“Saya dan Film” – Selamat Hari Film Nasional!

hari film nasional

“Film Indonesia? Ihhhh… males banget sih!”

Lima dari tujuh orang yang saya ajak nonton film Indonesia langsung merespon semacam ini. Saya justru kaget kalau ada yang dengan semangat langsung meng-iya-kan. Mereka langsung saya masukkan dalam kategori keranjang teman-teman langka nan unik nan ajaib! Hahaha….

Bukan salah mereka sih. Sudah puluhan tahun Top of Mind kebanyakan masyarakat soal film tanah air terlalu melekat dengan jenis “pocong perawan”, “nenek gayung”, “suster ngesot”, dan seterusnya, terutama mereka yang sudah lama tidak pernah nonton film Indonesia atau beberapa kali dibuat ill-fell hanya dengan melihat judul-judul dan poster-poster yang tersaji.

Citra yang melekat adalah bahwa film Indonesia itu berkualitas buruk, tidak se-asyik Hollywood atau Korea, tidak lepas dari sex, woman, money, dan aneka rupa hantu lokal yang gentayangan di pohon, gedung tua, sumur, sungai, gua…. Wherever! Yang lebih parah adalah citra bahwa film Indonesia hanya ditonton “kelas bawah” (apapula itu?), murah, dan sinetron banget versi lebih singkat.

Kalau melirik tren, film Indonesia pasca Orba sepertinya baru booming setelah era AADC alias “Ada Apa Dengan Cinta” dan “Petualangan Sherina”. Menyusul kemudian beragam genre remaja, komedi, dan akhirnya kehidupan masyarakat dilihat dari sisi filosofi, politis, budaya, alam, dan sebagainya seperti Laskar Pelangi, Gie, Eliana-Eliana, serta masih banyak lagi judul lainnya.

Saya bukanlah seorang pelaku industri film, pengejar film-film nasional kemanapun mereka tayang (apalagi film-film festival), juga bukan pengamat film. Hingga saat ini, saya sebatas penonton film “standar” yang senang mengikuti apa saja yang sedang dan akan tayang di bioskop.

Film Indonesia pertama yang saya tonton adalah… uh uh… film lawas tentang pemberontakan G30 di televisi! Ini adalah film Indonesia yang seingat saya paling sering nongol di televisi. Film Indonesia pertama yang saya tonton di bioskop adalah AADC! Dan karena nggak terlalu doyan genre film drama cinta, saya sempat bingung kenapa waktu itu AADC begitu nge-hips (maafkan saya mbak Mirles dan oom Riri Riza!). J

“Petualangan Sherina” kalau tidak salah nonton di VCD. Memang hanya dua film itu yang membekas. Tak lama kemudian, saya dengan segera bosan dengan film-film Indonesia. Ketika itu, saya pun tergolong orang yang tidak begitu aktit sayaf menonton film.

Cerita berubah saat saya selesai kuliah, bekerja, dan tidak tahu harus lari kemana untuk menikmati “my time” di ibukota karena saya nggak demen shopping! At all. Tujuan saya kalau ke mall biasanya cuma empat: nge-teh (karena nggak kuat ngopi), nonton, toko buku, tokok musik.

Selebihnya, saya lebih doyan menikmati lukisan dan patung di galeri, film festival di manapun itu dan pertunjukan seni secara live (teater, monolog, dan sebagainya), apalagi live music. Saya lebih rela keluar budget untuk menikmati hal-hal yang saya sebutkan tadi ketimbang untuk shopping baju, sepatu, dan tas – bodo amat walaupun kebiasaan ini dipandang abnormal oleh kebanyakan teman.

Otomatis saya pun jadi rajin mengikuti perkembangan film-film yang tayang di bioskop. Saya bukan tipe orang yang senang menonton lewat download atau streaming. Saya adalah tipe yang harus menonton dengan penuh konsentrasi, tidak bisa sambil mengerjakan hal-hal lain kecuali makan dan minum. Saya pun lebih memilih nonton di bioskop, apalagi untuk film-film Indonesia. Mengapa?

Pertama, saya sangat memperhatikan detail film mulai dari sound effect-nya, alur ceritanya, gairah yang saya rasakan selama menonton, mimik para pemerannya, dan perenungan yang saya dapat setelah menonton film. Maka jadilah saya pribadi yang bawel dan sangat selektif dalam memilih film yang akan saya tonton.

Sebelum menonton, saya baca dulu sinopsisnya, mengamati review-nya dari berbagai sumber (kalau sudah ada), dan seterusnya. Filter ini tak hanya berlaku ketika saya akan nonton film Indonesia tapi juga semua film. Bedanya, review terhadap film Indonesia jauh lebih sulit saya cari daripada film impor yang tinggal melihat iMDB. Teman-teman dekat akan tahu kebiasaan freaky saya yang satu ini.

Alasan kedua kenapa saya memilih nonton di bioskop terutama untuk film Indonesia adalah…. kasihan dong para sineas Indonesia kalau kita nonton di YouTube. Sudah sepi penonton, eh kita milih gratisan. Makin sepi penonton, makin cepat suatu film turun tayang. Gimana rasanya kalau kita jadi sutradara atau artisnya?

Okelah kalau untuk film impor kita masih download (walau sebenernya nggak boleh juga sih!), tapiii… apa salahnya mengapresiasi karya anak bangsa? Sejauh pengamatan saya, film-film Indonesia lebih banyak beredar di jaringan bioskop 21 yang harganya lebih murah daripada XXI atau Blitz. Sekarang bahkan sudah banyak bioskop keliling selain layar tancap.

