2014: Percikan Refleksi Pribadi Bagi Para Sahabat

Setahun silam, gue udah pernah nulis refleksi pribadi 2013 dan sejujurnya gue udah agak lupa pernah nulis itu sampai di akhir Desember 2014, “papi” dr. Lie Dharmawan tiba-tiba mengirim email. Dalam email tersebut, beliau khusus bertanya apakah gue akan nulis refleksi pribadi lagi untuk 2014. Pertanyaan ini menohok dan langsung membuat gue searching ke tulisan lama. Banyak hal menarik terjadi di hidup gue selama tahun 2013 dan rupanya tahun 2014 nggak mau kalah.

Karena itu, gue kembali menulis percikan refleksi yang bersifat pribadi tentang apa yang gue alami dan gue rasakan sepanjang 2014. Tulisan ini sengaja gue buat di awal 2015 supaya gue nggak pernah lupa untuk lakuin yang terbaik sepanjang tahun ini. Gue dedikasikan tulisan ini bagi seluruh sahabat yang mendukung perjalanan hidup gue sepanjang tahun 2014.

Kalau gue udah pernah bilang bahwa highlight 2013 adalah doctorSHARE, gue akan mengatakan hal yang sama untuk 2014. Kalau 2013 adalah tahun pertama Rumah Sakit Apung berlayar dengan segala keseruan khas program baru, 2014 adalah masa-masa booming Rumah Sakit Apung yang ditandai dengan sorotan media massa yang begitu gebyar dari segala sisi. Gue ibaratkan 2013 itu tahun doctorSHARE mulai nabur benih tanaman, 2014 panen besar-besaran dimulai.

Panen disini bukan hanya berarti banjir pujian. Makin melimpah panen, artinya makin banyak petani yang harus mungut hasil panen dan makin besar lumbung yang harus dibangun. Adalah seorang Andy Noya dengan program “Kick Andy” yang jadi pemicu awal panen besar-besaran doctorSHARE. Bola liar liputan “Kick Andy” meluncur deras, dan gue melihatnya sebagai beban sekaligus berkah.

Melihat ke belakang, gue hanya bisa tertawa. Gue udah pernah nulis di refleksi 2013 bahwa gue dinyinyirin abis-abisan oleh wartawan amplop lewat SMS ketika gue undang media datang ke press conference pelayanan medis perdana Rumah Sakit Apung. Tahun 2014, media berebut meliput Rumah Sakit Apung, dr. Lie, bahkan sampai gue nggak bisa ngitung lagi total media yang ngeliput.

Hampir tiada hari tanpa permohonan wawancara, kadang-kadang sengaja minta datang ke kapal. Papi Lie benar. Iman, kasih, pengharapan, PLUS inovasi akan dengan sendirinya membuat siapapun melirik doctorSHARE. Kerja keras doctorSHARE selama 2013 – 2014 mengubah cemooh jadi pujian, cibiran jadi decak kagum, cuek jadi penasaran. Perlu dicatat bahwa sejak awal, doctorSHARE tidak berisi orang-orang mahir atau sudah punya jam terbang tinggi. Kebanyakan masih cupu-cupu malah.

Gue sendiri nggak pernah nyangka bahwa booming doctorSHARE hanya akan terjadi dalam tempo kurang dari satu tahun sejak pelayaran perdana Rumah Sakit Apung atau hanya lima tahun sejak berdirinya organisasi. Dugaan awal gue (mungkin kurang beriman), doctorSHARE baru booming di 2015. Tapi Maret 2014 (lewat Kick Andy), bola liar itu sudah menggelinding, tipikal media massa.

Ketika tim Kick Andy mengontak (belum juga syuting), otak gue udah sibuk mikirin dampaknya. Kick Andy punya rating cukup tinggi dengan segmentasi penonton yang udah jelas. Gue lebih kaget lagi ketika Kick Andy via Senny Purba mengatakan kalau seluruh durasi tayang Kick Andy akan diberikan bagi doctorSHARE. Otak gue berputar makin kenceng sampai bilang ke Papi Lie: “Papi, kita taruhan. Abis Kick Andy tayang, kita bakal kebanjiran respon.” Gue ingat banget bahwa papi Lie cuma ketawa dan menjawab, “papi nggak mau taruhan. Memang itu yang bakal terjadi.”

