Menaklukan Sempu

Tak pernah terbayangkan bahwa perjalanan kami ke Pulau Sempu akan jadi sebuah petualangan dahsyat. Lelah, pegal, senang, gembira, takut, seram, semua berbaur jadi satu.

Pulau Sempu adalah sebuah pulau kecil yang terletak di selatan Pulau Jawa, tepatnya di Kabupaten Malang, Jawa Timur. Di pulau ini, kita dapat melihat Pantai Sendang Biru. Setelah berperahu dan berjalan kaki, kita akan melihat Pantai Segara Anakan yang memukau plus Samudera Indonesia!

Semua berawal dari ide salah seorang rekan yang menjadi fotografer perjalanan kali ini, Melia. Ia menemukan kawasan yang baru pernah kami dengar namanya lewat situs. Dengan penuh semangat, ia mengajak saya (yang datang dari Bandung) bersama tiga rekan lainnya untuk bertualang.

Pikiran awal setelah mendengar Pulau Sempu adalah kami akan menikmati pantai yang menawan. Kenyataannya, Pulau Sempu bukanlah kawasan wisata melainkan cagar alam. Fakta ini baru kami ketahui saat datang ke posko untuk mendaftar dan meminta ijin masuk cagar alam.

Petugas memberitahu bahwa medan tempuh cukup berat yaitu berlumpur karena sedang musim hujan. Waktu tempuh normalnya adalah dua hingga tiga jam jalan kaki. Selain itu, kami baru tiba pk 14.00 dengan rute pulang-pergi. Padahal, kebanyakan orang memilih menginap di Segara Anakan.

Antusiasme bertualang rupanya mengalahkan rasa letih dan cemas. Walau dihimbau berpikir ulang, kami memutuskan tetap bertualang demi melihat keindahan Segara Anakan. Petugas pun memberi ijin. Usai menyewa sepatu karet bergerigi dan kaus kaki, kami menyeberangi Pantai Sendang Biru dengan menggunakan perahu nelayan dengan biaya sewa Rp 170.000 pulang-pergi. Harga sewa normal perahu adalah Rp 100.000. Di atas jam lima, terkena tambahan Rp 50.000. Sisanya adalah tips yang kami berikan.

Pantai Sendang Biru memang indah. Sesuai namanya, airnya benar-benar biru jernih. Nuansa cagar alam terlihat dari hijaunya pepohonan rimbun yang mengelilingi bibir pantai. Air laut sesekali memercik ke dalam perahu. Perlu 15 menit sebelum akhirnya “berlabuh” dan bersiap trekking. Kini, kami benar-benar terbakar semangat untuk bertualang.

Dengan panduan seorang tour guide lokal seharga Rp 200.000, kami mulai menjelajah. Biaya jasa panduan seharusnya adalah Rp 100.000 plus Rp 50.000 jika di atas lima jam. Kami menambahkan tips sisanya karena medan yang terasa berat. Kami baru sadar maksud sebenarnya dari “medan berat” seperti yang dinasihatkan petugas perijinan.

Musim hujan memang membuat jalur pendakian begitu berlumpur. Ritme berjalan yang awalnya lumayan cepat, perlahan mulai menurun. Di beberapa titik, kami harus merangkak tertatih-tatih sambil berpegangan erat pada dahan-dahan pepohonan yang menjuntai. Kami pun harus ekstra hati-hati agar tidak jatuh terjerembab ke lumpur karena akar pohon terkadang mencuat ke tanah.

Lumpur yang masuk ke dalam sepatu memperberat langkah kaki. Untung saja kami semua mengenakan celana pendek meski sebagai akibatnya, paha dan betis penuh luka karena serbuan nyamuk hutan. Pemandu kami mengatakan bahwa pada musim kemarau, jalur pendakian cenderung lebih kering. Pada bulan Januari seperti sekarang ini, hujan masih turun deras.

Tidak ada kata mundur. Kami terpana melihat kecepatan langkah kaki pemandu yang begitu gesit. Untunglah kami semua masih muda dan punya fisik yang memadai.

