2013: Sekeping Refleksi Pribadi Buat Para Sahabat

Walaupun Januari 2014 hampir berlalu, mudah-mudahan gue belum terlalu telat buat share pengalaman sepanjang 2013, tentang apa saja hal-hal menarik yang gue temukan di dalamnya. Sebenarnya dan sesungguhnya, gue jarang sekali menuliskan soal ini. Setelah dipikir-pikir, rasanya mungkin akan berguna, paling enggak untuk review dan ingetin gue untuk selalu bersyukur menghadapi 2014.

Highlight gue untuk tahun 2013 adalah pengalaman berkeliling nusantara dengan keluarga gue yang tergabung dalam doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli). Kalau boleh dibilang, ini adalah pengalaman yang sangat membentuk karakter gue selain tentunya pemahaman baru tentang Indonesia dan saudara-saudara kita yang sebelumnya terabaikan nun jauh di sana.

Inilah tahun pertama gue dan teman-teman doctorSHARE melayani masyarakat pedalaman dengan Rumah Sakit Apung swasta pertama di Indonesia, RSA dr. Lie Dharmawan. dr. Lie adalah penggagas doctorSHARE. Ia adalah sosok “papi” dalam hidup anak-anak doctorSHARE, termasuk gue.

Sepanjang 2013, gue dan teman-teman doctorSHARE mencatat delapan pelayaran yaitu ke Pulau Panggang (Kepulauan Seribu), Belitung Timur, Ketapang (Kalimantan Barat), Pontianak, Bangka Tengah, Bali, Nusa Tenggara Timur, dan terakhir sekaligus yang terjauh adalah Pulau Kei, Maluku Tenggara. Semua perjalanan ini berlangsung mulai Maret sampai September 2013 dengan aneka pengalaman yang nggak bisa gue tuliskan satu per satu.

Yang pasti akan selalu gue ingat adalah perjalanan perdana kapal ini ke Kepulauan Seribu. Sebelum Hari H launching, gue menggarap press conference yang dihadiri cukup banyak media mulai dari TV One, Metro TV, Trans TV, Kompas, dan berbagai media besar lainnya.

Ada pengalaman menarik yaitu saat gue mendapat SMS dari salah seorang wartawan yang bertanya apakah kalau dia datang ke press conference, bakal dibayar atau enggak. Ketika gue jawab enggak, ia membalas SMS dengan makian. Intinya: Jaman sekarang (maaf) buang air kecil saja harus bayar. Kok untuk press conference saja tidak mau bayar! Sebagai orang yang tidak sering menyelenggarakan press conference, gue tentu kaget membaca balasan SMS ini. Ujung-ujungnya hanya bisa ketawa.

Pendek kata, press conference berjalan lancar dan wartawan yang hadir semua tertarik meliput langsung perjalanan perdana Rumah Sakit Apung yang dijuluki “Si Bahenol” ini (berhubung bagian ‘bokong’nya dari kejauhan terlihat sangat bohay melenggang di tengah laut!)

Ini adalah perjalanan panjang sebuah iman. Rumah Sakit Apung ini awalnya “cuma” kapal kayu yang jeleknya minta ampun, kandas ampir setahun pula di Tanjung Burung! Orang-orang sampai berkata: “eh, apa nggak lebih baik Rumah Sakit Apung dibatalin aja? Ide ini terlalu gila! Gimana biayanya? Gimana operasionalnya? Gimana cara narik kapal yang udah kandas kayak disemen itu?” dst. dst. dst.

Gue bersyukur punya “papi” dengan iman yang luar biasa seperti dr. Lie. Dia betul-betul pahlawan iman buat gue. Dengan penuh percaya diri, dia menolak membatalkan Rumah Sakit Apung Swasta.

Hasilnya? Sepanjang 2013 dengan delapan pelayaran di daerah terpencil, Rumah Sakit Apung ini melayani 60 bedah mayor (operasi dengan bius total), 117 bedah minor (operasi dengan bius lokal), dan 1.630 pengobatan umum! Ini belum termasuk penyuluhan kesehatan. Toh tidak pernah sekalipun pelayanan medis dengan kapal ini kekurangan SDA, SDM, maupun donatur.