Senny Purba lakuin riset yang sangat dalam terhadap doctorSHARE, lebih dalam dari media manapun. Sebelumnya, gue pernah nulis 10 halaman yang memberi gambaran cukup jelas tentang sosok Papi Lie. Tulisan ini gue buat atas rekomendasi Lisa Suroso untuk jadi salah satu tulisan dalam buku kolaborasi tentang etnis Tionghoa Indonesia yang diiniasi oleh Yayasan Nabil (Nation Building).

Salah satu kalimat paling kuat di dalamnya yang nggak pernah gue lupakan dari hasil wawancara dengan Papi Lie adalah kutipan pernyataan ibundanya: “kalau kamu sudah jadi dokter, jangan memeras orang kecil karena mereka akan tetap membayar kamu tapi di rumahnya mereka menangis karena kelaparan.” Ini adalah kutipan paling powerful yang pernah gue tulis sampai saat ini.

Gue sempat berpikir sangat keras untuk menyerahkan tulisan ini sebagai bahan bacaan bagi Senny Purba dan mungkin bakal dibaca Andy Noya. Mereka akan bikin narasi tertulisnya. Kenapa begitu? Bukannya egois tapi gue trauma diplagiat orang. Waktu kuliah, gue trauma hebat karena yang lakuin plagiat terhadap tulisan gue adalah romo terkenal yang udah bikin 10 buku. Lalu ada mahasiswa yang tiba-tiba teriak gue plagiat tulisan temennya padahal temennya yang plagiat tulisan gue.

Gue pikir, Senny udah cukup lakuin wawancara mendalam dengan Papi Lie secara langsung. Nggak perlu lagi bahan tambahan. Tapi hati gue berkata supaya gue serahin tulisan 10 halaman yang udah gue bikin ke Senny dengan catatan pihak Kick Andy nggak boleh me-reproduksi tulisan itu. Mereka setuju. Dalam hati, gue seperti mendengar ada yang berkata bahwa gue nggak usah takut karena Yang Di Atas bakal memberi gue kreativitas yang selalu baru. Nggak usah takut stok ide bakal abis.

Dan betapa kagumnya gue dengan seorang Andy Noya ketika beliau melempar pertanyaan demi pertanyaan. Puncaknya, Bang Andy berhasil memancing sang kutipan paling powerful keluar langsung dari mulut Papi Lie, membuatnya terisak hebat di hadapan jutaan pasang mata penonton. Seketika itu juga gue tahu bahwa Bang Andy sebelum syuting udah baca serius tulisan 10 halaman itu. Hati gue menangis begitu dalam. Bukan karena tulisan gue kepake. Gue hanya merasa begitu terhormat boleh jadi medium bagi orang sekelas Papi Lie untuk menyampaikan pesan-pesannya.

Yang terjadi selanjutnya udah jadi rahasia umum. Pamor doctorSHARE meledak. Gue kepayahan nerima banjir respon di media sosial, email, dan telepon. Kayaknya tiada hari tanpa bales respon orang sampe kuping panas, jari cantengan, mata kereyepan melototin layar. Tapi senengnya bukan main. Traffic Facebook dan Twitter doctorSHARE meningkat tajam. Yang juga nonjol adalah mulai banyaknya orang pengen daftar jadi relawan, partimer, fulltimer.

Booming Rumah Sakit Apung dan doctorSHARE menjadi-jadi setelah liputan lanjutan oleh awak media lainnya seperti 30:60 Metro TV, CBN, sampai aneka penghargaan mulai dari Kick Andy Heroes, nominasi SCTV Awards, Satya Lencana Menkokesra, Ikon Majalah TEMPO dan GATRA, dan bla bla bla seterusnya. Kali berikutnya bisa ditebak: Papi Lie sibuk terima undangan ngomong di mana-mana.

Pada saat bersamaan, karya pelayanan medis doctorSHARE terus jalan. Tahun 2014 inilah pertama kalinya gue menginjakkan kaki di tanah Papua (Barat). Sekali untuk survei dan sekali lagi (selama sebulan penuh) untuk liputan pelayanan medis. Selain itu, yang gue liput secara langsung adalah pelayanan medis buat korban Sinabung, Lombok, dan Kei, Maluku Tenggara (untuk ketiga kalinya).

Highlight untuk pelayanan medis 2014 buat gue pribadi adalah Papua Barat dan Kei. Indonesia Timur memang selalu memberi kesan yang begitu dalam. Mengamati kehidupan masyarakat Papua Barat selama total sebulan tanpa jeda membuat gue merenung panjang. Nggak mau jejak ilang gitu aja, gue menuliskan seluruh pengalaman yang gue lihat dan rasakan dalam catatan harian sepanjang 30 halaman (Selasa, 24 Juni 2014 sd. Minggu, 20 Juli 2014) yang nggak bisa gue jabarin satu-satu di sini.