Kami cukup bangga mampu mengimbangi langkah kakinya dan tiba di Pantai Segara Anakan dua jam kemudian. Pasalnya, di tengah perjalanan kami bertemu dengan rombongan lainnya yang sudah menempuh tiga jam perjalanan. Syukurlah tidak ada binatang buas yang menghampiri.

Dengan seluruh tubuh berbalur lumpur, kami menghembuskan nafas lega setelah melihat Pantai Segara Anakan yang begitu indah. Meski warna air di bibir pantai agak kecoklatan karena faktor lumpur, Segara Anakan tetap cantik. Warna airnya hijau bergradasi, harmonis dengan tebing dan pepohonan hijau yang mengelilinginya.

Kami menaiki tebing karang dan dibuat terpana oleh kegagahan debur ombak Samudera Indonesia yang bergesekan dengan karang. Inilah kali pertama saya berdiri di bibir karang yang berbatasan langsung dengan laut lepas tanpa garis pantai. Tak terlihat garis batasnya.

Pemandangan fenomenal dari atas tebing karang kami temukan saat melirik ke arah Segara Anakan. Segara Anakan betul-betul nampak seperti surga. Di kamera yang daya tangkapnya terbatas saja, harmoni batu karang, pepohonan, bakau, air terjun dan kemilau hijau sudah menyihir mata. Melihat pemandangan spektakuler semacam ini secara langsung, membayar rasa lelah perjalanan kami.

Di sepanjang garis pantai Segara Anakan, terdapat jajaran tenda penginapan. Rombongan orang yang telah tiba sebelum kami, terlihat sedang bersantai. Ada yang menjemur bajunya di tali yang dikaitkan antar tenda atau berenang-renang ringan. Menariknya, kami sempat memergoki beberapa ekor monyet yang sedang mencuri bekal makanan di dalam tenda.

Tanpa ba bi bu, kami langsung “nyemplung” ke dalam Segara Anakan dan menikmati hangatnya air setelah sebelumnya kedinginan terkena hujan bercampur lumpur. Sayangnya, kami mendapati cukup banyak sampah di sini mulai dari sampah plastik hingga sendok! Sayang sekali jika cagar alam yang seharusnya dilindungi ini malah kotor karena ulah tak bertanggung jawab pengunjungnya.

Keasyikan berendam, pemandu mengingatkan bahwa hari sudah beranjak malam. Sebaiknya kami mulai trekking pulang. Dengan berat hati, kami pun patuh.

Perjalanan pulang terasa lebih melelahkan. Dalam hati, kami amat berharap matahari tidak terbenam sebelum tiba di penghujung. Tentu saja mustahil. Selang setengah jam kemudian, hutan sudah gelap gulita. Kami terpaksa berjalan setapak demi setapak dengan hanya mengandalkan lampu penerangan dan insting. Sangat mendebarkan.

Kaki menjadi lebih sering terantuk akar dan kepala terbentur dahan. Benar-benar gelap gulita. Kami hanya berdoa agar cepat sampai dengan selamat. Lumpur naik menjadi hampir sepaha seiring hujan yang terus mengguyur. Lagi-lagi bersyukur karena tidak ada binatang buas. Beberapa di antara kami tergelincir dan terjatuh. Perjalanan pulang jauh lebih lama, rasanya tak sampai-sampai.

Setelah melalui perjuangan yang terasa sangat melelahkan, akhirnya perjalanan kami berakhir juga tiga setengah jam kemudian. Waktu sudah menunjukkan sekitar pk 21.30 WIB saat perahu nelayan akhirnya datang menjemput kami kembali yang sudah basah kuyup kedinginan.

Meski tubuh begitu letih dan kamera sang fotografer rusak terendam air bercampur lumpur, kami bangga berhasil menaklukan Pulau Sempu, surga “liar” terindah milik Jawa Timur. Kenangan akan petualangan seru di awal tahun 2013 ini tentu tidak akan terlupakan dari benak kami, membuat kami makin mencintai keindahan alam tanah air yang mengagumkan. ***

Foto oleh Melia Sugiarto Santoso
Dimuat dalam “For Her” Jawa Pos – Selasa, 12 Februari 2013

Advertisements

3 thoughts on “Menaklukan Sempu

  1. Pingback: 2013: Sekeping Refleksi Pribadi Buat Para Sahabat | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s