Gangnam Style: Kejayaan Diplomasi Budaya Korea Selatan

Bagaimana seseorang menjadi sangat terkenal dalam hitungan singkat adalah sebuah misteri, meski perjuangan sang tokoh belum tentu sesingkat yang kita lihat.

Rapper Korea Selatan bernama Park Jae—Sang alias Psy yang masih berusia 34 tahun, tak pernah menyangka jika tarian “kuda-kuda”nya akan begitu mendunia. Gangnam Style – demikian nama tarian berikut rap yang ia ciptakan, benar-benar terkenal sampai ke ujung dunia. Gaungnya tak main-main. Para ahli manajemen sampai harus membuat penelitian khusus mengenai fenomena ini.

Sejumlah prestasi menggemparkan muncul sebagai ganjaran.

Baru-baru ini, Gangnam Style ala Psy menjadi video klip musik yang paling banyak dilihat di YouTube sepanjang sejarah meski menggunakan bahasa Korea. Sejak kemunculannya pada Juli 2012, penonton Gangnam Style di YouTube mencapai lebih dari 808 juta orang!

Video klip ini memparodikan gaya hidup konsumerisme masyarakat Gangnam, daerah pinggiran Seoul. Dalam video klip musik tersebut, Psy yang bertubuh gempal berjoget seperti orang mengendarai kuda, memegang kendali dan memutar laso seperti seorang koboi diiringi dengan latar musik yang ajeb-ajeb.

Gangnam Style juga menjuarai MTV Europe Music Award kategori video terbaik dan menjadi hits nomor satu di 28 negara dan memecahkan rekor dunia sebagai video yang paling banyak disukai versi Guinness World Record. Ada 5,4 juta jempol pada video ini di YouTube.

Gangnam Style juga diikuti oleh berbagai kalangan dunia mulai dari narapidana di Filipina,  artis China Ai Weiwei, Britney Spears, Madonna, Presiden AS Barack Obama, Perdana Menteri Inggris David Cameron, Walikota London Boris Johnson, Sekretaris PBB Ban Ki Moon bahkan robot China. Ban Ki Moon bahkan menyebut Gangnam Style sebagai kekuatan bagi perdamaian dunia.

Psy pun diundang manggung berdampingan dengan para artis papan atas dunia. Sebut saja penampilan memukau Psy bersama Madonna di Madison Square Garden pada 14 November silam. Madison Square Garden yang berlokasi di New York – Amerika Serikat adalah panggung idaman para musisi dunia. Dalam ajang tersebut, Madonna terlihat amat menguasai Gangnam Style persis seperti video klip aslinya.

Di luar para artis ternama, demam Gangnam Style juga menjangkiti seluruh lapisan masyarakat dunia. Flashmob Gangnam Style menjadi tren dunia. 6 November lalu, misalnya, 20.000 orang terlibat mengikuti flashmob Gangnam Style yang berlokasi di dekat menara Eiffel. Indonesia tak ketinggalan. Di berbagai penjuru tanah air, flashmob tarian kuda ini merajalela di mana-mana.

Yang lebih menarik, pernak-pernik Gangnam Style ikut bertaburan mulai dari boneka berwajah ala Psy, video games, seni kriya dan sebagainya. Bahkan kemasan McShaker Fries di Malaysia menggunakan gambar Gangnam Style sebagai panduan untuk mengocok kentang bersama bumbunya: “gangnam bahagian atas bag dengan kuat dan goncangkan kandungan.”

Atas jasanya mendatangkan badai Gangnam Style di dunia, Psy pun menerima penghargaan tertinggi dari Departemen Kebudayaan Korea Selatan. Ia menerima Okgwan Order of Cultural Merit kategori “outstanding meritorious services”. Psy tak hanya sukses sebagai seniman namun juga dinilai berhasil memancing minat dunia melihat Korea Selatan.

Pertanyaannya, bagaimana cara Psy dan Gangnam Style-nya menjangkiti dunia? Hanya karena keunikannya? Jika demikian, seharusnya banyak “tarian-tarian” unik tanah air yang tak kalah mendunia.

Penyebab pasti memang masih menjadi misteri namun satu hal yang dapat kita lihat adalah keseriusan pemerintah Korsel dalam mengembangkan budayanya. Pemerintah Korsel melihat budaya populer sebagai kekuatan ekspor potensial yang dapat menjadikan negaranya tersohor di dunia.

