Setelah Dua Emas BWC 2013

Euforia itu pecah. Dua bendera Indonesia berkibar di negara Panda diiringi lagu Indonesia Raya, memancing rasa haru siapapun masyarakat Indonesia yang melihatnya. Walaupun kemenangan di Guangzhou sudah menjadi target awal PBSI pimpinan Gita Wirjawan, dua medali emas tetap saja menimbulkan efek kejutan mengingat stagnannya prestasi bulutangkis belakangan ini.

Saya sendiri berkaca-kaca ketika pertama kali membaca berita kemenangan ini melalui social media twitter (saya tidak sempat menonton video streaming-nya). Alasannya bukan semata karena rasa nasionalisme mendadak terbangkitkan. Problemnya, saya sudah nyaris percaya bahwa masih butuh waktu jangka panjang agar prestasi bulutangkis Indonesia dapat kembali menggelegar seperti dulu.

Hipotesa saya yang sangat keliru saat itu adalah bahwa masa puncak kejayaan bulutangkis  Indonesia hanya terjadi pada era Susy Susanti, cs. Kini sudah lewat. Entah kapan prestasi serupa akan muncul lagi. Sikap yang boleh dibilang cenderung pesimis ini muncul setelah melihat kekalahan berulang yang berujung pada pudarnya pamor Indonesia di cabang olahraga yang satu ini.

Kesimpulan ini juga muncul setelah saya mewawancarai Susy Susanti dan Minarti Timur secara pribadi nyaris tiga tahun silam. Saya ingat betul, pertanyaan yang saya ajukan sudah langsung bernada sumir: prestasi timnas badminton Indonesia melempem. Menurut Anda, apa problem utamanya? Pertanyaannya tidak salah, tapi jelas bernada pesimis.

Baik Susy maupun Minarti punya versi jawabannya masing-masing atas pertanyaan ini. Keduanya sepakat bahwa penyebabnya tidak tunggal. Susy menjawab bahwa ketidakjelasan masa depan atlet menjadi salah satu sebab utama. Minarti menjawab bahwa sinergi antara pemain, pelatih, dan pengurus kemungkinan dapat menjadi faktor penentu. Mereka juga mengakui adanya perbedaan gaya hidup atlet pada eranya dan atlet masa kini, meski hal tersebut tentu tak terhindarkan.

Lucunya, keduanya memberi jawaban yang sama: jika mau, masih ada harapan bagi masa depan dunia bulutangkis tanah air. Sambil merekam dan membuat transkrip wawancara mereka, dalam hati saya sangat meragukan “harapan” tersebut mengingat kala itu saya lebih berpedoman pada fakta dan bukan rasa percaya atau faith.

Tak heran jika saya amat shock ketika Liliyana-Tontowi dan Hendra-Ahsan menggondol dua emas pada ajang BWF World Championships (BWC) 2013, menyusul keterkejutan setelah beberapa bulan sebelumnya, Liliyana-Tontowi sukses meraih trofi All England! Perkataan Alan Budikusuma beberapa saat usai kemenangan dua emas makin menampar saya: “tidak ada yang tidak mungkin.”

Saya tak sadar bahwa sikap pesimis saya secara tidak langsung merupakan salah satu sumbangsih minimnya prestasi Indonesia. Kaitannya?

Saya menemukan catatan wawancara dengan Minarti Timur yang mengatakan bahwa masyarakat seharusnya memberi dukungan. “Jangan hanya memuji saat menang dan memaki-maki saat kalah karena atlet juga maunya menang.” Atlet mendapat motivasi untuk bisa melakukan yang lebih baik lagi demi bangsa dan negara lewat dukungan positif masyarakat Indonesia seperti saya dan Anda.

Pada saat bersamaan, penentu langsung prestasi atlet Indonesia juga perlu mendapat perhatian agar prestasi demi prestasi terus diraih. Di tengah maraknya berita negatif, prestasi atlet adalah oase. Ia mencerminkan harapan bagi Indonesia yang lebih baik.

Saya percaya bahwa atlet manapun akan berusaha memberikan yang terbaik dengan latihan keras dan disiplin gaya hidup. Soal pengurus dan pembina, saya pikir PBSI juga sudah berusaha melakukan yang terbaik meski tak paham seluk-beluknya karena saya bukan “orang dalam” atau pernah melakukan penelitian dalam tubuh organisasi ini. Tapi tentu, mereka tak boleh cepat puas.

Bagaimanapun, gap prestasi masih muncul. Tunggal atau ganda putri belum menunjukkan sinarnya sementara beberapa atlet lain berguguran di babak pertama. Dalam skala lebih luas, banyak cabang olahraga yang sebetulnya berpotensi menuai prestasi, tapi megap-megap karena hubungan pengurus, pembina, atlet yang tidak terlalu harmonis ditambah masalah regenerasi atlet.

