Cerita Tentang Seorang Sahabat

Wounds from a sincere friend are better than many kisses from an enemy.
(Proverbs 27:6)

Teman hangout kita mungkin sudah bejibun tapi boleh dibilang sahabat yang benar-benar membangun di segala situasi adalah sebuah kelangkaan. Dan kalau kita sudah menemukannya, pelihara baik-baik karena itu adalah sebuah berkah yang mungkin akan jarang kita temukan dalam hidup.

Itulah yang saya rasakan dengan sosok yang satu ini. Dia adalah sahabat sekaligus “guru” yang tidak segan membangun kehidupan saya dari segala sisi. Bagi saya secara pribadi, dia adalah salah satu figur penting yang cukup banyak membentuk kehidupan saya atau pendek kata, menginspirasi saya secara luar biasa.

Perjumpaan pertama saya dengannya terjadi tahun 2009 ketika mengurus sebuah acara malam penggalangan dana untuk doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli). Sebagai dokter yang mengabdi untuk masyarakat, saat itu ia sedang menjalani PTT dua tahun di Kei, Maluku Tenggara. Setahun saja seharusnya, tapi ia mau menjalankannya selama dua tahun, jauh dari orang tua dan rekan-rekannya.

Ketika belum bertemu dengannya, saya sudah sering mendengar namanya melalui pembahasan rekan-rekan doctorSHARE bahwa dokter yang satu ini mendirikan dan membina Panti Rawat Gizi di tempatnya PTT, screening dari satu titik ke titik lain demi menemukan anak gizi buruk, menganalisanya, kemudian merawatnya dalam panti sambil mengedukasi orang tuanya. Ia bukan dokter PTT yang hanya diam menunggu “pasien” tapi juga tanggap terhadap kebutuhan dan aktif menjemput bola.

Ini ia lakukan bersama salah seorang teman PTT-nya dengan inisiatif luar biasa tinggi, dan mungkin menjadi sebuah bukti nyata awal perjalanannya sebagai seorang dokter yang aktif menjangkau mereka yang membutuhkan.

Tidak ada yang istimewa dari latar belakangnya namun ia punya inisiatif, tekad, dan komitmen yang kuat menjalani Panti Rawat Gizi. Sejak awal mendengar kiprahnya, saya sudah bertanya-tanya akan sosoknya dan menahan haru melihat kerja kerasnya.

Dari meja rapat lama kami di RS Husada, saya mengikuti laporan-laporan yang ia kirimkan setiap saat. Foto anak gizi buruk kering kerontang yang kemudian menjadi gemuk dan sehat secara nyata. Memperlihatkan dengan jelas sebuah fakta bahwa Indonesia Timur memang butuh diperjuangkan.

Panti Rawat Gizi inilah yang kemudian menjadi program pertama doctorSHARE yang lahir setahun setelah panti ini digagas yaitu pada 19 November 2009. Usai menjalani masa PTT, ia meghubungi rekan-rekannya termasuk saya yang sebenarnya sudah tak lagi aktif. Ia kemudian menjadi Sekretaris Jenderal doctorSHARE, sebuah organisasi yang baru lahir tanpa struktur yang jelas meski visinya sangat jelas.

Secara mengejutkan, ia mau mengajak saya yang bukan dokter untuk bergabung kembali membangun doctorSHARE dari nol karena kesadarannya akan peran anggota non medis. Buat saya, ia adalah sosok wanita penggagas yang hebat, sama seperti inspirasi kami, dr. Lie Dharmawan (pendiri doctorSHARE).

Ketika suatu saat ia mengajak saya berdua ke Kei sekitar tiga tahun silam untuk menggantikan tiket dr. Lie yang batal berangkat, tidak pernah terbersit dalam benak saya bahwa ia akan menjadi seorang sahabat yang tidak hanya menghibur tapi juga membangun. Tidak hanya menerima segala kelemahan saya tapi juga bersedia mendorong saya menjadi pribadi yang lebih matang dan baik. Ia menjadi teman curhat, seorang yang kemudian saya anggap sebagai kakak kandung saya sendiri.

Selama empat tahun, ia mendukung visi awal dr. Lie membangun doctorSHARE bahkan turun tangan secara langsung dalam setiap rapat, pertemuan, sampai membeli setiap detail barang-barang keperluan kantor dengan ide kreatifnya.

