Book Review: #TETOT – Aku, Kamu, dan Media Sosial

“Sehebat-hebatnya pemerintah, ia hanya membawa ¼ perubahan. ¼ lagi ada di bisnis, ¼ lagi ada di social movement, dan ¼ lagi ada di media.”

Walikota Bandung, Ridwan Kamil

 

JUDUL BUKU      :  #TETOT: Aku, Kamu, dan Media Sosial
PENULIS               :  Ridwan Kamil (@ridwankamil)
PENERBIT            :  Sygma Creative Media Corp., Bandung
CETAKAN             :  I, Desember 2014
TEBAL BUKU       :  xvii + 363 halaman

Kebanyakan Anda mungkin sepakat jika saya menyebut bahwa pejabat yang paling getol menggeluti media sosial untuk berinteraksi dengan warganya adalah walikota Bandung saat ini, Ridwan Kamil. “Kang Emil”(sapaan akrabnya) bukan cuma iseng bermain tuts untuk sekadar eksis atau agar terlihat gaya dan gaul. Ia sudah aktif di ranah medsos jauh sebelum jadi orang nomor satu di kota Bandung.

Kang Emil sudah jadi warga Facebook sejak 2008 dan penduduk resmi Twitter setahun setelahnya. Emil sadar sejak awal bahwa media sosial adalah alat ampuh untuk berkomunikasi dengan banyak orang secara langsung, tanpa batas ruang dan waktu. Ketika akhirnya jadi pamong kota, Emil pun makin pédé memanfaatkan medsos sebagai salah satu senjata utama berbincang dengan warganya.

1388927046904173895_300x168.78130217028

Perhatian publik makin booming setelah Emil membalas tweet tuduhan “asbun” dari Farhat Abbas terkait kebijakannya sebagai walikota seperti WiFi gratis, bis gratis, penggunaan bahasa Sunda, dan seterusnya. Emil cerdas. Alih-alih membuat klarifikasi, ia menjawabnya dengan mesin #TETOT diikuti kalimat pendek santai tapi menohok. Sepertinya, judul buku ini lahir dari peristiwa tersebut.

Meskipun lumayan tebal, #TETOT adalah buku yang sangat asyik dibaca. Ia tidak padat dengan muatan filosofis tentang pentingnya medsos dalam pemeritahan, dan seterusnya dan seterusnya. Emil lebih memilih bercerita santai tentang alasa-alasannnya aktif dalam medsos, hal-hal unik yang dialaminya, dan bagaimana ia mampu membangun partisipasi aktif warga Bandung melaluinya.

Alih-alih menggurui, Emil mencoba berbagi kisah apa adanya dalam delapan bab menarik.

Anak Twitter yang (Kebetulan) Jadi Wali Kota. Emil memulai kisahnya sebagai warga Facebook dan Twitter. Bagi Emil, medsos adalah ruang bersilaturahmi, berdiskusi, dan berbagi ide. Di mata Emil, medsos membawa kebaikan yang nilainya lebih besar dari sekadar untung materi. Manfaat ini bukan hanya untuk diri sendiri tapi juga untuk kota, negara, bahkan dunia.

Homo Bandoengicus Anu Kreatifus Sekaligus Narciscus. Bagi Emil, anak muda Bandung begitu berbakat, hobi berkelompok, pintar, dan peduli. Kalau semua digabung, Bandung meledak dahsyat. Selain kreatif, modal lain yang menurut Emil tak kalah penting yaitu sifat NARSIS orang Bandung. Lewat medsos, mereka merasa punya arti dan harus berkontribusi. Hal semacam ini harus dipelihara.

Media Sosial dan Inspirasi Obama di Pentas Politik. Berkali-kali disindir “kerjanya hanya twitteran”, dengan santai Emil menanggapinya dengan mengambil contoh apa yang dilakukan Obama via medsos, jauh sebelum ia menjadi presiden Amerika. Work Smart – begitu Emil mengistilahkannya. Nyatanya, keputusannya aktif di dunia medsos memang ampuh meningkatkan partisipasi warga.

Media Sosial, Gerakan Sosial, dan Kolaborasi Kebaikan. Emil sadar sejak awal bahwa fungsi medsos lebih dari sekadar media untuk mengekspresikan diri. Medsos adalah pembentuk gerakan sosial segar yang menginspirasi. Emil pun piawai menggagas aneka program berbasis prinsip ini seperti Bandung Creative City Forum (BCCF), Gerakan Sejuta Biopori, dan Gerakan Pungut Sampah (GPS). Baginya, medsos jadi alat kolaborasi, terlebih warga Bandung “supernarsis sampai tingkat dewa”.