RSA dr. Lie Dharmawan

Yang juga nggak akan pernah gue lupa seumur hidup adalah saat pertama kali “Si Bahenol” akhirnya melenggang di Laut Jawa menuju Pulau Panggang, Kepulauan Seribu. Malam sebelumnya, gue dan beberapa teman menginap di kantor doctorSHARE sambil berharap-harap cemas karena ijin berlayar belum juga keluar walaupun sudah H minus beberapa jam! Gue ingat betul akhirnya ijin kami peroleh H minus beberapa jam saja. Tengah malam itu kami bangun lalu pergi ke pelabuhan untuk nyapu dan ngepel kapal sambil nyanyi-nyanyi gembira, nggak sabar nunggu pagi.

Nggak lama setelah bersih-bersih, gue dan dua orang teman balik ke apartemen dan beberapa jam kemudian nyebrang ke kantor untuk menjemput para wartawan yang udah seger dengan kamera-kamera gedenya. 16 Maret 2013. Hari itu, gue jadi tour guide buat sekitar 20 wartawan yang mendaftar untuk meliput pelayaran perdana RSA dr. Lie Dharmawan dari sebuah speed.

“Si Bahenol” udah jalan lebih dulu sejak subuh tapi berhubung kecepatannya ternyata lebih lama dari dugaan semula, speed wartawan yang berangkat beberapa jam setelahnya malah sampai lebih dulu di tengah laut. Kami jadi perlu nunggu sekitar setengah jam sampai melihat sosok “Si Bahenol”. Dan gue baru inget kalau di tengah laut sinyal nggak bisa masuk. Alhasil, gue pasrah mengandalkan insting pengemudispeed mengira-ngira dari arah mana dan kapan “Si Bahenol” muncul.

Ketika “Si Bahenol” muncul, speed mulai bergerak mengitari. Saat itu juga gue merasa ingin nangis. “Si Bahenol” yang selama ini wujudnya jelek dan kandas sampai ditertawakan orang akhirnya bisa berlayar cantik di bawah bidikan kamera. Gue merasa ini adalah sejarah besar, bukan hanya buat doctorSHARE tapi juga buat negara ini. Perjuangan selama empat tahun sejak ide pertama kali muncul, akhirnya menjelma nyata di depan mata. Pengen nangis (tapi nggak jadi karena malu).

Lebih pengen nangis lagi setelah di akhir tahun gue benar-benar melihat manfaatnya. Bayangkan bagaimana rasanya melihat muka mereka yang berseri-seri setelah tahu ia sembuh, anaknya sembuh, orang tuanya sembuh, kakeknya sembuh, pamannya sembuh, keponakannya sembuh setelah puluhan tahun nggak bisa sembuh karena alasan biaya. Rasa capek akibat jumlah peserta yang membludak (sering subuh baru kelar) jadi hilang hanya dengan melihat sedikit senyum mereka.

Pada saat bersamaan, gue sadar bahwa ini bukan soal kita berbuat sosial atau “berbuat baik” untuk banyak orang. Kepuasan hati karena telah membuat orang lain senang adalah bonus. Tapi yang terutama adalah bahwa melayani butuh komitmen. Walaupun senang, ada kalanya gue merasa capek melayani karena perbedaan pendapat, kelelahan, dan aneka konflik lainnya tapi hasil akhirnya adalah kita jadi sosok yang lebih kuat, tahan banting, dan selalu belajar bersyukur.

Pembentukan karakter dalam tim semacam ini jadi jauh lebih penting daripada sekedar “berbuat baik” karena saat pribadi kita udah tertempa dengan baik, keinginan melayani itu otomatis selalu meluap dari hati, bukan kegiatan sosial yang dibuat-buat pas lagi pengen “nyumbang” aja.

Gue juga jadi sadar bahwa melayani dalam tim di wadah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) itu jelas bukan menyisihkan sisa waktu untuk berkegiatan sosial. Ada pikiran yang mesti dicurahkan sepenuh hati (tenaga nggak usah ngomong). Pendek kata, berkarya dalam wadah LSM itu nggak ubahnya seperti membangun sebuah bisnis. Sama-sama sulit dan butuh ketekunan.