Susy Susanti mengakui bahwa salah satu titik lemah regenerasi atlet adalah minimnya koordinasi organisasi induk. Organisasi induk juga dinilai kurang aktif dalam mencari ‘bibit-bibit unggul’ di daerah. Padahal, ada berbagai pilihan solusi mulai dari kerjasama kementerian pendidikan dengan kementerian olahraga hingga pemberian beasiswa bagi para pemenang kejuaraan kelompok umur agar talenta terasah baik dan menghasilkan prestasi membanggakan.

Senada dengan Susy, Minarti Timur setuju bahwa pemerintah pun perlu memberi apresiasi bagi atlet-atlet nasional yang masih eksis maupun yang sudah pensiun sehingga mereka merasa nyaman menyongsong masa depan dan dapat berkonsentrasi penuh meraih prestasi dengan maksimal.

Aktivitas mencari “bibit unggul” untuk menorehkan prestasi tentu tidak akan bertahan lama tanpa jaminan masa depan yang baik, terlebih kita tahu bahwa masa produktif atlet tidak lama. Cukup miris ketika tak sampai seminggu dari berita kemenangan di BWC 2013, saya membaca sebuah berita bahwa seorang mantan kiper Timnas harus menjual kostum dan medali untuk biaya pengobatannya.

Dalam bahasa yang lebih lugas, Diana Wuisan, mantan atlet tenis meja nasional yang kemudian aktif dalam aneka kepengurusan, memberikan tips. Dalam wawancaranya dengan saya, Diana mengatakan bahwa kata kuncinya adalah profesionalitas organisasi yang meliputi perekrutan (talent scouting), kompensasi, dan pelatihan dengan manajemen yang baik dan terarah.

Perekrutan harus dilakukan dengan jeli untuk menilai apakah seorang calon atlet memiliki potensi besar untuk menorehkan prestasi dalam jangka panjang atau tidak. Merekrut sembarang atlet dengan cara yang tidak jelas hanya akan membuang-buang sumber daya dan dana.

Berikutnya, harus ada kejelasan kompensasi baik bagi atlet, pelatih, maupun pengurus. Kompensasi yang sesuai dengan kebutuhan menentukan apakah semua pihak akan serius memproses ide dan pemikirannya. Jika kompensasinya tidak cukup memenuhi kebutuhan, berarti mereka harus mencari pekerjaan tambahan dan inilah yang besar kemungkinan menciptakan ketidakseriusan.

Langkah selanjutnya adalah melatih atlet dengan program yang jelas dengan standar yang dapat mendukungnya menjadi atlet yang lebih tinggi kemampuannya. Jika telah menguasai pelatihan, ia harus dikembangkan sehingga meloncat lebih tinggi lagi dan tidak stuck dengan kemampuannya.

“Alasan prestasi Indonesia di semua lini olahraga menurun adalah tidak profesional. Kedua, tidak ada sistem yang jelas. Kepengurusan dalam suatu organisasi perlu job desc yang jelas. Kalau kita punya sistem yang berjenjang dan berkesinambungan, otomatis mendukung visi pemerintah untuk mendapat atlet yang bisa berprestasi di luar negeri,” papar Diana.

Pendapat Diana berdasarkan pengalamannya ini rasanya tak berlebihan dan berlaku bagi seluruh cabang olahraga, bahkan dalam kehidupan sehari-hari. Selama ini, kita (didukung media) lebih banyak menyoroti sosok atlet ketimbang melihat big picture faktor penentu prestasi.

Dalam ajang BWC 2013, misalnya, media lebih memilih memberitakan sosok Liliyana Natsir atau luapan kegembiraan presiden dan kritiknya terhadap PSSI ketimbang meneliti sistem manajemen yang dijalankan Gita Wirjawan, cs. Jika dilakukan, paling tidak organisasi induk lain pun dapat mempelajari hal-hal yang positif untuk meningkatkan prestasi cabang olahraganya masing-masing.

Jika dulu pesimis, kini saya mulai belajar optimis bahwa dua emas BWC tidak akan menjadi emas terakhir di masa-masa mendatang. Kita bahkan mendambakan prestasi yang jauh lebih dashyat dari apa yang dicapai Liliyana Natsir, Tontowi Ahmad, Mohammad Ahsan, dan Hendra Setiawan hari ini.

Pernyataan Liliyana Natsir bahwa mental adalah kunci kemenangannya, memang benar. Atlet bermental memberi permainan yang terbaik, pengurus-pembina bermental memberi manajemen yang terbaik, dan masyarakat selalu bermental memberi dukungan positif. Dengan mental semacam ini, dua emas dalam BWC 2013 hanyalah sebuah permulaan dari prestasi gemilang lainnya. ***

Sumber foto: olahraga.kompasiana.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s