Toilet Komedi Omong

Toilet

Hafal betul aku dengan ruang delapan kali empat meter ini, untuk tiap sudutnya.
Enam kakus, dua cermin, dan tiga wastafel… oh, yang paling kiri selalu bermasalah sensor airnya. Sudah kupanggil tukang servis berulang kali, tapi masalah nampaknya terlalu akut.

Segulung tisu habis dalam sejam. Artinya, harus kupasang 60 gulung tisu tiap harinya. Aku tak pernah pandai menghitung, malahan aku benci matematika. Tapi aku fasih dengan angka-angka ini. Kalau kau mau uji ingatanku, dapat kukatakan bahwa gudangku menyetok satu ember besar, dua ember kecil, tiga pel, satu sapu, sekantung besar keresek, dan tiga lusin sabun cair ukuran besar.

Semua ini kubutuhkan untuk membersihkan tahi dan air seni yang mungkin menyisa. Satu saja pelanggan mall ini komplen maka tamatlah riwayatku. Dan aku harus mengerjakannya dengan konde, pupur wajah, gincu di bibir dan senyum ramah tanpa henti sambil menggamit kedua lengan.

Silakan, Bu
Sebelah sini, Bu….
Terima kasih, Bu…

Tenang saja, sudah terbiasa aku dengannya. Aku juga sudah belajar banyak soal aneka jenis tas, sepatu, dan baju yang berseliweran indah di depan mataku, lengkap dengan jejak parfum yang baru hilang enam puluh detik sesudahnya. Dolce-Gabana, Gaultier, Versace. Sebut saja sesuka kau.

Oh tidak…. Kau salah, kawan! Tak pernah sedikitpun aku iri dibuatnya. Malahan aku heran karena ia bawa sendiri tas mungilnya dengan super hati-hati sementara anak kandungnya yang masih orok dan lebih rapuh itu justru dibawa oleh tiga babysitter. Bagaimana aku tak kasihan padanya?

Kau tahu hal apa yang membuatku muak?

Mereka patut diri di kaca, berulang dan berulang sambil menggeleng dengan wajah sayu. Mereka tatap tubuh mereka sendiri yang bagiku sudah bak peragawati. Dan kau harus tahu bahwa aku tidak bercanda ketika mengatakan bahwa mereka sungguh bak peragawati ayu titisan langit.

Oh darling, I’m so fat!
“Gile, gendut banget gue kayak bola!”
“Ah, lu sih kurus, beb! Rahasianya apa sih? Kemaren gue baru dari dokter…..”
“Duh, kapan gue bisa kurus ya…..?”

Tak pernah aku belajar Inggris namun dengan cepat kukuasai kata “fat”.
Ingin rasanya kubuang cermin-cermin ini, siapa tahu suara-suara itu bisa henti seketika.

Lebih muak lagi karena aku tak pernah bisa terang-terangan mengekspresikan rasa muakku atas perkataan yang kudengar selama berjam-jam oleh hampir tiap wanita yang mampir ke ruang ini, sementara mereka bebas berekspresi di hadapanku. Kau mungkin memandangku terlalu klise, tapi kau akan temukan kebenarannya jika menggantikan posisiku. Satu hari saja.

Harus kuingatkan diri untuk tetap ramah atau anak semata wayangku tak bisa melihat seragam barunya. Harus kuingatkan diri bahwa di ruang ini, aku robot pembersih. Patung. Manekin.

Ah, tidakkah bibir mereka yang kecil lagi manis itu bisa mengeluarkan syukur barang sekalimat saja? Mereka punya pilihan sebebas-bebasnya untuk makan atau tidak makan enak di restoran seberang sana. Kenapa harus repot? Di lantai tiga ada pusat kebugaran yang kutahu persis punya pemandangan terbaik di kota ini. Kenapa harus repot?

Belum lagi seorang ibu berambut sasak yang tiap hari Kamis datang secara konstan jam tiga sore ke ruang ini. Ia hubungi seorang pria dari kakus nomor lima. Usai flush ketiga, barulah ia akan keluar dan menangis sesenggrukan sesudahnya, menghabiskan jatah tisu lebih cepat dari seharusnya.

Dan kumpulan remaja wanita yang saling cekikikan – dengan talenan kecil di tangan masing-masing.
Dan beberapa wanita muda yang hanya ingin numpang charge (kujuluki mereka fakir listrik).
Dan kesah para pegawai tentang seorang bos yang bebas mereka maki di ruang ini.

 

Komedi omong.

Lebih baik kubersihkan tahi-tahi yang menempel di dinding-dinding kakus daripada kaupaksa aku mendengar tahi-tahi yang berseliweran di udara. Ingin segera kuhapus sisa gincu yang masih menempel di bibir dan meninggalkan ruang berpendar tahi ini.

Aku sudah tak sabar ingin beli soto hangat di ujung gang dan menikmatinya hingga tetes terakhir.
Dengan penuh rasa syukur.

 

* * *

 

Sylvie Tanaga
Kemayoran
Sabtu, 18 April 2015
Pk 00.00 WIB

 

Sumber foto: imgarcade.com

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s