Bakti Sosial Lampung Selatan, Jembatan Awal Resolusi Konflik

Oleh: Dr. Lie A Dharmawan PhD, FICS, SpB, SpBTKV1 dan Sylvie Tanaga, S.IP2

Berangkat dari pengalaman sebagai aktivis ketika Kerusuhan Mei 1998 terjadi, penulis mengerti perasaan korban akibat kerusuhan akhir Oktober 2012 di Lampung Selatan. Kondisinya serupa dengan yang dialami etnis Tionghoa pasca amuk massa Mei 1998: sama-sama tak berani keluar rumah dan menderita depresi dalam waktu yang panjang.

Intra-state conflict dalam bentuk ethnic violence terjadi, namun artikel ini tak akan berfokus pada pembahasan mengenai asal muasal konflik dan perdebatannya. Artikel ini hanya akan menunjukkan bagaimana pentingnya peran aktor non-state khususnya LSM (dalam hal ini doctorSHARE) dalam mempertemukan pihak-pihak yang bertikai yang umumnya sangat mempertahankan posisi mereka.

Ketika konflik atau kerusuhan terjadi, tekad untuk menghilangkan sekat-sekat pembatas antar sesama seakan lenyap tak berbekas. Yang hadir hanyalah egoisme sektoral yang memicu tindakan mengerikan. Terjadi pembakaran rumah dan sekolah, perusakan kendaraan dan fasilitas umum, bahkan saling bunuh yang menyebabkan belasan nyawa melayang sia-sia.

Merujuk pada teori dasar yang dikemukakan sosiologis Norwegia, Johan Galtung, ada tiga tahapan yang dibutuhkan menuju resolusi konflik yakni peace making, peace keeping dan peace building.

Peace making adalah kesepakatan di antara pimpinan dari pihak-pihak yang bertikai untuk menghentikan kekerasan, biasanya berada pada level tingkat elit (pimpinan). Upaya ini telah dilakukan melalui perjanjian damai yang ditandatangani oleh pihak-pihak bertikai pada 4 November 2012 dan kembali ditegaskan lewat Deklarasi Damai yang berlangsung pada 21 November 2012.

Peace keeping merupakan upaya untuk menjaga perdamaian agar pihak-pihak yang bertikai tidak lagi kembali menggunakan kekerasan.

Peace building yaitu proses implementasi perubahan (rekonstruksi) sosial, politik, dan ekonomi demi terciptanya perdamaian yang langgeng. Dalam proses peace building, keterlibatan masyarakat terutama LSM, merupakan hal yang sangat penting dalam rangka menciptakan keadilan sosial-ekonomi secara nyata di lapangan.

Dalam menjalankan fungsi peace building inilah doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) berinisiatif mengambil peran.

Melihat kondisi para korban konflik di Lampung Selatan, doctorSHARE merasakan kebutuhan uluran tangan pihak ketiga yang netral untuk membantu mengembalikan kepercayaan diri mereka yang bertikai agar dapat kembali menjalani kehidupan seperti sediakala. Peace building perlu segera dilakukan, mulai dari hal paling sederhana namun vital: kesehatan masyarakat.

Sejak awal, doctorSHARE memiliki visi menolong setiap orang untuk keluar dari kesulitan. Mengamati konflik di Lampung Selatan, doctorSHARE pun berinisiatif melakukan bakti sosial pelayanan medis gratis di lokasi pasca konflik.

Tujuannya adalah mengundang mereka keluar dari pemukiman-pemukiman untuk datang ke lokasi bakti sosial dan berinteraksi dengan sesamanya. Secara perlahan dalam jangka panjang, rasa permusuhan dan kekhawatiran yang tersisa akan terkikis. Pada saat bersamaan, rasa percaya diri menebal sehingga mereka dapat segera keluar dari himpitan kesulitan.

Tak disangka, animo masyarakat ternyata tinggi. Mereka datang berbondong-bondong ke tempat bakti sosial pengobatan gratis. Lokasi bakti sosial di perbatasan antar kedua desa bertikai yakni Desa Sidoharjo, Kecamatan Way Panji, memungkinkan mereka berbaur. Ketegangan masih dapat terasa namun ajang ini menjadi jembatan untuk menghilangkan praduga di antara mereka.

Dalam kegiatan bakti sosial pengobatan gratis bekerjasama dengan Korps Brimob Polri tersebut, jumlah masyarakat yang berobat mencapai 1.920 orang atau melebihi target 1.500 warga. Meski harus mengantri cukup lama, warga lintas etnis dan suku tetap antusias mengantri dan saling berinteraksi.

