Faisal Basri: Pembenahan Masalah Struktural, Kunci Bangkitnya Ekonomi Indonesia

Belum genap setahun Jokowi – Jusuf Kalla memimpin, masyarakat mulai was was terhadap kondisi ekonomi Indonesia. Nilai Rupiah yang terus melemah menjadi indikator yang paling banyak mendapat sorotan. Publik pun bertanya-tanya apa yang sesungguhnya terjadi. Situasi ini ditenggarai menjadi salah satu sebab presiden mempertimbangkan opsi reshuffe kabinet.

Seminar yang digelar Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) pada 11 Juli 2015 bertema “Quo Vadis Perekonomian Indonesia?” mengundang sejumlah pakar untuk mengupas isu ini, termasuk Faisal Basri. Beliau memaparkan sejumlah data dan analisa menggelitik, misalnya, mengapa Rupiah terus melemah padahal berita positif mengenai ekonomi Indonesia bertebaran.

Blak-blakan, Faisal mengungkap bahwa kebijakan Bank Indonesia yang terus menaikkan tingkat suku bunga adalah kesalahan besar dalam membaca kondisi ekonomi.

Ekonomi Indonesia sesungguhnya berada dalam kondisi menurun sejak lima tahun terakhir (2011). Dalam buku teks ekonomi manapun, tidak ada cerita jika ekonomi turun maka pajak dinaikkan. Faisal menilai kebijakan ini dilakukan dengan mata gelap.

 

Kebijakan Pajak & Masalah Struktural Ekonomi Indonesia
Kesalahan pertama Jokowi adalah meningkatkan target pajak “gila-gilaan” sampai lebih dari 30% dari Rp 1.143 Triliun menjadi Rp 1.489 Triliun. Sudah hampir pasti target ini tak mungkin terpenuhi. Kebijakan ajaib pun bermunculan seperti tukang bakso yang dikenakan pajak 1% dari omset. Andai merugi pun ia masih harus membayar pajak.

Target ini muncul karena menteri keuangan hanya mengiyakan. Kini pemerintah kelabakan. Target pertumbuhan ekonomi dan pajak direvisi. Juli 2013, BI memproyeksikan ekonomi 6,4% – 6,8%. Target pertumbuhan Agustus hingga September 2014 diturunkan menjadi 6,0% – 6,4%. Sejak itu, BI terus menerus menurunkan target hingga tujuh kali (terakhir berada pada angka 5,1%).

Bagi Faisal, menteri-menteri yang hanya mengatakan “bisa” dengan melacurkan ilmunya wajib diganti. Secara ilmu, mereka sudah tahu bahwa target tidak mungkin terpenuhi namun masih mengatakan “bisa”.

Kebijakan Bank Indonesia terus menerus menaikkan tingkat suku bunga saat kondisi ekonomi sedang turun dipandang Faisal sebagai kekeliruan besar. “Jadi saat ini kita memiliki Gubernur BI dan Menteri Keuangan yang tidak kredibel. Habislah ekonomi. Fiskal dan moneter sering tidak dianggap penting dalam kebijakan ekonomi,” papar Faisal.

Jauh sebelum Gubernur BI terakhir dilantik pada 2013, kondisi ekonomi sesungguhnya sudah turun. Sayangnya, suku bunga terus menerus dinaikkan dari 5,75% hingga 7,75% padahal tugas BI dan pemerintah adalah mendorong pertumbuhan ekonomi di kala lesu dan meredamnya di kala baik sehingga tidak “kepanasan”.

Faisal memandang bahwa tidak seharusnya negara hanya mengikuti tren. Data-data menunjukkan bahwa super cycle komoditi sudah selesai. Harga komoditi tidak selamanya naik namun pemerintah malah mengeluarkan kebijakan larangan ekspor bauksit dan nikel. Harga batu bara dan CPO hancur. Pemerintah bahkan mengenakan bea terhadap CPO sebesar 50 dolar.

Akibatnya, pertumbuhan ekonomi Kalimantan tinggal 1,1% pada awal 2015 sementara pertumbuhan Sumatera tinggal 3,5%. Daya beli masyarakat turun. Saat daya beli turun, Jawa sebagai penghasil manufaktur merasakan imbasnya. Banyak restoran dan hotel di Jawa yang mengalami kebangkrutan.

Sesungguhnya, bukan ini karakter dasar ekonomi Indonesia.

Faisal melihat adanya kesalahan dalam membaca situasi. Saat ekonomi sedang turun, kredit justru dipersulit. Target kredit pun diturunkan dari 23% (2013) menjadi 15% – 17% (2014). Realitanya berada di bawah target. Ketika segalanya sudah terseok-seok, solusinya adalah mengoreksi target.

Hal yang luput dibaca adalah kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi dewasa ini lebih dipicu oleh sektor jasa. Sektor barang seperti pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur loyo hingga tinggal 2,7%. Pertumbuhan ekonomi turun namun sektor jasanya meningkat dan inilah yang disebut Faisal sebagai gaya ekonomi negara maju. Padahal, dua per tiga tenaga kerja Indonesia berada di sektor manufaktur.

