A Silent Time

Tulisan ini sebetulnya saya buat sebagai bahan refleksi bagi diri sendiri. Saya jadi tiba-tiba ingin berefleksi macam ini gara-gara gatal menjalani rutinitas tapi hasilnya tidak bisa saya ukur. Saya begitu sibuk dengan ini dan itu namun di sisi lain merasa diri tidak produktif. Ide baru sulit mampir karena tubuh dan pikiran sudah letih bukan kepalang.

Pagi hari bangun, memeriksa smartphone, sarapan, pergi bekerja, memeriksa email, kasak-kusuk menjalankan apa yang harus dijalankan, makan siang, mengetik, aneka meeting, memeriksa social media kantor, memeriksa email (lagi), pulang ke rumah, makan malam, dan tidur. Demikian seterusnya.

Alhasil, waktu membaca dan merenung tinggal impian padahal pada kedua hal inilah terletak asupan nutrisi bagi otak untuk menghasilkan ide-ide baru. Ide-ide baru yang dituangkan dalam selembar kertas akan menghasilkan konsep dan konsep yang diwujudkan mungkin saja akan menghasilkan inovasi baru, sebuah aktivitas yang seharusnya menggairahkan.

Bukan berarti saya bosan dengan rutinitas yang saya lakukan. Pekerjaan saya menjadi wadah bagi saya untuk mengembangkan diri dan berkarya. Saya justru sangat menikmatinya sampai larut dalam sebuah zona nyaman. Otak sudah terprogram esok hari akan melakukan ini dan itu (saya biasa mencatat apa yang akan saya lakukan esok hari dalam smartphone).

Tapi setelah melakukannya, hampir tidak pernah saya lakukan evaluasi: apakah yang saya kerjakan hari ini sudah maksimal? Ataukah yang saya kerjakan just for the sake menyelesaikan aneka tugas yang harus dikerjakan meskipun sepertinya otak saya tidak digunakan untuk 100% berpikir?

Saya pikir saya tidak sendiri. Lucunya, saya temukan banyak orang justru merasa senang disebut “sibuk”. Sibuk bekerja sampai makan pun tidak sempat, tidur pun tidak sempat, apalagi harus membaca, merenung, menulis. Merenung dalam sunyi? “Itu kurang kerjaan, Jeng. Buang waktu!” sahut salah seorang teman saya yang hidupnya begitu aktif bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain.

Baru-baru ini, saya membaca sebuah artikel karya Aaron Lynn yang berjudul Real Working Hours. Artikel ini sangat menarik. Lynn menulis bahwa pada era saat ini, segala kegiatan manusia diukur oleh waktu. Para pekerja mendapat upah berdasarkan waktu yang mereka habiskan di kantor, juga para freelancers.

Orang kantoran bekerja pukul sembilan pagi dan pulang pukul lima sore, sisanya dihitung lembur (hitungan upah ala Barat). Padahal, kalau dipikir-pikir apakah benar waktu yang kita habiskan di kantor benar-benar produktif menghasilkan sesuatu?

Lynn menyimpulkanya dalam kalimat-kalimat ini:

The number of hours we put into something has no correlation to the amount of work actually done, or the amount of “value” produced by that work…………….. If you work 9-5 in an office, it doesn’t mean that you’re sitting there working for 8 hours straight. You have your lunch break, meetings to attend, time on the phone, time on email, time discussing things with your team… and all the other things that magically turn what should be 8 hours of work into maybe 1-2 “real” hours of work…………

Tulisan ini benar-benar menohok saya, membuat saya berpikir ulang apakah hal-hal yang telah saya lakukan selama ini adalah sebuah karya atau hanya sebuah pekerjaan rutin?

Secara sepintas, saya sulit membedakannya karena bagian dari pekerjaan saya adalah menulis dan karya yang lahir dari passion saya juga adalah tulisan. Tapi jika saya mengambil waktu tenang untuk mengevaluasi semuanya, harus saya akui bahwa saya acapkali menulis karena rutinitas tanpa ‘jiwa’ sehingga hanya menghasilkan sesuatu yang monoton.

Tentu saja ini manusiawi. Kita tidak dapat mengerjakan segala sesuatunya hanya dengan mengandalkan mood. Seorang penulis profesional harus menulis setiap hari, mood ataupun tidak. Kita tidak berhadapan dengan hobi tapi sedang menjalankan profesi. Syukurlah jika profesi yang Anda pilih sudah sesuai passion sehingga Anda takkan pernah merasa depresi.

Rutinitas adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari. Tapi sekali lagi, ada kalanya kita harus mundur sebentar, mengambil waktu untuk mengevaluasi apakah pekerjaan yang kita lakukan sudah benar-benar produktif atau hanya memenuhi kuota jam kerja? Apakah pekerjaan yang kita lakukan merupakan sebuah inovasi menggairahkan atau hanya mengikuti arus? Apakah kita tertantang mencoretkan ide-ide baru atau “pasrah” pada keadaan karena sudah terlalu letih?