Berkarya dalam LSM adalah karir profesional yang patut dibanggakan, bukan hanya wadah untuk beramal. Dan gue salut luar biasa dengan orang-orang yang bisa berkomitmen di dalamnya. Berkarya dalam LSM bukanlah pelayanan yang hanya dapat kita lakukan saat sudah berkelimpahan. Jika prinsip ini yang dijalankan, Indonesia tidak akan pernah memiliki LSM berkualitas.

Gue melihat secara langsung bagaimana 10-20 dokter yang nggak tahu apa-apa soal kapal, mesin, cuaca, bahkan manajemen, rela belajar otodidak dengan sepenuh hati untuk sebuah Rumah Sakit Apung yang belum pernah ada sebelumnya meski capek hati karena selalu ditegur pemerintah, diledek “gila” atau “so(k)sial” dan sejenisnya. Mereka mengorbankan waktu istirahat setelah jaga malam di Rumah Sakit bahkan memberikan waktu cuti demi melayani orang lain.

Gue bukanlah seorang dokter. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, gue bisa bilang bahwa seperti inilah sebuah organisasi seharusnya dijalankan. Bukan hanya soal pengorbanan, aturan, jenjang birokrasi, dan tanggung jawab tapi juga kekeluargaan di dalamnya. Saling menyayangi seperti keluarga, juga tidak takut berkonflik secara sehat sambil terus berusaha belajar.

Bonusnya jadi nggak terhingga. Gue jadi belajar soal kepemimpinan, kenyataan sosial-politik di lapangan, ketangguhan fisik menghadapi ombak, ilmu kesehatan, ilmu kelautan, ilmu jurnalistik, ilmu negosiasi, ilmu keuangan, ilmu per-bahan bakaran, sampai tatap muka secara langsung dengan tokoh-tokoh seperti Dahlan Iskan bahkan SBY ketika Rumah Sakit Apung melenggang dalam acara Sail Komodo 2013. Yang pasti, gue jadi nggak begitu buta lagi sama peta buta Indonesia! Hehehehe…

Gue yang selama ini tergolong orang kaku, jadi belajar untuk lebih fleksibel dengan keadaan yang cepat berubah, lebih berani berkreativitas, lebih berani berpendapat, dan belajar menyampingkan kepentingan diri sendiri demi kekompakan tim. Kelihatannya gampang tapi sama sekali nggak gampang karena sampai sekarang pun gue masih harus berjuang dalam hal-hal itu.

Satu hal yang pasti, gue jadi sangat belajar bersyukur. Di Pulau Kei, penduduknya sudah biasa mati lampu setengah hari. Tahu sendiri dong kebiasaan orang kota kayak gue yang udah lengket sama gadget. Pas tahu mau mati lampu, langsung deh panik cari-cari sumber energi buat sekedar mengetuk-ngetukkan jari di atas keypad handphone (padahal sinyalnya juga nggak ada, hahahaha…).

Tapi buat orang Kei, kegelapan itulah yang jadi alasan buat anak-anak berkumpul di tepi pantai yang sangat indah, lengkap dengan taburan bintang yang terlihat begitu jelas (asli ini nggak lebay). Sementara menunggu teman-teman dokter selesai operasi, gue ngobrol-ngobrol dengan anak-anak di pinggir pantai sambil nyanyi-nyanyi dan bercanda ria dengan mereka, tanpa beban apapun. Hidup jadi lepas banget.

Hidup mereka susah buat ukuran gue, tapi sama sekali enggak buat ukuran mereka. Mereka happy dengan hidupnya yang sederhana walau mereka pun ngerti bahwa hidup harus berkembang. Mereka bisa berenang, snorkeling, dan diving di lautan terindah dunia tanpa perlu bayar mahal untuk tiket, hotel, pelatih, alat, dan sertifikat nyelem. Justru gue yang banyak belajar dari mereka.

Kadang kalau udah berbuat sesuatu yang membahagiakan orang lain, kecenderungan kita adalah bangga. Kita merasa punya posisi lebih atas dari orang-orang yang kita tolong. Akhirnya kita jadi sombong dan merasa udah berbuat ini-itu, tahu ini-itu, merasa udah punya pengalaman ini-itu. Tapi makin banyak perjalanan yang dilalui, gue makin tahu bahwa gue sangat nggak tahu apa-apa.

