BOOK REVIEW – Tahrir Square: Jantung Revolusi Mesir

Setelah melihat dan merasakan apa yang terjadi di Mesir, terutama Kairo selama tiga minggu, saya sampai pada kesimpulan mungkin rakyat negeri itu terjebak…

Trias Kuncahyono

Judul               :   Tahrir Square: Jantung Revolusi Mesir
Penulis           :   Trias Kuncahyono
Penerbit        :   Kompas
Cetakan         :   I, Juli 2013
Tebal Buku   :   xxv + 365 halaman
Harga             :   Rp 69.000,-

Tidak salah jika menyebut apa yang terjadi di Mesir belakangan ini sebagai salah satu isu kontemporer global yang paling memicu perdebatan. Tepat seperti yang dikatakan Trias Kuncahyono, segala sesuatunya bermula dari Alun-alun Tahrir. Alun-alun ini menjadi saksi berlangsungnya revolusi demi revolusi di Mesir, negara yang dipandang sebagai pusat graviti dunia Arab.

Dengan kepiawaian bertuturnya yang sudah sangat khas, Trias Kuncayono menempatkan Alun-alun Tahrir (yang bahkan ditulis Trias memiliki daya magis) sebagai titik awal kendaraannya membawa kita pada penelusuran sejarah Mesir, termasuk gejolak-gejolak yang terjadi selama prosesnya.

Revolusi 1952, pembunuhan fenomenal Anwar Sadat, revolusi 2011 mengakhiri 30 tahun kekuasaan Hosni Mubarak, hingga yang terakhir – revolusi 2012 yang melengserkan Mohammad Mursi yang baru menjabat setahun sebagai presiden, tidak terlepas dari profil alun-alun yang satu ini.

Bersama Musthafa Abd Rahman, Kadarisman, dan beberapa narasumber, Trias memaparkan petualangannya di Mesir dan secara santai menyajikan dialog demi dialog hidup. Trias bahkan tidak ragu menuliskan apa saja yang tidak ia ketahui, temuan menarik yang memancing rasa penasarannya, hingga pandangan dan perasaan pribadinya. Trias menulis menggunakan lima panca inderanya.

Tak heran jika buku ini menggunakan judul-judul romansa: Dari Sini Semua Bermula, Terang Bulan di Alun-alun Tahrir, Bermula dari Gerakan “Kifaya”, Suatu Malam di Tepi Sungai Nil, Burung-burung dari Utara, Costa Coffee Tak Jauh dari Istana, Opsir-opsir berdiri di Mana, Suatu Senja di Montaza, Mau Ke Mana Kaki Melangkah, Bulan Sabit di Atas Kairo, dan Tragedi di Awal Juli.

Di balik judul yang penuh romansa tersebut, Trias menyampaikan pesan dan informasinya dengan jelas sekaligus menawan. Sebagai contoh, ia membuka bab Dari Sini Semua Bermula dengan pidato presiden pertama Mesir, Mohammad Naguib di Alun-alun Tahrir pada tahun 1952. Pidato ini menjadi pembuka babak baru Mesir di era demokrasi – dengan perjalanan panjang berikutnya.

Pembuka yang langsung menggambarkan nilai maha penting dari alun-alun Tahrir yang menjadi simbol perlawanan ini berlanjut pada dialog tokoh utama dalam buku ini, yaitu Trias Kuncahyono sendiri. Menggunakan sudut pandang dan kekayaan pengetahuan referensinya sebagai pisau analisis, kita melihat bagaimana Trias membedah peristiwa demi peristiwa yang berlangsung di Mesir.

Sambil membawa kita bertualang melalui dialog, penggambaran visual, dan perasaannya dalam kunjungan tiga minggunya, Trias menceritakan sejarah Tahrir yang menjadi episentrum perlawanan terhadap rezim yang berkuasa, lahirnya Kifaya atau gerakan penyadaran berpolitik rakyat, dan gerakan demokratisasi, dan situasi politik Mesir sejak era Gamal Abdul Nasser.

Pada bagian-bagian berikutnya, Trias bertutur soal kondisi di Mesir Pasca Revolusi 2011 yang seperti anak ayam kehilangan induknya. Sekali lagi, Trias tidak tergesa-gesa menekan pandangan pribadi atau hasil risetnya. Dengan santai ia banyak mengajak kita melihat tajuk-tajuk berita harian dan mendengar langsung bagaimana pendapat warga lokal mengenai situasi yang berkembang.