Kebanyakan masyarakatnya pasrah dengan keadaan di tengah politisasi yang begitu kencang di luar sana. Di Papua Barat ini pula gue pertama kalinya ikut pilpres di luar Bandung. Gue dan teman-teman mencoblos di balai serbaguna Kampung Samate, Salawati – Raja Ampat yang beberapa hari sebelumnya baru saja kami pake sebagai tempat pelayanan medis. Baik di Papua Barat maupun Kei, teman-teman doctorSHARE harus menghadapi guncangan ombak yang dahsyatnya luar biasa.

4

Tapi yang paling membekas sampai detik ini adalah pengalaman di Kei ketika seorang anak meninggal ketika gue lagi keliling kampung untuk foto. Kejadian orang meninggal mungkin udah biasa buat dokter PTT, tapi sama sekali enggak buat gue. Nama anak itu Biata. Sampe sekarang, lengkingan suara mamanya Biata yang histeris nggak pernah bisa ilang dari kepala gue.

Cerita singkatnya, gue lagi asik moto ketika tiba-tiba mendengar jeritan seorang ibu. Pikiran gue adalah lagi ada keributan atau KDRT. Salah. Ternyata seorang anak bernama Biata baru saja meninggal dunia. Bapak dan ibunya meraung-raung sementara beberapa warga lainnya mulai mengerubungi, beberapa wanita menangis. Biata meninggal dalam keadaan masih mengenakan seragam merah putihnya, seudah menjalani sesi pemotretan untuk beasiswa bagi anak miskin.

Teman-teman dokter segera memeriksa denyut nadi. Biata memang sudah tiada dan ternyata hanya berselang satu jam dari terakhir kali ia mendapat pelayanan medis doctorSHARE. Saat itu, Biata masih bisa jalan meski harus dipapah ibunya. Gue sempat memfoto Biata ketika anak malang ini diperiksa. Yang gue nggak tahu adalah gue memfoto anak itu di detik-detik terakhir hidupnya.

Yang juga jadi catatan pribadi gue adalah pertumbuhan internal doctorSHARE yang melejit bak meteor. Seperti gue bilang di awal, makin melimpah panen, makin besar kapasitas ruang yang dibutuhin baik itu ruang secara fisik (kantor baru) maupun ruang hati (peningkatan skill dan terutama pematangan karakter). Konflik adalah hal wajar yang sangat baik untuk mempertajam diri kita, mengingatkan gue pada kutipan “besi menajamkan besi, manusia menajamkan sesamanya”.

Di luar doctorSHARE, di tahun 2014 nggak banyak tulisan gue yang publish media massa dan ini menjadi pe-er sangat besar buat gue di tahun 2015. Tulisan gue untuk media yang paling menonjol di tahun 2014 adalah yang dimuat Jakarta Post dengan judul “Chinese New Year: New Hope From The Young Generation”. Ini adalah kali kedua tulisan gue tentang Imlek dimuat di Jakarta Post.

Tahun 2014 gue juga mengambil keputusan cukup krusial yaitu ambil tes S2 di UI. Tujuan gue pengen kuliah lagi adalah supaya otak terus dipacu untuk berpikir dan menulis. Nggak terpikir untuk jadi dosen, tapi kalau suatu hari ada kesempatan ya boleh juga jadi dosen tamu, hahaha… Tanpa kuliah, gue bisa aja sih baca-tulis sendiri tapi pasti akan cenderung leha-leha. Gue ingin terus belajar.

Setelah berpikir cukup dalam, akhirnya gue putuskan ambil Ilmu Komunikasi. Selama ini gue belajar media dan jurnalistik secara otodidak dari pengalaman, paling banter lewat kursus. Nggak ada salahnya mulai belajar teori-teorinya untuk memperkuat pengalaman yang udah gue dapetin selama ini supaya makin tajam dan terarah.

Puji Tuhan akhirnya lulus tes masuk dan beberapa bulan kemudian perkuliahan dimulai. Gue bukanlah tipe yang bisa konsentrasi lakuin banyak hal pada saat bersamaan. Maka awalnya gue menemukan kesulitan untuk mengatur ritme sambil kuliah sambil berkarya di doctorSHARE, apalagi saat itu Papi Lie mempercayakan buat bikin perhelatan Malam Dana 2014 dengan target 1.000 tamu.