Sepuluh dokter doctorSHARE, empat dokter Korps Brimob Polri dan delapan dokter dari Dinas Kesehatan Lampung beserta puluhan relawan dari berbagai kalangan berbaur melayani masyarakat Lampung Selatan.

Lima jenis penyakit terbanyak yang ditemukan saat pelaksanaan bakti sosial pengobatan gratis Lampung Selatan adalah mialgia (pegal-pegal otot), hipertensi (darah tinggi), gastritis (lambung), cepalgia (sakit kepala) dan ISPA (infeksi saluran atas pernapasan).

Selain itu, tim doctorSHARE yang rata-rata terdiri dari anak muda yang bersemangat melayani sesama juga melakukan bedah minor terhadap 20 warga yang terdiri dari ateroma (tiga pasien), paronikia (satu pasien), clavus (satu pasien), dan sisanya adalah lipoma.

Menariknya, inisiatif doctorSHARE melangsungkan bakti sosial pengobatan gratis di Lampung Selatan juga didukung aktor negara yaitu Korps Brimob Polri dan Dinas Kesehatan Lampung. Dukungan ini bukan hanya moril atau kerjasama terpisah melainkan kerjasama terpadu langsung di lapangan.

Kerjasama terpadu macam ini tentu sangat positif bahkan dapat menjadi preseden luar biasa baik bagi daerah-daerah konflik lainnya di tanah air. Aktor non negara dan aktor negara tak mesti mengambil peran terpisah. Aktor non negara dapat mengambil inisiatif pertama yang jika dikomunikasikan dengan baik dapat membuka kerjasama langsung dengan aktor negara.

Melalui kegiatan bakti sosial pengobatan gratis bertema “Dengan Kasih dan Kemitraan, Kita Wujudkan Persaudaraan Sejati dalam Menjaga Keamanan Negeri” ini, doctorSHARE berharap pihak-pihak yang tadinya bertikai mulai berbaur guna melanjutkan proses peace building.

doctorSHARE sadar betul bahwa proses peace building tak semudah membalikkan telapak lengan. Butuh waktu lama karena dalam proses inilah akar-akar permasalahan konflik diatasi.

Namun aktivitas bakti sosial pengobatan gratis yang menyentuh hal paling mendasar dalam kehidupan manusia yakni kesehatan, dapat menjadi jembatan awal menuju resolusi konflik. Inisiatif doctorSHARE yang diwujudkan secara nyata di lapangan ini meneguhkan pentingnya peran LSM dan bukan tak mungkin menjadi best practice resolusi konflik di tanah air bahkan dunia.

Hal menarik lainnya, bakti sosial pengobatan gratis ini ternyata bertepatan dengan Deklarasi Damai yang dihadiri pejabat dan ribuan warga Lampung Selatan. Deklarasi Damai pada 21 November 2012 ini berlangsung tak jauh dari lokasi bakti sosial.

Meski tak ada informasi sebelumnya, bukan kebetulan jika bakti sosial pengobatan gratis doctorSHARE – Korps Brimob Polri bertepatan dengan Deklarasi Damai. Sinergi untuk menciptakan Lampung Selatan yang damai, aman dan sejatera makin terlihat. Masyarakat dapat melihat sinergi positif ini sehingga rasa aman dan tenang makin cepat muncul.

Sinergi makin nampak setelah Gubernur Lampung Sjachroedin SP turut mengunjungi lokasi bakti sosial pengobatan gratis usai menghadiri Deklarasi Damai. Dalam kunjungannya, gubernur berinteraksi dengan warga sekaligus mengapresiasi upaya doctorSHARE dan Korps Brimob Polri yang telah melangsungkan kegiatan bakti sosial pengobatan gratis bagi warga Lampung Selatan.

Tentu masih banyak pekerjaan yang perlu dikerjakan tak hanya oleh LSM namun juga seluruh pihak yang terlibat, termasuk aktor negara dan masyarakat Lampung Selatan itu sendiri. Meski butuh waktu, resolusi konflik yang langsung menyentuh kebutuhan dasar masyarakat seperti yang dilakukan doctorSHARE perlu terus diupayakan sehingga kedamaian sejati tercipta.

* * *

1 Pendiri doctorSHARE, ketua tim Bakti Sosial Pengobatan Gratis Lampung Selatan.
2  Anggota doctorSHARE, koordinator lapangan Bakti Sosial Pengobatan Gratis Lampung Selatan.

Artikel ini dimuat dalam Harian “International Media” (Kamis, 29 November 2012) dan http://www.doctorshare.org

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s