Di lapangan pula gue baru sadar apa arti kekayaan Indonesia yang bukan pengertian dangkal di buku PPKn ala SD. Laut bening di Kei dan ikannya yang super lezat, kontur perbukitan di Labuan Bajo, logat seru orang Belitung Timur, dan seterusnya. Gue pengen bilang bahwa kita harus bener-bener bersyukur sama kekayaan Indonesia. Tinggal gimana cara kita ngembanginnya supaya maksimal tapi tanpa merusak kehidupan alam dan kebudayaan orang-orang lokal.

Jelas gue diam-diam menangis kalau melihat anak gizi buruk yang tulangnya bertonjolan dari segala sudut tubuh. Tapi gue juga sadar bahwa hanya menyalahkan pemerintah atau ngoceh di media massa nggak akan menyelesaikan masalah. Pemerintah memang perlu kritik tapi tanpa mereka yang rela terjun langsung, nggak ada perubahan yang berarti.

IMG_4590 - Copy

Kita mungkin sering berpikir: apakah Tuhan ada? Kalau ada, kok masih banyak sih anak-anak yang mati kelaparan? Gue sadar bahwa justru Tuhan ciptakan kita untuk jadi jawaban atas pertanyaan itu.

Tuhan baik. Dia kasih gue kesempatan untuk menuangkan talenta menuliskan catatan perjalanan, press release, dan social media. Gue sadar bahwa manfaatnya bukan hanya dari sisi publikasi-dokumentasi tapi juga untuk generasi mendatang. Gue senang melihat doctorSHARE sekarang sudah sangat banyak diliput media massa dan akhirnya cukup banyak dikenal masyarakat luas.

Gue inget banget saat pertama kali doctorSHARE bikin press conference saat kelahirannya di sebuah acara Malam Dana tanggal 19 November 2009. Nggak ada satu pun media massa yang datang. Sekarang, gue dan teman-teman doctorSHARE hampir kewalahan menangani permintaan berbagai media massa berskala besar yang sengaja request khusus untuk meliput.

Gue jadi selalu inget perkataan “papi” bahwa doctorSHARE boleh merupakan organisasi yang masih kecil dan punya rumah sakit apung terkecil di dunia tapi pelayanannya bukan kecil-kecilan. Tidak perlu minder karena pada akhirnya karya yang akan berbicara, bukan pencitraan.

Di tahun 2013 pula untuk pertama kalinya tulisan opini gue berhasil tembus surat kabar nasional (maap norak) yaitu Jawa Pos dan The Jakarta Post. Jawa Pos memuat judul Menaklukan Sempu, soal perjalanan ke Pulau Sempu, Jawa Timur (pergi Januari 2013) dan Imlek di Hati Bangsa sedangkan tulisan dalam The Jakarta Post berjudul Chinese-Indonesians, Agents of Change.

Secara nggak terduga pula tulisan tentang Lemahnya Budaya Kritik Massa dimuat secara kilat di opini Harian Pikiran Rakyat, hanya selang dua hari setelah gue menulisnya. Sebuah tulisan humor iseng pun dimuat Reader’s Diggest Indonesia di penghujung tahun. Ini seperti sebuah bonus yang betul-betul menguatkan hati gue untuk terus menulis.

Di ranah tulisan fiksi, gue sangat bersyukur ketika tanpa diduga salah satu cerpen gue (sebenernya gue sangat jarang nulis fiksi) yaitu Di Lorong Itu dipercaya menjadi juara I untuk lomba Cerpen yang diadakan anak-anak muda penuh idealisme di BOM Cerpen. Penilaiannya berdasarkan 3 tahap. Tahap 1 seleksi panitia, tahap 2 seleksi berdasarkan polling, dan tahap 3 seleksi berdasarkan penilaian dewan juri yang sudah sangat berpengalaman di bidangnya. Praise God!

Pada tahun 2013 pula gue untuk pertama kalinya menginjakkan kaki ke Medan dan Danau Toba (akhirnya!) dalam acara Festival Sastra Sumatera Utara. Di sini gue berkenalan lagi dengan orang-orang awesomeyang mahir menulis tentang kebangsaan dan sejarah sastra Tionghoa di Indonesia. Menarik banget. Salut sama senior yang masih mau terus belajar.