Sejenak Trias pun membiarkan kita mengimajinasikan kawasan-kawasan yang ia kunjungi mulai dari alun-alun Tahrir (dengan bangunan-bangunan penting yang mengelilinginya), Costa Coffee tempatnya nongkrong, tepi Sungai Nil, Taman Montaza di Aleksandria, hingga hotelnya sendiri. Lewat tuturan Trias, kita bahkan dapat membayangkan wajah dan karakter warga lokal yang ia ajak berbicara.

Secara estetika kalimat, dialog (terutama antara Trias dengan Musthafa) memang masih agak kaku karena terlalu banyak menggunakan kata-kata berulang seperti Pak, Mas. Di akhir dialog, Trias juga mengulang: ………..,” kata Musthafa, jelas Musthafa, jawab Musthafa. Namun ini tak menganggu alur informasi yang ingin ia sampaikan. Suasana lokal masih tertangkap jelas melalui dialog tersebut.

Trias kembali membangun suspense yang menarik dalam bab Suatu Senja di Taman Montaza. Kepiawaiannya menulis membuat kita dapat membayangkan bagaimana terjadinya “pembunuhan” terhadap Khaled Mohamad Said, entrepreneur muda Aleksandria oleh dua polisi pada 6 Juni 2010, kasus yang memercikkan api revolusi melawan “tirani” kekuasaan Mobarak yang terlalu mengakar.

Pada bagian-bagian terakhir dari buku ini, kita dapat melihat lukisan kondisi Mesir yang galau pada awal-awal pemerintahan Mursi. Puncaknya terjadi saat Mursi tiba-tiba mengeluarkan Dekrit Presiden yang memberikan kekuasaan maha besar padanya di bidang eksekutif, legislatif, dan yudikatif sampai diselenggarakannya referendum. Hiruk pikuk politik meletus. Demonstrasi terjadi saban hari.

Bulan Sabit di Atas Kairo adalah bagian yang paling gamblang memperlihatkan interaksi Trias dengan tentara dan warga Mesir. Fokusnya adalah bagaimana referendum ternyata berlangsung damai dan lancar. Di sisi lain, tersisa sebuah tanda tanya besar yaitu apakah hasil referendum ini merangkul keragaman yang hasilnya dapat diterima berbagai pihak?

Trias menutup bab pamungkas bukunya dengan sebuah klimaks, yaitu kehebohan yang akhirnya tak lagi meletus melainkan meledak. Manuver politik tidak dapat ditebak. 3 Juli 2013, presiden Mursi yang terpilig lewat pemilu demokratik pertama dalam sejarah negeri itu disingkirkan gerakan rakyat yang didukung militer. Mesir betul-betul panas yang tak kunjung mereda hingga detik ini.

Tanda tanya besar masih menggantung tentang bagaimana masa depan Mesir namun jelas bahwa tujuan buku ini bukan untuk menjawab pertanyaan tersebut. Buku ini juga tidak menggiring pembaca pada sebuah pemikiran tertentu. Penjabaran demi penjabaran lintas kepentingan membuat Trias berhasil menyajikan sebuah big picture tentang apa yang terjadi di Mesir dan Alun-alun Tahrirnya.

Mengutip pernyataan pemerhati bidang politik ekonomi internasional Universitas Paramadina, Dinna Wisnu, buku ini memang membantu kita belajar cepat tentang Mesir, termasuk latar belakang revolusi yang menjatuhkan Presiden Mohammad Mursi dengan bahasa ringan namun kaya wawasan.

Pada saat bersamaan, saya sangat sepakat dengan kalimat endorsement buku ini yang ditulis novelis dan editor Kebudayaan Kompas, Putu Fajar Arcana. Melalui buku ini, Trias memang berhasil memadukan ilmu pengetahuan, jurnalistik, dan sastra. Sebuah bacaan yang sangat menarik. Bravo! *** (Sylvie Tanaga)

Advertisements

2 thoughts on “BOOK REVIEW – Tahrir Square: Jantung Revolusi Mesir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s