Apakah ‘waktu tenang’ yang kita gunakan hanya sebatas untuk nonton bioskop, pergi berlibur, dan tidur? Ataukah kita sudah sengaja mengambil waktu tenang khusus untuk berpikir, berkhayal, mengevaluasi diri dan pekerjaan, mencoret-coret konsep, dan mulai kembali merasakan gairah karena menemukan sesuatu yang segar untuk dikerjakan?

Bagi saya yang mengidentifikasi diri sebagai seorang penulis, waktu tenang semacam ini adalah sebuah kebutuhan. Saya butuh waktu untuk membaca, menemukan ide-ide baru di dalamnya, merenung, merumuskan konsep dalam kepala, menuliskannya dalam aliran kata-kata. Tulisan yang saya buat ini pun merupakan hasil perenungan yang diperkuat dengan beberapa literatur.

Beberapa meledek saya sedang “autis” tapi saya tahu apa yang sedang saya kerjakan. Saya sadar bahwa Tuhan sudah mengaruniakan manusia sebuah intelektualitas untuk berpikir dan merancang, bukan sekadar menjadi “tukang”.

Dalam beberapa literatur pun saya menemukan bahwa banyak orang sukses di dunia ini sengaja meluangkan waktu berjam-jam setiap harinya hanya untuk berpikir. Berpikir bukan hanya hal yang harus dilakukan oleh seorang dosen atau akademisi atau penulis.

Dalam bukunya yang berjudul 101 Creative Notes, Yoris Sebastian pun menulis bahwa salah satu cara untuk menjadi manusia kreatif adalah melalui “The Hours of Silence”. Tentu yang dimaksud bukan hanya berkhayal tanpa tujuan tetapi dengan sengaja mengalokasikan waktu-waktu tenang untuk berpikir, menggali ide baru, dan menuangkannya dalam sebuah konsep.

Saya belum sampai pada tahap mampu melakukannya setiap hari. Paling tidak seminggu sekali di akhir pekan, saya mencoba meluangkan waktu khusus sendirian pergi ke sebuah tempat dengan sebuah buku catatan, buku sketsa, dan iPod untuk mendengarkan musik. Ditemani secangkir teh, saya mulai membaca, mengevaluasi karya, menentukan langkah ke depan, menulis ide yang terlintas di kepala, ataupun sekedar bersantai menggoretkan beberapa sketsa.

Setelahnya, saya hampir selalu merasakan kesegaran baru dalam pikiran. Tubuh mungkin masih letih karena efek seminggu bekerja tapi saya mulai menemukan gairah akan hal-hal baru yang dapat saya lakukan. Dalam mewujudkan ide-ide tersebut, terkadang saya merasa bosan tapi ketika kembali duduk tenang, saya tahu bahwa saya sedang berjalan menuju tujuan yang benar.

Apalagi jika sedang menulis cerpen. Saya benar-benar membutuhkan waktu tenang seorang diri untuk berkhayal menciptakan suasana dalam pikiran, membangun karakter, membayangkan dialog, dan aneka adegan. Karya orisinil pun akan tercipta.

Tapi bukan berarti saya menjadi sosok antisosial. Seorang teman penulis berkata bahwa penulis mendamba sepi tapi menolak kesepian. Penulis mencari sepi untuk mengaktualisasikan diri membunuh kesepian melalui proses kerja kreatif. Agustinus Wibowo, seorang penulis travel ternama berkata bahwa menulis adalah pekerjaan dalam sunyi. Katanya, “sekalipun travel writing itu pada dasarnya jalan-jalan, butuh sunyi untuk menulisnya.”

“Kapan terakhir kali Anda membaca buku dengan tenang?”

Pertanyaan sederhana tersebut harus susah payah saya jawab sambil menguras otak. Buku adalah jendela dunia, asupan nutrisi penting bagi jiwa dan pikiran. Jika untuk pertanyaan ini saja saya sulit menjawabnya, bagaimana saya dapat mempertanggung jawabkan karya saya bagi banyak orang? Bagaimana mungkin saya menulis tapi tidak sempat membaca tulisan orang lain?

Sekali lagi saya percaya bahwa waktu-waktu tenang untuk berpikir bukan hanya milik para penulis atau akademisi. A silent time adalah saat-saat di mana kita menyadari kekuatan atau talenta yang sudah Tuhan berikan, apa yang sudah sejauh ini kita lakukan, dan bagaimana kita dapat menggalinya secara maksimal dalam kehidupan yang singkat di dunia ini. A silent time kita butuhkan untuk menghasilkan karya-karya orisinil. You were born original, don’t die a copy.

Apakah Anda masih berpendapat bahwa silent time adalah aktivitas ‘buang-buang’ waktu?

* * *

Bandung, 17 Juni 2014
Pk 19.17 WIB

Sumber foto:  deviantart.com (“All that time she was silent still” by EugenieA)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s