Upaya pemerintah Korsel untuk mengembangkan budaya populernya telah dilakukan sejak lama secara serius. Pemerintah Korsel telah menghabiskan banyak waktu dan uang untuk mendukung Hallyu (Korean Wave), mulai dari acara TV hingga musik pop (K-Pop) yang melanda Asia dekade terakhir. Aneka kawasan wisata baru di Korea Selatan bahkan merupakan lokasi syuting acara-acara TV tersebut.

Tak hanya itu, mendengar nama Korea Selatan pikiran kita juga akan melayang pada sajian kulinernya yang lezat, produk kecantikan, make-up, gaya fashion hingga potongan dan warna rambut yang khas. Pergi saja ke pusat perbelanjaan dan Anda akan dengan mudah menemukan baju ala Korea. Jika ke salon untuk make up atau memotong rambut, Anda pun akan ditanya: “mau gaya Korea?”

Ya, industri kreatif dunia telah mencatat Korea Selatan dalam genre tersendiri. Para penggemar tersebar di seluruh penjuru dunia. Booming musik, film, drama TV Korsel bahkan mengundang keinginan mereka untuk mulai mempelajari budaya dan bahasa Korea dengan lebih serius. Grafik kunjungan wisata ke Korsel pun meningkat drastis. Pendek kata, sektor budaya kini menjadi kekuatan vital Korea Selatan.

Tidak ada faktor tunggal yang menjadi kunci sukses diplomasi budaya Korea Selatan. Kesuksesan tersebut adalah hasil kombinasi keberhasilan sisi mikro (pemasaran, manajemen dan seterusnya) dan makro (dukungan pemerintah Korsel, media massa, dan sebagainya).

Saya tidak akan membahasnya dari sisi mikro seperti istilah 3K dari Menteri Keuangan Korsel: kerjasama, kompetisi, dan kreativitas. Saya akan mengupasnya dari sisi strategi dukungan pemerintah Korsel dan kolaborasi menarik antara diplomasi publik dan diplomasi konvensional.

Pertama adalah kejelian pemerintah Korea Selatan dalam melihat pentingnya budaya dan industri jasa sebagai sektor yang perlu diangkat ke permukaan. Menteri Keuangan Korsel, Bahk Jae Wan mengatakan bahwa Korsel memiliki daya saing di sektor manufaktur, tapi selama ini sangat lemah di industri jasa. Bahk Jae Wan pun menilai fenomena Gangnam Style dapat memicu industri jasa yang selama ini lesu.

Penelitian Jessica Chen dari Wenzao Ursuline College of Languages (2008) yang berjudul “A Study on Cultural Tourism and South Korean Government” menunjukkan kita peran pemerintah Korsel dalam mengembangkan sektor budayanya. Pemerintah Korsel memandang budaya sebagai “soft power” untuk mempengaruhi ekonomi global sekaligus membawa keuntungan bagi masyarakatnya.

Awalnya, pemerintah Korsel mendirikan Biro Promosi Budaya sebagai salah satu bagian dari Departemen Informasi Publik. Pada 1968, untuk pertama kalinya pemerintah Korsel meresmikan sebuah departemen baru yang bertanggung jawab di bidang budaya secara langsung dengan nama Departemen Kebudayaan dan Informasi Publik (Jessica Chen, 2008).

Beberapa tahun kemudian, pemerintah Korsel memisahkan Departemen Kebudayaan dan Informasi Publik menjadi dua divisi berbeda yakni Departemen Kebudayaan dan Departemen Informasi Publik. Ini adalah kali pertama pemerintah mendirikan lembaga yang bertanggung jawab atas urusan kebudayaan.

Dalam periode tersebut, empat presiden Korsel telah berusaha membentuk rencana pengembangan budaya yang berpatokan pada budaya-budaya yang dilindungi serta identitas nasional. Meski demikian, strategi-strategi tersebut masih dirasakan belum mumpuni untuk mengembangkan industri budaya.

Presiden Ron Tae Woo (1988-1993) dan Presiden Kim Young Sam (1993-1998) pun membuat rencana jangka 5-10 tahun untuk pengembangan budaya yang memperhatikan identitas nasional.

