Imlek Dalam Semangat Pluralisme

Sebelas tahun silam, Tionghoa Indonesia boleh menghembuskan napas lega. Itulah kali pertama Imlek dapat dirayakan secara leluasa dalam kerangka hari libur nasional, bukan lagi hari penting yang dirayakan dalam tekanan. Sejak tahun 2003, saya ingat tak perlu lagi tergesa-gesa merayakan Imlek sepulang sekolah sambil menunggu ayah pulang kerja.

Imlek adalah hari yang begitu berarti bagi keluarga Tionghoa. Dalam keluarga saya secara pribadi, Imlek bahkan berlangsung lebih meriah daripada hari raya apapun termasuk Waisak dan Natal. Imlek bukan sekedar tradisi bagi-bagi angpao dan makan-makan. Imlek adalah menikmati hangatnya berkumpul bersama keluarga besar dengan harapan positif dalam menyambut tahun baru.

Tahun demi tahun, semangat Imlek makin nyata dalam masyarakat luas. Merah terasa meriah di pusat-pusat perbelanjaan, barongsay bertebaran di segala penjuru, dan berita perayaan Imlek menghiasi layar kaca. Demikian pula dengan maraknya penampilan aneka kesenian hasil akulturasi yang unik seperti lagu Bengawan Solo dalam bahasa mandarin yang dimainkan dengan angklung.

Kursus-kursus mandarin merajalela. Kurikulum mandarin pun masuk sebagai mata pelajaran di sekolah, menyebabkan generasi muda Indonesia yang tak hanya Tionghoa kini mahir ber-cas cis cus. Kemahiran ini akhirnya menjadi nilai tambah menghadapi kompetisi global dalam pasar bebas yang ditandai dengan melesatnya peran ekonomi dan sosial-budaya RRC di dunia.

Pendek kata, Imlek dan kehidupan etnis Tionghoa telah menjadi bagian integral bangsa Indonesia. Meneliti lebih dalam, kita tahu bahwa peran etnis Tionghoa Indonesia saat ini tak hanya bergaung dalam bidang ekonomi (seperti pelintiran Orde Baru) atau sebatas kemenangan dalam ajang olimpiade sains dan badminton yang memuncak pada era Susy Susanti dan Alan Budikusuma.

Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah contoh bagaimana Tionghoa Indonesia saat ini memiliki kesempatan untuk kembali aktif berkarya dalam bidang politik seperti yang pernah terjadi pada era sebelumnya. Kinerjanya sebagai gubernur yang dipandang positif dalam memajukan ibukota diiringi keberanian memperjuangkan kebenaran begitu menginspirasi banyak orang.

Seiring waktu, kita melihat makin banyak Tionghoa yang berjuang di jalur sunyi maupun Tionghoa yang memainkan peran berharga dalam wadah organisasi. Para pahlawan ini mungkin tidak setenar Ahok namun masyarakat merasakan dampak positifnya yang luar biasa.

Mereka menganggap bahwa lahir sebagai Tionghoa di Indonesia yang kaya warna adalah anugerah dan kesempatan untuk menghasilkan karya hebat. Mereka tidak menampik adanya tantangan yang masih harus dihadapi namun sadar bahwa payung hukum berupa Undang-Undang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis adalah modal yang cukup untuk berkarya secara bebas.

Meskipun minoritas, mereka tidak pernah menghasilkan karya-karya yang minor (kecil). Meskipun sempat terpenjara huru-hara politik, mereka tidak pernah memandang diri sebagai korban. Mereka hanya sadar bahwa hidup bukan tentang diri sendiri. Hidup adalah tentang berbagi.

Kesadaran ini menjadikan mereka sosok inspiratif dengan warisan yang dapat dinikmati generasi selanjutnya. Karya-karya mereka yang dihasilkan dalam suasana plural secara otomatis mampu mematahkan stigma negatif tentang Tionghoa di tanah air.

dr. Lie adalah contoh sosok Tionghoa yang sangat vokal memperjuangkan hak-haknya sebagai Warga Negara Indonesia. Beliau mengalami diskriminasi sejak masa kecil namun kejadian-kejadian tersebut tidak pernah menghilangkan rasa cintanya terhadap Indonesia dan lebih khusus lagi, terhadap kemanusiaan. Ia kritis terhadap ketidakadilan namun berhati besar untuk memaafkan.

Dobrakan pelayanan medisnya melalui doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) memupuk nilai-nilai pluralisme bagi para anggota doctorSHARE maupun masyarakat setempat. Dalam berbagai pelayanan medis, misalnya, seringkali saya mendengar pernyataan ibu-ibu yang berobat: “wah, dokternya banyak yang Cina-Cina ya…”  Saya tersenyum dan menjawab “memang banyak di antara kami yang Tionghoa Indonesia, Bu.”

Yang tak kalah penting untuk diketahui, Tionghoa sendiri terdiri dari berbagai lapis keragaman mulai dari Tionghoa peranakan dan non peranakan, berdasarkan asal tinggal (Tionghoa Sumatera, Jawa, Kalimantan, Papua, dan sebagainya), berdasarkan bahasa (Hakka, Hokkian, Fujian, dan sebagainya), serta masih banyak lagi variasi lainnya. Pluralisme adalah hal yang biasa terjadi.

Memang butuh waktu bagi etnis Tionghoa untuk melepaskan diri dari rasa trauma akibat tindakan-tindakan rasial era Orde Baru yang puncaknya terjadi pada Mei 1998. Namun perkembangan menggembirakan yang terjadi di ranah hukum termasuk pengakuan Imlek sebagai hari libur nasional cukup menjadi angin segar untuk berkarya dengan rasa aman.

Secara de jure, etnis Tionghoa di Indonesia telah mendapat kebebasan dalam merayakan tradisinya. Tugas selanjutnya adalah mengembangkan sinergi lintas etnis untuk mencapai cita-cita Ir. Soekarno: Indonesia duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lainnya di dunia. Cita-cita ini hanya tercapai jika kita semua bersatu dan memandang perbedaan sebagai kekuatan.

Selamat berkarya dalam semangat pluralisme menuju Indonesia yang lebih baik.

Selamat Tahun Baru Imlek. Gong Xi Fa Cai, Wan Shi Ru Yi!

 * * *

Dimuat dalam Harian Pikiran Rakyat (Rabu, 18 Februari 2015)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s