Rumah Sakit Apung DoctorSHARE: Sebuah Catatan Pribadi (Bag. 2)

Anak berusia tujuh tahun itu sama sekali tak menunjukkan wajah ketakutan saat melangkah ke ruang operasi RSUD Agoesdjam, Ketapang – Provinsi Kalimantan Barat. Ketika diperintahkan, dengan sigap ia angkat lengan kirinya. Nampak benjolan sebesar bola pingpong persis di ketiak. Ia pun menurut saja saat harus melepas pakaiannya dan tidur di ranjang operasi.

Menurut sang ayah – Jaenadin, benjolan tersebut mulai muncul sekitar sebulan lalu. Penyebabnya wallahu alam. Usut punya usut, benjolan tersebut adalah scrofuloderma alias TBC kelenjar yang cirinya terlihat dari isi benjolan berwarna kekuningan serupa keju.

Operasi selesai setengah jam kemudian dengan sukses. Sesaat setelah menghampiri anaknya, sang ibu menangis tanpa suara sementara sang ayah diam seribu bahasa. Tak terlalu jelas apa arti tangisan tersebut: sedih melihat sang anak masih lemas pasca operasi atau terharu karena akhirnya ia dapat dioperasi. Apapun alasannya, operasi ini bukan kasus biasa.

Bukan karena penyakitnya sukar diobati tetapi bagaimana perjalanan yang harus mereka tempuh demi menghampiri doctorSHARE yang tengah memberi layanan bedah mayor cuma-cuma di Rumah Sakit Apung. Saat itu, Rumah Sakit Apung berjuluk “Si Bahenol” ini tengah sandar di Pelabuhan Ketapang.

11,5 jam adalah total waktu yang mereka butuhkan dengan mengendarai sepeda motor dari kawasan Jambi di Kalimantan Tengah ke Ketapang, Kalimantan Barat. “Berangkat pukul tujuh pagi dan sampai setengah enam sore,” papar Jaenadin.

Baru menghampiri “Si Bahenol” pukul tujuh malam, operasi pasien terakhir ini terpaksa ditunda. Air pasang hampir mencapai puncaknya. Bahenol harus bergegas meninggalkan pelabuhan. Jika tidak, ia akan kandas. Operasi akhirnya sepakat dilakukan keesokan harinya di RSUD Agoesdjam, Ketapang.

Operasi ini menjadi pamungkas rangkaian trilogi pelayanan medis Rumah Sakit Apung doctorSHARE yang sebelumnya sudah berlayar anggun ke Kepulauan Seribu dan Belitung Timur. Rasa haru menyelimuti tim. Siapa sangka? Beberapa tahun sebelumnya, “Si Bahenol” berkali-kali kandas dan sukses menuai cemooh. Kini ini bangkit dan mampu tunjukkan taringnya.

Taring “Si Bahenol” bekerja sinergis dengan semangat tim doctorSHARE mengumpulkan energi di tengah ketidaktahuan sedikit pun soal dunia perkapalan. Lagu lawas memang mengatakan bahwa nenek moyang Indonesia adalah pelaut tapi toh laut masih belum jadi sarana utama menjangkau masyarakat pedalaman yang butuh layanan kesehatan. Benar-benar blank.

doctorSHARE yang sebagian besar anggotanya anak muda, masih hijau soal kapal. Pengalaman nol dengan mimpi setinggi langit sudah cukup mendulang banyak cibiran. Beberapa kepala menggeleng saat doctorSHARE dengan Rumah Sakit Apungnya ternyata dapat menghampiri Kepulauan Seribu. Gelengan lebih kuat lagi ketika Belitung Timur dan Kalimantan Barat pun berhasil disambangi.

Kerja keras, semangat rela berkorban, dan mempelajari hal-hal baru jadi satu-satunya andalan. Tak ada waktu merasa minder karena tak punya pengalaman.

Hasil akhirnya membuat kami sendiri tak percaya: sukses jalankan trilogi pelayanan medis RS Apung ke tiga wilayah beda pulau dalam kurun waktu satu bulan. Pelayanan medis di Kepulauan Seribu berlangsung 16-17 Maret, Belitung Timur 2-4 April, dan Kalimantan Barat 12-14 April 2013.

Dalam hitung-hitungan kalkulator, total warga yang mendapat pelayanan medis dalam trilogi Kepulauan Seribu, Belitung Timur, dan Kalimantan Barat tersebut adalah 34 orang untuk bedah minor, 18 orang untuk bedah mayor dengan beberapa kasus yang tak mudah ditangani rumah sakit biasa, dan lebih dari 693 orang untuk pengobatan umum.

Nekat? Tidak, walau banyak yang mengatakan demikian.
Kerja Keras? Jelas.

Pemilihan lokasi selalu dilakukan berdasarkan analisis perairan di wilayah setempat, jarak dengan bandara dan Puskesmas, kondisi ekonomi-kesehatan penduduk, serta kerjasama dengan pemerintah daerah setempat.

Meski sebagian besar anggota tak fulltime di organisasi, semangat selalu fulltime. Waktu istirahat sesudah jaga malam di klinik atau rumah sakit, mereka relakan untuk menghadiri rapat, menggarap rencana bersama, membeli logistik, melakukan survei awal ke lapangan, dan sebagainya.