Selain itu, Korsel mulai berfokus pada pengembangan budaya yang membawa kesejahteraan bagi masyarakatnya, budaya lokal, sekaligus media budaya. Presiden Kim bahkan mengusulkan ide “Creativity of the New Korea” dan berharap status Korsel meningkat dalam pergaulan masyarakat global.

Pada 1998, Presiden Kim Dae Jung (1998-2003) sadar bahwa budaya dapat membawa banyak manfaat yang akhirnya mendorong perekonomian tumbuh cepat. Pada tahun yang sama, berdirilah Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Korea Selatan. Pemerintah pun mulai mempersiapkan strategi pemasaran dan mengatur pasar yang tepat sesuai dengan harapan.

Departemen Kebudayaan dan Pariwisata tidak hanya bertanggung jawab mengembangkan budaya dan urusan pariwisata tapi juga wajib mengumpulkan informasi baru tentang budaya dan pariwisata bagi pemerintah pusat. Setelah menerima data informasi dan penelitian, barulah pemerintah membuat kebijakan baru atau memperbaiki kebijakan sebelumnya.

Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Korea Selatan terbagi menjadi lima bagian yang masing-masing bertanggung jawab atas urusan pembuatan kebijakan budaya dan pariwisata, budaya, pariwisata, seni dan olahraga. Dalam hal budaya, bidang-bidang yang diatur sangat mendetail mulai dari promosi, hak cipta, publikasi, film dan video, media, industri media, teknologi, penyiaran dan sebagainya.

Lihat di: http://www.mct.go.kr/english/aboutus/organizationchart.jsp

Ada tiga tujuan yang dikemukakan: mengedukasi warga Korsel menjadi warga negara yang kreatif, menciptakan masyarakat yang mampu mengekspresikan identitas budaya mereka serta merancang sebuah bangsa yang memiliki budaya dinamis, mewakili setiap jenis budaya lokal. Sebagai bentuk dukungan, pemerintah Korsel tak main-main menegakkan perlindungan terhadap warisan budayanya.

Kata kunci kedua mengapa Gangnam Style dan aneka bentuk budaya Korsel lainnya bergaung begitu kencang di dunia adalah kemitraan yang erat antara pemerintah dengan individu (kelompok masyarakat) dan swasta di dalam negeri, kawasan regional maupun dunia.

Tak dapat dipungkiri bahwa salah satu kunci sukses Gangnam Style adalah kreativitas Psy dan para rekannya dalam industri musik dan hiburan. Diplomasi publik berjalan. Di lain pihak, pemerintah mendukung penuh setiap upaya masyarakat untuk mengembangkan budaya dan industri kreativitasnya.

Dukungan yang diberikan bukan “janji Surga” melainkan praktik-praktik nyata yang dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat. Pemerintah pusat mendorong pemerintah daerah mengelola fasilitas budaya sekaligus mempromosikan kreativitas lokal. Pemerintah Korsel juga berperan penting dalam pertukaran budaya dan membantu afiliasi bisnis untuk mengembangkan promosi budayanya.

Pendek kata, diplomasi publik Korsel berkolaborasi cantik dengan diplomasi konvensional yang dilakukan oleh pemerintahnya. Anggaran yang dibutuhkan benar-benar dipersiapkan secara matang. Pemerintah Korsel tak asal-asalan membuat kebijakan. Masukkan dari para seniman dan pelaku industri kreatif benar-benar diperhatikan.

Selain itu, pemerintah Korsel juga amat mempedulikan pendidikan seni dan budaya warganya. Pemerintah sadar bahwa kecintaan akan seni dan budaya negara tidak dapat dibentuk dalam semalam. Manusia yang kreatif dan berbudaya menjadi modal dasar kemakmuran dan kemajuan Korsel.

Pada akhirnya, kita dapat melihat popularitas Gangnam Style bukan sebuah “kebetulan”. Lihatlah cara kerja manusia kreatif di Korsel dan dukungan pemerintahnya yang serba terencana. Anda tak akan heran. Anda akan paham bahwa Gangnam Style hanyalah sebuah permulaan dari ide-ide besar lainnya. Indonesia harus belajar banyak dari negara ginseng ini.

* * *

Sumber foto:  style.mtv.com

Advertisements

2 thoughts on “Gangnam Style: Kejayaan Diplomasi Budaya Korea Selatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s