Maka ini yang gue lakukan: pagi sebelum kuliah ngantor dulu, siang ke sore kuliah, pulang kuliah ke kantor lagi. Dengan sisa waktu, sesudah pulang gue berusaha ngerjain pr paper kuliah. Karena capek banget jiwa raga, biasanya sampe kantor gue bobo siang dulu sebentar biar fresh terus lanjutin lagi kerjaan. Kadang ketiduran di kelas, hahahaha… Beberapa proyek nulis dari luar harus ditolak dulu sementara waktu. Walau demikian, rasa capek ini tetap terasa amat menyenangkan.

Gue mendapat teman-teman kelompok kuliah yang masih muda, sangat rajin, dan kompak (lebih kompak dari S1 dulu). Gue juga dikaruniai teman-teman doctorSHARE yang sudah seperti keluarga sendiri sehingga kantor lama-lama berasa jadi rumah sendiri. Rasa capek pun terbayar sudah dengan lancarnya perhelatan Malam Dana, hasil kerja keras tim yang luar biasa. Kuliah pun tidak ada masalah. Rasanya seperti dapat power up alias tambahan suplai energi dari Tuhan.

2

Yang juga gue syukuri dari tahun 2014 adalah gue boleh tetap punya mentor orang-orang hebat yang sangat menginspirasi hidup gue (dr. Lie Dharmawan, Lisa Suroso, William Kwan, Ester Jusuf, dr. Agus Harianto, Andreas Harsono, Adeste Adipriyanti, Novalia Hioe, Hendra Natanel, Elly Neliwati, Ian Vail), sahabat-sahabat yang setia mendukung sejak awal, dan bahkan sahabat-sahabat baru.

Bergaul bersama keluarga, para mentor, dan para sahabat ini membuat gue bisa terus berdiri tegak, terus mengembangkan talenta, dan tidak menyerah menghadapi segala jenis pergumulan di depan mata. Pergumulan gue di tahun 2014 begitu banyak tapi sejauh yang gue tahu, God is in control. Lebih banyak hal yang bisa gue syukuri daripada gue sesali.

Gue mendapat keistimewaan untuk bisa tetap menghidupi passion menulis ketika yang lain sudah menyerah dan menganggap bahwa apa yang gue lakukan cuma buang-buang waktu. Gue bersyukur karena Tuhan yang bekerja melalui para sahabat (bahkan orang tak dikenal) memberi gue kekuatan untuk terus berkarya, apapun yang terjadi.

Sekali lagi, para sahabat menyadarkan gue bahwa hidup itu bukan hanya soal lahir, sekolah, kuliah, nikah, punya anak, punya cucu, tua, dan kemudian mati. Life is more than that. Adalah kehormatan besar dapat melayani sesama ketika makin banyak orang berfokus pada pencapaian materi yang tak ada habis-habisnya sekalipun harus mengorbankan happiness dalam bekerja bahkan berkeluarga.

Jokowi jadi presiden, Ahok jadi gubernur. Ridwan Kamil dan Ibu Risma jadi walikota. Berbagai perubahan drastis yang terjadi dalam kepemimpinan mereka udah cukup bikin gue percaya bahwa harapan itu masih ada dan akan selalu ada. Maka gue selalu mengingatkan diri sendiri untuk tidak pernah menyerah. Merasa down itu hal biasa asal jangan kehilangan harapan.

Untuk tahun 2015, target gue adalah lebih banyak berkarya, khususnya dalam hal penulisan. Meskipun berat karena berbagai kesibukan, tahun 2015 ini gue harus melahirkan “bayi pertama”: sebuah buku, dan meningkatkan produktivitas menulis di media massa. Selain itu, gue juga berharap kuliah gue dua semester ke depan bisa lancar dan udah dapet topik tesis yang “joss”.

Gue selalu diingatkan bahwa we don’t need perfect moment untuk berkarya karena itu akan sangat sulit terjadi. Tapi tanpa doa dan dukungan para mentor dan para sahabat, sehebat apapun nilai hidup gue, belum tentu gue bisa kuat berdiri sampai detik ini.

Oleh karena itu, dalam tulisan ini ijinkan gue menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya untuk dukungan kalian, terutama yang mahfum dan sabar ketika gue lagi error, hehehe… You are a hero for me. Jangan pernah menyerah untuk tahun 2015 karena harapan itu selalu ada.  

 1

Love you so much,
Sylvie Tanaga

Advertisements

One thought on “2014: Percikan Refleksi Pribadi Bagi Para Sahabat

  1. Pingback: Refleksi 2015: Terima Kasih Sahabat… | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s