Inilah lorong-lorong yang Tuhan perlihatkan supaya gue nggak pernah menyerah menulis. Setiap kali guedown nulis dan mulai khawatir macem-macem seperti misalnya pikiran “untuk apa sih gue nulis kalau nggak ada orang yang baca?” atau “untuk apa sih gue nulis kalau teman-teman gue sendiri nggak appreciate?” maka saat itupula kekuatan dan hiburan itu datang.

Di tahun 2013, gue pun sangat bersyukur karena salah seorang sahabat gue (sejak SMP/SMA) yang kuliah nun jauh di sana sudah kembali. Nasta Andinanti. Setelah tak bersua dalam hitungan tahun, dia kembali ke tanah air dengan karakter makin dewasa, supel, luwes, tapi tetap lucu. Senang sekali melihat dia akhirnya diterima bekerja di perusahaan yang ia sukai. Gembira dan terharu sekali punya sahabat yang selalu jadi teman curhat terbaik dan selalu appreciate karya-karya gue. Thanks brow!

IMG_9091
Gue juga bersyukur dikelilingi para mentor yang punya idealisme besar dan menanamkan nilai yang sangat dalam ke diri gue. Selain dr. Lie dan putrinya, Lie Mei Phing, ada juga seorang sahabat yang selalu menempa gue jadi sosok yang lebih matang dan berani berinisiatif dalam segala kondisi. Lulu Tshia. Semangatnya mendirikan Panti Rawat Gizi di Pulau Kei dan memimpin doctorSHARE membuat gue sangat terinspirasi dan salut dengan kecekatan dan keberaniannya. Senang sekali memiliki sahabat yang berani mengkritik secara langsung dengan kritik sehat dan membangun.

Adapula William Kwan, tokoh penggerak kejayaan batik Lasem ke kancah nasional dan membuat masyarakatnya mandiri. Bersama organisasinya yaitu Institut Pluralisme Indonesia, ia pun mengajar cara membuat batik bagi warga korban letusan Merapi sehingga mereka nggak perlu nganggur. Ide-idenya sederhana tapi tajam. Pribadinya sangat low profile. Kami bertemu beberapa kali. Antusias banget kalau bahas soal batik. Durasi ketemuan bisa lama bangetttt sampe mall mau tutup, hahaha… Nggak heran ia jadi tangan kanan Ibu Mari Elka Pangestu untuk mengembangkan batik di daerah.

Mentor gue lainnya adalah Ester Indahyani Jusuf, wanita perkasa aktivis 1998 peraih Yap Thiam Hien Award dengan organisasinya, Solidaritas Nusa Bangsa. Usai gigih memperjuangkan para korban Tragedi Mei 1998, kini ia sangat ulet membangun Taman Bacaan Masyarakat di seantaro Jabodetabek dengan perjuangan mati-matian meski harus mengorbankan kepentingannya sendiri. Senang sekali rasanya suatu hari di akhir tahun lalu berkesempatan melihat secara langsung apa yang sedang ia bangun saat ini.

Juga ada Lisa Suroso, pejuang aktivis 1998 lainnya yang lahir dari generasi lebih muda. Dia adalah salah seorang pendiri doctorSHARE lainnya yang kini sedang kuliah di Kanada. Awesome! Dia multitalent dengan pribadi cerdas tapi rendah hati. Dia jago soal design web, graphic design, menulis, bahasa, sampai ide-ide keren soal bagaimana mengembangkan LSM.

Lainnya adalah Adeste Adipriyanti, teman seperjuangan menulis sejak masa kuliah dulu. Gue bangga karena tahun ini dia berhasil menelurkan dua buku sekaligus (selain tulisan-tulisan keren di berbagai media massa). Lalu ada Andreas Harsono, pejuang HAM dan mentor menulis yang pertama kali membuat gue jatuh cinta pada jurnalisme sastrawi dan selalu sabar menanggapi pertanyaan-pertanyaan gue seputar dunia penulisan.

