini adalah seperti pesan Winston Churchill: jangan patah semangat dan kehilangan antusiasme. Sekarang adalah bulan September. Apakah Anda melihat September dari sudut “September Ceria” ala Vina Panduwinata atau “11 September” yang suram? Apakah Anda masih melihat kesuksesan sebagai bagian dari masa depan Anda dan Indonesia?

 Sumber foto:  dailymail.co.uk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s