Rumah Sakit Apung DoctorSHARE: Sebuah Catatan Pribadi

Jam di telepon seluler sudah menunjukkan pukul dua dini hari bertanggal 16 Maret 2013. Suasana pelabuhan Muara Baru yang tadinya tenang, mulai berisik dengan suara barang yang digeser-geser berbaur dengan obrolan dan teriakan segelintir orang dalam sebuah kapal bercat putih-merah.

Kapal ini merupakan kapal tradisional. Pinisi namanya. Menurut catatan sejarah, kapal pinisi berasal dari Suku Bugis dan Makassar di Sulawesi Selatan dan sudah ada sebelum tahun 1500an. Pinisi menjadi simbol nenek moyang bangsa Indonesia mampu mengarungi tujuh samudera besar di dunia.

Segelintir orang yang tergabung dalam wadah DoctorSHARE – mereka yang sedang mengeluarkan suara-suara gaduh tersebut – mungkin tak tahu sejarah penting kapal yang sedang mereka tumpangi. Namun mereka sadar penuh akan sejarah baru yang akan ditorehkan sejak hari itu.

“Ayo gosok terus! Pindahkan kursinya ke sini….”

Mata yang berkedip setengah watt dengan tubuh luar biasa lelah tak sanggup membendung semangat yang naik ke ubun-ubun. Bagaimana tidak, surat ijin berlayar yang setengah mati diperjuangkan, akhirnya keluar pukul satu subuh. Salah seorang anggota DoctorSHARE yang bertugas mengurus surat tersebut sempat menangis karena amat khawatir surat ijin berlayar tidak keluar.

Surat Ijin Berlayar sudah di tangan, kini saatnya mulai mencatat abjad awal di buku sejarah.

Dengan cekatan, anak-anak muda DoctorSHARE yang baru saja pulang jaga malam (di klinik atau rumah sakit), kuliah, ataupun pekerjaan kantor, segera menyingsingkan lengan. Mereka susuri setiap sudut kapal berukuran 23,5 x 6,5 meter tersebut, memindahkan barang, menyapu, dan mengepel.

Bau karbol menyeruak. Segera setelah rangkaian kegiatan menyapu dan mengepel selesai dilakukan, barang-barang mulai dipindahkan, memastikan persiapan akhir selesai dengan baik. Keringat bercucuran. Dua jam lagi, mereka harus berkemas untuk menyambut para tamu yang akan menghadiri pelayaran perdana kapal tersebut: Rumah Sakit Apung (Floating Hospital) DoctorSHARE.

Lima jam kemudian, kapal berjuluk “Si Bahenol” ini resmi berlayar dengan tenangnya, menampung sejumlah tamu dan wartawan yang menjadi saksi sejarah pelayanan medis Rumah Sakit Apung Swasta pertama di Indonesia dan sejauh ini menjadi Rumah Sakit Apung terkecil di dunia.

Ya, “Si Bahenol”memang tak mewah. Ia adalah pinisi sederhana. Namun di balik kesederhanaan itulah kobaran semangat yang tak tertahankan meluap.

“Si Bahenol” adalah buah dari mimpi besar sang pendiri, dr. Lie A, Dharmawan beserta seluruh anggota DoctorSHARE yang tak tahan melihat penderitaan warga Indonesia di daerah terpencil yang harus menahan sakit tanpa harapan. “Si Bahenol” adalah wujud rasa gemas DoctorSHARE melihat negara kepulauan bernama Indonesia, tanpa satupun kemunculan Rumah Sakit Apung swasta.

Apakah prosesnya mudah? Tentu tidak! Perjuangan dan pergelutan selama empat tahun sejak ide muncul hingga realisasi butuh iman, kerja keras, dan konsistensi menerjang badai.

Rumah Sakit Apung bukanlah ide mainstream. Gabungan antara cercaan, konflik internal, biaya tinggi, rumitnya birokrasi, kandasnya kapal secara berulang, ketidaktahuan (sama sekali) soal kapal, dan minimnya pengalaman seharusnya sudah cukup membuat DoctorSHARE berhenti melanjutkan “ide gila” tersebut, apalagi usia DoctorSHARE yang masih belum genap tiga tahun.

Tapi “ide gila” ini tetap dilanjutkan, dengan mental yang makin ditempa. Tak heran  saat “Si Bahenol” akhirnya melenggok indah di perairan Kepulauan Seribu, beberapa anggota DoctorSHARE yang berdiri dari atas dek menangis terharu. Butuh 4,5 jam bagi “Si Bahenol” untuk sampai ke Pulau Panggang, Kep. Seribu – daerah tujuan pelayanan medis pertama Floating Hospital DoctorSHARE.

Tanpa Event Organizer, relawan dan para dokter sibuk memberi pengobatan umum, bedah minor, bedah mayor, apotik dan melayani tamu. Sebagian mengatur alur pasien, konsumsi, dan saya sendiri bertugas mendampingi wartawan, sesuatu yang belum pernah  saya lakukan sebelumnya. Saya tak menyangka tingginya antusiasme media nasional untuk mau hadir meliput seharian.

Jenis kegiatan yang dilakukan di dalam kapal adalah bedah mayor. Beberapa tamu dan rekan wartawan mengatakan dirinya mengira bahwa seluruh pelayanan medis akan dilakukan di dalam kapal. Dalam hal ini, saya tahu persis DoctorSHARE tidak mencoba bombastis.

