Pseudo Taipei 101

Taipei 101

Andai saja manusia bisa memberi keputusan setepat dan secepat kotak boks ini. Lift Taipei 101 – bergerak ke lantai tertinggi selama 27 detik tanpa goyah. Pemandu cantik berbalut qibao hitam katakan bahwa lift tersebut masuk lima besar lift tercepat di dunia. Butuh waktu sedikit lama baginya untuk turun, 35 detik menurut hitungan digital yang tertera di dinding kanan lift. Sama saja.

Gelap mulai tergantikan kilau gugusan bintang digital di langit-langit, membawa angan menjelajah setiap sel otak lintas saraf-saraf simpatik-parasimpatik.

Kecepatan sekilat pelor anehnya tak lantas membuat “penghuni”nya merasa mual. Pergerakan lift begitu halus, nyaris tak terasa. Kuncinya terletak pada dumper alias bola penyimbang yang berposisi persis di tengah gedung. Bobotnya betul-betul berat. Diameternya diperhitungkan matang-matang. Ia yang akan pastikan gedung tak bergeming, meski gempa coba menggoda.

Gedung berfondasi tak kalah kokoh yang mengakar segarang sang dumper ini pun jadi ikon kebanggaan masyarakat walau tak ada panggung tradisional Taiwan di dalamnya. Hanya ada jejeran toko merek kelas atas. Tak peduli. Gedung ini tetap jadi ciri khas Formosa.

Berhenti menebak.

Kau tahu benar, itulah aku. Jati diriku yang sesungguhnya sudah hilang entah kapan. Aku tak mau salahkan kau. Aku kokoh berdiri, punya prinsip hidup yang membuatku tak goyah oleh apapun. Tapi dalamku hanyalah hal-hal asing: tamu-tamu asing, barang-barang asing, suasana asing, dan tatapan asing. Aku tak lagi jadi diriku yang sesungguhnya. Aku hanya ikon.

Semua memujiku setinggi langit, bersedia membeliku dengan uang yang bahkan sesungguhnya tak akan mereka bawa saat meninggalkan dunia ini. Debu akan kembali jadi debu. Maka aku tak peduli segala cibiranmu. Aku angkuh, aku pesolek, aku dipuja, aku dipuji, aku di…….

Aku di………..
Aku di………..
Aku di………..

Sampai kehabisan kata-kata aku dibuatnya. Aku mahal, tapi tak ada hal baru yang dapat kau temukan. Dulu, sempat ada sebuncah harapan. Sejumput asa yang kini tak ingin lagi kugaungkan dalam memori otakku. Biar saja itu tersimpan di sana untuk selamanya. Tapi untuk kali ini saja harus kukatakan agar kau tahu bahwa itu tak semudah tekan tombol lift.

Asa yang sempat muncul walau hanya segaris adalah pandangan di lantai tertinggi, pandangan di kedalaman hati terdalamku: bahwa dunia begitu indah. Sejauh mata memandang, kau akan lihat bangunan-bangunan besar berserak di depan mata. Begitu kecil hingga kau rasanya “gatal” untuk menatanya. Kau cium aku. Kau berkata mungkin seperti inilah kacamata Tuhan terhadap dunia.

Kau pamit. Tapi begitu kau sampai bawah untuk menyentuhnya, segalanya berbeda. Kau bingung untuk memulainya. Kau dapati bahwa segala sesuatunya telah tertata rapi, padahal 35 detik lalu kau katakan dunia serba berantakan. Kau bingung, lalu kau diam. Kau pandang ke dalam dirimu sendiri, lalu kau buka pintu. Kau biarkan dunia yang serba asing merasukiku. Kau tampak kusut.

Ya, persis seperti yang kaupikirkan! Akhirnya kubiarkan mereka gerayangi tubuhku hingga puncak, sekadar memaksa mereka menilai kau dari posisiku. Kalau kudapati awan-awan hitam menggantung dan menutupi pandangan, aku tak mau tahu. Harus tetap ada yang menikmati keindahan tubuhku, walau dengan sebilah teropong yang belum tentu tajamkan mata kau yang rabun.

Kubuang segala tetek bengek pasar malam dengan hiruk pikuknya yang murahan dari tubuhku. Walau para tamu asing ini – sebagaimana kau – langsung memandangku ke bagian puncak, aku tak peduli. Mereka harus membeliku dengan harga sepantasnya. Tak perlu mereka cari alasan untuk temukan sesuatu yang khas dari diriku. Keseksianku itulah yang selalu membius kau, juga mereka.

Maka dalam tubuh seksi ini antrian panjang para tamu asing mengular, mengejar rangsangan puncak yang membawa segala asa terbang ke pelipis menuju otak, membayang dalam lanskap perjalanan hidup selanjutnya. Pada masanya, hanya aku dan kau yang sanggup pahami tanggungnya jarak antara kita: tak setinggi kau pandang dari pesawat terbang, tak jua rendah menjejak tanah.

Tak perlu kau ceramahiku bahwa aku terlalu modern. Aku tahu bahwa rambut pirangku, tato manisku, gincu merahku, pipi ranumku bahkan suara lentik “Teresa Teng”-ku membawa raga kau terbang. Sudah kukatakan sejak awal bahwa aku akan membuat sel otak kau berimajinasi liar. Kau sendiri yang akan lihat diri melintasi puncak, jauh melebihi awan-awan. Itu bukan perbuatanku.

Tugasku hanya satu: membuat kau beda, merasa jadi raja dunia. Tapi jangan salahkan aku jika pada saat bersamaan kau sadar kau hanya seonggok debu. Memang demikian adanya. Kulempar kau menuju puncak lewat pelor dalam tubuhku dengan kecepatan mendunia, tapi yang buat kau terbang melintasi batas yang sanggup kau pandang adalah neuron kau sendiri. Jangan salahkan aku.

Tolong, jangan salahkan aku.
Aku cuma ikon yang laksanakan tugas, sebagaimana mestinya.
Kau tahu itu.

Yue liang dai, biau wo de xin.

* * *

Terinspirasi dari traveling di Gedung Taipei 101, Taiwan (Juli 2012)
Sumber foto: eng.taiwan.net.tw

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s