Kisah Di Negeri Batik

“Aku dipakai kaum bangsawan! Kau lupa?”

Parang[1] sebal setengah mati. Berani betul sidomukti[2] coba-coba merendahkannya. Dengan sengaja ia bentangkan dirinya. Tubuh berbalut soga[3] eksotik segera terhampar. Para batik yang hadir dalam galeri tercekat. Terpesona seketika.

“Rekanku si parang barong bahkan hanya boleh dikenakan raja! Kamu? Hanya upacara pernikahan?? Taruhan, kau pasti belum pernah menyesapi aroma tubuh bangsawan dan udara kraton!”

Insiden adu mulut internal ini bermula tiga jam lalu. Seorang konglomerat ternama yang wajahnya sering muncul di majalah, memilih membeli batik tulis motif sidomukti. Sang konglomerat bahkan sama sekali tak melirik parang. Sudah bosan, butuh yang lebih segar. Begitu alasannya pada mamak penjual, sambil membeli lagi dua potong batik pesisir motif burung hong.

Belum selesai sang konglomerat beranjak, sidomukti sombong bukan kepalang. Jenisku paling sering dikenakan pada acara kawinan, banyak bertemu pesohor macam dia. Kamu? Kamu katak dalam tempurung. Hanya tandem di kraton.

 

Parang tak terima hinaan sidomukti. Adu mulut tak dapat dihindari.

Batik pesisir coba menengahi. Udara di sini terlalu pengap untuk cekcok tak perlu macam ini.

“Sudahlah! Sesama batik tulis dilarang berkelahi. Toh saban hari selalu ada bulé tertarik dengan keseksianmu! Masih banyak kolektor dan pesohor yang tertarik, masih segudang desainer terkenal yang tertarik bikin kau lebih cantik!”

Parang begitu berang.

Akhir-akhir ini, memang tak banyak yang jatuh cinta bahkan untuk sekadar meliriknya. Yang benar saja! Tubuh seksi bernilai tingginya diabaikan demikian rupa! Anak-anak muda di seberang sana apalagi. Mereka kurang ajar mengacuhkannya. Mereka lebih memilih batik cap dan… Printing? Siapa pula itu? Lupakan! Mereka tak tahu siapa dirinya!

“Kau berani, pesisir? Lihat dirimu! Hahahaha…. Bentukmu tak karuan, nilai-nilai filosofimu tak jelas!”

Batik cap tiba-tiba berdiri. Ia tak tahan lagi mendengar kicau parang yang jelas sedang frustrasi. Ia genggam lengan batik pesisir yang kini kehabisan kata-kata.

“Parang! Kau lupa bahwa kita sama-sama berasal dari kain kosong. Kamu beruntung, dilukis oleh tangan-tangan mumpuni sementara aku cuma dari potongan logam. Tapi kita sama-sama diakui UNESCO! Tak ada bedanya. Kau jéles karena jaman berubah. Mereka naik daun dan kau stagnan…”

“Tutup mulutmu! Stagnan kau bilang??? Aku tak kenal UNESCO. Siapa itu? Masa bodoh! Mereka tak mengubah apapun. Aku heran kenapa para pesohor berpendidikan tinggi di seberang sana masih banyak yang memilihmu! Kau tak paham pakem. Betapa luhurnya nilai filosofis nenek moyang….”

Parang belum habis berbicara saat galeri tiba-tiba bergoncang. Para batik mesti berpegangan tangan agar tidak jatuh. Jatuh berarti petaka. Jika kotor dan terinjak, pengemis pun enggan melirik. Goncangan mereda. Sejurus kemudian, terkuaklah sumber goncangan.

Sepasukan batik printing dengan warna sangat menyolok melangkah dengan gagah berani. Ada yang merah, hijau, ungu, tosca bahkan jingga. Di tubuh mereka, motif parang, kawung, bunga seruni, burung hong, ikan dan masih banyak lagi – berbaur jadi satu. Pasukan yang baru datang ini bahkan tak mempedulikan tatapan tajam para batik yang tengah berdebat di ruang galeri tersebut.

Amarah parang meledak tak tertahankan.

“Sial! Siapa kau??? Kau hanya tekstil yang menyamar jadi batik! Kau tak kenal canting dan nglorod. Sudah pasti kau tak pernah bercumbu dengan para pesohor dalam pendingin udara. Kau cuma kenal bau keringat! Hei, tempatmu di pinggir trotoar! Kau pasti menyelundup masuk kemari!”

