Maximus Tipagau: Masyarakat Papua Tak Butuh Uang Tapi Butuh Dihargai

Maximus Tipagau: Masyarakat Papua Tak Butuh Uang Tapi Butuh Dihargai
(Oleh: Sylvie Tanaga)

Bekerja dengan promosi terus menerus selama 14 tahun di Freeport tak kuasa membendung hasrat pria kelahiran 7 Mei 1983 ini untuk melepas karir moncernya begitu saja. Perusahaan multinasional ini memberinya kenyamanan, namun “Max”, nama panggilan Maximus Tipagau, memilih untuk berkarya di zona bebas bagi masyarakat di tanah kelahirannya, Kabupaten Intan Jaya – Papua.

Setelah 70 tahun Indonesia merdeka, kondisi masyarakat pegunungan Papua masih memprihatinkan dari segala sisi, sebuah ironi mengingat Papua adalah wilayah yang sangat kaya. Mengharapkan pemerintah bergerak adalah kemuskilan ketika kehidupan masyarakat harus tetap berjalan.

Max “gatal” berbuat sesuatu. Suaranya begitu menggebu ketika menceritakan keresahan dan mimpinya, kesejahteraan yang merata bagi seluruh masyarakat Papua. Pahitnya masa kecil menjadi alasan lain yang memicunya tak lama-lama berkubang dalam kenyamanan. Max, dengan segala potensinya, segera menyisingkan lengan, melobi, bersinergi, dan “bertempur” demi Papua.

Tempat, tanggal lahir   :  Bulapa, Kabupaten Intan Jaya – Papua, 7 Mei 1983
Ayah                                      :  Nico Tipagau
Ibu                                          :  Milian Kobogau
Anak ke….                           :  Sulung dari 4 bersaudara (2 meninggal)

Riwayat Pendidikan
– SD Galunggama, Kabupaten Intan Jaya, Papua
– SMP Tembagapura
– SMA Tembagapura

Riwayat Pekerjaan
– Operator tambang Freeport (1998 – 2002)
– Guru alat berat di tambang Freeport (2004 – 2007)
– Konselor Freeport (2005 – 2009)
– Technical Advisor for Scholarship Freeport (2009 – 2010)
– Direktur Carstensz Adventure (2011 – sekarang)
– Pendiri Yayasan Somatua (2012 – sekarang)

———————————————————————————————————————————————————————————————————————————–

Setelah 14 tahun bekerja di Freeport, apa yang mendorong Anda akhirnya keluar dan berjuang untuk memberdayakan masyarakat Papua?
Saya sudah bekerja di Freeport sejak berusia 14 tahun dan bekerja selama 14 tahun pula. Tugas saya beragam mulai dari operator alat-alat tambang, guru alat berat, konselor, hingga technical advisor. Sebagai konselor, saya bertugas menginvestigasi masalah, memberi peringatan, bahkan memutuskan hubungan kerja. Sebagai technical advisor, saya bertanggung jawab mencari para pengajar dari dalam dan luar negeri yang dapat melatih para karyawan.

Perlu diketahui bahwa saya adalah orang lokal dengan pendidikan yang tidak terlalu tinggi. Kemampuan belajar yang cepat kemungkinan besar menjadikan saya sebagai salah seorang yang dipercaya. Saya menguasai bahasa Inggris dan kemampuan leadership. Pangkat dan gaji saya terus meningkat. Jika masih bergabung bersama Freeport, mungkin saya sudah berstatus sebagai manajer.

Masalahnya, saya ingin mandiri dan menolong masyarakat tanpa bantuan Freeport. Jika masih di Freeport, saya tidak bisa bebas dan tidak maksimal dalam membantu masyarakat. Saya ingin mencari partner yang sesuai untuk mencapai tujuan tersebut.

Bagaimana kontribusi Freeport bagi pemberdayaan masyarakat Papua?
Saya kira Freeport belum berbuat banyak bagi masyarakat. Sebaliknya, selama puluhan tahun perusahaan ini menggali sangat banyak emas dari tanah Papua. Di sebuah kota di Jerman, terdapat pabrik mobil VW yang menyejahterakan masyarakat sekelilingnya. Freeport mengambil berton-ton emas tapi masyarakatnya masih menangis sedih. Artinya, Freeport belum berbuat apa-apa.

