Di Lorong Itu

Lorong ini sudah sunyi. Tomtom melirik jam dinding yang terus berdetak seirama jantungnya. Ia mendongak sebelum akhirnya menyesal dan berteriak tertahan. Sakit sekali rasanya, walau hanya sedikit menggerakan otot leher dan tulang punggung. Kaus singletnya telah melekat dengan kulit bercampur darah. Perlahan, ia coba mendongak ringan dengan sedikit tenaga yang tersisa.

Pukul tiga subuh.

Tomtom tak tahu lagi berapa sisa waktunya. Sejak kecil, Tomtom belajar bahwa hanya Tuhan yang tahu jangka waktu seseorang hidup di dunia ini. Tapi untuk saat-saat seperti ini, Tomtom seolah dapat menebak pikiran Tuhan. Waktunya tak lama lagi. Benar kan, Tuhan?

Sejak enam jam lalu, ketika sadar dirinya berada di ruang ini, ia telah melihat banyak malaikat maut membayang, siap menjemput mereka yang “sudah waktunya.” Mulanya, ia lihat seorang anak kecil. Mulutnya berdarah, kakinya sobek hingga menonjolkan bonggol tulangnya, nafasnya satu-satu, tak perlu ditanya bagaimana darah terus menetes di sepanjang lorong.

Ia masih hidup.

Dibopong pria bertopi caping, anak itu hanya mampir sebentar di lorong ini, jadi tontonan sekilas isi lorong. Lima menit kemudian, ayahnya datang sambil berteriak-teriak kacau. Sang bunda menangis sejadi-jadinya sambil berdoa komat-kamit. Para dokter langsung ambil alih.

LANGSUNG.

Tomtom tak tahu adegan selanjutnya. Yang jelas, ia dapati dirinya terkejut melihat sesosok malaikat maut mengikutnya. Wajahnya datar, wujudnya samar seperti ubur-ubur. Malaikat maut – sepertinya demikian, walau ia tak tahu pasti. Setengah jam kemudian, ia lihat orang tua si anak menangis sejadi-jadinya di kamar duka yang bersebelahan persis dengan lorong.

Belum selesai penghuni lorong berbisik bahwa anak itu mungkin tersambar metromini yang sedang melaju kencang, terlihat kesibukan para tenaga medis mengusung sebuah tandu. Di atas tandu, seorang gadis mengerang kesakitan yang amat dalam. Tak ada darah di sekujur tubuhnya. Tapi sebelah tangannya melengkung aneh. Erangan kesakitan lantas berubah jadi teriakan.

Setengah sadar, anak gadis itu meracau di sepanjang lorong bahwa ia tak mau lagi bermain ice skating. Tomtom berusaha menerka kaitan antara ice skating dengan lengannya yang patah sempurna. Jawabannya baru ia ketahui saat gerombolan berkostum merah berlarian masuk.

Salah seorang di antaranya terus meminta maaf pada si gadis. Ia tak sengaja salah bersalto dan ujung sepatu setajam pisaunya langsung menghantam si gadis. Si gadis tak dengar. Ia masih berkonstrasi pada rasa sakitnya. Tak ada yang berkuasa menenangkan, kecuali sebatang jarum berisi obat penenang. Begitu tak bersuara, tandunya langsung didorong keluar lorong menuju kamar operasi.

LANGSUNG.

Tomtom jengah. Sudah berjam-jam ia berharap seorang saja dokter mau menghampirinya. Ia tahu pasti, sudah puluhan dokter mondar-mandir di lorong ini. Tapi ia harus berpikir positif. Mungkin mereka kelewat sibuk memprioritaskan pasien yang lebih gawat darinya. Mungkin.

Lorong ini terlalu pengap bercampur bau amis yang menyerang tajam indra penciumannya. Kini, ia sudah puluhan kali melihat “film pendek” gratis yang sayangnya punya akhir kisah menggantung.

Kali berikutnya, Tomtom melihat balita yang akhirnya meninggal di lorong ini setelah tak sengaja menelan gundu. Lalu ada gadis kecil yang dagunya harus dijahit karena terpeleset, seorang tua yang sekarat karena stroke, pengendara motor yang akhirnya dijemput malaikat maut setelah nekat menyalip dan tergilas truk. Kebanyakan hanya “transit” sebentar di lorong tersebut.