Printing tak terbawa emosi. Dengan penuh percaya diri ia melenggang ke salah satu sudut kosong. Dikebaskannya debu tipis yang segera melayang ke jendela. Tangan kirinya memberi kode pada pasukan printing di belakangnya. Mereka melanjutkan langkah menempati sudut-sudut kosong. Sesaat, goncangan kecil kembali terjadi sebelum akhirnya berangsur tenang.

Printing tak banyak berbicara. Setelah duduk, ia hanya tersenyum. Lengannya menunjuk ke arah celah pintu, satu-satunya sumber sinar mentari yang masuk ke galeri tersebut.

Galeri tak perlu mentari. Lighting canggih lebih dari cukup walau terkadang memicu gerah. Paling tidak, lighting lebih mampu menampilkan lekuk-lekuk tubuh para batik yang seksi. Satu-satunya kelemahan galeri hanyalah pendingin udara yang butuh tambahan freon. Selebihnya, sempurna.

Dari balik celah, mereka terbiasa melihat deretan pasukan batik printing yang dijual para pedagang imigran. Selama ini, kehadiran mereka memang sering jadi bahan gosip.

Kelompok asing tanpa jati diri. Hanya coba meniru-niru, terbuat dari sablon pula! Anehnya, mereka paling diminati masyarakat. Susah sekali kalau pembeli tak punya dolar seperti artis, pejabat dan bulé seperti yang sering kemari. Lebih repot lagi pasukan Tiongkok ikut menyerbu. Kata mamak, mereka batik-batik RRC yang mendominasi pasar. Ah! Kita harus ambil kendali kekuasaan. Segera.

Mata para batik kini tertuju pada celah tak lebih dari setengah meter tersebut.

“Perhatikan sosok wanita itu.”

Para batik memicingkan mata. Pada salah satu tenda, memang terlihat sesosok wanita renta. Kaus lusuhnya bergambar lambang sebuah parpol. Jalannya bungkuk. Tangan kanannya menggenggam kantung plastik hitam. Gerak tubuh menunjukkan ia sedang menawar batik.

“Tolonglah, Pak….”

“Tidak bisa, Bu! Segitu sudah murah! Batik galeri di dalam sana harganya tiga puluh kali lipat!”

“Ayolah, Pak… Ini untuk kawinan anak saya satu-satunya. Saya hanya buruh cuci di belakang sana…”

Si pedagang mulai ragu-ragu. Dari balik celah, para batik hanya mampu melihat tato pada lengannya. Jemarinya kini memainkan sebuah kalkulator kecil berwarna hitam.

“Sudah mentok, Bu. Ini sudah sangat murah. Ya sudah, tawaran terakhir saya Rp 25.000. Ibu hanya perlu tambah Rp 5.000. Lebih dari itu, maaf, nggak bisa! Itu sudah harga modal.”

Wanita tersebut berpikir sesaat. Matanya tak berhenti melirik baju batik kerah berwarna cokelat terang di hadapannya. Sambil menghela nafas, ia meraba-raba saku celananya yang sudah lusuh. Dikeluarkannya lembaran demi lembaran Pattimura yang bagian ujung-ujungnya sudah keriting.

“Seribu, dua ribu, tiga ribu… ya sudah. Ini Rp 25.000. Terima kasih, Pak.”

Si pedagang mengangguk ringan.

Dari balik celah, para batik melihat kegembiraan di wajah sang wanita yang terus menatap batik barunya. Tak lama, ia buka bungkusan plastik hitam di tangan. Sebuah kotak sepatu menyembul. Dengan hati-hati, ia melipat ulang baju batik tersebut dan meletakkannya dalam kotak.

Air matanya meleleh.

Setelah itu, ia rogoh kantung plastiknya dalam-dalam. Tangannya keluar bersamaan dengan sebuah kartu undangan tipis berwarna gading.

“Ibu sudah beli baju batik untuk mendampingimu nanti, Nak. Batik parang yang cantik…”

* * *

Sumber foto: dokumentasi pribadi William Kwan (Redaya Batik)


[1] Salah satu motif yang digunakan dalam batik kraton yang sarat nilai filosofis.

[2] Ibid. Dipakai pada upacara pernikahan.

[3] Coklat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s