Nyonya Chopin

Tuhan ciptakan sepuluh jari yang sempurna untuknya. Tarian jemari di atas tuts-tuts hitam putih bak sulur tanaman merambati tanah – oh tidak tidak! – lebih tepatnya merambati genangan kolam teratai. Begitu ringan, meninggalkan percik demi percik tak terhapus.

Nocturne in D Flat Major. Op. 27.

Jian Long tak memejamkan matanya, kebiasaan yang selama ini pasti ia lakukan kala resapi jiwa sang komponis era romantik tersebut. Otot matanya berontak – tak bisa menutup. Jian Long menghela nafas. Menyerah. Kini ia hanya coba pahami tarian melodi dari jemari lentik wanita di hadapannya. Pikirannya terbelah: menikmati kerja Chopin dalam dirinya atau dalam diri wanita tersebut.

Sang wanita – Liu Fang – mengakhiri barisan akhir partitur dengan perfek. Senyumnya singkat saja usai tepuk tangan dari sekitar 20 orang di ruang konser sederhana itu membahana. Liu Fang memejamkan mata. Bibirnya mulai berkomat-kamit, seiring perpindahan gemulai Nocturne pada keluwesan Waltz in C# Minor.

Jian Long segera tahu. Ada yang ganjil dengan lompatan semacam itu. Bukan kejeniusan Frédéric Chopin yang merasuk. Ada hal lain. Jian Long belum tahu alasannya. Kontras dengan temaramnya sorot lampu panggung, siluet Liu Fang begitu benderang. Duduk di baris terdepan membuat Jian Long mampu melihat dengan jelas tetesan air mata yang mulai jatuh di pipi Liu Fang.

Chopin mulai klimaks saat tetesan air mata Liu Fang berubah jadi hujan yang membasahi permukaan tangannya. Tak sedikitpun pita suaranya terwujud di udara. Satu-satunya suara di ruangan itu hanya denting tarian jemarinya di atas tuts. Tapi kini Jian Long nyaris mampu mendengar desah nafasnya sendiri. Waltz in C# Minor tak lagi jadi kisah Chopin. Ia sudah merasuk dalam diri Liu Fang.

Liu Fang berhasil menyihir seisi ruang.

Jian Long tercekat.

Ia menyapukan pandangannya ke barisan belakang. Nihil. Seisi pendengar larut dalam dunianya sendiri. Pak Gubernur tercenung dalam bisu. Pandangan mata sekretarisnya berada di awang-awang. Bahkan Oei Hok Tjoan – salah seorang pemilik toko musik di kawasan petjinan yang biasanya sibuk mengomentari kesalahan-kesalahan para pianis selama pertunjukan, kini diam seribu bahasa.

Waltz in C# Minor harusnya tak jadi requiem seperti ini. Tidak sama sekali!

Jian Long lagi-lagi tak tahu alasannya. Bayangan detik-detik terakhir kehidupan Chopin tiba-tiba menyapu benaknya.[1] Jian Long tak lagi berusaha menahan air mata yang sudah menggenang di pelupuk. Jian Long dapat merasakan tangis kebahagiaan dalam diri Liu Fang dan ia bersulang air mata untuknya – sebuah gan bei [2].

Sorot mata ke atas panggung tak berbalas meski ia tahu pasti wanita tersebut telah melihatnya.

Jian Long melirik sudut kiri-kanan panggung. Tak mungkin ia berdiri menghampiri Liu Fang. Beberapa penjaga bertampang sangar siap menghajar siapapun yang mencoba merusak jalannya pertunjukan, tak terkecuali dirinya. Lagipula, ia tak mau merusak kebahagiaan Liu Fang malam ini.

Jian Long mempererat cengkraman jarinya pada kedua tepi kursi. Sangat erat hingga buku-buku jarinya membiru. Kedua kakinya disilangkan bertautan. Mengendalikan diri rupanya tak semudah itu.

Liu Fang hampir menyelesaikan baris terakhir, ketika Jian Long tak tahan lagi. Tepat ketika dua nada terakhir selesai didentingkan, Jian Long berlari ke atas panggung.

“Liu Fang! Nyonya Chopin-ku! Ke mana saja kau? Sepuluh tahun sudah aku merindukanmu!”

Seisi ruang seolah baru tersadar dari efek sihir Chopin – lebih tepatnya Liu Fang. Dua penjaga bertubuh kekar yang tadinya berjaga di sudut kiri-kanan segera menabrakkan tubuh mereka pada Jian Long, menahan laju kencangnya ke arah Liu Fang yang kini hanya mampu menatap wajah Jian Long dalam tangis senyum tanpa suara. Air mukanya bahagia.

Dua orang petugas memborgol lengan Liu Fang dan segera membawanya pergi sebelum diterjang Jian Long.

Jian Long masih mencoba memberontak, melepaskan tubuh mungilnya dari para penjaga raksasa, memaksa menghampiri Liu Fang. Sebuah usaha sia-sia.

“Maaf Pak Walikota, apa yang terjadi? Ia tak dapat Anda temui!”

“Aku walikota di sini! Kamu tahu itu! Bebaskan ia!”

“Maaf pak, kemarin presiden sudah menolak grasi wanita itu. Ia akan dihukum mati esok pagi.”

“Tidak! Pengadilan tak adil!”

Jian Long masih mencoba menghentakkan kedua lengannya dari cengkereman kuat para petugas saat sang gubernur menghampiri.

“Tenangkan dirimu, Jian Long. Kamu bagian dari pemerintah yang harus mendukung keputusan pengadilan. Wanita itu sudah membunuh orang-orang kita, mengambil uang rakyat dan menjual rahasia negara pada pihak tak seharusnya. Keputusan sudah diambil kemarin. Dan….”

“Dan apa?” Jian Long terisak. Otaknya masih mendengar Chopin dengan jelas dari ujung jemari Liu Fang. “Dan kau lupa bahwa Liu Fang adalah mantan isteriku?”

Aku akan menikahimu dan kita bebas membahas Chopin seumur hidup. Kamu adalah Nyonya Chopin-ku, janji Jian Long saat itu. Dua puluh tahun silam, ia menikahi Liu Fang tak lama setelah keduanya bertemu dalam sebuah konser malam amal Frédéric Chopin. Liu Fang adalah pianis Chopin berbakat dan Jian Long sangat menikmati permainannya.

Kisah affair dan ambisi politik membumihanguskan mimpinya sendiri. Kini mimpi tersebut seolah hidup kembali saat melihat Liu Fang dan tarian jemarinya dari atas panggung.

“Aku tidak lupa, Jian Long sahabatku. Tapi hukum di negeri ini das sollen, das sein – tak pandang bulu. Konser ini adalah permintaan terakhirnya sebelum eksekusi esok pagi. Ia tahu, kamu akan hadir. Katanya, itulah kebahagiaan terakhirnya di dunia ini.”

* * *

Sylvie Tanaga
Selasa, 6 November 2012 pk 01.48 WIB
Kemayoran – Jakarta Pusat

Sumber foto:  isaiahhankel.com


[1] Fryderyk Franciszek Chopin (Frédéric Chopin) adalah pianis era romantik yang lahir di Polandia pada 1 Maret 1810. Ia meninggal pada 17 Maret 1849 karena tuberkolosis. Seorang saksi mata, Abbe Jelowicki, mengatakan bahwa Chopin terlihat benar-benar bahagia dan menceritakan kepuasan hatinya jelang akhir masa hidupnya.

[2] Gan bei adalah istilah untuk bersulang atau “tos” (biasanya adu gelas arak) dalam bahasa mandarin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s