Kembali pada topik, era ill feel saya terhadap film Indonesia berakhir hanya dua tahun terakhir sebelum saya mengetik tulisan ini. Saya baru sadar bahwa film-film Indonesia mulai menggeliat dengan wajah yang sangat berbeda.

Ca Bau Kan, Laskar Pelangi, Jakarta Hati, Naga Bonar, Cita-citaku Setinggi Tanah, Eliana Eliana, Gie, Soekarno, Rectoverso, Atambua 39 derajat Celcius, Sokola Rimba, Denias, Sang Penari, Tabula Rasa, Beta Maluku, Tanah Mama, Kapan Kawin, Jalanan, dan Selamat Pagi, Malam – adalah segelintir film Indonesia yang begitu menggelitik dan berbekas dalam perenungan hidup saya secara pribadi.

Ada sesuatu yang sangat dekat dan sangat personal dalam pesan film tersebut yang menyentuh saya secara pribadi. Lebay? Tidak buat saya. Film “Selamat Pagi, Malam” misalnya, membuat saya berpikir soal makna kehidupan di ibukota yang sarat dengan materialisme, ilusi palsu persahabatan, ketakutan terus-menerus jadi korban kriminal, dan kehidupan non stop 24 jam bersama gadget.

Kontras sekali dengan gambaran Indonesia Barat dalam Tabula Rasa dan Sokola Rimba ataupun Indonesia Timur dalam Denias, Beta Maluku, dan Tanah Mama. Ini baru bicara soal budaya dan kebiasaan. Belum lagi jika kita masuk sampai masalah pandangan terhadap politik serta seks dan cinta. Ini belum termasuk ratusan film pendek dan film festival yang tidak tayang di bioskop utama tapi dihargai selangit di luar seperti Maryam, Postcards From The Zoo, Angin, Onomastika, dst dst.

Bagi saya film-film ini punya kedekatan kultur yang bukan saja menghibur tapi menggali detail hal-hal yang tidak pernah saya perhatikan karena keegoisan dan ke”austis”an saya. Film-film ini seolah  menertawakan saya yang abai dengan hal-hal kecil yang ada di lingkungan sekitar, mengajak saya berpikir lebih dalam soal apa artinya hidup di sebuah negara bernama Indonesia.

Saya mengenal beberapa sineas film pendek yang mungkin tidak perlu waktu lama untuk syuting. Tapi tenaga yang mereka curahkan sungguh total. Untuk satu film pendek berdurasi 15 menit, misalnya, mereka perlu riset hingga lebih dari setahun. Hasilnya adalah film yang begitu dalam meski sangat sederhana dalam penyajian. Mereka tak hanya harus pandai pegang video camera dan menulis script tapi juga harus jeli menangkap filosofi dan intisari fenomena sosial di sekitarnya.

Saya sangat berterima kasih karena mereka telah membawa saya berkelana dari satu pojok daerah ke pojok lainnya dalam sebuah sajian yang renyah dan menohok relung terdalam saya. Dengan aneka perjuangan ini, saya jadi belajar untuk menghargai sekecil apapun karya mereka. Siapa tak bangga kalau tahun 2015 ini dua sineas kita memenangkan Berlinale Film Festival yang prestisius itu?

Tidak dapat dipungkiri, film esek-esek masih bergentayangan dalam wajah perfilman Indonesia dan kebanyakan menyalahkan industri film. Tapi menurut hukum ekonomi yang saya tahu, kalau tidak ada permintaan maka tidak ada penawaran. Kalau permintaan tinggi, penawaran pun akan tinggi. Darimana datangnya permintaan dan penawaran? Darimana lagi kalau bukan dari penonton?

Industri boleh mem-framing atau meng-agenda setting-kan tren film dengan segala jenis teori media. Tapi saya tahu bahwa potensi sineas Indonesia menunjukkan arah yang makin positif, baik dari segi kualitas teknis maupun tema. Kini bola berada di tangan saya dan teman-teman semua sebagai penonton.

Lewat tulisan ini, saya mencoba membujuk kembali teman-teman untuk melihat wajah perfilman Indonesia yang baru (tetap abaikan yang esek-esek!). Jangan langsung rejected hanya karena judulnya “film Indonesia”. Throw up inferiority mindset. Ini bukan persoalan “siapa lagi yang belain film negeri sendiri kalau bukan kita” atau waham sok nasionalis lainnya.

Saya ajak teman-teman untuk mencoba membuang antipati terhadap film Indonesia dan mulai menyimaknya secara fair dari sisi kualitasnya. Secara teknis, film Indonesia mungkin belum setaraf Hollywood yang efek-efeknya sudah “wah”. Tapi cobalah menonton dengan mata dan mata hati untuk memahami esensi pesan yang berupaya disampaikan sineas.

Saya yakin seyakin-yakinnya akan ada feel baru selain “ill feel”, sejauh kita memilih yang tepat – sebagaimana saya pun merasakannya.

Sekali lagi, saya bukan pengamat film, juga belum cukup banyak nonton film nasional. Saya hanya antusias melihat perkembangan film nasional dan sedang belajar mengapresiasinya. Akhir kata, ijinkan saya mengapresiasi: (1) para sineas yang sudah berjuang buat kemajuan film Indonesia (2) teman-teman yang selama ini mau saya ajak nonton film-film Indonesia dengan semangat. Love you!

 

SELAMAT HARI FILM NASIONAL!!! (30 MARET 2015)
Kemayoran – Jakarta Pusat

Sumber ilustrasi:  www.ardanradio.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s