Pundit

Rasa puas akan mengalir deras saat melihat apa yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain, apalagi jika kita berkesempatan melihat prosesnya secara langsung. Benarkah?

Kecuali hanya berorientasi kepeng, seorang dokter akan bahagia menyaksikan pasiennya sembuh, musisi bersemangat melihat para penontonnya bernyanyi gembira, peneliti bangga saat menemukan vaksin HIV/AIDS dan ebola (semoga!), komedian girang jika berhasil mengocok perut audiens – kalau perlu sampai mereka meneteskan air mata hingga stress enyah dari peradaban.

Melihat banyak orang menikmati hasil karya kita secara langsung adalah bensin yang dapat mempertahankan api harapan tetap menyala dalam hidup kita.

Mereka yang bergelut di ranah gagasan juga sibuk mengolah teori, membuktikan hipotesa, dan menguji berulang sample yang mungkin tak dapat digeneralisasi. Pertanyaannya, bagaimana kita tahu bahwa mereka dapat mengubah pikiran seseorang sehingga membawa dampak pada lingkungannya?

Bagaimana kita tahu andil mereka dalam mengubah komunitas dan dunia? Bukankah mereka harus melalui lubang spiral yang begitu panjang dan berbelit agar kita tahu bahwa yang mereka teliti dapat bermanfaat dalam kehidupan nyata? Sedalam-dalamnya uji validitas dan realibilitas, bukankah sebuah teori tetap merupakan simplifikasi dari masalah yang begitu kompleks?

Demikian pula dengan penulis profesional. Menulis adalah pekerjaan di ranah pergolakan pikiran dan emosi. Ketika seseorang menulis, tidak serta merta tulisannya dapat mengubah komunitas. Di masa-masa awal, mendapat satu-dua respon saja sudah prestasi. Terlebih jika sang penulis hidup di suatu negara yang kebanyakan masyarakatnya tak rela merogoh kocek buat menambah nutrisi otak.

Dunia penulis adalah dunia yang mendamba sepi sekaligus menolak kesepian. Ia rindu menyendiri namun pada saat bersamaan rindu respon.

The author should die once he has finished, filsuf Umberto Eco berkata. Tak masalah penulis “mati” jika karyanya jadi bahan diskusi. Yang celaka adalah the author should die once he has finished, and also his/her works. Jika ini terjadi, kemungkinan penyebabnya adalah tulisan yang ia buat belum berkualitas atau ia tidak mengelilingi diri dengan komunitas yang tepat, orang terdekat yang mau merespon huruf demi huruf yang ia torehkan, meski belum sempurna betul.

Komunitas menjadi penting untuk membantu menilai apakah tulisan yang kita hasilkan sudah memikat atau belum, apakah berpotensi atau tidak.

Komunitas yang tepat adalah wadah kita mendapat respon tanpa merasa dihakimi, terlebih jika kita berprofesi sebagai penulis, seniman, sineas, peneliti, dan sebagainya yang proses berkaryanya dipandang nyentrik oleh kebanyakan orang. Tanpa dukungan komunitas, siapapun yang berprofesi di ranah gagasan semacam ini akan sangat mudah rapuh, sekalipun dilakukan atas nama passion.

Kita dapat menyaksikan proses seorang atlet berlatih sepakbola di stadion. Kita dapat melihatnya berlari terengah-engah, berkeringat, menendang bola secara zigzag, dan sebagainya. Kita pun dengan mudah merespon dengan sorak ketika ia berhasil menjebol gawang lawan.

Lalu apa enaknya melihat seorang penulis merenung dan membaca?

Seorang penulis sengaja menghindari hiruk pikuk, merenung, berimajinasi, memakan aneka jenis bacaan, brainstorming isu, nonton film, mendengar musik, merenung lagi. Kebanyakan orang bisa saja menghakimi proses ini sebagai sesuatu yang buang-buang waktu atau “kamu hanya omong doang.” Mereka lupa bahwa tugas penulis memang sebatas menyumbang gagasannya dalam bentuk tulisan.

Bagian pelukis adalah melukis, bagian kurator adalah mengevaluasi lukisan. Pelukis tidak dapat memarahi kurator yang sedang mengevaluasi lukisannya. Sineas tidak dapat marah pada para kritikus film meski terkadang muncul pikiran “enak aja lu ngomong, coba aja kerjain sendiri!”

Sering pula saya dengar dikotomi orang goblok dan orang pintar (dipopulerkan juga oleh Bob Sadino) dimana orang goblok adalah orang yang sekolahnya tidak tinggi tapi berhasil karena berani ambil resiko sementara orang pintar seolah tidak berani ambil resiko sehingga karirnya cenderung mandek. Saya tidak sepenuhnya setuju dengan dikotomi ini karena setiap orang memiliki kekhasannya masing-masing.

Ketika seorang dosen ekonomi mengajar soal strategi keuangan sementara hidupnya sendiri masih pas-pasan, kita tidak dapat menghakiminya sebagai orang pintar yang karirnya mandek. Ini terjadi karena kita hanya melihat keberhasilan atau kegagalan seseorang dari satu tolak ukur yaitu kemapanan. Bagaimana dengan Van Gogh yang lukisannya tak pernah dianggap hingga sepanjang hayatnya?