Inilah yang akhirnya mendorong saya mendirikan Carstensz Adventure dan Yayasan Somatua. Saya mencoba memperkenalkan profil dan potensi pariwisata Papua hingga ke dunia internasional. Saya melihat pariwisata sebagai gerakan ekonomi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Melalui Yayasan Somatua, saya ingin menolong masyarakat dari sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan.

Apa yang terjadi sehingga masyarakat Papua belum berdaya hingga detik ini?
Pemerintah dan perusahaan multinasional seperti Freeport tidak memberikan perhatian yang seharusnya. Selama ini, masyarakat hanya diperkenalkan pada “politik jahat”. Fasilitas ekonomi, pendidikan, dan kesehatan selalu terabaikan.

Masalahnya bukan uang karena seberapa banyak pun uang akan selalu habis. Masalahnya adalah pengabaian terhadap masalah ekonomi, pendidikan, dan kesehatan yang diperparah oleh pendidikan politik yang tidak benar. Tanpa pendidikan yang baik dan fasilitas pendukung yang semestinya, masyarakat Papua kebingungan untuk menata hidupnya secara berdikari.

Sejak berusia enam tahun, saya sudah ikut ayah ke gunung es. Usia tujuh tahun, ayah saya jatuh dari gunung es yang berlokasi dekat Carstensz. Kakinya patah. Jangankan dokter, mantri pun tak ada. Satu setengah tahun berikutnya, ia harus tinggal di rumah dengan posisi kaki patah. Ia begitu lelah tersiksa dengan perasaan telah menyusahkan semua orang, termasuk ibu saya. Ayah saya akhirnya meninggal dan orang-orang membuang jasadnya ke sungai.

Korban berikutnya adalah ibu saya. Singkat kata, ia mengalami siksaan fisik hingga kandungan indungnya pecah. Ia meninggal lima hari kemudian saat adik perempuan saya yang paling bungsu masih menyusui. Tiga bulan kemudian, adik saya pun harus meninggal.

Saya akhirnya tinggal dan dibesarkan nenek. Nenek saya juga meninggal tanpa tertolong obat-obatan. Keluarga yang saya sayangi harus meninggal sia-sia tanpa pertolongan medis sama sekali. Saya kira, hampir 90% masyarakat Papua pegunungan merasakan penderitaan yang sama seperti keluarga saya. Indonesia sudah merdeka 70 tahun namun hingga detik ini, masyarakat pegunungan Jayawijaya hampir belum pernah menikmati pelayanan medis.

Bisa dikatakan bahwa pelayanan medis Flying Doctors (Dokter Terbang) yang dilakukan doctorSHARE bekerjasama dengan Yayasan Somatua adalah kali pertama hadirnya pelayanan medis secara langsung di berbagai lokasi di Kabupaten Intan Jaya. Sudah dua kali tim Flying Doctors memberikan pelayanan medis berupa pengobatan umum, bedah minor, dan penyuluhan kesehatan yang disambut warga dengan penuh semangat.

Selama ini, pemerintah memiliki anggaran cukup besar dalam bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan tapi belum menyentuh daerah pegunungan Papua. Kami ingin merasakan bagaimana pendidikan dan kesehatan yang sesungguhnya, seperti yang dinikmati provinsi-provinsi lainnya. Tapi kami tak kunjung merasakannya. Inilah sebuah fakta dari masyarakat yang hidup di balik gunung.

Bagaimana Yayasan Somatua berperan dalam mengatasi kondisi ini?
Kata “somatua” berasal dari bahasa Moni “soma” yang berarti terang dan “tua“ yang berarti terus atau selalu. Jadi Yayasan Somatua didirikan untuk membawa masyarakat Papua dari kegelapan karena terbatasnya akses pendidikan, kesehatan dan akses ekonomi menuju terang abadi dan sejahtera dalam segala aspek kehidupan. Yayasan Somatua lahir dari keinginan mendalam untuk mewujudkan kemajuan masyarakat Papua sebagai bagian dari Republik Indonesia.