Semua LANGSUNG ditangani.

Selain dirinya, satu-satunya pesakitan yang tak LANGSUNG ditangani adalah sesosok renta. Tomtom mendengar kasak-kusuk perawat bahwa sosok tersebut adalah pengemis tua yang kelaparan dan temui ajal di pinggir jalan. Tak kurang sepuluh menit kemudian, malaikat maut membopong pria tersebut ke seberang lorong yang terang, menuju keabadian.

Tomtom terpaku. Ia coba pejamkan mata dan miringkan tubuhnya dengan hati-hati di kasur yang lumayan keras ini agar tak perlu lagi melihat adegan demi adegan yang terus berputar. Tak semudah itu. Ia merasa sesosok malaikat maut sedari tadi menatapnya. Sungguh semangat sekali ia bersiap menjemputnya ke lorong kasat mata tersebut!

Tomtom coba angkat selimut untuk tutupi wajahnya. Sedikit berhasil. Paling tidak, ada waktu untuk menikmati saat-saat terakhirnya di dunia ini. Dengan sedikit tenaga tersisa, ia rogoh dompet di sakunya. Bagian dalamnya yang terbuat dari plastik sudah robek, menyembulkan sebuah foto yang warnanya sudah lusuh karena terlalu sering ia genggam.

Teriakannya sendiri sudah habis sejak tiga jam lalu, ketika darah yang menetes tanpa henti di kedua belah kakinya hanya dibebat kain kassa tebal oleh perawat yang memandangnya penuh jijik dengan sarung berlapis-lapis, seolah ia makhluk kotor.

Dina, Dina, Dina

Perlu waktu setengah menit baginya untuk meremas dan kemudian merobek foto tersebut. Nafasnya tertahan. Memandangnya berulang-ulang hanya menyiksa batinnya lebih dalam. Air mata Tomtom mulai berlinang deras, tanpa ia sadari. Ia tahu, tak mungkin Dina memaafkannya. Inilah kesalahan terbesarnya dalam hidup.

Ampuni aku, Tuhan. Aku janji, aku tak akan lagi melirik atau bahkan mendekati wanita manapun.

Sepuluh jam silam…

Tomtom mengatakan sebuah rahasia yang ia pendam selama ini, rahasia yang jadi alasan kuatnya meninggalkan Dina. Ada sebersit keraguan saat Dina datang dengan sosoknya yang anggun tanpa curiga. Rambut panjangnya terurai menutupi sedikit wajahnya yang tanpa polesan bedak maupun gincu. Cantik alamiah, begitu Tomtom berulang kali memujinya. Ia suka kepolosan Dina.

Tomtom sudah bulatkan tekad. Ia tak kuasa jika harus biarkan wanita yang sangat ia cintai harus menanggung akibatnya. Tomtom akan menyesal hingga ke liang kubur. Tak hanya itu, keturunannya sudah pasti akan ikut menanggungnya. Sudah cukup ia yang jadi korban. Dina tak perlu ikut-ikutan. Ia terlalu mencintainya dan untuk itu, ia harus segera meninggalkannya.

Segera setelah Tomtom memberitahukannya, Dina menangis. Dina bersikeras tak ingin meninggalkannya. Ia ingin setia sehidup semati, apapun resikonya. Tentu saja Tomtom keberatan. Satu-satunya cara, ia harus lari menjauhi Dina. Malam itu, setelah mengucapkan selamat tinggal untuk kali terakhirnya, Tomtom berbalik dan mulai berlari diiringi cucuran air mata.

Sesaat, Tomtom menyesali keputusannya dan menggigit bibir bawahnya sampai pecah.

Tidak! Ia memang tak boleh lagi mendekatinyaWanita itu tidak boleh sampai tercemar, Tomtom! Kau akan menyesalinya seumur hidup jika karenamu hidupnya hancur!