Media Sosial, Kontrol Manajemen, dan Birokrasi Tanpa Sekat. Tak ayal lagi, medsos berperan penting dalam reformasi birokrasi. Hadirnya medsos membuat pejabat saat ini tidak bisa punya alasan untuk tidak berinteraksi dengan warga yang dipimpinnya, kecuali ia sendiri yang ogah. Emil pun melarang rekan-rekan birokratnya gaptek. Ia mewajibkan penggunaan medsos bagi semua dinas pemerintahan dan para pejabat di lingkungan Pemkot dengan sistem pelaporan foto.

Media Sosial, Sharing Informasi, dan Penegakan Aturan. Emil melihat salah satu hambatan tidak optimalnya realisasi aneka program Pemkot selama ini bukan karena program buruk atau kurang uang. Masalahnya, tidak ada pihak yang mengeksekusi karena info tidak sampai ke masyarakat. Lewat medsos, sosialisasi kebijakan jadi jauh lebih cepat dan mudah.

Media Sosial, Berbagi Inspirasi, dan Menuai Sukses Bersama. Selain arena kebijakan dan interaksi, medsos juga bisa mengomunikasikan sesuatu yang lebih intim yakni prinsip hidup. Emil tak ragu-ragu memposting kalimat bijak maupun foto keluarganya yang menginspirasi. Bab ini juga dijamin membuat kita ngakak. Emil tak sungkan membalas tweet curhat warganya dengan aneka candaan. Lewat Ask.Fm, Emil juga bersedia ditanya mengenai kehidupan sehari-harinya.

Media Sosial, Hiburan, dan Bangsa yang Bahagia. Emil menggaris bawahi hal penting yaitu kedewasaan dalam menggunakan media sosial. Poin ini pun turut disinggung dalam bagian penutup buku. Medsos selalu punya dua kepribadian yaitu alat menebar kebaikan sekaligus keburukan, kebencian, dan permusuhan. Jika poin pertama yang dipilih, medsos akan membawa manfaat positif.

Pemikiran-pemikiran Emil dalam #TETOT bukan hanya membuka wawasan soal pentingnya peran teknologi informasi (khususnya medsos) dalam menyosialisasikan aneka kebijakan pemerintah. #TETOT juga memperlihatkan betapa ampuhnya medsos saat ini merangsang kreativitas dan partisipasi publik yang bersifat interaktif alias dua arah.

Saat ini memang sudah banyak birokrat memanfaatkan medsos tapi hanya jadi alat kampanye. Tidak ada dialog di dalamnya. Sebaliknya, Emil memperlihatkan betapa medsos pun harus digunakan sesuai kaidahnya sebagai sarana “bersosialisasi”. Emil tak pernah ja’im (jaga image). Ia menulis tweet apa adanya tanpa sok berfilsafat sehingga warga Bandung pun mengenalnya sebagai sosok pemimpin muda yang gaul, gemar bercanda, asyik, tapi juga cerdas, tegas, dan berbobot.

Secara teknis, buku yang lumayan tebal ini jad sama sekali tidak terasa tebal. Emil dan tim mampu menggodoknya menjadi buku yang renyah untuk dibaca, bahkan ditertawakan. Tawa akan pecah begitu Anda melirik komik-komik grafis di banyak halaman. Komik tersebut adalah ilustrasi beberapa tweet Emil yang memang dikenal doyan bercanda (secara cerdas dan menohok, tentu).

#TETOT adalah paket utuh dari pemikiran Ridwan Kamil soal teknologi informasi, media sosial, kebijakan – manajemen kota, hingga prinsip hidupnya. Semua dikemas kreatif. Buku ini pun jadi referensi yang baik buat mereka yang tertarik meneliti peran media sosial dalam kebijakan publik dan terutama bagi para birokrat yang berniat membuat bangsa ini menjadi lebih baik.

Tak heran ketika mendapat pertanyaan mengapa walikota kok twitteran mulu, Ridwan Kamil dengan santai dapat menjawab: “Mau punya walikota yang gampang dihubungi atau susah dihubungi?” (***Sylvie Tanaga)

Sumber ilustrasi TETOT: lifestyle.kompasiana.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s