Tidak semua orang mendapat kesempatan three in one untuk mengembangkan gagasan, mendapat pengalaman darinya, sekaligus menuliskannya. Seorang politisi sehebat apapun tidak dapat menjabat sekaligus sebagai anggota legislatif, eksekutif, dan yudikatif. Ada trias politica. Ada bagian masing-masing yang tidak dapat dibandingkan satu sama lain.

Win win solution yang saya lakukan sejauh ini adalah menempatkan diri sebagai seorang pundit. Pundit berasal dari bahasa Hindi “pandita” (a learned man) yang berarti a person who knows a particular subject and who expresses ideas and opinions about the subject publicy (Merriem Webster Dictionary).

Kaum pundit mempelajari dan menggali teori-teori seperti akademisi murni namun mereka berusaha menyajikannya ke hadapan masyarakat dalam bentuk yang lebih cair. Kaum pundit tak menampik pentingnya teori tetapi pada saat bersamaan berupaya menggalinya langsung dari realita di masyarakat.

Kaum pundit sadar bahwa mendalami teori tanpa memahami realita hanya menghasilkan teori usang yang tidak relevan. Pada saat bersamaan, kaum pundit sadar bahwa terjun langsung memahami realita tanpa berupaya mempelajari teori yang melatarbelakanginya hanya menjadikannya sebagai seseorang wartawan atau aktivis. Perpaduan keduanya dapat memperluas sudut pandang kita akan berbagai hal.

Konsekuensinya, seorang pundit tidak dapat mempelajari satu bidang saja secara mendalam. Ia harus mempelajari berbagai isu. Ia harus pandai membagi waktu antara mendalami teori, memahami realita, dan menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ia tidak boleh menempatkan dirinya sebagai “pengamat” (baca: Tuhan) yang tahu segala sesuatunya tapi harus menyesuaikan diri dengan realita yang terjadi.

Setelah menghasilkan karya, seorang pundit juga mungkin bernasib sama seperti akademisi murni yaitu belum tentu mendapat respon langsung. Namun cara kaum pundit menyajikan pemahamannya dalam bentuk populer dan mudah dicerna lebih berpotensi mengundang respon secara lebih cepat. Pada akhirnya, yang membuat perubahan bukanlah cepat lambatnya respon tapi dampak yang dihasilkan.

Pelajaran yang diberikan guru sewaktu SD mungkin baru kita pahami setelah dewasa. Kita tidak pernah lupa bagaimana sebuah pelajaran mengubah pola pikir yang akhirnya membuat kita melakukan hal-hal yang berdampak bagi lingkungan sekitar. Sang guru belum tentu tahu bahwa kelak ia akan mengubah dunia lewat murid-muridnya.

Sudah banyak penulis yang menulis soal kemiskinan tapi kemiskinan itu selalu ada, malah bertambah. Apakah itu berarti sang penulis tidak berhasil memberi solusi? Tidak! Ia sudah melakukan apa yang seharusnya dilakukan yaitu membagikan gagasan terbaiknya. Sang penulis tidak akan pernah tahu jika gagasannya dapat menghasilkan gebrakan nyata 10 hingga 20 tahun kemudian.

Yang dilakukan penulis bukanlah mengubah kehidupan masyarakat secara kasat mata. Mereka hanya mencoba menggelitik pikiran dan nurani masyarakat terhadap fenomena sosial. Jika yang digelitik merespon, tidak mustahil akan terjadi revolusi mental dengan catatan bahwa tidak pernah ada perubahan pola pikir yang terjadi secara instan.

Ketika kita menggores gagasan dalam tulisan, ia akan selalu hidup lintas generasi. Dalam novel berjudul Rumah Kaca, Pramoedya Ananta Toer menulis “orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.”

Pada akhirnya, saya sampai pada kesimpulan bahwa kita harus berkarya dengan jujur. Menulislah karena kita cinta menulis meski ada sisi realistis yang perlu dipertimbangkan. Jujurlah dalam berkarya. Jangan berambisi mengubah seseorang melalui karya kita seolah kita adalah “Tuhan”.

Orang-orang yang terpanggil berkarya dalam ranah pemikiran hanya perlu lebih bersabar pada proses. Keep believing bahwa apa yang kita lakukan tidak hanya menghasilkan kepuasan pribadi tapi pada saatnya nanti dapat berdampak luar biasa. Bukankah perubahan besar selalu dimulai dari perubahan-perubahan kecil tiap harinya? Berbanggalah dengan ketidaknormalan yang harus kita jalani.

Jika kita sudah mencapai tahap ini, yang selanjutnya harus dilakukan adalah mendukung teman-teman lainnya yang bergelut dalam pergumulan serupa. Dukung dan responi karya mereka. Sekecil apapun respon kita, akan sangat berarti bagi mereka.

* * *

 Sumber Foto:  www.permanentculturenow.com

Sylvie Tanaga
Kemayoran
Sabtu, 24 Januari
1.49 PM

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s