Tak lupa ada teman-teman rohani yang nggak bisa gue sebut namanya satu per satu sebagai keluarga yang selalu mendukung dalam doa dan siap mendengar segala keluhan batin. Tanpa mereka, iman gue bisa cepat kandas dan semua yang gue alami tak lagi memperhitungkan intervensi Tuhan di dalamnya. Luar biasa sekali rasanya bisa mengenal mereka yang nggak pernah berhenti berinovasi.

Gue bersyukur karena gue menikmati hidup di tengah kenyataan bahwa nggak tiap orang bisa cepat menemukan passion-nya, berani berjuang di dalamnya, dan punya lingkungan yang mendukung. Pergaulan gue bersama mereka nggak hanya luar biasa tapi mereka juga terbukti unggul di bidangnya masing-masing. Unggul dalam hal ini tentu bukan soal prestasi apalagi uang, tapi dampak hidup mereka bagi sesama.

Pergaulan dengan mereka membuat gue makin sadar bahwa hidup bukan hanya soal lahir, sekolah, kuliah, nikah, punya anak, tua, mati, and thats all. Dengan segala yang gue lihat, malu banget kalau ukuran sukses hidup gue hanya ditentukan berdasarkan hal-hal itu (walau itu juga tentu penting). Nah, untuk urusan pasangan hidup, gue serahkan aja timing-nya sama yang di atas, hehehehe…

Dengan demikian, apakah sepanjang 2013 kemarin gue hanya punya sedikit masalah? Nope.

Masalah gue nggak kalah banyaknya terutama pergulatan batin dalam hidup sebagai seorang penulis (lepas). Gue hanya punya sangat sedikit teman sesama penulis yang mengerti seluk beluk area ini. Setelah menghitung berkat pun adakalanya gue tetap down. Tapi gue bersyukur punya banyak sahabat dan mentor yang terima apa adanya dan terus mendukung gue untuk berkembang.

Menjelang Natal 2013, thanks God lagi gue mendapat kesempatan baru untuk menulis beberapa judul buku pengayaan bagi anak-anak sekolah dari seorang rekan penerbit yang punya hati tulus, idealisme, dedikasi tinggi, dan menghargai para penulisnya sebagai individu, bukan alat market.

Pada akhirnya, 2013 adalah tahun yang sangat berarti buat perjalanan hidup gue ke depan. God is good all the time. Gue banyak diberkati dengan dukungan keluarga dan para sahabat. Gue percaya ada banyak hal baik menanti di depan untuk segala segi hidup kita. Bahwa masih ada harapan di tengah gejolak yang kelihatannya nggak pernah habis kita hadepin. Bahwa kita akan menjadi berkat, bukan hanya menerima berkat yang berlimpah.

Resolusi 2014? Resolusi berasal dari dua kata yaitu “re” (mengulang) dan “solusi” (solusi) atau mencoba mengulang kembali solusi-solusi atas masalah yang terjadi sebelumnya. Jujur gue lebih suka menyebut “target 2014” daripada “resolusi 2014” karena pasti ada solusi baru atas masalah-masalah yang ada. Kita belum tentu perlu mengulangi solusi yang tidak lagi relevan.

Untuk 2014, gue menargetkan lebih banyak membaca buku berkualitas sebagai bekal untuk menulis karya yang makin berkualitas pula dan tentu saja melahirkan buku pertama yang bersifat non kompilasi (bukan buku gabungan dengan penulis lain) setelah sekian lama melalui proses mengandung. Dan inilah yang akan menjadi prioritas gue ke depan. Amin.

IMG_2871_resizeTerima kasih untuk para sahabat dan mentor yang sepanjang 2013 ini telah mendukung perjalanan gue. Tanpa kalian, nggak mungkin gue bisa menyadari panggilan hidup gue dan berkarya maksimal. Gue percaya di tahun 2014 ini, kita semua bisa berkarya lebih baik. God bless you all.

With love,
Sylvie Tanaga

Advertisements

3 thoughts on “2013: Sekeping Refleksi Pribadi Buat Para Sahabat

  1. Pingback: 2014: Percikan Refleksi Pribadi Bagi Para Sahabat | Soft Power is Unique

  2. Pingback: Tonle Sap, Jakarta, Lausanne & the floating hospital | codoureyrocks

  3. Pingback: Refleksi 2015: Terima Kasih Sahabat… | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s