Di bidang ekonomi, kami telah memulainya dari sektor pariwisata. Di bidang medis, kami sudah bekerjasama dengan doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) dalam memberikan pelayanan medis secara langsung kepada masyarakat melalui program Flying Doctors.

Dalam bidang pendidikan, kami ingin membangun fasilitas pendidikan mulai dari tingkat PAUD sampai universitas, untuk memastikan bahwa generasi muda Papua mendapatkan pendidikan yang berkualitas dan berdaya saing tinggi tanpa meninggalkan budaya lokal.

Kendala yang Anda temukan di lapangan?
Sangat banyak, terutama masalah keterbatasan pendanaan dan sumber daya manusia.

Pandangan Anda terhadap OPM (Organisasi Papua Merdeka)?
Yang mereka inginkan sebenarnya adalah perhatian serius pemerintah, suatu hal yang selama ini mencerminkan nurani masyarakat Papua. OPM bukan organisasi yang melakukan pembunuhan seperti ISIS. Buktinya, pembangunan setelah pemekaran kabupaten berjalan dengan baik. Jika pemerintah serius memperhatikan pemberdayaan Papua, OPM bukanlah hambatan atau ancaman.

Bagaimana tanggapan pemerintah saat ini terhadap isu Papua?
Jika presiden-presiden sebelumnya tidak menunjukkan tanggapan, Jokowi sudah menunjukkan perubahan yang lebih signifikan setelah kebijakannya melepaskan para tahanan politik dan mengijinkan jurnalis asing untuk melakukan peliputan di Papua.

Selain itu, presiden juga sudah memberi perhatian khusus melalui kunjungan setahun tiga kali ke Papua. Trans Papua yang menghubungkan kabupaten-kabupaten di pegunungan Papua juga sudah mulai dieksekusi. Saya kira, sudah banyak perubahan yang dilakukan oleh pemerintahan Jokowi.

Jadi Anda optimis masyarakat Papua akan lebih baik dan sejahtera di masa mendatang?
Jika pemerintah saat ini benar-benar melaksanakan komitmennya, saya yakin Papua akan lebih baik apalagi pemerintah pusat sudah mencanangkan revolusi mental. Persoalannya saat ini adalah pemerintah daerah. Pusat sudah memberi lampu hijau, termasuk dalam hal anggaran. Kuncinya kini berada di tangan pemerintah daerah yang saat ini belum terlalu menunjukkan kinerja yang baik.

Saya berharap pemerintah daerah mempergunakan anggaran tersebut sebaik-baiknya, terutama untuk mengembangkan sektor ekonomi, pendidikan, dan kesehatan. Jika tidak, masyarakat Papua justru akan bertambah miskin dan menderita. Pemerintah daerah harus bekerja dengan hati dengan komitmen ekstra untuk membangun daerahnya sendiri. Dengan cara inilah perubahan dapat terjadi.

Di sisi lain, masyarakat Papua sendiri harus memiliki keinginan melihat nasibnya berubah dan berusaha mewujudkannya. Perubahan harus dimulai dari masyarakat lokal itu sendiri. Jika tidak, perubahan tidak akan mudah terjadi.

Masyarakat umum juga harus bekerja lebih keras, terutama kaum intelektualnya. Masyarakat Papua harus berbaur dengan masyarakat yang berbeda budaya dan agama. Yang perlu dilakukan adalah saling menopang karena manusia tidak dapat berkembang jika memilih hidup sendiri.

Nilai-nilai nusantara harus dipertahankan tetapi jangan sampai misalnya orang Jawa berupaya untuk membangun Jawa di Papua. Kita harus mengedepankan sikap saling menghargai. Masyarakat Papua tidak butuh uang tapi butuh dihargai.

Penghargaan dalam hal apa saja yang terutama dibutuhkan masyarakat Papua?
Kehidupan. Jangan sampai pemerintah atau masyarakat lainnya merampas kekayaan dan hak-hak kehidupan masyarakat Papua.

(***)

Foto: Eric Satyadi (doctorSHARE)

Advertisements

4 thoughts on “Maximus Tipagau: Masyarakat Papua Tak Butuh Uang Tapi Butuh Dihargai

  1. Pingback: HKN 2015: Jalan Panjang Menuju Indonesia Sehat | Soft Power is Unique

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s