Selain perkara medis, anggota doctorSHARE (termasuk dokter) pun belajar dengan cepat mengurus masalah surat-menyurat, humas, follow up Pemda dan Dinas Kesehatan wilayah tujuan, mengurus tiket, mendesain, fotografi, hingga mengangkat barang, menyapu, dan mengepel kapal.

Pendek kata, seluruh anggota doctorSHARE adalah Event Organizer penggerak trilogi RS Apung yang berlangsung dalam waktu sangat singkat. Kendala tentu bejibun mulai dari pengetahuan nol soal kapal dan perairan wilayah setempat, minimnya dana operasional, hingga ancaman kandas.

Namun kendala tersebut seolah tak pernah menyurutkan langkah untuk singsingkan lengan.

Melayani sesama yang membutuhkan adalah sebuah kehormatan, tak tergantikan oleh minimnya jam tidur atau tetesan peluh. Penilaian sukses adalah urusan kedua, bergantung pada bagaimana masyarakat luas menilainya. Yang jelas, seluruh tim doctorSHARE yang berangkat dari pengalaman nol – sudah memberi yang terbaik dari dirinya masing-masing.

Pelayanan medis bersejarah ini sekaligus membuktikan bahwa pengalaman minim tak mampu membendung mimpi besar. Pasti ada jalan agar mimpi tersebut jadi kenyataan.

Sebagai pemula, tak dapat dipungkiri bahwa kelemahan masih terjadi di segala sisi. Evaluasi pun selalu dilakukan demi perbaikan di masa mendatang. Jika trilogi soft opening (uji coba) ini dikatakan sukses, keberhasilan ini bukan hanya milik doctorSHARE tapi juga seluruh rakyat Indonesia.

Pada prinsipnya, doctorSHARE tidak menilai keberhasilan dari jumlah warga yang berhasil diobati namun dari banyaknya warga lain yang terinspirasi dan akhirnya melahirkan Rumah Sakit Apung lainnya. Kehadiran Rumah Sakit Apung jelas dibutuhkan negara kepulauan raksasa macam Indonesia.

Kunci lain agar pelayanan seperti Rumah Sakit Apung dapat mencapai sasaran yang efektif adalah kerjasama dengan Pemerintah Daerah, Rumah Sakit, Puskesmas, dan Dinas Kesehatan setempat. Keterbukaan sejak awal sudah sangat membantu masyarakat mendapat layanan medis dengan baik.

Bagaimanapun, fungsi doctorSHARE adalah mendukung peran pemerintah menyediakan layanan medis yang memadai bagi warganya. Tugas berat tersebut tak dapat dikerjakan sendiri.

Di sisi lain, doctorSHARE juga bukan “dewa” yang mengetahui detail kondisi wilayah perairan dan persoalan kesehatan di setiap kawasan terpencil tanah air. Kolaborasi adalah hal yang mutlak diperlukan demi Indonesia sehat. Kesehatan adalah kunci berjalannya aktivitas umat manusia.

Melihat seorang saja warga pulang dengan harapan lebih baik untuk sehat, sudah cukup memadamkan rasa letih dan tegang akibat reli maraton trilogi pelayanan medis. Sebuah pengalaman yang tak akan pernah terlupakan bagi seluruh anggota doctorSHARE, seumur hidup mereka.

Antusiasme media untuk meliput karena melihat sisi unik konsep Rumah Sakit Apung swasta pertama di Indonesia hanyalah bonus, bukan tujuan utama. Ekspos ini bahkan menjadi beban tersendiri. doctorSHARE seolah dituntut konsisten dengan pelayanan medis Rumah Sakit Apungnya.

Pengalaman melayani bersama “Si Bahenol” mendorong seluruh anggota doctorSHARE agar selalu melayani sesama yang membutuhkan, kapanpun dan dimanapun. Semangat ini tidak timbul karena propaganda melainkan dari sentuhan langsung dengan masyarakat. Bahagia rasanya mendapat kesempatan melayani saudara yang membutuhkan karena hidup adalah tentang memberi.

Kini “Si Bahenol” tengah sandar di singgasananya untuk menjalani pemeriksaan, perbaikan, dan perawatan sesudah perjalanan panjang pertamanya menjelajahi nusantara. Pada saat bersamaan, anggota doctorSHARE terus menyusun rencana selanjutnya di sela rutinitas pekerjaan masing-masing. Trilogi Kep. Seribu-Beltim-Kalbar baru titik awal menuju perjalanan panjang berikutnya.

Ingatan saya pun melayang pada ucapan malu-malu Jaenadin, diiringi tangis tanpa suara isterinya.

 “Terima kasih doctorSHARE. Saya bahagia anak saya bisa sembuh. Teruslah mengobati…”

Jaenadin tak menyelesaikan kalimatnya. Ia hanya sekali melakukan kontak mata lalu terpekur menatap ubin Rumah Sakit berwarna putih. Setelahnya, ia lemparkan pandangan penuh kasih pada anaknya yang baru saja digiring keluar dari ruang bedah menuju kamar perawatan.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s