Pasca krisis, sektor jasa tumbuh dua kali lipat dari sektor barang. Sektor jasalah yang menopang sektor barang dan pada titik inilah masyarakat patut bertanya bagaimana selama ini kredit digunakan: untuk konsumsi atau pabrik? Apakah Indonesia mengenal figur ekonominya sendiri?

Jangan-jangan kredit selama ini lebih banyak digunakan untuk mengonsumsi barang-barang produksi luar negeri? Faisal mencontohkan kebijakan BNI memberikan kredit bagi mereka yang bepergian ke luar negeri dengan Garuda Indonesia.

Pada triwulan pertama tahun 2015, sektor barang mencapai 2,7%. Sektor jasanya 6,3% atau lebih dari dua kali lipat dari sektor barang, sebuah kondisi yang sangat tidak sehat. Model PDB masa lalu memuat sektor jasa dalam enam sektor sedangkan model PDB terbaru sudah mengategorikan jasa dalam empat belas sekto, termasuk reparasi sepeda motor dan mobil (bengkel).

Sektor barang yang seharusnya di atas 50% kini tinggal 44,2% saja. Dengan kata lain, dua per tiga rakyat ada di sektor barang namun peranannya sudah kurang dari 50%. Inilah salah satu yang menjadi masalah struktural. Pertumbuhan pertanian yang awalnya 3,8% dihancurkan pemerintah menjadi – 2,32%. Manufaktur hanya bertumbuh 3,84% atau jauh di bawah PDB.

Di sisi lain, terdapat sejumlah sektor yang sehat misalnya komunikasi dan informasi yang bertumbuh 10%, bahkan double digit. Pertumbuhan finance and insurance juga tergolong tinggi yaitu 7,57%. Business and services mencapai 7,7%. Yang pertumbuhannya paling memble adalah pertanian, pertambangan, dan industri manufaktur.

Secara umum, sektor manufaktur tanah air mengalami banyak tekanan. Pertumbuhan tekstil dan garment sudah –1%. Industri mesin, bahan baku, sumber daya alam, dan sumber padat karya juga terus turun. Penurunan ini agak struktural namun Faisal menilainya lebih diakibatkan oleh kebijakan makro ekonomi yang keliru karena kesalahan dalam membaca situasi.

Selain itu, lebih dari 75% bahan baku industri Indonesia adalah impor sehingga local content-nya kecil. Harga impor bahan baku cenderung naik namun selama ini Kementerian Keuangan hanya mengurus masalah Louis Vitton yang hanya 7,21%. PPh 21 untuk bahan baku impor yang harusnya nol justru dinaikkan dari 7,5% menjadi 10%. Pemerintah mempersulit industri yang sedang sulit.

Sebagai perbandingan, pertumbuhan industri manufaktur China pernah mencapai 43% – 45%. Indonesia? Angka 30% pun tidak pernah. Indonesia sudah turun Ketika pertumbuhan baru mencapai 29%. Seri terbaru malah menunjukkan bahwa peran industri manufaktur Indonesia hanya 21%.

Padahal, industri manufaktur turut menguatkan sektor formal. Dalam industri manufaktur, semua pekerjanya adalah pekerja formal yang iuran kesehatannya dibayarkan sehingga tidak membebani.

Optimisme Perekonomian Indonesia
Dengan segala gambaran kondisi yang muncul, fondasi ekonomi Indonesia sesungguhnya sudah baik. Tahun 2014, ekonomi Indonesia tercatat sebagai terbesar kedelapan di dunia. Pencapaian ini merupakan tertinggi di ASEAN, bahkan menyusul Prancis dan Inggris.

Dalam acara DBS Insight di Singapura, para peserta mendapat pertanyaan sebelum seminar: “mana menurut Anda negara yang lebih menjanjikan: India, China atau Indonesia?”

Sebagian besar memilih China. Setelah para peserta mendapatkan gambaran mengenai kondisi ekonomi Asia dan global, 45% peserta merevisi jawaban dengan mengatakan bahwa Indonesia merupakan negara yang paling menjanjikan, disusul China dan India!

Keunggulan ini seharusnya dapat dimanfaatkan secara konsisten dengan menghindari kesalahan yang tidak perlu dilakukan. Meski saat ini inflasi mencapai 7%, Faisal memprediksi bahwa angka ini akan terus turun hingga di bawah 4% pada akhir tahun (Desember 2015). Penurunan laju inflasi akan mendorong BI menurunkan tingkat suku bunga ke level antara 6% – 6,5%.

Faisal pun memperkirakan laju pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berangsur naik dari 4,7% pada triwulan pertama 2015 menjadi 5% pada triwulan kedua walaupun Bank Dunia cenderung pesimis. Triwulan ketiga meningkat menjadi 5,3% dan pada triwulan keempat akan kembali meningkat menjadi 5,6% dengan catatan tidak ada hal-hal yang luar biasa.