Boleh dikata bahwa ia adalah the woman behind the scene yang membawa doctorSHARE sampai ke titik ini. Ia adalah sosok yang berhasil mewujudkan ide-ide “gila” mentornya secara nyata di lapangan, mengoordinir segala sesuatunya meski minim pengalaman dan pada saat bersamaan mampu meningkatkan kompetensi dirinya dengan melanjutkan studi S2 Magister Administrasi Rumah Sakit dan berhasil menjadi seorang master dengan nilai memuaskan.

Ia bukan orang yang sejak awal bersekolah punya nilai-nilai akademis yang “wah” tapi kemampuannya di lapangan didukung daya analitisnya tak perlu diragukan lagi. Tapi yang lebih mengagumkan adalah kemampuannya membangun kehidupan manusia-manusia di sekitarnya, termasuk saya.

Ia pandai menilai dan tak ragu memberikan kepercayaan pada rekan-rekannya untuk menggarap ide-ide kreatifnya setelah mencernanya lebih dulu dari dr. Lie. Ia juga punya kharisma dan ketegasan yang diperlukan sebagai seorang pemimpin.

Ia tak segan menegur, mendidik, memuji, memotivasi saya menjadi pribadi yang tidak hanya melihat kelemahan tapi juga percaya bahwa tidak ada yang mustahil. Ia juga tak segan memberi kepercayaan besar pada generasi-genarasi di bawahnya tanpa pernah menggurui.

Meski ide-ide dr. Lie kadang nampak muskil dilakukan, ia punya adaptabilitas yang hebat untuk menampung, menganalisa, dan mewujudkan ide-ide tersebut mulai dari Rumah Sakit Apung swasta pertama di Indonesia yang berlayar ke pulau demi pulau. Ia adalah seorang pekerja keras yang mau dan mampu menyelesaikan pekerjaannya hingga akhir dan memimpin dengan hati.

Ini terlihat dari kepemimpinnya selama empat tahun yang mampu menjaga semangat rekan-rekannya, melejitkan nama doctorSHARE melalui pelayanan medisnya sekaligus berkontribusi dalam merekatkan tali persaudaraan di tubuh doctorSHARE. doctorSHARE tidak hanya menjadi sebuah organisasi dengan hubungan antar individu yang kaku tapi menjadi sebuah keluarga. Ia mau mendengarkan curhat kami semua satu per satu dan memberi saran.

Meski tegas, ia tidak pernah menjadi seorang pemimpin yang bossy. Ia tahu posisinya. Ia kerap terjun langsung tapi juga tak segan menunjukkan sisi manusianya yang tentu saja dapat larut dalam rasa sedih, gembira, kecewa, bahagia, dan sebagainya. Ia sangat manusiawi.

Meski di sisi kehidupannya yang lain ia tergolong melankolik, ia punya hati dan pikiran yang tegar. Ia cukup fokus untuk melaksanakan tanggung jawabnya terhadap keluarga. Selama itu pula ia memendam mimpi besar untuk menjadi seorang dokter bedah yang bersekolah di Jerman.

Dan saya rasa mimpi itu mulai menunjukkan bentuk awalnya. Dalam usianya yang masih belia, per 27 Februari 2014 ini ia meninggalkan kampung halamannya untuk bersekolah di Jerman setelah melalui berbagai perjuangan. Berbekal tekad, ia mantap menapaki kakinya menuju masa depannya yang cemerlang dan menjadi berkat di manapun ia berada.

Persahabatan ini secara pribadi meninggalkan jejak yang sangat mendalam bagi kehidupan saya. Meski tentu saja sedih, saya sangat bangga memiliki seorang sahabat sepertinya. Dia akan tetap menjadi sahabat, kakak, “guru” dan inspirasi saya meski terpisah ruang dan waktu.

Saya yakin ia dapat menjadi seorang dokter spesialis bedah yang hebat dan pada saatnya nanti akan membawa dampak yang lebih hebat dari sebelumnya. Perkenalkan, namanya adalah dr. Luyanti Tshia atau dr. Lulu Tshia.

Gehen sie, meine schwester! Meine beten wird immer bei dir sein. Gott segne sie.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s