Nyatanya, Rumah Sakit Apung “Si Bahenol” tergolong berukuran mini sehingga jika di suatu daerah masih ada tempat memadai, demi kenyamanan bersama maka pengobatan umum dan bedah minor lebih baik dilakukan di tempat tersebut. Lain halnya ketika ke depan DoctorSHARE menghampiri lokasi yang amat terpencil. Bedah mayor tetap akan dilakukan di dalam badan kapal.

Yang perlu dicatat, pelayanan medis Rumah Sakit Apung DoctorSHARE ini merupakan pelengkap dari pelayanan medis yang dilakukan pemerintah, bukan alat untuk membuktikan “bobroknya” layanan medis di daerah terpencil. Oleh karenanya, kerjasama dengan pemerintah daerah dan dinas kesehatan setempat merupakan hal mutlak yang perlu dibangun. Sinergi adalah kunci keberhasilan.

Pemerintah perlu memberikan data kesehatan yang update dan dapat dipercaya serta sesegera mungkin menggodok regulasi mengenai Rumah Sakit Apung untuk menghindari kebingungan birokrasi di lapangan. DoctorSHARE pun menyambut baik kerjasama dengan Pemda DKI Jakarta yang memberi lahan parkir bagi “Si Bahenol” di Kali Adem, Muara Angke.

Tujuan DoctorSHARE selalu selaras dengan tujuan pemerintah yaitu mewujudkan Indonesia yang sehat dengan memperluas akses kesehatan serta tujuan global mencapai Target Pembangunan Milenium pada 2015. Dengan kata lain, Rumah Sakit Apung DoctorSHARE bukanlah proyek “sebuah LSM dari Jakarta bernama DoctorSHARE” melainkan bentuk pelayanan seluruh Warga Indonesia.

Keberhasilan triologi perdana pelayanan medis dengan Rumah Sakit Apung DoctorSHARE di Pulau Panggang – Kepulauan Seribu, Gantung – Belitung Timur, dan Ketapang – Kalimantan Barat bukanlah tujuan akhir DoctorSHARE. Triologi ini hanyalah langkah awal untuk karya-karya selanjutnya.

Rumah Sakit Apung DoctorSHARE baru dapat dikatakan mencapai tujuannya jika warga di kawasan terpencil terlayani dengan baik dan berhasil menginspirasi lahirnya banyak Rumah Sakit Apung lainnya yang melayani warga membutuhkan tanpa pamrih atau tanpa motif tertentu. Ke depan, bukan tak mungkin karya “Si Bahenol” melintasi tujuh samudera seperti pinisi para pendahulunya.

Menengok ke belakang, saya sendiri baru sadar bahwa Rumah Sakit Apung DoctorSHARE lebih mengarah pada perjuangan iman dan mental. Fisik dan materi memang terkuras habis namun tanpa campur tangan Tuhan dan mental yang kokoh, terjangan badai sudah sejak lama menghancurkan mimpi besar lahirnya Rumah Sakit Apung dan mimpi tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan.

Seperti kebanyakan organisasi sosial, memang tidak dapat ditampik bahwa materi menjadi persoalan tersendiri yang selalu muncul. Sedikitnya butuh lebih dari Rp 3 miliar untuk menghadirkan kapal tersebut dari Palembang, belum termasuk biaya renovasi, perijinan, pakir, dan seterusnya. Meski demikian, isu ini tidak menjadi penghambat berkarya bagi sesama. Jalan terus.

Semangat ini nampaknya diturunkan dari sang pendiri DoctorSHARE, dr. Lie A. Dharmawan yang selalu berulang kali berkata: “tidak ada yang tidak mungkin!” Ya, Rumah Sakit Apung DoctorSHARE adalah bukti nyata bahwa memang tidak ada yang tidak mungkin. Sekalipun masih tertatih-tatih, “Si Bahenol” dapat berlayar anggun dan memberi manfaat bagi warga yang butuh layanan medis.

Butuh keberanian besar untuk mewujudkan mimpi “gila” yang jadi kenyataan ini. Perlahan tapi pasti, SOP dan manajemen terus dibenahi sesuai kondisi lapangan sehingga mencapai hasil maksimal. Semangat belajar melayani dengan hati tanpa pamrih adalah hal terpenting.

Di tengah maraknya pemberitaan negatif mengenai profesi dokter di media belakangan ini, DoctorSHARE berharap dapat menjadi oase menyejukkan yang menunjukkan bahwa masih ada para dokter dan generasi muda yang secara tulus masih perduli, bahkan dengan inovasi yang kreatif meski sangat minim pengalaman. Modalnya adalah kemauan belajar dan terus melayani.

Dalam tubuh DoctorSHARE, Anda akan mudah menemukan para dokter yang dengan senang hati menyapu dan mengepel, mengangkat-angkat dus obat dan kontainer peralatan medis yang berat, atau dengan canda tawa menghibur para warga yang tengah berobat tanpa secuilpun pamrih.

Lewat Rumah Sakit Apung DoctorSHARE, dr. Lie mengajarkan kami semua anak-anaknya bahwa hidup adalah bukan untuk diri sendiri. Hidup adalah tentang berbagi, terutama bagi sesama yang membutuhkan.

* * *

Advertisements

3 thoughts on “Rumah Sakit Apung DoctorSHARE: Sebuah Catatan Pribadi

  1. saya sangat tertarik dgn ide pembuatan kapal ini, ada keinginan untuk membuat satu kapal model ini dipapua, dimana saya bisa ketemu dan berkonsultasi dgn Bapak pembuat ide rumah sakit apung ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s