Tomtom tak ingin dilahirkan seperti ini, tapi ia pun tak ingin mati karena hidup terlalu berharga. Dualisme ini korsleting. Hal terakhir yang Tomtom lihat, seberkas kilat menerjang. Selanjutnya, ia tak ingat apa-apa. Yang tersisa hanya ceceran darah dan rasa sakit mendalam–fisik maupun batin–diiringi tatapan tak berkedip sesosok di lorong ini. Seseorang membawanya ke lorong sialan ini.

Bagaimanapun, ia tak boleh mati!

Tapi tubuhnya tak sekuat keinginannya untuk terus hidup. Satu jam lagi, entah malaikat maut masih terus menunggu di lorong atau tak sabar menggiringnya keluar. Darah yang mengalir dari kaki masih terus menetes sementara cedera perut tak tertahankan sakitnya. Tomtom kini tak punya sisa tenaga untuk mengerang. Lampu yang sudah menguning berselimut debu tebal di langit-langit memudar.

Samar-samar ia mendengar lirik klasik yang terus berulang: “Sebentar Pak, kami sedang cari dokter!”

Apa artinya sebentar? Ratusan “sebentar” diempaskan ke udara, tak ada yang berubah. Perawat memandang dengan wajah iba namun tak bisa melakukan apa-apa. Kebanyakan bahkan menjauh dengan pandangan jijik setelah membaca catatan medisnya. Sekarat itu rasanya tidak enak. Kini ia tahu mengapa pesakitan di lorong ini kebanyakan lebih memilih dijemput malaikat maut.

Ia muak dengan aroma kematian yang begitu pekat. Tapi ia lebih muak dengan kesendiriannya, tanpa Dina. Ia muak dengan keheningan yang menyusup di keramaian aktivitas tenaga medis yang mondar-mandir memberi pertolongan pertama. Ia sungguh muak dengan lorong ini walau agak sungkan mengatakan kalau ia pun muak dengan kehidupan ini.

Tomtom membuka selimut. Malaikat maut masih menatapnya. Tomtom menarik nafas.

Mengapa kau diam saja di situ, hah???

Aku tak akan mengelak lagi. Apa bedanya, bukankah hidupku juga memang tak akan lama?

Tak ada ruginya buatku, malah mempercepat perjumpaanku dengan ayah dan bunda.

Hening.

Mengapa sekarang kau diam? Mengapa mendadak jadi penakut?

Ayo! Kau sudah menungguku sejak tadi, kan???

Tomtom memejamkan matanya.

Dina, maafkan aku. Aku tak bermaksud melukaimuTuhan saksiku, bahwa aku terus berjuang hidup. Kau tahu pasti, ini bukan salahku.

Tak ada gerakan, hanya terdengar embusan nafasnya sendiri. Tomtom membuka matanya, masih melihat lorong yang sama. Namun kini ia lihat sang malaikat maut tersenyum dan melintasinya. Entah mengapa ia malah pergi. Kepergiannya bertepatan dengan kedatangan tiba-tiba seorang pria paruh baya berjubah hijau. Kedua bola matanya silau oleh lampu senter mini yang ia arahkan.

Tomtom pun tahu bahwa ia tahu bahwa ia tahu bahwa ia tahu bahwa tahu bahwa ia tahu bahwa api harapan yang sepersekian detik lalu memuai, kini terpercik kembali.

“Ini pasiennya, suster? Mengapa tak bergegas, ia hampir mati!”

“Dokter yakin mau yang satu ini?”

“Mengapa tidak? Penderita HIV/AIDS juga manusia. Ia sudah terlalu lama menunggu di lorong Unit Gawat Darurat ini. Cepat bawa dia ke ruang operasi!”

Terinspirasi dari kisah hidup Dr. Lie A. Dharmawan, kepala bedah RS Husada anti diskriminasi yang selalu bersedia melaksanakan tindakan operasi meski pasien menderita HIV/AIDS.

Sylvie Tanaga
Selasa, 11 Desember 2012 pk 13.20 WIB
Kemayoran – Jakarta Pusat


Cerpen ini terpilih sebagai pemenang dalam Lomba “Percikan Api” BOM CERPEN
http://bomcerpen.com/
http://bomcerpen.com/2013/02/28/percikan-api-di-lorong-itu-sylvie-tanaga/

Advertisements

One thought on “Di Lorong Itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s