“Pertumbuhan ekonomi mulai naik walau tidak seperti yang kita harapkan. Pertumbuhan konsumsi masyarakat akan tetap di atas 5% dan ini harus kita jaga. Melihat realisasi investasi BKPM, investasi tumbuh 7% sepanjang 2015. Impor akan naik lebih cepat daripada ekspor,” ungkap Faisal.

Faisal mendasari optimismenya dengan sejumlah alasan.

Harga minyak kembali turun hingga di bawah 60 untuk Dubai, Brent, maupun BTI. Harga OPEC turun lebih tajam. Artinya, ancaman minyak untuk sementara sirna. Dengan kata lain, harga minyak di era Jokowi justru turun. November 2014 harga minyak Rp 8.500/liter, kini menjadi Rp 7.400/liter. Inilah dampak positif dari kebijakan pemotongan subsidi.

Defisit minyak Indonesia juga akan turun lebih dari separuhnya. Dengan kata lain, tekanan terhadap rupiah turun luar biasa dari sisi minyak. Rata-rata defisit minyak bulanan Indonesia sudah sangat kecil dibanding sebelumnya.

Selain itu, total perdagangan migas dan non migas Indonesia terus menunjukkan tren positif sejak Desember 2014. Total perdagangan tahunan menunjukkan defisit tiga tahun terakhir namun lima bulan pertama tahun 2015 sudah surplus. Ini juga seharusnya mengurangi tekanan terhadap rupiah.

Hal lain, Indonesia tidak lagi berstatus sebagai pemilik mata uang yang sangat rapuh di dunia. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa daya tahan ekonomi Indonesia tergolong positif. Bandingkan dengan daya tahan Malaysia yang turun, bahkan minus. Negara-negara eks Soviet di Eropa pun tergolong rentan, demikian pula dengan Argentina dan Brazil di Amerika Latin.

Capital inflow Indonesia masih positif. Padahal, capital inflow sebagian besar emerging markets sedang mengalami defisit. Cadangan devisa Indonesia juga terus naik di atas 100 miliar dolar AS.

Modal swasta asing, portofolio maupun FDI (investasi asing langsung) semua bersih. Bunga obligasi Pelindo jauh di bawah bunga obligasi pemerintah. Bagi Faisal, bunga pemerintah terlalu tinggi ketika seharusnya lebih rendah daripada bunga BUMN. Kinerja ekspor juga tidak semuanya buruk. Ekspor mobil dan turisme menunjukkan nilai yang terus meningkat.

Neraca pembayaran Indonesia secara keseluruhan surplus sejak triwulan keempat 2013. Artinya, devisa yang masuk lebih banyak daripada devisa yang keluar. Dengan begitu banyaknya berita baik, mengapa Rupiah justru jeblok?

Musabab Jebloknya Rupiah
Ketika ditanya mengapa Rupiah jeblok, menteri keuangan menjawab bahwa Won dan Ringgit pun melemah. “Ini adalah jawaban yang sangat mengesalkan!” tegas Faisal. Faktanya, Rupiah sudah melemah sejak empat tahun silam meski kondisi ekonomi saat ini membaik.

Faisal mengatakan bahwa penyebab utama melemahnya rupiah bersumber pada masalah struktural. Pemerintah mengambil sejumlah langkah keliru, seperti kebijakan pajak. Contohnya adalah kebijakan Direkorat Jenderal Pajak (DJP) meminta akses profil kekayaan deposan. Sebelum diminta, deposan pun lebih memilih membawanya ke Singapura.

Kebijakan lainnya adalah bahwa transaksi di dalam negeri harus selalu menggunakan rupiah. Pemerintah ingin agar gengsi Rupiah terjaga, namun kebijakan ini memberi sinyal komunikasi yang keliru. Masyarakat justru curiga dan berpikir bahwa pemerintah sedang kalap sehingga lebih memilih membeli dolar.

Selain perilaku Bank Indonesia, minimnya transaksi di pasar valuta asing juga turut berperan melemahkan Rupiah. Transaksi rata-rata di pasar valuta asing hanya dua miliar dolar AS.

Demikian pula dengan saham. Indonesia memang pernah menjadi yang terbaik pada April 2014 namun kini menjadi terburuk ketiga di dunia meski hampir seluruh dunia mengalami penurunan. Pasar saham Indonesia hanya lebih baik daripada Turki dan Brazil.

So many good news namun sayangnya tidak dapat dikapitalisasi. Menteri-menteri yang menjadi target reshuffle cenderung lebih sibuk menyewa PR (public relations). Banyak talk show di media yang memperlihatkan operasi PR dan saya rasa Pak Jokowi tidak perlu menteri-menteri semacam ini,” tandas Faisal Basri menutup paparannya. (***)

 

 

Advertisements

One thought on “Faisal Basri: Pembenahan Masalah Struktural, Kunci Bangkitnya Ekonomi Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s