BOOK REVIEW – Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia

 

Judul
Dapur Media: Antologi Liputan Media di Indonesia

Penulis
Basil Triharyanto, Coen Husain Pontoh, Eriyanto, Irawan Saptono, Komarudin, Lilik HS, Max Wangkar, Taufik Wijaya

Penerbit
Yayasan PANTAU

Cetakan
I, Maret 2013

Tebal Buku
262 halaman

 

“Buku ini suatu bufet yang sangat beranekaragam dan luar biasa. Enak dimakan dan perlu!“

DAVID T. HILL
Profesor kajian Asia Tenggara dan fellow di Asia Research Centre, Murdoch University, Australia

 

Memikat. Inilah kata yang dapat menggambarkan bagaimana delapan penulis dalam buku ini menata antologi dalam sebuah bufet yang “enak dimakan dan perlu”. Seperti judulnya, antologi ini melirik dapur-dapur media yang ada di Indonesia mulai dari Kelompok Kompas Gramedia, Tempo, Jawa Pos, Bisnis Indonesia, Sriwijaya Post, Suara Timor Timur, Kaskus, YadooI Indonesia, hingga Metro TV.

Dalam bab AMANAT HATI NURANI KARYAWAN, Coen Husain Pontoh menelusuri Kelompok Kompas Gramedia yang berawal dari bulanan Intisari pada 7 Agustus 1963. Desakan presiden Soekarno setahun kemudian agar Partai Katolik mendirikan koran mendorong lahirnya Kompas pada 28 Juni 1965, yang merekrut sebagian wartawan Intisari dengan moto “Amanat Hati Nurani Rakyat”. Seiring waktu, Kompas meraksasa sebagai perusahaan media bahkan menjadi pelaku bisnis yang disegani di Indonesia.

KONFLIK TAK KUNJUNG PADAM mengisahkan perjalanan Tempo yang tak pernah lepas dari hiruk pikuk politik, di luar maupun di dalam media itu sendiri. Dalam bab ini, Coen Husain Pontoh piawai menyuguhkan dialog-dialognya dengan para narasumber. Dapur Tempo terlihat begitu nyata, terutama bagaimana raksasa media ini berjuang mengatasi masalah manajemen dan menanamkan budaya perusahaan di tengah panasnya persaingan industri media dan carut marut situasi politik.

JAWA POS ADALAH DAHLAN ISKAN memperlihatkan perjalanan Dahlan membesarkan sebuah koran kecil menjadi perusahaan media paling dominan di Indonesia dalam 20 tahun. Max Wangkar tidak hanya menarasikan dengan baik perjalanan Dahlan di Jawa Pos tapi ia juga mampu menyajikan pola pikir plus gaya kepemimpinan Dahlan dalam mengambil berbagai keputusan dan mengatasi konflik yang muncul.

Dalam SUARA KONGLOMERAT, Eriyanto menyuguhkan kisah Bisnis Indonesia – bahasan yang menarik jika kita ingin melihat minat konglomerat dalam bisnis media di Indonesia. Eriyanto menggambarkan bagaimana media hasil kongsi antara Sukamdani Sahid Gitosardjono, Ciputra, Anthony Salim, dan Eric Somola ini melewati fase demi fase yang menguji independensinya dalam menyajikan pemberitaan, terutama yang berkaitan dengan kepentingan bisnis para pemiliknya.

Taufik Wijaya membuka bab BAKU HANTAM PALEMBANG dengan adegan perkelahian antar pengelola Sriwijaya Post. Berikutnya, Taufik membawa pembaca pada masalah manajemen yang melatar belakangi perkelahian tersebut, akibat yang ditimbulkan, dan upaya resolusi untuk mengakhiri kemelut tersebut. Adakalanya konflik internal yang berlarut jauh lebih fatal daripada menghadapi persaingan antar media.

Irawan Saptono sangat memikat ketika mengisahkan perjalanannya bersama Suara Timor Timur dalam bab SURATKABAR DI TENGAH KECAMUK. Suara Timor Timur kala itu menghadapi sebuah situasi politik yang begitu panas sebelum dan sesudah berlangsungnya referendum. Militer Indonesia berupaya melakukan intervensi atas nama stabilitas keamanan. Berjuang di tengah peperangan jelas bukan perkara mudah bagi Suara Timor Timur. Irawan pun terpaksa pulang ke Jakarta usai mendapat ancaman.

Tidak disangsingkan lagi, Kaskus berhasil mencuat sebagai forum komunitas maya terbesar di Indonesia. KASAK-KUSUK KOMUNITAS DARING memaparkan bagaimana sukses ini dibangun Andrew Darwis dan Ken Dean Lawadinata yang masih belia. Berawal dari hobi, Andrew cs. akhirnya membangun Kaskus menjadi platform bisnis media baru yang sukses menangguk pundi. Lilik HS sebagai penulis bab ini berhasil menarasikan perjalanan Kaskus dan dilemma-dilemma yang dialami pendirinya.

Masih bertutur soal daring, KISAH YAHOO! DI INDONESIA yang ditulis Komarudin menyorot soal pertaruhan Yahoo! Indonesia dan dinamika yang dialaminya dalam mengarungi persaingan di pasar lokal. Menyandang nama besar perusahaan internet multinasional tidak serta merta membuat Yahoo! Indonesia melenggang mulus. Konvergensi dengan media lainnya adalah langkah yang perlu diambil sebagai strategi pertahanan. Butuh inovasi yang lebih menggebrak untuk meraih kemenangan.

Basil Triharyanto melenggang mulus dalam ceritanya soal kasus Luviana di Metro TV. Dalam tulisannya pada bab DEMOKRASI SEMU, Basil membawa pembaca melewati episode demi episode perjalanan Luviana dalam memperjuangkan haknya, kasus yang menjadi cermin kekangan terhadap serikat pekerja media. Media yang selama ini fasih meneriakkan pentingnya demokrasi justru membisu saat harus menjalankannya di dapur sendiri.

Mengutip pernyataan David T. Hill dalam kata pengantar, sembilan bab buku ini mengedepankan beberapa tema besar yang mencolok yaitu pergantian generasi bagi berbagai media yang berhasil di Indonesia, sikap negatif pemilik media terhadap hak serikat pekerja, dan meledaknya industri media pasca Soeharto yang kualitas dan profesionalismenya masih menjadi tanda tanya besar.

Buku ini begitu memikat, membuat kita tidak bisa berhenti membacanya hingga huruf terakhir. Ia menjadi referensi yang amat penting dibaca oleh kita semua, terutama akademisi dan praktisi yang berkecimpung dalam dunia media.

* * *

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s